Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Karena jodoh Ujang masih sekolah...


__ADS_3

Bertahun-tahun yang lalu...


Kamar berukuran lima kali enam meter itu dengan jendela yang menghadap ke matahari terbit, di sebuah tempat tidur itu sosok tubuh sedang tidur menghadap ke jendela, sesekali air mata meleleh di pipinya. Dia bukanlah wanita pemalas yang suka tiduran daripada bekerja, namun kabar kali ini membuat persendian wanita itu lemah,, wanita itu sangat kecewa dan juga sangat sedih.


Dia hanyalah wanita tua yang memiliki anak laki-laki tunggal dan tidak memiliki saudara kandung,, bukan dia tidak ingin memiliki anak yang banyak tapi kandungannya mungkin kurang subur sebagai wanita, karena untuk mendapatkan Ujang saja dia harus berobat terlebih dahulu.


Wanita yang berusia sekitar enam puluhan itu menoleh saat ada sentuhan lembut di bahunya,, dia bukan tidak tau bahwa orang itu sudah masuk sejak tadi di kamarnya, tapi wanita itu enggan rasanya untuk menoleh.


"Bu," suara besar tapi terkesan penuh kasih itu adalah suara putranya sendiri.


"Aku ingin bicara," ucap Ujang.


Wanita yang tidak lain adalah Ibunya Ujang itu langsung bangun dari pembaringannya,, wanita itu menatap wajah lelah sang putra satu-satunya.


"Ada apa Ujang?" tanya wanita itu.


"Aku khawatir Ibu terlalu memikirkan apa yang telah terjadi,, Ibu bisa sakit nanti kalau Ibu terlalu banyak pikiran," ucap Ujang.


"Bagaimana Ibu tidak kepikiran apa yang dilakukan Nurlela dan keluarganya sangat mencoreng harga diri kita Jang, tanggal pernikahan kalian sudah ditentukan tapi Nurlela malah memutuskan pertunangan dengan seenaknya,," ucap wanita itu dengan suara yang meninggi.


"Ini sudah yang ketiga kalinya kamu gagal Jang, Ibu jadi berpikir apa yang salah dengan mu,, kamu bukan laki-laki yang cacat, kamu juga bukan laki-laki yang pengangguran, lalu kenapa setiap tunangan sudah terjadi, pihak perempuan selalu membatalkan begitu saja, Ibu sekarang jadi yakin sama perkataan salah satu ibu-ibu waktu itu bahwa kamu dikerjai orang," ucap wanita itu lagi.


"Itu tidak mungkin Bu,, Ibu jangan berpikiran yang macam-macam mungkin mereka semua bukan jodoh Ujang," ucap Ujang lagi.


"Tidak ada yang tidak mungkin Jang,, zaman sekarang orang bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan musuh mereka, banyak yang iri dengan keluarga kita,, bisa saja kamu yang belum menikah ini karena di kerjai oleh orang yang iri,," ucap Ibu Ujang lagi.


"Astagfirullah halazim,, istighfar Bu,, tidak baik menduga-duga hal yang belum pasti terjadi," ucap Ujang yang tidak habis pikir dengan Ibunya yang tiba-tiba sudah berprasangka buruk saja, biasanya Ibunya paling tenang jika menghadapi masalah, tapi saat ini wanita yang telah melahirkan dirinya itu terlihat sangat tidak terkendali.


"Apa kurangnya kita pada keluarga Nurlela itu? setiap kali Ayahnya meminjam uang, selalu saja kita kasih, bahkan utangnya yang sudah sampai lima puluh juta itu tidak pernah Ibu tagih, seharusnya dia malu telah berbuat begini pada keluarga kita Jang," ucap Ibu Ujang lagi.


Ujang hanya menghela nafas begitu mendengar kemarahan Ibunya yang meluap-luap.


"Bagusnya Ibu pergi berwudhu dulu agar hati Ibu tenang,, Ujang mau keluar sebentar dulu," pamit Ujang.


Ujang memilih meninggalkan Ibunya yang tengah marah itu daripada melayani kemarahannya, Ibunya bukan tipe yang banyak bicara, dia bicara seperlunya saja, tapi saat ini hati Ibunya benar-benar sangat terluka,, bahkan baru tiga hari kemarin mereka bertunangan namun hari ini dia membatalkan pertunangan itu.


Ini adalah kegagalan yang ketiga kalinya untuk Ujang,,, bagi Ujang itu tidak lagi berasa, tidak ada sakit,, tidak ada kecewa juga, Ujang seakan telah mempersiapkan diri untuk gagal lagi, namun melihat wajah Ibunya yang begitu terpukul membuat Ujang marah.


Ujang mengambil kunci motornya entah apa yang mendorongnya,, Ujang pergi ke rumah Nurlela. Hingga tidak lama kemudian Ujang sampai di rumah Nurlela,, saat ini Nurlela tengah duduk di teras rumahnya,, wanita itu memucat begitu melihat Ujang namun berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Bang Ujang," ucap Nurlela sambil tersenyum gugup,, Nurlela tidak melihat senyum dari wajah Ujang,, yang ada hanyalah tatapan dingin.


"Mana Ayahmu?" tanya Ujang.


"Ayah ada di rumah Bang," jawab wanita itu gugup.


"Kalau urusan pertunangan yang batal dengan saya saja Bang bicaranya,," ucap Nurlela lagi.


"Aku tidak ingin bicara pada perempuan yang tidak punya etika dan perasaan,, katakan pada Ayahmu aku ingin bicara dengan dia," ucap Ujang.


Nurlela gemetar namun dia dengan segera masuk ke dalam rumah.


"Masuk Jang," ucap Ayah Nurlela.


Ujang pun masuk setelah mengucapkan salam,,, Nurlela dan Ibunya langsung masuk ke dalam kamar.


"Jadi.." ucap Ayah Nurlela yang tidak selesai karena dipotong oleh Ujang.


"Bayar hutang Bapak kepada Ibu saya," ucap Ujang,, raut wajah Ayah Nurlela langsung berubah cemas.


"Tunggu,, tunggu Jang,, jangan marah kalau masalah pertunangan yang batal,, aku bisa membujuk Nurlela agar mau kembali melanjutkan pertunangan ini," ucap Ayah Nurlela.


"Ujang aku mohon tenang,, sabar Jang," ucap Bapak Nurlela lagi dengan panik.


"Saya tunggu sampai besok kalau Bapak tidak melunasinya juga, maka saya akan lapor ke polisi,," ucap Ujang lalu segera bangkit dari duduknya tanpa mengindahkan permohonan dari Ayah Nurlela.


Ini bukan diri Ujang,, dia adalah laki-laki terkendali,, dia melakukan itu bukan karena dirinya patah hati,, tidak sama sekali.


Nurlela gadis yang tidak cantik,, tubuhnya pendek dan gemuk, dia juga tidak bersekolah tinggi, Ujang menerima pertunangan itu hanya karena orang tuanya yang terus mendesak dirinya agar segera menikah, tapi seenaknya saja keluarga Nurlela mempermainkan keluarganya, Ujang sangat marah melihat Ibunya tidak bangun dari tempat tidur, tidak mau makan dan menghabiskan waktunya untuk menangis.


Ujang melajukan motornya ke jalan desa, sekarang sudah sore,, anak-anak SMK ramai bersepeda di sore hari,, sekolah SMK itu dibagi dua shift karena siswanya yang banyak,, yang bertebaran di jalan desa saat ini adalah siswa shift sore.


Ujang tertarik saat melihat satu orang terpisah dari rombongan, dia adalah remaja perempuan yang sering Ujang dengar namanya, memakai baju kaos putih dan juga celana olahraga, keringat bermunculan di dahi gadis itu.


"Ada apa dek?" tanya Ujang.


"Rantai sepeda saya putus Bang," jawab gadis itu sambil cemberut dan saat ini sedang berjongkok melihat rantai sepedanya. Ujang turun dari motornya,, sebentar lagi Maghrib wajar saja jika gadis itu panik,, rumahnya masih jauh.


"Iya putus," ucap Ujang sambil memegang rantai sepeda itu.

__ADS_1


Ujang jelas-jelas melihat kegusaran di wajah gadis cantik itu,,, maklum saja sebagai anak gadis mereka diajarkan ada di rumah sebelum Maghrib,, kalau tidak pasti akan di cap sebagai wanita tidak baik.


"Anak Pak Mamad kan?" ucap Ujang.


Gadis itu langsung mengangkat wajahnya,, wajah putih bersih dengan mata yang sangat indah, sesaat Ujang benar-benar terpana,, anak Pak Mamad memang cantik,, benar-benar sangat cantik. Baru kali ini Ujang terpana melihat seorang gadis tapi sayangnya lagi umur mereka berbeda jauh,, buru-buru Ujang sadar diri. Tidak mungkin juga menikahi gadis yang membuatnya terpana itu.


"Iya,, Abang kenal Ayah saya yah?" tanya gadis itu.


"Kenal, langganan perabot sama saya," jawab Ujang.


"Oh," sahut gadis itu dengan acuh. Gadis itu kembali berjongkok memikirkan bagaimana caranya agar sepeda itu bisa dikayuh lagi.


"Sudah mau adzan Maghrib, ayo saya antar," ucap Ujang.


"Tapi sepedanya?" tanya gadis itu.


"Kamu bisa memegang nya?" tanya Ujang balik.


"Bisa," ucap gadis itu.


"Ayo kamu pegang saja," ucap Ujang.


Gadis remaja itu yang tak lain adalah Mentari segera memegang sepedanya,, Ujang mengatur duduknya agar Mentari bisa duduk dengan nyaman sambil memegang sepedanya yang sudah diberikan tempat juga.


"Abang tinggal dimana? tidak pernah kelihatan?" tanya Mentari.


"Di perbatasan Desa,, di Bukit," jawab Ujang.


"Oh disana," ucap Mentari.


"Pernah ke sana?" tanya Ujang.


"Belum sih,, tapi Ayah sering langganan perabot sama Abang kan?" ucap Mentari.


"Iya," ucap Ujang.


"Maaf yah Bang merepotkan," ucap Mentari merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa,," ucap Ujang.

__ADS_1


Sepasang manusia itu tidak lagi bercakap-cakap,, sama-sama diam,, itu adalah percakapan pertama antara Ujang dan Mentari.


__ADS_2