Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Tak perlu uang yang banyak untuk membuat dia tertawa...


__ADS_3

"Kenapa Abang menatap Tari seperti itu?" tanya mentari yang merasa begitu malu karena ditatap oleh Ujang dengan tatapan penuh makna seperti itu.


"Seperti apa?" tantang Ujang lalu menarik pinggang Mentari agar mendekat padanya,, dalam sekejap Mentari sudah berada diperlukan Ujang,, Mentari langsung terkikik kecil. Sedangkan Azzam menatap mereka dengan mata lugunya karena tidak mengerti apa-apa dengan orang tuanya yang lagi mesra-mesraan itu.


"Malu dilihat anak,, Abang," ucap Mentari sambil mendorong pelan bahu Ujang saat pria itu mulai mengendus lengan Mentari.


"Memangnya kita sedang apa?" tanya Ujang yang pura-pura bodoh sambil menatap istrinya lalu kembali melanjutkan mengendus lengan Mentari.


"Nggak tau,, Ah! Abang mah pura-pura bodoh," ucap Mentari lalu menarik diri meninggalkan Ujang yang sedang tersenyum simpul.


"Abang,, besok Tari seharian di rumah Ibu,, boleh?" tanya Mentari yang sedang ketar-ketir karena sejujurnya dia ke rumah Ibunya untuk menyiapkan kejutan untuk Ujang, karena besok hari ulang tahun suaminya itu.


"Kamu semakin sering meninggalkan aku sendirian di rumah," ucap Ujang sambil cemberut. Hal yang akan dia lakukan jika berdua saja dengan istrinya itu.


"Jadi tidak boleh, Abang?" tanya Mentari sambil menggigit bibirnya, jika Ujang tidak mengizinkan dirinya untuk pergi maka persiapan tentu akan batal begitu saja.


"Jangan terlalu lama di rumah Ibu! kalau aku rindu bagaimana?" tanya Ujang sambil memakai bajunya kembali, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini, pesanan orang yang dijanjikan besok pagi.


Mendengar itu Mentari lagi-lagi tersenyum.


"Kalau Abang rindu,, Abang kan tinggal telepon," ucap Mentari.


"Rindu mana cukup dengan telepon, Tari," ucap Ujang.


"Terus biar cukup harus gimana Abang?" pancing Mentari yang sudah sangat tau maksud suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu tafsirkan saja sendiri,, nanti kalau aku tagih kamu menolak,, patah hatiku!!!" ucap Ujang.


Mentari terkikik melihat ekspresi wajah frustasi Ujang, dia menyadari menjadi istri dari tiga anak yang masih kecil-kecil tanpa bantuan pengasuh atau ART membuat energinya terkuras habis, Mentari merindukan malam untuk tidur, bahkan dia akan terjaga sekali-sekali untuk menyusui anak, jadi nafkah batin Ujang sedikit terabaikan.


"Kamu malah tertawa di atas penderitaan ku Tari, kamu tidak tahu saja Tari, bagaimana rasanya kepala berdenyut sakit karena bibit yang tidak keluar," ucap Ujang.


Mentari semakin tertawa bahkan memegangi perutnya karena merasa sangat lucu dengan ucapan Ujang.


"Tari janji malam ini, Abang," ucap Mentari sambil sesekali tertawa.


"Janji terus Tari,, terus ingkar lagi, kapan kamu siap datangi aku saja!!!" ucap Ujang.


"Datangi ke mana Abang?" tanya Mentari sambil mengusap sudut matanya yang sudah mengeluarkan air mata karena sejak tadi tertawa terus.


"Ke dalam selimut," jawab Ujang datar,, lalu pergi meninggalkan Mentari yang tertawa terpingkal-pingkal.


"Bahagia betul istrimu apa kau kasih dia uang ratusan juta?" tanya Azis karena sejak tadi mendengar Mentari tertawa terus.


Ujang menatap Azis sekilas sambil mengusap permukaan meja dan memastikan catnya telah kering.


"Tidak perlu uang yang banyak untuk membuat istriku tertawa,, Bang," ucap Ujang.


"Ya, ya sejak menikah dengan kamu, Mentari memang mudah sekali tertawa, dia beruntung dan kamu juga sangat beruntung mendapatkannya," ucap Azis.


"Benar Bang," ucap Ujang dengan kalem.

__ADS_1


"Jang, ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak tertarik oleh harga yang ditawarkan wanita itu?" tanya Azis.


"Maksud Abang wanita yang sangat sombong itu? tidak!!!" ucap Ujang yang tidak akan berubah pikiran sedikit pun.


"Kalau dipikir-pikir sayang sekali Jang,, uang miliaran begitu, bukan uang yang sedikit. Jika aku yang jadi kamu,, aku akan ambil kesempatan ini, terus aku akan bawa istri dan anak-anakku pindah ke kota," ucap Azis.


Ujang melihat Azis sekilas lalu kembali fokus pada kerjaannya tadi.


"Sayangnya aku bukan Abang dan Abang juga bukan aku,, uang miliaran itu tidak ada harganya dengan kenangan di rumah ini, serta dengan segala usaha ayahku yang telah merawat hutannya. Tidak semua hal harus diukur dengan uang,, tidak selamanya uang itu berharga Bang,, aku tidak ingin menukar semua itu dengan uang, aku juga sudah hidup bahagia sekarang dengan istriku dan juga anak-anak ku tanpa uang sebanyak itu,, apalagi dari wanita sombong seperti itu,, kami sudah merasa cukup dengan apa yang kami miliki saat ini,, dan juga kami hidup bahagia disini jadi tidak perlu pindah ke kota," ucap Ujang.


Azis mengangkat bahunya pertanda bingung dengan pendirian Ujang yang bisa-bisanya tidak tergiur sedikit pun oleh uang sebanyak itu. Kalau dia yang berada di posisi Ujang sudah sejak lama dia akan menjual tanah itu.


"Iya terserah kau sajalah Jang," ucap Azis yang memilih menyerah untuk membujuk Ujang, dia melangkah beberapa langkah lalu kembali menyusun meja yang catnya sudah kering.


Dan akhirnya jam dua belas malam pekerjaan telah selesai yang tentunya menyisakan rasa lelah pada Ujang sedangkan Azis pun sudah pulang ke rumahnya, pria itu masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sudah tertidur lelap dengan Azzam yang berada di sampingnya, dan dia juga lihat si kembar sudah tidur sangat lelap. Melihat ini saja Ujang sudah sangat bahagia.


Ujang tidak langsung merebahkan tubuhnya tangannya yang kekar itu mengambil foto kedua orang tuanya,, saat orang tuanya masih muda dulu, dengan seorang anak kecil di pangkuannya dan anak kecil itu tidak lain adalah Ujang sendiri. Ujang mengusap foto yang mulai pudar itu, mengamati sepasang suami istri yang saling mencintai dan juga sehidup semati.


Semasa hidup ibunya tidak pernah sekalipun membuat ayahnya kecewa, sang Ibu adalah wanita yang sangat santun dan melayani suaminya dengan sangat baik, sifat Ayah Ujang yang keras membuat dia tidak memiliki teman yang betah lama-lama dengan ayahnya. hanya ibunya lah satu-satunya orang yang bisa memahami sifat keras Ayah Ujang sehingga Ayah Ujang begitu sangat mencintai istrinya itu.


Ujang mengusap foto itu lagi, rindu masa-masa mereka masih hidup,, masakan ibunya yang enak dan kebiasaan ayahnya yang diwariskan pada Ujang yaitu gigih dan rajin.


Tidak mudah bagi ayahnya merawat hutan ini, hutan ini dulu adalah bukit gersang yang hanya dipenuhi gambut. Setelah hutan ini memberikan kehidupan pada mereka,, tidak mungkin Ujang akan menggadaikan hutan ini begitu saja, apalagi kepada wanita sombong itu, wanita berambisi dan sangat sok di mata Ujang.


Ujang mencium foto itu dengan penuh kerinduan,, lalu meletakkan kembali ke dinding. Pria gagah itu memperbaiki posisi tidur Aqeel yang kakinya sudah sampai ke wajah Aqeela.

__ADS_1


Ujang merebahkan badannya juga lalu memeluk Mentari,, hingga tak lama setelah itu,, dia ikut terlelap juga bersama mereka. Ujang tertidur kelelahan.


__ADS_2