Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Perubahan drastis yang tidak berarti...


__ADS_3

Mentari tersengal Ujang adalah laki-laki yang luar biasa yang mampu membuat Mentari meleleh dengan sentuhan sederhananya,, mampu membuat Mentari terbang ke langit ke tujuh dan juga mampu memberikan pengalaman yang luar biasa pada Mentari. Ujang adalah pria berkarisma yang pandai memuja,, pintar mendamba sehingga Mentari tidak bisa jauh darinya.


Mentari memang pernah jatuh cinta tapi jatuh cinta kali ini sungguh berbeda. Ujang bagai laut dalam yang tenang tetapi menenggelamkan dan juga menghanyutkan. Ujang bahkan tidak pandai menggombal atau mengeluarkan kata-kata rayuan, tapi tatapan dalam dan tenangnya mampu membuat lutut Mentari melemas seketika.


Dengan Samuel Mentari tidak mengenal kata hasrat dia nyaman dan hanya nyaman saja,, Samuel tidak mampu menghadirkan debaran berbahaya pada dirinya atau rasa haus akan sentuhan. Dengan Ujang dia bagaikan lilin yang terbakar musnah dilahap api.


Mereka bahkan belum selesai mengatur nafas kelelahan mereka,, saat rengekan Aqeel dan Aqeela mengejutkan mereka, Ujang dan mentari sama-sama tertegun lalu terkikik kecil.


Ujang berguling dari atas Mentari memberikan kesempatan untuk Mentari membereskan dirinya, walaupun perut Mentari semakin membesar tetapi Mentari terlihat semakin mempesona.


mereka bangun disaat yang tepat ucap Mentari sambil tersenyum sempurna.


Ujang dan Mentari kesulitan mencari waktu yang pas untuk bermesraan akhir-akhir ini,, tapi malam ini si kembar seolah pengertian.


"Aku harus mandi dulu badanku terasa lengket banget," ucap Ujang sambil bangun dari tidurnya lalu mengemasi bajunya yang berserakan di lantai dan mengambil handuk di lemari.


Mereka seperti pengantin baru yang lagi panas-panasnya,, Ujang juga memiliki kebiasaan setelah mereka melakukan ritual suami istri,, Ujang pasti tidak langsung tidur,, Ujang pasti mandi dia tidak mau tidur dalam keadaan junub. Mau tidak mau Mentari juga mengikuti kebiasaan Ujang itu meskipun mereka harus mandi tengah malam.


Beberapa menit kemudian Ujang selesai dengan mandinya,, rambut basahnya bercahaya diterpa sinar lampu.


"Mandilah biar aku yang ayun anak-anak," ucap Ujang pada Mentari.


Dua ayun sengaja dibuat untuk memudahkan mereka mengayun anak-anak mereka karena dari awal anak-anak mereka sudah suka begadang,, namun itu membuat Aqeel dan Aqeela kecanduan diayun, akhirnya kalau mereka mengungsi ke rumah ibu mertua terpaksa ayun dibawa juga.


Ujang merenung kedua matanya menatap foto ayah dan ibunya yang terpajang di dinding, foto itu diambil saat kelulusan Ujang waktu SMP, ibunya tersenyum sumringah sambil memegang bahu Ujang sedangkan ayahnya menatap datar ke arah kamera.


Andaikan mereka masih hidup tentu mereka akan sangat bahagia melihat cucu-cucunya yang sangat menggemaskan, ibu Ujang penyuka anak-anak tapi tidak bisa melahirkan banyak anak,, meskipun telah berobat ke sana kemari tapi Ujang tak kunjung mendapatkan adik juga.


Lamunan Ujang terhenti saat Mentari muncul,, wanita cantik itu berpakaian secara kilat.


"Besok bagaimana kalau kita pergi USG? ucap Ujang sambil melirik perut mentari yang besar itu,, kandungan Mentari sudah masuk tujuh bulan.


"Besok hari apa Abang?" tanya Mentari.


"Lupa hari tari? ucap Ujang.


"Bagi Tari semua hari sama saja,, Minggu semua," ucap Mentari sambil mengeringkan rambutnya yang basah itu.


Ujang tersenyum.


"Besok rabu," ucap Ujang.

__ADS_1


"Kita harus telepon Ibu dulu kalau mau menitip si kembar,, takutnya Ibu pergi ke ladang karena tidak tahu kalau kita mau nitip si kembar," ucap Mentari.


"Kapan kita telepon? kalau malam ini pasti beliau sudah tidur,, kita akan mengganggu," ucap Ujang.


"Setelah Subuh saja," ucap Mentari.


##########


Niat hati ingin USG tapi harus tertunda karena ada tetangga ibu Mentari yang meninggal dunia,, jadi rencana sebelumnya dibatalkan.


Si kembar sudah tidur setelah mereka disuapi bubur sampai kenyang,, tiba-tiba terdengar suara deru motor dan klakson panjang yang langsung menarik perhatian Ujang dan Mentari.


"Ada orang Abang," ucap Mentari. Ujang pun segera bangkit dari duduknya untuk melihat orang yang datang dan Mentari mengikut di belakang Ujang.


Terlihat seorang wanita dengan kacamata hitam yang wajahnya terlihat tidak asing, wanita itu terlihat turun dari motornya dan mata Mentari seketika membola begitu melihat wanita itu, dia Marni dengan penampilan barunya, Marni sudah tidak gemuk lagi,, dia sekarang langsing dan modis,, jika biasanya Marni menggunakan jilbab,, sekarang wanita itu tidak menggunakan jilbab lagi,, Marni menggerai rambutnya seperti baru pulang dari salon.


Wanita itu memakai kaos ketat berwarna putih dengan rok pendek yang sebatas lutut,, hampir saja Mentari mengira dia anak ABG yang akan memesan perabot,, tapi setelah Mentari lihat betul ternyata dia adalah Marni. Wanita itu tersenyum manis pada Ujang tapi tersenyum remeh pada Mentari.


"Bagaimana kabarmu Mentari? kamu agak melar sekarang dan rambutmu juga sudah tidak setebal dulu,, lama kita tidak berjumpa," ucap Marni.


Mentari rasanya ingin menyumpal mulut mantan pacar suaminya itu,, baru saja satu kalimat yang dikeluarkannya sudah terasa menyakitkan.


Mentari melar? tentu saja dia mempunyai bayi sekarang dan juga saat ini lagi hamil,, rambutnya memang lagi rontok sekarang, tapi apakah Marni harus sejelas itu dalam menghinanya.


Mentari sengaja melempar tatapan mengejek,, karena yang dikatakan tadi itu bukan pujian tetapi lebih ke sindiran.


"Aku sekarang sudah langsing kan, Tari lebih langsing dari kamu," ucap Marni.


"Tidak juga sih,, lengan Kak Marni bergelambir seperti itu," ucap Mentari.


Wajah ceria Marni berubah jadi masam,, Marni mendengus lalu berjalan menuju gudang.


"Aku ke sini bukan untuk menemui kamu," ucap Marni dengan ketus.


"Memangnya aku lagi nungguin Kak Marni?" ucap Mentari juga dengan ketus. Mentari bersumpah emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Mentari tidak akan membiarkan wanita penggoda itu menggoda suaminya,, Mentari segera mengikuti belakang Marni.


"Ujang aku mau pesan lemari dua pintu bisa nggak? ucap Marni sambil bersandar di meja yang setengah jadi, binar kagum tidak bisa disembunyikan dari wajahnya begitu melihat Ujang.


Ujang melihat biasa saja tanpa ada yang spesial yang spesial dimatanya hanya Mentari, Ujang terus mengamplas kursi,, sedangkan Azis izin tidak masuk kerja karena kurang enak badan.


"Perlu cepat? pesanan lagi banyak," tanya Ujang.

__ADS_1


"Tidak juga,, kira-kira berapa lama aku harus menunggu?" ucap Marni sambil berjalan mendekati Ujang,, pura-pura mengamati Ujang yang sedang mengamplas kursi. Mentari sungguh ingin sekali menjambak Marni. Ujang yang tentu paham dan tidak ingin dekat-dekat dengan Marni juga langsung mengambil jarak agar jauh dari Marni dan hal itu membuat Mentari bersorak gembira di dalam hatinya.


"Ini silakan dipilih modelnya," ucap Ujang sambil memberikan album foto kepada Marni, di sana ada banyak foto dengan berbagai jenis lemari kayu.


Marni terlihat pura-pura serius.


"Kalau yang ini berapa, jang? tanya Marni.


"Yang mana?" Ujang pun terpaksa mendekat untuk melihat jelas apa yang ditanyakan oleh Marni.


"Ini Jang," ucap Marni,, sambil menempel di lengan Ujang, sementara Ujang tidak menyadari karena sedang melihat foto yang ditunjuk oleh Marni.


Mentari mengepalkan tangannya,, bagaimana bisa wanita gatal itu berani menempel pada lengan suaminya.


"Yang ini dua juta lima ratus," ucap Ujang lalu segera menjauh dari Marni.


"Nggak kurang lagi Jang?" tanya Marni dengan menggoda.


"Cuma kurang lima puluh ribu saja biasanya kalau orang pesan disini,," ucap Ujang.


"Seharusnya Jang kalau dengan mantan pacar kurang seratus ribu atau gratis," ucap Marni sambil tersenyum manis pada Ujang dan Ujang tidak merespon sama sekali.


"Kalau kayunya punya Kak Marni dan Kak Marni juga yang mengerjakannya sendiri bisa gratis,, memangnya kalau mantan pacar harus memalak gitu?" ucap Mentari dengan tidak sabaran.


Ujang tahu istrinya itu sudah emosi dan sudah mulai mengajak perang.


"Kalau lagi hamil tidak boleh marah-marah jaga ucapan!" ucap Marni.


"Abang," ucap Mentari cemberut.


"Jangan buatkan lemari untuk dia,, dia itu hanya sengaja datang ke sini untuk cari perhatian, iya kan? mau bagaimanapun kesingnya kalau orderdil reot tetap tua juga," ucap Mentari.


Mata Marni langsung menatap tidak suka.


"Kenapa kamu? mulutmu sangat tajam setajam silet," ucap Marni.


Mentari mengetatkan rahangnya,, tanpa pikir panjang Mentari langsung mendorong Marni keluar gudang.


"Pergi! jangan ke sini," usir Mentari.


"Lepas! wanita seperti apa yang dinikahi Ujang ini?" ucap Marni meronta dan ingin melepaskan tangan Mentari dari tangannya yang sedang mendorongnya keluar.

__ADS_1


"Pergi!!" usir Mentari yang sudah sangat kesal.


Ujang hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal jika ditegur pasti Mentari akan mengamuk,, Ujang harus menunggu emosi istrinya itu reda dulu. Ujang tidak mungkin tertarik pada Marni meskipun Marni sudah merubah penampilannya sekarang,, karena waktu Marni masih gadis saja Ujang terpaksa menerima Marni karena kasihan jika wanita itu akan malu di depan umum. Wanita satu-satunya yang membuat Ujang jatuh cinta hanyalah Mentari tapi wanita yang dicintainya itu saat ini sedang marah-marah pada mantan pacar yang tidak ada artinya sama sekali untuk Ujang.


__ADS_2