
Doni sebagai salah seorang yang menjadi dalang dari kebakaran rumah Ujang, merasa sangat ketakutan ketika dia mengetahui yang terbakar ternyata bukan cuma hutan saja. Doni tampak berjalan ke sana kemari walaupun terasa amat ketakutan, dia berusaha menetralkan wajahnya. Sungguh Doni tidak ada niat untuk membakar dengan rumah Ujang dia pikir yang akan terbakar hanya hutan saja tahu-tahunya sampai ke rumah Ujang, dia benar-benar merasa bersalah tapi takut juga untuk mengaku karena keadaan yang membuat dia bisa melakukan hal seperti itu.
"Bang ada apa dengan dirimu? kenapa tampak gelisah seperti itu?" tanya istri Doni.
Doni segera menjawab.
"Aku tidak apa-apa," ucap Doni tapi dia masih tampak sangat gelisah.
"Kalau memang tidak apa-apa, kenapa Abang terlihat begitu aneh malam ini?" ucap istri Doni lagi yang masih belum bisa percaya bahwa suaminya itu tidak kenapa-kenapa.
Doni sama sekali tidak menjelaskan apa yang terjadi karena bagaimanapun rahasia ini begitu besar mereka harus menyimpannya rapat-rapat, kalau sampai di tahu itu akan mempengaruhi dirinya di masa yang akan datang, kemudian tanpa aba-aba Doni mengambil kunci motor yang tergantung, lalu membawa motornya berlalu membelah malam menuju rumah Indra yang tidak jauh dari rumahnya dia harus memberitahukan apa yang terjadi pada rumah Ujang. Hujan turun begitu deras membuat Doni merasa kedinginan, tubuhnya yang lelah dipaksa untuk terus berjalan menembus malam.
Tibalah Doni di sebuah rumah, rumah tersebut merupakan rumah sederhana dengan atap rumbia,,, dinding papan serta pekarangan yang sangat kotor, di sekelilingnya terdapat kebun sawit yang merupakan sawit yang dijaga oleh Indra kepunyaan dari seorang juragan. Tanpa pikir panjang Doni mengetuk pintu dengan tidak sabaran, mendengar ketukan itu Indra yang sedang merebahkan badannya karena lelah langsung berjalan membuka pintu dan langsung melihat wajah Doni yang tampak sangat pucat.
"Hei ada apa? apa yang kamu lakukan di malam hari dengan mengganggu tidurku," tanya Indra.
__ADS_1
Doni tampak gelagapan, dia mengusap wajahnya lalu menjawab.
"Gawat! gawat Indra,, ini sangat gawat Indra!" ucap Doni panik.
Indra mengerutkan keningnya begitu melihat kepanikan Doni, lalu dia segera membentak pria itu.
"Apa yang kamu katakan? berbicaralah yang jelas,, kamu berbicara seperti orang yang mengigau saja," ucap Indra kesal.
Doni langsung menata nafasnya. Doni benar-benar merasa ketakutan begitu tahu rumah Ujang ikut terbakar dan juga Doni merasa sangat tidak tega pada Ujang yang baik.
Indra mendengus,, seolah-olah yang dikatakan Doni tadi tidak berpengaruh sama sekali untuk dirinya, dia merasa bahwa apa yang terjadi bukan karena dirinya baginya api yang melahap rumah Ujang bukanlah kuasa dirinya.
"Biarkan saja,, itu bukan urusan kita! kalau rumahnya juga ikut terbakar berarti sudah menjadi takdirnya dia menjadi miskin," ucap Indra.
"Jangan begitulah Indra,, apa kamu tidak ingat bagaimana dulu orang tua Ujang memberimu sekarung beras? mereka itu orang baik Indra kenapa kamu sangat tega berbicara seperti itu," ucap Doni.
__ADS_1
Indra tampak terpukau sejenak.
"Yang memberi beras orang tua Ujang! bukanlah Ujang! dan itu tidak ada hubungannya dengan Ujang! jangan mengingatkan masa lalu kembali! diamlah!!! jangan mengatakan apa-apa lagi! anggap saja semua yang telah terjadi karena takdir bukan karena kita berdua,, yang jelas sebentar lagi kita akan diberikan uang oleh wanita itu,, apa kamu paham?" ucap Indra yang sangat senang karena tidak lama lagi dia akan mendapatkan uang dan dia akan gunakan uang itu untuk berfoya-foya.
"Ini sangat berbeda dari rencana kita sebelumnya Indra, kita kan hanya berencana untuk meludeskan hutannya saja tidak dengan rumah Ujang, bahkan gudang perabotnya juga semuanya hangus, aku benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi Indra, tidak seharusnya kita melakukan hal itu kasihan Ujang, dia tidak salah apa-apa tapi kita malah melakukan hal jahat padanya, apa yang harus kita lakukan ke depannya Indra?" tanya Doni yang benar-benar sangat khawatir saat ini,, kegelisahannya tidak bisa Doni tutupi.
Melihat ketakutan Doni yang sangat berlebihan membuat Indra benar-benar sangat jengkel karena mereka bisa saja ketahuan jika Doni terlalu ketakutan saat ini, Indra merasa sebentar lagi dia akan mendapatkan uang yang sangat banyak,, sementara melihat ketakutan Doni itu pasti akan menimbulkan bahaya untuk mereka yang telah menjadi dalang dari kebakaran itu,, kalau sampai ketahuan mereka pasti akan langsung dalam bahaya.
"Tutup mulutmu itu Doni!!! tidak ada yang perlu disesali, ingat semua pekerjaan pasti ada resikonya, apa yang kita lakukan ini murni sebagai kita ingin melakukan tugas sebagai seorang bapak, bapak yang ingin memberikan anaknya makanan yang enak-enak, seorang suami yang ingin memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak-anaknya, jadi jangan banyak cerita lagi,, kamu jangan terlalu ketakutan seperti itu kalau sampai kita ketahuan Doni kita pasti akan dalam bahaya, apa kamu mengerti itu?" ucap Indra sambil menatap Doni dengan tatapan mata kesalnya.
Doni akhirnya menyerah walaupun di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal. Dia akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi, tanpa berbuat banyak dia kemudian menyalakan motornya lagi,, kembali menembus malam.
Sementara Indra merasa tidak sabar dengan uang yang telah dijanjikan oleh Nona kaya itu,, yang telah memberikan mereka upah sebanyak sepuluh juta sebagai DP. Selama ini dia sudah berusaha menjadi orang yang tulus, menjadi orang yang bekerja keras tetapi tetap saja dia menjadi orang miskin, terkadang dia juga ingin hidup enak seperti orang lain dengan cara yang lebih gampang tanpa harus mengorbankan banyak hal termasuk tenaga dan pikirannya.
Kembali pada Doni,, Doni yang tadinya ingin pulang ternyata berbelok menuju jalan ke rumah Ujang. Dia melihat sisa-sisa kebakaran dan dia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi disana, rumah yang biasanya terlihat sangat kokoh itu sekarang sudah tidak ada lagi, sebuah gudang yang sangat besar yang menyimpan berbagai macam perabot juga sudah lenyap dan kebun jati yang berusia puluhan tahun yang sudah dipertahankan oleh Ujang dari warisan orang tuanya juga sudah lenyap. Doni mengusap wajahnya,, andaikan saja waktu bisa diputar kembali mungkin dia bisa memikirkan kembali tawaran Indra untuk membakar hutan pada waktu itu, tetapi dia tidak punya pilihan untuk sementara, karena dia butuh uang yang sangat banyak untuk mengobati anaknya yang menderita penyakit langka.
__ADS_1