Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Uang bisa dicari, kebahagiaanmu adalah segalanya untukku!!!


__ADS_3

"Abang apa tidak sebaiknya uang ini kita simpan ke bank? atau kita belikan emas saja?" tanya Mentari sambil mengusap tumpukan uang itu yang sangat banyak, uang itu ada di dalam peti kayu tua di kolong tempat tidur. Mentari benar-benar tidak menyangka akan melihat uang sebanyak ini.


Ujang sebenarnya sudah memikirkan hal itu dulu, tapi karena selama ini uang itu aman-aman saja, jadi dia tidak kepikiran lagi dan kini Ujang langsung menggelengkan kepalanya pada Mentari.


Ujang jarang sekali menggunakan uang itu karena dia juga sudah mempunyai penghasilan dengan usaha perabotnya dan itu sudah cukup,, bahkan lebih dari cukup, mereka sudah kaya hanya dengan uang hasil perabot itu. Hidup mereka sudah sangat berkecukupan dengan usaha perabot itu.


"Aku rasa tidak apa-apa Tari di sini saja, lagian rumah ini tidak pernah kemalingan sekalipun, meskipun rumah ini terpencil, lagian aku juga tidak pernah berniat memamerkan kekayaan, sebenarnya uang ini sudah sangat lama aku jarang sekali menggunakannya karena usaha perabot ku juga sudah lumayan bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ucap Ujang lalu menutup peti kayu tua itu dan mendorong kembali masuk ke dalam kolom tempat tidur.


Ujang tampak mengambil beberapa ikat lalu menyerahkannya kepada Mentari, satu ikat uang itu isinya sepuluh juta dan ada lima ikat yang diserahkannya kepada Mentari.


"Hah ini untuk apa Abang? banyak sekali" tanya Mentari yang belum habis rasa terkejutnya melihat penampakan peti tua yang berisi tumpukan uang yang sangat banyak, dan saat ini Ujang malah menyerahkan padanya beberapa ikat,, Mentari tahu Ujang kaya dari usaha perabotnya saja Ujang memang kaya, tapi Mentari benar-benar tidak menyangka Ujang memiliki uang yang sangat banyak dibawa kolong tempat tidur,, padahal selama ini Ujang juga sudah memberikan dia uang banyak hanya cuma hasil dari usaha perabotan Ujang tapi ternyata masih ada lagi di tempat lain uang Ujang, melihat itu semua Mentari benar-benar takjub, untung saja suaminya itu adalah pria yang sangat sederhana tidak suka memamerkan kekayaannya, Ujang tidak pernah berubah menjadi orang kaya yang seperti pada umumnya yang selalu pamer sana sini.


"Kamu suka tas yang dibelikan oleh wanita sombong itu kan? aku yakin harga tas itu tidak murah, belilah pakai uang itu kalau kurang kamu bilang saja aku akan menambahkannya," ucap Ujang sambil mengambil tangan Mentari lalu meletakkan beberapa ikat uang itu ke telapak tangan Mentari. Semalaman Ujang berpikir, mungkin dia perlu memberikan apa yang Mentari inginkan agar istrinya itu tidak murung terus menerus. Padahal Mentari murung karena merasa tidak enak pada Angelica dia takut wanita itu tersinggung. Mentari terlalu memikirkan perasaan orang lain.


"Ini sangat banyak Abang," ucap Mentari yang benar-benar gugup memegang uang sebanyak itu,, tentu dia tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya, dia memang menyukai tas yang diberikan oleh Angelica beberapa hari yang lalu, tapi Mentari tidak berpikir untuk membelinya,, Mentari sangat sayang mau membelanjakan uang sebanyak itu menurut Mentari itu sangat bodoh. Meskipun Mentari tahu suaminya itu memiliki banyak uang tapi dia tidak mau menghambur-hamburkan uang, lagi pula Mentari bukan tipe wanita yang suka memakai barang-barang mewah.


"Tidak Abang!!! aku tidak mau tas itu," ucap Mentari lagi lalu mengambil tangan Ujang kembali untuk meletakkan uang itu di telapak tangan Ujang.

__ADS_1


"Bagusnya uangnya disimpan untuk masa depan saja,, Tari tidak perlu tas mewah seperti itu,, Tari hanya perlu tas biasa dengan harga murah saja yang penting fungsinya bisa menyimpan barang-barang Tari," ucap Mentari jujur.


"Ambillah Tari," ucap Ujang yang tidak mau menyerah.


"Aku ingin hatimu senang, sejak tas itu kamu kembalikan aku sering lihat kamu bermenung,, Tari. Belilah tas apapun yang kamu suka. Uang bisa dicari, kebahagiaanmu adalah segalanya untukku, Tari," ucap Ujang.


Mentari mendengar itu dengan mata yang berkaca-kaca, lalu tangis Mentari keluar begitu saja, dia langsung memeluk Ujang dan Ujang pun langsung memeluk istrinya juga.


"Hanya Abang satu-satunya yang bisa membuat hati Tari senang,, hanya Abang saja bukan uang, Tari bersumpah, bukan uang Abang,, tapi Abang lah yang membuat Tari bahagia," ucap Mentari.


"Terima kasih Tari, terima kasih,, aku juga tidak butuh apa-apa,, aku hanya ingin dirimu,, cintamu, kesetiaanmu dan anak-anak itu sudah lebih dari cukup untuk aku, jika kamu ingin sesuatu minta saja padaku,, jangan pernah sungkan aku akan memberikannya untukmu," ucap Ujang.


"Tidak!!! Tari tidak ingin apa-apa," ucap Mentari sambil menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak menginginkan tas itu,, dia suka termenung hanya karena merasa tidak enak pada Angelica saja, Ujang mencium kening istrinya, mengusap pipi wanita itu yang sudah basah karena air mata.


"Aku sangat mencintai kamu Tari," ucap Ujang lalu mengecup bibir merah alami Mentari, dan Mentari pun membalas dengan begitu indah,, mengalungkan tangannya di leher Ujang sampai pria itu menggendong tubuh Mentari tanpa beban,, mereka perlu waktu untuk memadu kasih terlebih dahulu,, sejak mereka memiliki tiga anak, Ujang sedikit kesusahan mendapatkan waktu Mentari untuk melakukan hubungan suami istri.


Tidak ada yang berbeda Mentari masih seindah dulu, suara manja yang memberikan tanda akan butuhnya dia pada suaminya,, suara merayu dan mesra yang membuat Ujang merasa mereka masih seperti pengantin baru saja.

__ADS_1


Malam yang indah bagi kedua manusia yang sama-sama saling mencintai dengan tulus,, dua manusia yang sama-sama membagi rasa suka dan duka tanpa sisa, akan tetapi mereka tidak mengetahui sama sekali, ada dua orang asing yang berjalan di keheningan malam,, dua orang yang meletakkan motornya hampir jauh dari rumah Ujang.


Setelah mereka puas memetakkan lokasi,, mereka lalu berjalan pelan menuju ke motor yang mereka kendarai berdua, motor berjalan dengan cepat,, beberapa menit kemudian mereka berhenti di warung kopi yang terletak di perbatasan desa.


Dua orang itu memiliki usia yang sebaya, yang satunya kurus tinggi berkulit kuning langsat dan tidak berkumis yang satunya lagi berkulit sawo matang dan memiliki kumis yang agak tebal.


"Aku mau kopi, kamu?" tanya pria itu pada temannya.


"Aku mau air putih hangat dulu," jawab pria itu dengan wajah yang memucat,, sepertinya pria itu sedang menahan takut.


"Kenapa dengan dirimu Doni?" tanya Indra, mereka adalah dua orang sekawan yang sudah sangat lama sekali bersama.


"Aku gemetar kalau bukan karena anakku yang sakit,, aku tidak akan mungkin melakukan hal ini, Ujang itu adalah orang yang sangat baik," ucap Doni dengan nada suara yang gemetar.


"Hei kita ini harus profesional,, bayangkan saja uangnya Doni, lagi pula kita tidak disuruh membunuh,, jadi sudahlah jangan merasa terlalu jahat, paham kamu?" ucap Indra sambil menatap Doni.


Doni hanya mengangguk dengan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2