Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Akan banyak keanehan yang menanti..


__ADS_3

"Tari,, belum bangun Jang?" tanya Pak Mamad.


Ujang duduk di kursi kayu sambil melihat Pak Mamad yang menganyam rotan,, sepertinya Pak Mamad lagi membuat tudung saji.


Sejak perdebatan tadi, Mentari belum mau bicara sepatah kata pun,, Mentari malah menghabiskan waktu untuk tidur,, tanpa mandi,, tanpa berniat membuka selimut sedikit pun.


"Masih,, mungkin Tari tidak enak badan," ucap Ujang.


"Ibu rasa,, Tari mungkin memang sudah berbadan dua sekarang,," ucap Ibu Mentari sambil meletakkan dua gelas kopi dan juga sepiring pisang goreng. Tanpa menunggu lama Pak Mamad langsung mengambil satu pisang goreng yang masih panas itu.


"Iya,, tadi kami sudah tes dan hasilnya positif,," ucap Ujang yang tidak punya alasan untuk menyembunyikan kenyataan membahagiakan itu,, bagaimanapun wanita yang pernah melahirkan dan juga punya anak bisa mengetahui ciri-ciri orang hamil,, Ujang pernah mendengar hal itu tapi entah kapan.


"Alhamdulillah," ucap Pak Mamad dan istrinya dengan wajah yang benar-benar berbinar bahagia.


"Tapi tadi Tari melarang saya untuk memberitahu,, biar kejutan katanya," ucap Ujang lagi.


"Sebenarnya pas kalian datang kemarin,, Ibu sudah ada firasat bahwa Tari tengah hamil,, melihat dia makan jambu kecut,, biasanya Tari mana suka yang begituan,, yang manis saja belum tentu dia mau makan," ucap Ibu Mentari sambil menjemur pakaian basah yang berada dua meter dari tempat pak Mamad menganyam rotan.


"Baguslah kalian cepat dapat anak tapi kamu harus perbanyak sabar yah Jang,, karena istri hamil itu bawaannya tidak bisa ditebak,, kadang perasa sampai nangis,, kadang malas bergerak,, kamu harus sabar,, menjadi Ibu itu tidak mudah apalagi ini baru anak pertama,, pasti Tari butuh waktu untuk menerima keadaan dirinya," ucap Ibu Mentari.


"Iya Bu,," ucap Ujang.


"Aku saja dulu yah Jang di suruh tidur di luar waktu Ibunya Tari lagi hamil Kakaknya Tari,,, katanya dia tidak suka dengan bau keringat ku," ucap Pak Mamad.


Ibu Mentari langsung mengulum senyum geli,, saat itu dia masih muda itulah masa-masa yang lucu untung saja suaminya sangat sabar.


"Kamu bayangkan saja Jang,, kami pisah tidur sampai Kakaknya Tari lahir,, sungguh terlalu," ucap Pak Mamad lagi.


Ujang langsung tersenyum geli kalau Mentari untung tidak separah itu, sejauh ini yang Ujang rasakan Mentari berubah menjadi sensitif.


Mereka langsung mengalihkan pandangan saat Mentari keluar dengan wajah bantalnya. Bahkan rambutnya di gulung asal.


"Sudah mandi,, Tari?" tanya Ibu Mentari.


"Dingin," ucap Mentari sambil merapatkan jaket ke tubuhnya.


"Kamu lihat sendiri kan Jang? itu baru keanehan pertama,, sepanas gini di bilang dingin, masih banyak keanehan lain menanti mu,, kamu siap-siap saja Jang,," bisik Pak Mamad.


"Ayah mau buat apa?" tanya Mentari sambil mendekat kepada Ayahnya,, Pak Mamad langsung berpura-pura seperti tidak berbicara apa-apa,, Mentari masih enggan melihat Ujang.


"Tudung saji," ucap Pak Mamad.


"Tudung saji lagi? Ibu kan sudah punya banyak tudung saji," ucap Mentari yang heran sendiri dengan Ayahnya yang sangat suka buat tudung saji.


"Itu separuh sudah Ibu jual ke pasar karena full,, kepandaian Ayahmu hanya itu-itu saja," ucap Ibu Mentari.

__ADS_1


"Kalau aku pandai buat perabot seperti Ujang,, tersaingi pula dia," ucap Pak Mamad.


Ujang melirik Mentari yang berjarak dua meter darinya sepertinya istrinya itu belum mau berdamai. Ujang tidak melepaskan tatapan nya sedikit pun,, mungkin Mentari sadar ditatap lama,, Mentari memandang balik secara tidak sengaja,, kemudian membuang muka kembali.


"Jadi Marni sama suaminya gimana ceritanya,, Ayah?" tanya Mentari.


"Untuk sementara dia menempati rumah Pak Rahmat, dia juga lagi mencari orang untuk menempati rumahnya,, supaya tidak lapuk sendiri,, Pak Rahmat sudah di bawa oleh anaknya ke Kota karena istrinya sudah lama meninggal," ucap Pak Mamad.


"Oh,, Tari baru tau kalau suami Marni punya banyak istri,, padahal Marni itu cantik,, pintar masak,, pintar cari uang juga, kok bisa suaminya masih selingkuh, nikah lagi?" ucap Mentari,, saat ini Mentari bertanya serius.


"Nah itu dia" ucap Pak Mamad.


"Itu apa Ayah?" tanya Mentari tidak mengerti.


"Kau tidak tau Tari? kodrat suami itu harus dihargai,, walaupun dia berusia lebih muda, walaupun tidak sekaya istrinya,, walaupun dia tidak bersekolah, walaupun dia pengangguran namun suami kodratnya harus dihargai," ucap Pak Mamad.


"Bagaimana mau menghargai suami seperti itu?" ucap Mentari.


Ujang hanya menjadi pendengar yang baik saja sedangkan Ibu Mentari sudah masuk rumah sejak tadi.


"Ada sebab ada akibat,, suami selingkuh pasti ada sebabnya," ucap Pak Mamad lagi.


"Ayah membela suami yang selingkuh?" ucap Mentari yang mulai kesal.


Mentari langsung mengatupkan mulutnya,, sedikit banyak dia merasa tersentil,, sedangkan Ujang hanya pura-pura tidak tau saja.


"Bagaimana kalau suami yang tidak patut dihormati,, apakah harus dihormati juga?" tanya Mentari lagi.


"Pada hakikatnya tidak ada suami yang tidak patut dihormati,, kan Al-Qur'an mengajarkan suami adalah pakaian istri dan istri pakaian bagi suami,, artinya saling menutup kekurangan masing-masing,, aib suami tidak boleh disampaikan pada orang lain dan begitupun sebaliknya. Ayah bukan membela suami Marni, suami Marni cukup baik,, dia mau menerima Marni yang janda anak satu, tapi Marni sering mengusir suaminya dari rumah jika suaminya tidak membawa cukup uang ketika pulang, semua yang terjadi adalah pembelajaran,, termasuk untuk kamu,, Tari. Ujang itu laki-laki yang sangat sabar dan ada saatnya dia akan bosan denganmu jika kamu tidak menjadi istri yang baik," ucap Pak Mamad yang berkata pelan agar Ujang tidak mendengar pembicaraan mereka,, Ujang saat ini tengah melayani pembeli di warung.


#########


"Masih marah,, Tari?" tanya Ujang sambil meraih bahu Mentari, mereka hendak tidur padahal rencananya malam ini mereka akan menonton acara musik tapi sepertinya Mentari sedang tidak bersemangat.


"Tidak," jawab Mentari.


"Kalau begitu menghadap lah sama Abang," ucap Ujang.


Mentari berbalik menghadap pada Ujang,, Mentari masih belum mau menatap Ujang. Mentari masih mode setengah marah setengah memaafkan.


"Maafkan Abang kalau ada kata-kata Abang yang tidak kamu sukai,, Abang tidak pernah bermaksud menyakiti hati kamu,, Tari mau memaafkan Abang?" ucap Ujang.


Mentari langsung mendongak tatapan hangat mata Ujang menyambutnya,, Mentari mengangguk sambil tersenyum.


"Syukurlah! Abang senang Tari mau memaafkan Abang,, besok-besok Abang janji tidak akan bahas tentang poligami lagi," ucap Ujang sambil memeluk istrinya itu.

__ADS_1


"Abang janji?" tanya Mentari.


"Iya Abang berjanji," ucap Ujang.


"Tapi tadi ada perkataan Ayah yang menggangu Tari," ucap Mentari lagi.


"Perkataan yang mana?" tanya Ujang.


"Ayah bilang,, sesabar-sabarnya laki-laki jika istrinya tidak menurut pasti akan berpaling juga," ucap Mentari.


"Istri siapa?" ucap Ujang.


"Pokoknya Ayah bilang gitu," ucap Mentari.


"Kan itu bukan istri Abang,, istri Abang baik,, sangat cantik,, pintar memasak,, pintar membersihkan rumah, pintar semuanya,, kalau masih berpaling juga itu namanya tidak tau di untung," ucap Ujang.


Mentari senang lalu merenggangkan pelukannya,, menatap Ujang serius.


"Jadi menurut Abang,, Tari istri yang pintar segala hal?" tanya Mentari.


"Iya," ucap Ujang serius.


"Tari senang mendengarnya," ucap Mentari sambil memejamkan matanya memeluk erat suaminya,, jika dulu Ibu Mentari tidak suka mencium bau keringat suaminya,, berbeda dengan Mentari yang sangat suka mencium bau keringat suaminya.


Beberapa saat kemudian bunyi nafas Ujang terdengar teratur.


"Abang sudah tidur?" tanya Mentari.


Ujang tampak membuka paksa matanya.


"Apa,, Tari?" tanya Ujang.


"Abang mengantuk?" tanya Mentari lagi.


"Kenapa?" tanya Ujang lembut.


"Tidak usah saja kalau Abang sudah mengantuk," ucap Mentari.


Ujang memaksakan dirinya untuk bangun.


"Ada apa?" tanya Ujang.


"Katanya kita mau lihat acara musik malam ini,," ucap Mentari.


Ujang langsung melihat jam dinding, sudah menunjukkan jam sepuluh malam,, seperti kata Ayah mertuanya perbanyak sabar saat istri sedang hamil,, karena akan banyak keanehan yang menanti di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2