
Ucapan Samuel terus terngiang-ngiang di kepala Mentari,, tentang teman-teman mereka yang sudah sukses menjadi pekerja di kantoran. Tentang beberapa orang yang telah melanjutkan studinya kembali ke jenjang yang lebih tinggi,, rasanya itu sungguh sangat menyenangkan jika mentari membayangkannya,, mengingat selama dua tahun ini Mentari hanya bergelut dengan pekerjaan rumah tangga saja. Mentari meraba perut besarnya,, kemudian melihat Aqeel dan Aqeela yang sedang asik main berdua, lalu melirik Ujang yang tengah mengganti bajunya dengan baju khusus saat dia akan mengecat,, sudah lama sekali jari-jarinya tidak memegang polpen,, buku atau laptop, tangan itu sekarang lebih akrab dengan sapu,, kain kotor dan juga alat-alat dapur.
Kehidupan yang dijalaninya saat ini terasa sangat jauh dari impiannya dulu, Mentari dulu bercita-cita ingin bekerja di kantor, atau mengajar di SMA lalu memiliki murid yang bisa diajak berteman itu pasti sangat menyenangkan sekali. Mentari sangat senang melihat wanita karir yang sangat modis dengan baju dinasnya, bagi Mentari wanita zaman sekarang itu bukan di rumah untuk mengurus anak, putus cinta dari Samuel dulu dan putus asa ketika sedang tidak melakukan apa-apa,, membuatnya malah mengambil sebuah keputusan besar menikah saja!!!
Mentari bahagia,, malah sangat bahagia menikah dengan Ujang, akan tetapi disudut hatinya sebagai wanita yang memiliki ijazah, ada kerinduan untuk bekerja,, berbaur dengan teman-temannya yang lain, sehingga tidak hanya membahas dapur,, sumur dan kasur saja. Wajah melamun Mentari saat ini langsung membuat Ujang berpikir, ada apa dengan istrinya itu? padahal sebelum dia dari kantor lurah,, istrinya itu tampak baik-baik saja.
"Tari, kamu melamun?" tanya Ujang.
"Hah? apa Bang? oh tidak," ucap Mentari.
"Pasti ada sesuatu yang menggangu kamu,, ceritakan lah!!! tidak baik jika disimpan sendiri," ucap Ujang.
Mentari merasa serba salah,, apa dia harus menceritakan pertemuannya dengan Samuel? mengingat selama ini dirinya dan suaminya,, selalu saling terbuka antara satu sama lain.
"Tari?" ucap Ujang.
"Tadi,, Tari bertemu dengan Samuel di kantor lurah," ucap Mentari.
Tangan Ujang yang sedang mengancing bajunya seketika terhenti,, dia langsung datang ke dekat istrinya lalu duduk bersila di depan istrinya.
"Abang, tidak marah kan?" tanya Mentari yang khawatir begitu melihat ekspresi perubahan wajah suaminya.
"Kamu ke kantor lurah mau apa?" tanya Ujang.
"Ikut Ibu," jawab Mentari.
"Samuel di kantor lurah, mau apa?" tanya Ujang lagi.
"Dia termasuk rombongan Pak Bupati," jawab Mentari.
"Lalu salahnya di mana?" tanya Ujang sambil tersenyum menatap istrinya.
"Kalian kan bertemu tidak sengaja,, jadi tidak ada yang salah,, kecuali kalian bertemu karena janjian,, itulah baru Abang akan marah," ucap Ujang lagi.
"Kami sempat bicara sejenak tadi?" ucap Mentari lagi.
"Maksudmu?" tanya Ujang yang mulai khawatir istrinya itu akan tergoda dengan Samuel,, Ujang tau betul Samuel itu adalah tipe Mentari,, apalagi saat ini anak itu sudah bekerja di kantoran,, Ujang masih mengingat betul Samuel pernah mengatakan bahwa dia masih mencintai wanita yang kini sudah menjadi istri sah nya Ujang saat ini.
"Waktu aku ke kamar kecil,, kami berpapasan dan kami bicara sebentar," ucap Mentari yang mengakui semuanya,, ada perasaan bersalah dihati Mentari saat mengatakan telah berbicara sebentar dengan Samuel.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ujang.
"Tidak banyak,, dia hanya menyampaikan informasi bahwa kawan-kawanku telah banyak yang sukses," ucap Mentari dan langsung membuat Ujang bernafas lega, berarti Samuel tidak merayu istrinya,, Samuel tidak mengatakan bahwa dia masih mencintai Mentari.
Tentu saja Mentari tidak akan mengucapkan permasalahan masa lalu yang sempat disinggung Samuel tadi,, apalagi ungkapan cinta dari Samuel tadi,, yang masih mencintai dirinya,, Mentari tidak akan mengatakan itu pada Ujang.
"Baguslah kalau mereka sukses artinya orang tuanya telah berhasil mendidik anaknya sampai anaknya mendapatkan pekerjaan," ucap Ujang.
Ujang menjawab santai sedangkan Mentari tidak puas dengan jawaban santai itu.
"Lalu apa yang menggangu mu? apakah Samuel mengatakan sesuatu selain dari itu?" tanya Ujang yang mulai merasa was-was sambil menatap istrinya.
"Tidak,, dia hanya mengatakan bahwa dia juga sudah sukses,, dia telah lulus sebagai ASN," ucap Mentari yang tentu tidak akan mengatakan bahwa Samuel tadi meminta dirinya untuk menjadi istrinya tanpa melarang dirinya apabila mau menjadi wanita karir.
Ujang tersenyum,, dia merasa geli sendiri,, anak itu sejak dulu tidak pernah berhenti untuk pamer. Ujang lalu mengelus rambut Mentari dengan lembut.
"Menurut mu apa sukses itu,, Tari?" tanya Ujang.
Mentari tergagap,, dia tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya itu,, menurutnya itu pertanyaan yang hanya menguji.
"Apakah menurutmu sukses itu harus bekerja di kantor? memakai pakaian bagus dan sama sekali tidak mengerjakan pekerjaan rumah?" ucap Ujang lagi.
"Kamu tahu apa alasan orang bekerja, Tari," tanya Ujang.
"Tentu saja untuk mendapatkan gaji dan pengalaman," jawab Mentari.
"Jika kita bandingkan lebih besar mana persentase orang yang ingin mendapatkan pengalaman dengan orang yang membutuhkan uang?" tanya Ujang.
"Tentu saja lebih besar untuk mendapatkan uang," jawab Mentari berdasarkan pikirannya sendiri,, dulu Mentari bercita-cita ingin membeli motor sendiri memakai uangnya sendiri juga.
"Banyak wanita di luaran sana terpaksa meninggalkan anak-anaknya kepada pengasuh, pergi pagi pulang sore demi mencari yang namanya uang, tidak semua sebenarnya tapi sebagian besar seperti itu, sukses itu berbeda porsi,, Tari, bisa menjadi istri yang baik dan mendidik anak-anaknya dengan baik itu adalah wanita yang sukses juga,, sukses sebagai istri dan sukses sebagai ibu juga, bukankah pekerjaan yang paling mulia bagi perempuan adalah di rumah?" ucap Ujang.
"Tapi inikan sudah sangat berbeda zaman,, Abang?" ucap Mentari.
"Iya, tapi kodrat wanita itu tetap sama," ucap Ujang.
Mentari sedikit tidak sependapat dengan suaminya itu.
"Aku tidak melarang kamu bekerja Tari, tapi mungkin saat ini anak-anak lebih membutuhkan kamu, aku bisa memenuhi semua kebutuhan kamu karena kita memiliki uang yang cukup banyak, jika kamu ingin bekerja maka nanti akan ada waktunya,, tapi lakukan itu dengan kesenangan bukan karena beban," ucap Ujang.
__ADS_1
"Jadi kalau anak-anak sudah besar,, Tari boleh bekerja juga?" tanya Mentari.
"Boleh tapi yang dekat-dekat rumah saja karena kita tidak mungkin pindah rumah," ucap Ujang lagi.
"Dekat-dekat sini? di mana Abang?" tanya Mentari yang awalnya mulai bahagia kini terlihat kecewa lagi, mereka tinggal di Desa tidak ada pekerjaan yang bisa dianggap menyenangkan jika di Desa.
"Jadi guru SD bisa juga kan?" ucap Ujang.
"Tari, maunya jadi guru SMA, Abang," ucap Mentari.
"Boleh,, asalkan anak-anak sudah pada besar,, kecuali...," ucap Ujang.
"Kecuali apa Abang?" tanya Mentari penasaran.
"Kamu melahirkan lagi, itu pasti lain perkara," ucap Ujang sambil tersenyum.
Mentari langsung mendengus, Mentari sudah menekankan beberapa kali kepada suaminya itu, bahwa mereka cukup memiliki tiga anak saja, Mentari tidak mau kebobolan lagi,, setelah anak mereka lahir dia akan langsung memasang KB.
Akan tetapi Ujang sepertinya tidak mengindahkan ucapannya, buktinya suaminya itu tetap berkeyakinan mereka akan memiliki lebih dari tiga orang anak.
"Tiga saja sudah cukup!" ucap Mentari lalu bangkit berjalan menuju Aqeela yang saat ini sudah mulai memainkan kabel listrik.
"Belum tentu,, banyak orang yang memasang KB juga,, tapi mereka tetap hamil,, jika Allah sudah berkehendak,, maka tidak ada yang tidak mungkin,, Tari?" ucap Ujang.
"Pokoknya Mentari sudah tidak mau menambah anak,, titik," ucap Mentari.
"Yang bisa bicara seperti itu kalau orang yang tidak memiliki suami,, nah kamu? setiap malam menempel sama Abang,, pengen gitu-gituan," ucap Ujang lagi.
"Abaaanngggg," kesal Mentari.
"Itukan kenyataan Tari,, katanya tidak mau punya anak mana bisa, seperti kataku tadi,, kalau masih bersuami janganlah takabur tidak mau punya anak,, istriku," ucap Ujang.
Ujang tersenyum geli ketika melihat wajah kesal Mentari lalu Ujang pun segera pergi menuruni tangga meninggalkan Mentari yang saat ini sedang gelisah karena ulah Ujang itu.
"Kalau melahirkan terus,, kapan aku bisa bekerja?" ucap Mentari.
Mentari membatin sendiri,, tapi apa yang dikatakan oleh Ujang memang ada benarnya juga,, dia sering mencuri dengar pengalaman ibu-ibu yang sudah berumah tangga, bahwa KB itu ada yang berhasil untuk sebagian orang dan sebagiannya lagi tidak mempan.
Dia juga pernah mendengar cerita ibunya bahwa ada yang mengamuk kepada dokter karena dia hamil lagi meskipun sudah memasang KB. Mentari langsung bergidik ngeri sendiri, apa dia akan menjadi bagian kecil dari yang tidak mempan itu? sejujurnya dia tidak menyukai anak yang banyak,, apa jadinya jika setiap tahun dia melahirkan, seperti jarak kehamilan pertama dan kedua ini yang begitu dekat. Tidak terbayangkan bagaimana repotnya mengurus anak yang banyak,, membayangkan akan memiliki anak lagi setelah Aqeel dan Aqeela, Mentari berusaha membangun mentalnya bahwa dia pasti bisa melaluinya. Mentari sangat takut tidak bisa mengurus semua anak-anaknya dengan baik,, dia benar-benar takut menjadi Ibu yang gagal.
__ADS_1