Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Hanya tidak suka bukan cemburu,,,


__ADS_3

Kedua mata Mentari langsung menatap tajam pada wanita yang terlihat sok asik dan begitu akrab dengan semua orang,, Marni bahkan terlihat membawa kue yang banyak,, lalu langsung pamer pada semua orang bahwa kue itu dia yang buat sendiri,, sesekali istri Azis memuji kue buatan Marni membuat Mentari semakin kesal.


"Aku bawa bolu gulung, Ujang biasanya suka,, iyakan Jang?" ucap Marni tanpa rasa bersalah sedikitpun,, Mentari hanya mendengus kesal. Sedangkan Ujang hanya diam saja dan biasa saja menghadapi Marni yang seperti itu,, sejak tadi Marni tidak memperdulikan Mentari,, Marni menganggap Mentari hanya angin lalu saja.


"Marni,, sudah pulang suamimu?" tanya istri Azis,, karena dia mendengar gosip-gosip tidak baik mengenai rumah tangga Marni.


"Dia tidak akan pulang,, karena dia sudah menikah lagi di luaran sana," jawab Marni dengan entengnya,, bahkan Marni tanpa canggung sedikit pun berjalan pergi ke dapur mengambil piring dan juga pisau,, seakan-akan itu di rumahnya sendiri,, Mentari bahkan baru tau kalau rumah tangga Marni tidak harmonis lalu kenapa pernah dia sok mengajari Mentari.


"Turut prihatin yah Mar,, aku nggak tau," ucap istri Azis,, memang dia tidak tau kalau suami Marni ternyata sudah menikah lagi,, karena dia mendengar tidak sejauh itu.


"Sudah biasa kok,,, dari dulu dia memang sudah begitu,,, aku sudah sangat kebal," ucap Marni lagi.


"Sabar yah Marni,, demi anak-anak mu," ucap Ibu Mentari juga.


"Iya dan sekarang aku udah nggak mau menerima dia lagi,, sudah dua kali dia menikah tanpa izin dari aku, oh iya rumah ini terlihat sangat sepi,, sudah lama aku tidak datang kemari,, terakhir dua puluh tahun yang lalu kan Jang,, aku kemari? oh iya foto lama kita masih kamu simpan Jang?" tanya Marni lagi seperti tanpa dosa dan terlihat seperti sengaja.


Mentari tidak tahan lagi mendengar itu,, Mentari bangkit lalu masuk ke dalam kamarnya seiring dengan Ujang yang menghela nafasnya berat melihat tingkah Marni yang tidak jelas menurutnya.


########


Tangan Mentari bekerja dengan sangat cekatan mengganti perban di bahu Ujang, namun sedikit pun dia tidak melirik pada otot yang semalam membuat nya sangat terkesima itu. Walaupun sejak tadi Mentari hanya diam saja tapi dia melayani Ujang dengan sangat baik.


"Sudah selesai,," ucap Mentari datar sambil menaruh kotak obat itu ke dalam lemari,, lalu Mentari duduk di kursi rotan sambil membaca buku ditangannya,, sangat terlihat jelas dia menghindari Ujang dan tidak ingin berbicara banyak dengan Ujang.


"Tari,, kamu marah?" tanya Ujang.


"Nggak," jawab Mentari dingin.


"Tapi dari tadi kamu ketus terus,," ucap Ujang.


"Lagi bosan saja," ucap Mentari.


"Bosan sama aku lagi?" tanya Ujang.


"Nggak," jawab Mentari.


"Terus?" tanya Ujang lagi.


"Sudahlah,, Abang tidur duluan saja,, aku belum mengantuk sama sekali," ucap Mentari sambil membelakangi Ujang.


"Ini pasti karena kedatangan Marni tadi kan?" ucap Ujang.


Mentari hanya diam saja dan tidak membantah sedikit pun.


"Tari,, ayo kita bicara," ucap Ujang sambil bangkit dari duduknya dan mendekati Mentari lalu duduk di samping Mentari.


"Katakan apa yang mengganggu mu," ucap Ujang lagi.


"Apa kak Marni suka datang kesini,, terus Abang masih simpan foto bersama dia?" tanya Mentari.


"Tidak pernah ada foto bersama dia di rumah ini, aku saja berfoto dengan dia sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari,, itupun dia yang maksa-maksa dan foto itu ada di ponselnya,, dan dia juga kesini baru hari ini mungkin karena dia dengar aku sakit,, jadi sebagai teman lama...,"


"Bilang saja mantan! teman lama.. teman lama,, dia sekarang janda,, paslah tuh,," ucap Mentari yang langsung memotong ucapan Ujang tadi.


"Kalau dia janda,, apa hubungannya dengan aku Tari?" ucap Ujang yang merasa geli sendiri dihubung-hubungkan dengan Marni yang janda.


"Dia akan dekati Abang lagi,, dia masih cantik tuh," ucap Mentari.

__ADS_1


"Aku sudah punya istri tidak akan mampan didekati oleh siapapun apalagi sama masa lalu,,, ngomong-ngomong kalau soal cantik,, kamu lebih cantik dari dia Tari,, bahkan ketika dia masih muda pun jika dibandingkan kamu lebih cantik,," ucap Ujang yang memang tidak bohong,,, Marni waktu muda memang cantik dan jadi primadona kampung tapi Mentari jauh lebih cantik.


Mentari berusaha keras mempertahankan ekspresi wajah cemberutnya,, Mentari sempat ingin tersenyum senang begitu Ujang memujinya lebih cantik,, karena dia tau Ujang jika berkata selalu jujur makanya karena terlalu jujur Mentari kadang kesal dengan ucapan Ujang yang tanpa sengaja kadang membuatnya tersinggung.


"Aku tidak suka sama dia Abang," ucap Mentari.


"Aku tau Tari,, tapi mau bagaimana lagi dia sendiri yang datang kesini tanpa dipanggil,, sehingga membuat kamu cemburu," ucap Ujang.


"Tari hanya tidak suka saja,, Tari tidak cemburu,, pokoknya tidak cemburu," ucap Mentari.


"Kamu tidak suka karena dia pernah menjadi mantan aku kan?" tanya Ujang lagi.


"Bukan tentu saja bukan,, pokoknya Abang jangan terlalu percaya diri,, ucap Mentari sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju tempat tidur,, Mentari duduk di atas tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Abang jangan pernah berpikir kalau aku cemburu sama Marni,, ishh amit-amit," ucap Mentari lagi.


"Iya baiklah kamu tidak cemburu,, kamu tidak suka padanya bukan karena dia mantan ku,, iyakan?" ucap Ujang lagi.


"Iya," ucap Mentari cepat.


"Padahal tadi aku sudah sangat senang,, aku pikir kamu tidak suka padanya karena kamu cemburu yang itu berarti kamu sudah ada perasaan padaku,, tapi kalau dipikir-pikir lagi itu tidak mungkin,, sangat mustahil jika wanita secantik kamu bisa ada rasa padaku,, aku yang tidak pandai bergaya,, aku yang sudah tua ini,, dan aku yang hanya laki-laki kampung,," ucap Ujang.


"Bukan begitu Abang," ucap Mentari cepat.


"Lalu bagaimana,, Tari?" tanya Ujang.


Mentari terlihat kebingungan,, Mentari tampak ingin menjelaskan pada Ujang tapi mendadak Mentari diam.


"Ya sudahlah Tari,, aku tau diri kok,, berharap terlalu cepat padamu padahal aku tau sendiri bagaimana pernikahan ini bisa terjadi, aku yang tidak laku dan kamu yang patah hati,, jadi kita saling melengkapi. Itu saja yah mungkin hanya itu saja," ucap Ujang sambil merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut pakai tangan kirinya dan Mentari yang masih betah membuang muka ke arah lain.


"Aku bicara sesuai kenyataan,, Tari,, jadi aku mengukur diriku dengan bayang-bayang ku sendiri,, mungkin aku terlalu mengambil hati tentang ciuman kita tadi malam," ucap Ujang.


Mentari langsung merasakan jantungnya berdetak cepat dengan pipi yang memanas,, ternyata bukan hanya dia saja yang merasa ciuman itu berkesan tetapi Ujang juga.


"Baiklah,, terima kasih Tari karena telah mengganti perban ku tanpa rasa jijik," ucap Ujang.


"Abang tunggu," ucap Mentari cepat saat melihat Ujang akan memejamkan matanya. Setelah sadar,, Mentari menyesal telah melarang Ujang untuk tidur, apa dirinya berharap untuk mengulangi kejadian tadi malam? Mentari sungguh malu dengan isi otaknya sendiri.


"Iya ada apa?" tanya Ujang.


"Eh,, tidak kok Bang," ucap Mentari sambil berusaha tersenyum.


"Tidurlah! jangan begadang lagi," ucap Ujang.


Mentari pun menurut,, Mentari merebahkan tubuhnya di samping Ujang dengan sangat pelan,, Mentari bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


"Umurmu berapa Tari?" tanya Ujang.


"Dua puluh dua lebih," jawab Mentari.


"Aku lebih tua tujuh belas tahun darimu,, pantas saja kamu sangat minder,, aku genap berusia tiga puluh sembilan tahun dua hari yang lalu," ucap Ujang.


"Hah, jadi dua hari yang lalu Abang ulang tahun?" ucap Mentari yang mulai tertarik.


"Tidak ada istilah ulang tahun untukku Tari,, semakin bertambah usia berarti semakin berkurang jatah hidup,, jadi untuk apa merayakan nya," ucap Ujang.


"Iya Abang benar juga," ucap Mentari.

__ADS_1


"Tari,, Ayahmu ingin cucu yang banyak," ucap Ujang lagi.


Mentari terkejut ternyata Ujang menyimak candaan Ayahnya tadi siang.


"Dan satu pun belum tentu akan ada Tari," ucap Ujang.


"Maksud Abang?" tanya Mentari.


"Tidak ada maksud apa-apa," ucap Ujang.


"Jangan buat Tari penasaran Bang," ucap Mentari.


"Bagian mana yang membuat kamu penasaran,, Tari?" tanya Ujang sambil menoleh,, mata mereka saling menatap tanpa berkedip.


Mentari tampak menelan salivanya susah payah,, pertanyaan itu menjadi sangat ambigu begitu dibarengi dengan tatapan mata Ujang padanya.


"Tari?" ucap Ujang.


"Kenapa Abang pikir kita tidak akan mendapatkan nya?" tanya Mentari yang ingin meluruskan pikirannya yang sudah kemana-mana.


"Kita ini masih tahap mengenal Tari,, jadi tidak mungkin mendapatkan anak secepat itu," ucap Ujang.


Mentari ingin sekali membantah tapi dia membatalkan niatnya kembali,, Mentari jadi serba salah sekarang.


"Jika kita diberi kesempatan untuk memiliki anak,,, Abang mau punya anak berapa?" tanya Mentari.


Mentari bersumpah dia sangat malu sekarang karena menanyakan hal itu,, tapi mulut dan otaknya tidak sejalan,, mulut bekerja lebih dulu.


Wajah Ujang seketika berubah menjadi sangat cerah.


"Aku ingin anak yang banyak,,," jawab Ujang.


"Pasti akan sangat merepotkan," ucap Mentari sambil tersenyum,, Mentari belum pernah membayangkan sebelumnya akan memiliki anak apalagi dengan Ujang.


"Kalau anak-anak sudah besar kita pasti akan senang,,," ucap Ujang.


Mentari lagi-lagi tersenyum,, Mentari lupa bahwa hampir seharian dia merajuk.


"Tari," panggil Ujang lagi.


Mentari pun menoleh pada Ujang,, dan mendapatkan tatapan itu lagi.


"Apa kamu tau alasan kenapa aku menolak memakan jengkol buatan Ibu tadi?" tanya Ujang.


"Ke.. kenapa?" tanya Mentari.


"Karena,"


Cup!!!


Tari langsung terkesiap.


"Aku tidak ingin aromanya membuat kamu tidak nyaman,," ucap Ujang setelah mencium bibir Mentari.


Mentari langsung bersorak di dalam hatinya,, malam ini dia mendapatkan lagi ciuman dari suaminya,, lebih mesra,, lebih manis, dan juga lebih lama.


Mentari mengakui di dalam hatinya dia memang sangat cemburu pada Marni,, oh hatinya memang tidak bisa memilih pada siapa dia akan jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2