Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Kobaran api!!!


__ADS_3

Kobaran api makin besar melahap semua pohon jati milik Ujang, daunnya yang kering serta ranting yang mudah di lalap api, membuat api makin menggila, angin yang bertiup kencang membuat api semakin besar, api itu seperti memakan apapun tanpa ampun, asap hitam membumbung tinggi, bunyi derik kayu yang mengenaskan terdengar sahut menyahut. Azis yang curiga karena melihat asap dari kejauhan langsung memacu motornya agar lebih cepat karena perasaan Azis tidak enak begitu melihat asap itu dan ternyata benar asap itu berasal dari rumah Ujang. Azis terpaku dengan mulut yang terus beristighfar berkali-kali.


"Astagfirullah!!! astaghfirullah Jang!!! malang sekali nasib mu Jang, hutanmu,, rumahmu,, gudang kayu, Ya Allah Jang!!!" teriak Azis dengan perasaan yang benar-benar campur aduk melihat apa yang ada di depan matanya.


Azis benar-benar tidak menyangka begitu datang bekerja malah melihat keadaan yang sangat mengenaskan seperti ini,, Azis langsung memikirkan keadaan Ujang kalau tau semua ini. Azis yakin Ujang,, istrinya dan anak-anaknya pasti tidak ada di rumah karena Azis tidak melihat mereka,, dan tidak mungkin juga Ujang masih tidur di jam segini, Azis tau betul Ujang dan Mentari selalu bangun subuh.


Beberapa orang juga tampak mulai berdatangan tapi tak mampu melakukan apa-apa karena api itu sangat besar. Mereka hanya mampu melihat saja dengan tatapan terkejut. Tidak menyangka terjadi kebakaran betulan dan ternyata kebakaran itu di rumah Ujang.


"Ayo telepon pemadam cepat," teriak seseorang, dan tampak beberapa orang mulai mengeluarkan ponselnya, tapi kebanyakan dari mereka bukan malah menelepon pemadam kebakaran tapi mengabadikan kejadian itu dalam bentuk video maupun foto.


Azis yang mendapati api yang berkobar itu langsung memacu motornya untuk mencari Ujang,, sudah banyak sekali warga yang datang karena melihat kepulan asap dari jauh,, Azis tidak berani menerka apa reaksi Ujang nanti,, dia tahu betul betapa cintanya Ujang pada hutan dan rumah peninggalan orang tuanya itu, bahkan saat ditawar dengan uang miliaran pun Ujang tetap menolak dengan tegas,, tak tergiur sama sekali dengan uang banyak itu. Azis sangat salut dengan pendirian Ujang dan betapa sayangnya Ujang pada peninggalan orang tuanya tersebut tapi kini Azis melihat dengan mata kepalanya sendiri peninggalan orang tua Ujang telah habis terbakar oleh api. Azis saja yang melihatnya sudah benar-benar sedih bagaimana dengan Ujang nantinya?

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Azis sampai di rumah mertua Ujang, bahkan tanpa mematikan motornya dia langsung berlari tergopoh-gopoh sambil berteriak.


"Jaaaannggg," teriak Azis dengan perasaan campur aduk.


"Jang... Jang,," teriak Azis sambil menata nafasnya yang tersengal, Ujang yang tengah kebingungan langsung menepuk bahu Azis, Ujang melihat ekspresi Azis yang benar-benar sangat panik membuat dahi Ujang berkerut.


"Ada apa,, Bang? kok Abang kayak panik banget?" tanya Ujang yang penasaran sambil melihat Azis.


"Cepat Jang!!! rumah mu terbakar Jang!!!" ucap Azis dengan suara yang hampir menjerit itu, Ujang yang kaget luar biasa langsung memberikan Azzam pada Ayah mertuanya, tanpa pikir panjang Ujang langsung menaiki motor tua itu yang dibawa oleh Azis tadi seperti angin kencang.


Begitu sampai di lokasi Ujang hanya terpana, api masih saja terus berkobar, walaupun terlihat beberapa warga memadamkan dengan cara seadanya, Ujang tidak mampu lagi berkata apa-apa semuanya seakan menusuk di dadanya,, rasa sakit saat semua yang dimilikinya hangus dalam sekejap mata saja, padahal cuma beberapa jam saja rumah ditinggalkan, kenapa bisa terbakar? Ujang merasa otaknya mendadak tumpul untuk berpikir karena terlalu terkejut.

__ADS_1


"Kami sudah telepon pemadam," ucap seorang laki-laki yang berasal dari desa sebelah. Mereka hanya mampu melakukan hal itu karena api sudah sangat besar sekali.


Ujang tampak tidak bisa menjawab apa-apa, rasanya tidak perlu lagi pemadam semuanya sudah terbakar hampir delapan puluh lima persen,, tidak ada yang bisa diselamatkan lagi di sana, rumahnya,, gudangnya,, hutannya,, warisan orang tuanya,, barang-barang milik mereka dan uangnya semuanya telah lenyap. Ujang tiba-tiba merasa menyesal karena tidak mengikuti saran istrinya yang menyuruhnya untuk menyimpan uang itu di bank saja, Ujang juga tidak kepikiran akan terjadi seperti ini, penyesalan memang selalu datang di belakang.


"Sabar Jang!!! sabar!!! Tuhan memilihmu untuk ujian besar ini, sabar!!! sabar Jang!!!" ucap Azis berkali-kali dia benar-benar tidak tega melihat keadaan Ujang sekarang tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menghibur Ujang,, menenangkan Ujang hanya satu-satunya cara yang bisa dilakukan Azis sekarang, Ujang tidak mengatakan apa-apa hanya saja matanya terlihat berkaca-kaca,, dia mematung di tempatnya berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa,, lidahnya kelu saat ini,,, dia telah kehilangan orang tuanya sekarang dia kehilangan juga warisan dari orang tuanya, hati Ujang terasa benar-benar sangat sakit.


Sedangkan di sebelah sana Ibu Mentari dan juga Ayah Mentari beserta Mentari sendiri baru saja datang ke lokasi. Mentari langsung menangis begitu melihat apa yang ada di depan matanya saat ini lalu dia segera memeluk Ujang,, wanita itu tidak mampu menyembunyikan tangisan hebatnya di depan semua orang, beberapa orang tampak mencoba menenangkan dan mengatakan sabar,, tapi tentu saja tidak ada pengaruhnya bagi sepasang suami istri itu.


"Rumah kita Abang,, baju anak-anak,, mainan anak-anak,, semuanya sudah jadi abu," ucap Mentari sambil menangis hebat sedangkan Ujang hanya diam sama sekali tidak bersuara,, matanya menatap kepada kobaran api itu dengan tatapan berduka. Ujang tampak benar-benar sedih dan terpukul dengan kejadian ini,, kejadian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Orang tua Mentari tampak sangat sedih juga dan kasihan melihat rumah peninggalan orang tua Ujang, hutan peninggalan orang tua Ujang kini terlihat sedang dimakan api, sedangkan anak-anak Ujang hanya diam dan tidak mengerti atas apa yang terjadi,, mereka juga hanya ikut melihat kobaran api yang besar itu.

__ADS_1


"Duduklah!!! kamu pasti sangat sedih dan terpukul Jang," ucap Azis sambil menyodorkan satu botol air mineral kepada Ujang, Ujang menerima air itu tapi tidak meminumnya dia hanya memegangnya saja.


Ya!!! bukan masalah harta yang membuat Ujang sangat sedih karena harta bisa dicari kembali meskipun harus berusaha keras, tapi semua kenangannya yang ada di rumah itu,, foto orang tuanya dan masih banyak lagi peninggalan kedua orang tuanya, tangisan Mentari, hatinya yang remuk serta semua keganjilan karena terjadi kebakaran mendadak itu,, membuat hati Ujang benar-benar berkecamuk.


__ADS_2