
Ujang pulang dengan wajah yang lesu, kemarin dia sudah mendapatkan pembeli, pembeli mengatakan akan membeli mobil itu jika kondisinya sehat. Ujang sudah berharap mobil itu terjual, tetapi ketika dia membawa mobil kesayangannya kepada pria itu, ternyata pria itu menawar dengan harga yang sangat murah, enam puluh juta. Ujang sangat tidak rela menjual mobil semurah itu padahal harganya bisa sampai sembilan puluh lima juta, jika mendapatkan pembeli yang profesional.
Mentari yang baru sampai di rumah penasaran begitu melihat wajah kuyu Ujang.
"Ada apa Abang? kenapa mobilnya kembali dibawa pulang?" tanya Mentari.
Terlihat Ujang tidak langsung menyahut, pria itu duduk di atas bangku papan, menyandarkan kepalanya, gurat wajah yang begitu lelah dan begitu putus asa sangat jelas terlihat.
"Harga yang disepakati tidak sama dengan harga jadi, dia cuma mampu membeli enam puluh juta padahal kemarin dia mau membeli sekitar sembilan puluh juta, mungkin karena dia tahu kita terdesak uang makanya dia bertingkah,," ucap Ujang.
Mentari menghela nafas panjang, dia tahu dunia memang tidak mudah, seseorang akan mendekat ketika kita dalam keadaan kaya raya, padahal dia tahu betul bahwa Anwar orang yang sangat dekat dengan Ujang, pria itu sesekali meminjam uang dan bahkan tidak pernah didesak oleh Ujang untuk mengembalikannya dalam waktu yang cepat.
__ADS_1
"Dari sembilan puluh juta menjadi enam puluh juta, itu sangat tidak masuk akal Abang. Sama saja dia mempermainkan kita," ucap Mentari.
Ujang tidak menjawab dia melihat ekspresi kesal dari wajah Mentari.
"Saat lagi seperti ini,, baru belang manusia akan kelihatan yah Abang? padahal dia dengan Abang itu begitu dekat sehingga dia sering meminjam uang, dia dekat pas lagi butuh ketika giliran kita yang baru kali ini mengharapkan pertolongan dia, ini yang dilakukannya pada kita, memanfaatkan ketidakadaan kita,, padahal mobil ini adalah satu-satunya harapan supaya kita kembali membuka usaha dan memiliki pekerjaan," ucap Mentari.
"Kamu benar Tari,, kita akan diuji dengan keadaan paling bawah, di sana kita bisa melihat siapa yang paling setia dan siapa yang akan pergi meninggalkan kita," ucap Ujang.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" ucap Mentari yang tidak tahu apalagi yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan uang dalam waktu yang cepat.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ujang balik, Ujang sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan, jalan satu-satunya adalah melepas mobil itu dengan harga enam puluh juta walaupun mereka menderita kerugian.
__ADS_1
"Mungkin untuk sementara kita cari orang yang bisa menawar lebih mahal daripada harga enam puluh juta," ucap Mentari.
"Ya mungkin begitu lebih baik," ucap Ujang lalu segera bangkit meninggalkan Mentari begitu saja, dia merasakan kepalanya sedikit sakit, entah mengapa dia merasakan hatinya sedikit bersedih hari ini, dia takut kehilangan semuanya, tidak hanya kehilangan harta bendanya, tetapi juga kehilangan cinta dan kesetiaan Mentari terhadapnya,, Mentari bukan tipe orang yang bisa bersabar dengan kata 'tidak ada uang'.
###############
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Papa," ucap Angelica ketika ayahnya berkunjung di kantornya hari ini.
Pria yang telah membesarkannya selama ini tidak lain adalah cerminan dirinya sendiri, pria tua yang selalu mendapatkan apa yang dia mau, tidak pernah menyerah terhadap bisnis dan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan semua kekayaannya.
"Melihat wajahmu yang begitu puas dan bersinar, Papa yakin kamu telah melakukan suatu hal yang besar," ucap Ayah Angelica.
__ADS_1