Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Ujang frustrasi...


__ADS_3

Selama empat puluh hari,, Ibu Mentari bolak-balik ke rumah Ujang untuk membantu pekerjaan rumah,, sebenarnya Ujang tipe laki-laki yang sangat telaten,, sudah dua minggu si kembar dimandikan oleh Ayah mereka sendiri, awalnya Mentari merasa ngeri sendiri, Ujang yang terbiasa memegang kapak,, kayu dan alat pertukangan, Mentari khawatir bayi-bayi yang masih merah itu akan remuk di tangan Ujang, tapi Ujang sangat gigih untuk belajar karena Ujang tidak mau terlalu merepotkan mertuanya.


Dihari keempat puluh satu,, Ibu Mentari tidak datang lagi,, menurut kebiasaan masyarakat disana,, dihari keempat puluh satu itu wanita sudah bisa dikatakan keras atau sudah bisa bekerja sedikit karena darah nifas telah selesai,, sedangkan selama empat puluh hari sebelumnya,, wanita yang baru saja selesai melahirkan tidak boleh melakukan pekerjaan berat,, wanita itu menyusui bayi saja.


Saat ini mereka tengah menggendong bayi imut mereka, bayi laki-laki yang diberi nama Aqeel dan bayi perempuan yang diberi nama Aqeela,, sebenarnya awal pemberian nama itu Ujang kurang setuju karena nama itu terlalu kekota-kotaan menurutnya tapi karena sang istri yang begitu gigih akhirnya Ujang mengalah saja,, menurut saja apa keinginan istrinya, sebelum ngambek,, Mentari mengatakan dia tidak mau anaknya namanya seperti Ayahnya,, karena bukankah itu terlalu kolot?


"Sudah empat puluh hari terkurung di dalam rumah," ucap Mentari.


Aqeel yang wajahnya mirip Ujang tapi berkulit putih,, sedangkan Aqeela yang wajahnya mirip Mentari tapi berkulit seperti Ujang, berkulit sawo,,, keduanya bukan kembar identik.


Aqeel tiba-tiba menangis kencang setelah merengek-rengek kecil sejak tadi.


"Sepertinya Aqeel haus," ucap Ujang, Aqeel memang lebih kuat menyusu daripada Aqeela,, kadang dia tidak sabar saat Aqeela di susukan,, hasilnya dia akan menangis sangat keras apabila dia tidak digendong segera. Untung saja Aqeel telah berada di gendongan Mentari sejak tadi,, bayi itu langsung diam saat mulutnya mendapatkan sumber kehidupannya.


"Nanti aku akan bawa kamu ke luar kota jika anak-anak sudah agak besar, saat ini mereka masih terlalu kecil,,, kasihan kalau mereka kena udara yang tidak bersih," ucap Ujang.


Mentari mengangguk lalu menyerahkan Aqeel ke tangan Ujang, lalu menyusui Aqeela lagi,, bayi perempuan mereka cenderung lebih sabar daripada bayi laki-laki mereka, kalau kata Ibu Mentari,,, Aqeela cerminan Ujang,, sementara Aqeel cerminan dari Mentari, cengeng saat masih bayi dan tidak sabaran.


"Abang tau tidak,, pas Mbak Dina kesini,,, dia mengajari ku sebuah ilmu," ucap Mentari sambil melihat Ujang.


"Mbak Dina itu yang mana?" tanya Ujang yang memang tidak terlalu fokus kalau urusan nama-nama wanita,, yang dia tau Mentari dan fokus pada Mentari.


"Itu loh Abang yang orang Jawa itu,, yang menjual pecel di dekat balai Desa," ucap Mentari.


"Oh, yang jual pecel,, iya tau kamu kan suka makan pecel nya waktu ngidam," ucap Ujang.


Mentari mengangguk.


"Menurut Abang umur Mbak Dina itu berapa?" tanya Mentari.


Ujang mengingat sejenak,, selain Mentari yang suka ngidam pecel waktu itu, wanita itu juga pernah memesan meja dan kursi sewaktu wanita itu awal membuka usahanya.


"Mungkin sekitar empat puluhan," jawab Ujang.


Mbak Dina yang Ujang ingat,, memiliki tubuh langsing,,, orangnya ramah dan juga murah senyum kepada orang lain,, belum terlalu terlihat tua padahal Ujang yakin umur wanita itu lebih tua darinya.


"Abang ingat tidak anak kecil yang dibawanya kesini?" tanya Mentari lagi.


"Oh anak kecil itu,, iya ingat,, yang pemalu itu kan?" tanya Ujang balik.


"Iya Abang,, itu cucunya loh," ucap Mentari.


"Oh yah?" ucap Ujang.


"Iya,, Mbak Dina itu lebih tua daripada Ibu, umurnya sudah lima puluh sembilan tahun," ucap Mentari.


"Massa sih?" Ujang bertanya dengan serius,, karena menurut Ujang Mbak Dina itu sepertinya tidak jauh beda dengan umurnya hanya sedikit berada di atasnya saja, tapi ternyata sudah lima puluhan lebih,, sangat jauh berbeda dengan umur Ujang.


"Iya Abang,,, nah waktu itu dia mengajari aku sebuah ilmu," ucap Mentari sambil bangkit dari duduknya meletakkan Aqeela di atas tempat tidur dengan hati-hati,, karena tidak ingin tidur Aqeela terusik.


"Ilmu apa?" tanya Ujang penasaran.


"Rahasia agar awet muda," jawab Mentari sambil tersenyum.


"Benarkah?" ucap Ujang tampak bersemangat.

__ADS_1


"Iya,, jadi kata Mbak Dina wanita yang habis melahirkan itu harus dijaga selama empat bulan,,, maksudnya kan kondisi jalan lahir kan masih longgar," ucap Mentari.


"Longgar?" ucap Ujang yang merasa bingung.


"Iya longgar,, maksudnya karena habis mengeluarkan bayi Abang," ucap Mentari.


"Oh begitu,, terus?" tanya Ujang lagi yang masih penasaran dengan pembicaraan istrinya.


"Butuh waktu untuk jadi rapat kembali,, nah jadi dalam waktu empat bulan ke depan Abang ku harus puasa dulu,," ucap Mentari sambil menjaga senyumnya mati-matian saat melihat perubahan ekspresi wajah Ujang, wajah semangat Ujang tadi berubah kaget dan kecewa.


"Hah empat bulan?" ucap Ujang, padahal Ujang telah menunggu selama empat puluh hari, apalagi tadi pas subuh Ujang melihat istrinya telah melaksanakan shalat subuh,, bukankah itu sudah menjadi lampu hijau untuk dirinya buka puasa? apa dia harus puasa lagi selama empat bulan? Ah rasanya itu terlalu berat bahkan sangat berat.


"Apa itu tidak terlalu mengada-ada, puasa selama empat bulan? wah aku tidak pernah membayangkan nya sama sekali," ucap Ujang yang tampak frustasi berat.


"Katanya sih gitu Abang supaya wanita yang melahirkan normal kembali rapet, dan selalu awet muda," ucap Mentari lagi.


Ujang masih belum menerima itu, bagi pria yang sudah menikah hubungan suami istri adalah suatu hal yang tidak bisa ditunda. Setelah menahan selama empat puluh hari,, apakah dirinya harus menahan lagi selama empat bulan ke depan? artinya dia akan benar-benar lapuk karena menganggur sampai selama itu.


"Abang?" ucap Mentari sambil tersenyum geli melihat perubahan ekspresi wajah Ujang.


"Tapi semuanya kembali pada kita lagi Abang,, kalau istri sudah suci,, sudah sah kok kita gituan," ucap Mentari lagi.


"Tapi aku juga tidak mau kamu jadi sangat longgar karena aku memaksa melakukan itu," ucap Ujang serius.


Mentari langsung tertawa terbahak-bahak,, kalimat itu terasa sangat lucu di telinganya,, mereka seperti sedang membicarakan pakaian saja.


"Aku juga ingin istriku awet muda seperti Mbak Dina,,, kan kamu sudah dapat ilmunya,," ucap Ujang.


"Artinya Abang akan puasa empat bulan ke depan?" tanya Mentari lagi sambil menahan senyumnya.


"Tapi Abang tenang saja," ucap Mentari.


"Bagaimana mau bisa tenang, Tari,, di suruh puasa empat bulan lagi,, sama saja aku di bunuh pelan-pelan," ucap Ujang.


Mentari lagi-lagi tertawa,, wajah kuyu suaminya membuat Mentari merasa sangat terhibur.


"Kita letakkan Aqeel dulu," ucap Mentari lalu mengambil Aqeel pelan-pelan dari tangan Ujang yang telah tertidur pulas,, meletakkan nya di samping Aqeela secara pelan-pelan.


"Abang tidak usah khawatir," ucap Mentari lagi.


"Bagaimana tidak khawatir,, Tari,, Ah! empat bulan,, artinya anak-anak kita sudah agak bisa telungkup,, alangkah lamanya," ucap Ujang.


"Sini Tari bisikkan sesuatu," ucap Mentari lagi.


"Kamu tidak berniat menambah jadi lima bulan kan?" tanya Ujang sambil menatap Mentari penuh curiga.


"Aku akan kurus kering," ucap Ujang lagi.


"Mbak Dina tidak hanya memberikan saran Abang tapi juga solusi, Abang mau tau nggak?" ucap Mentari.


"Mau," ucap Ujang cepat.


"Sini," ucap Mentari sambil menarik lengan Ujang, mereka sama-sama duduk di tepi tempat tidur saat ini.


Mentari berbisik diiringi dengan tawa cekikan nya,, Ujang langsung menjauhkan wajahnya menatap Mentari seakan tak percaya dengan bisikan istrinya itu.

__ADS_1


"Dengan tanganmu?" tanya Ujang.


Mentari mengangguk sambil menahan tawanya,, mengerjai suaminya sungguh sangat menghibur..


"Aku tidak mau," ucap Ujang cepat.


"Yang penting kan keluar,, Abang," ucap Mentari sambil mengelus dada Ujang. Mentari tau betul cara menggoda suaminya itu.


"Tidak mau," ucap Ujang lagi sambil memegang jari lentik Mentari yang saat ini sedang menggodanya.


"Terus gimana dong Abang? katanya Abang ingin aku seperti Mbak Dina, awet muda," ucap Mentari lagi.


"Aku punya cara sendiri," ucap Ujang.


"Benarkah?" tanya Mentari tak percaya,, tadi dia yang ingin mengerjai Ujang kenapa malah sekarang dia yang penasaran.


"Kamu mau tau caranya?" tanya Ujang.


"Iya aku mau tau," ucap Mentari cepat.


"Ayo pindah ke kamar sebelah," ucap Ujang sambil menarik tangan Mentari yang sejak tadi sangat nakal menggodanya.


"Anak-anak kita?" tanya Mentari.


"Mereka sudah tidur,, ayo cepat sebelum mereka bangun," ucap Ujang.


"Baiklah," ucap Mentari yang hanya pasrah mengikuti Ujang,, dirinya juga penasaran cara apa yang dimaksud suaminya.


Sampai di kamar cara yang dimaksud Ujang adalah buka puasa, mana sanggup menahan lama sama saja akan membuat dirinya kurus seketika,, apalagi Mentari telah menggodanya tadi, Mentari hanya pasrah sambil menahan tawanya,, melayani suaminya yang sudah berpuasa cukup lama,, padahal Mentari sebenarnya masih ingin mengerjai suaminya karena ekspresi wajah frustasi Ujang sungguh menghibur dirinya. Tapi sejujurnya Mentari juga merindukan kehangatan suaminya,, pasrah lebih enak. Lagian tadi hanya candaannya saja.


###########


Flashback on...


"Ujang," sapa Pak Mamad sambil memandang Mentari dan Ujang secara bergantian.


"Kenapa sepeda mu,, Tari?" tanya Pak Mamad.


"Rantainya putus," jawab Mentari sambil turun dari motor Ujang setelah Pak Mamad membantu menurunkan sepeda Mentari.


"Sudah lama Tari minta belikan sepeda baru tapi Ayah belum membelikan nya juga," ucap Mentari.


"Ayah bilang kan cari uang dulu, kamu tidak mau sepeda yang murah maunya sepeda yang mahal,, uang Ayah belum cukup," ucap Pak Mamad.


"Kalau murah cepat rusaknya kayak sepeda ini baru lima bulan dipakai sudah rusak-rusak saja," ucap Mentari lalu masuk ke dalam rumah,, tidak menyadari bahwa dirinya belum mengucapkan terima kasih.


"Dia memang begitu," ucap Pak Mamad sambil tersenyum tidak enak pada Ujang.


"Pak Mamad mau beli sepeda baru? pakai uang ku saja,, aku ada uang, anggap saja sebagai bonus karena sudah berlangganan perabot padaku," ucap Ujang.


"Jangan Jang, aku tidak bisa mengganti dalam waktu cepat," ucap Pak Mamad.


"Bayarnya kapan ada uang saja Pak, dicicil juga tidak apa-apa kok, kasihan anaknya harus jalan kaki,, aku pamit dulu yah pak," ucap Ujang setelah memberikan uang pada Pak Mamad untuk beli sepeda, Pak Mamad tersenyum,,, sudah berulang kali kebaikan hati Ujang membuatnya kagum.


"Ya Allah semoga pemuda yang baik itu jadi jodoh Mentari kelak," ucap Pak Mamad sambil memandang punggung Ujang yang menjauh.

__ADS_1


Flashback off....


__ADS_2