
Flashback on...
Wanita itu memandang resah ke ujung jalan. Mata bulatnya harap-harap cemas karena menunggu kehadiran seseorang,, dia meremas jari jemarinya berulang kali sambil memandang ke ujung jalan.
Wanita itu sengaja keluar pada jam pelajaran lalu menyelinap ke belakang sekolah,, lalu berdiri di balik pohon mangga yang umurnya sudah tua. Apa hal yang lebih mendebarkan selain akan bertemu dengan sang kekasih? wanita itu ingin berjumpa untuk melihat sejenak wajah kekasihnya.
Gadis itu bernafas lega, saat melihat cowok yang ditunggu-tunggu saat ini lagi melangkah pasti ke arahnya,, ada degupan yang tidak biasa,, remaja yang sedang jatuh cinta.
Gadis itu memejamkan matanya,, dalam hitungan detik pacarnya sudah berada di dekatnya,, meskipun masih ada jarak tiga meter.
"Ada apa?" tanya pacar wanita itu yang tidak lain adalah Ujang remaja, seketika wajah gadis yang bernama Marni itu langsung menghilang serinya begitu mendengar pertanyaan datar dari Ujang beserta ekspresi wajah Ujang yang datar, setelah dia mengirim surat cinta dengan penuh perjuangan dan dia hanya ditanyai ada apa dengan ekspresi wajah datar pula?
"Tidak apa-apa," ucap Marni kesal. Marni sangat tidak suka diabaikan, Marni juga tidak suka di nomor dua kan, dia sudah biasa mendapatkan perhatian dari lawan jenis karena kecantikan wajahnya, sikap Ujang yang sangat cuek meskipun sudah menjadi pacarnya membuat harga diri Marni merasa dilukai, Marni sebagai gadis populer di sekolah ini merasa sangat tidak suka dan tidak terima.
Marni memandang cowok itu,, Marni memang sudah sangat jatuh cinta pada cowok itu,, padahal dari sekian banyak pria yang mengejar dirinya,, Ujang terlihat terlalu biasa bahkan sangat cuek,, Marni juga sangat yakin pria di sekolah itu yang tidak mengejar dirinya hanyalah Ujang saja,, tapi dia malah jatuh cinta pada pria yang tidak mengejarnya.
"O.. kalau tidak ada apa-apa aku mau masuk dulu,, aku mau lanjutkan latihanku karena latihanku belum selesai," ucap Ujang.
Marni langsung menatap tidak percaya pada Ujang,, begitu mendengar ucapan cuek Ujang,, memang dirinya lah yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu,, tapi sikap cuek Ujang benar-benar sangat melukai dirinya.
"Kamu pikir kamu saja yang sedang latihan?" ucap Marni kesal.
Ujang hanya mengerutkan dahinya saja begitu mendengar ucapan Marni.
"Ya sudah kamu kembali saja sana," ucap Marni kesal.
Begitu mendengar ucapan Marni,, Ujang pun langsung pergi meninggalkan Marni tanpa peduli dengan kekesalan Marni saat ini.
"Dasar cowok sangat menyebalkan," ucap Marni sambil berjalan menuju kelasnya kembali.
Flashback off...
#########
Kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun,, Marni memandang dirinya di cermin sambil tersenyum penuh kemenangan,, sebentar lagi,, dia hanya perlu menunggu sebentar lagi,, menunggu Ujang yang akan tergila-gila padanya,, bukankah itu pencapaian yang sangat luar biasa? selama ini dia tidak pernah bisa membuat Ujang menyukai dirinya, padahal Ujang itu kaya,, dia tidak perlu pusing memikirkan biaya hidupnya, andaikan saja dia tahu cara ini sejak dulu,, maka sejak mereka masih remaja dia pasti akan melakukan cara ini,, supaya Ujang bisa mencintai dirinya dan menikahi dirinya.
Jika menikah dengan Ujang maka anak-anaknya akan mendapatkan warisan yang sangat banyak,, Ujang anak tunggal,, dia tidak lagi memiliki saudara yang masih hidup,, saudara angkatnya ikut meninggal pada kecelakaan waktu itu,, dan dia hanya perlu menyingkirkan Mentari,, itu adalah urusan yang sangat mudah.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak sabar menunggu tiga hari sampai semuanya bereaksi,, orang tua itu adalah orang paling terkenal kalau masalah seperti itu, tidak ada satupun yang tidak akan berhasil. Oh,, Ujang,, jangan pernah melawan Marni, kamu pasti akan tergila-gila padaku, dari dulu kamu tidak pernah mencintai aku,, sekarang kamu sendiri yang akan datang kepadaku,, hahaha," ucap Marni sambil tertawa penuh kemenangan di depan cermin.
###########
Ujang terlihat mondar-mandir,, sudah tiga hari,, Azis tidak masuk padahal pesanan mereka sangat banyak, mereka ada proyek membuat meja dan kursi untuk rumah makan.
"Nggak di angkat Abang?" tanya Mentari dari belakang setelah selesai menjemur pakaian.
"Tidak,, Bang Azis tidak pernah seperti ini sebelumnya,, kalau pun dia sakit pasti dia akan memberikan kabar," ucap Ujang khawatir dan juga bingung.
"Abang, nggak punya nomor telepon istrinya?" tanya Mentari.
"Tidak,, kenapa ya kira-kira?" ucap Ujang.
"Atau kita pergi saja ke rumah Bang Azis,,, siapa tau dia sakit keras Abang, dan tidak sempat mengabari kita," ucap Mentari lagi.
"Kamu benar, ayo ganti baju anak-anak,, firasat ku sudah tidak enak sejak tadi," ucap Ujang.
Mentari pun menurut,, tidak lama Mentari pun sudah siap. Mereka lebih baik mencari tahu sendiri,, beberapa menit kemudian mereka pun sampai ke rumah Azis,, rumah sederhana yang memiliki pekarangan yang cukup luas,, ada kebun sawit di kanan kiri rumah Azis,, setahu Ujang itu adalah kebun sawit milik Azis.
"Masuklah,, entah apa yang terjadi padanya," ucap wanita itu panik.
Ujang dan Mentari langsung saling pandang,, mereka masuk ke dalam rumah itu,, Ujang tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya saat ini,, benar-benar terasa sangat aneh, Azis terlihat sedang memeluk guling dan menciumi guling itu sambil berbicara sendiri,, dan kakinya terlihat dirantai saat ini.
"Ada apa ini? kok Bang Azis dirantai seperti ini?" tanya Ujang kepada istri Azis.
Istri Azis langsung menangis,,, sedangkan anak Azis memandang ayahnya dengan pandangan mata sangat sedih.
"Dua hari yang lalu dia demam, terus besoknya dia mendadak jadi sangat aneh, dia sangat nekat mau kabur ke rumah Marni di tengah malam,, kenapa dia seperti itu Ujang? dia tidak pernah seperti ini,,, siapa yang sudah mengerjai dia? kenapa suamiku begini?" ucap istri Azis sambil menangis tersedu-sedu.
Ujang menghela nafasnya berat lalu menurunkan Si kembar dari gendongannya.
"Sepertinya dia memang dikerjai," ucap Ujang.
"Siapa yang kerjai dia? tidak mungkin Marni naksir kepada bang Azis,, suamiku ini tidak ada gantengnya sedikitpun dari dulu Marni tidak menyukai suamiku,, kenapa dia malah mengerjai bang Azis?" ucap istri Azis dengan berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, dan Ujang belum memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
"Begini saja,, aku akan cari orang yang bisa mengobati bang Azis," ucap Ujang.
__ADS_1
"Tolong yah Ujang,, kamu sudah seperti adik kami, kalau Bang Azis gila entah bagaimana nasib anak-anak kami yang masih kecil," ucap istri Azis sambil mengusap air matanya,, lalu tiba-tiba Azis bangun dari tidurnya.
"Ujang, tolong kamu bantu aku lepas rantai di kakiku ini,, istriku memperlakukan aku sama seperti gajah," ucap Azis,, raut wajah Azis terlihat biasa saja, Azis seperti orang normal kalau dilihat sekilas.
"Bang Azis memangnya mau kemana?" tanya Ujang.
"Aku mau ke rumah Marni, aku sudah sangat rindu berat pada Marni. Oh Marni sabarlah sayang,, saat ini aku sedang disiksa istriku," ucap Azis mengeluh,, sedangkan Mentari hanya bisa mematung melihat Azis yang seperti itu, mendadak lidah Mentari kelu.
"Kamu lihat sendiri kan Jang? dia sudah seperti manusia yang kehilangan akal," ucap istri Azis.
"Begini saja, Kakak tahan dulu Bang Azis,, aku akan mencari jalan keluar nya, jangan sampai dia lepas,, malu sama orang kampung, rahasia ini kita harus jaga," ucap Ujang.
Istri Ujang menghapus air matanya sambil menganggukkan kepalanya,, dia merasa lega begitu habis mendengar ucapan Ujang.
Setelah itu Ujang dan Mentari pun izin pamit karena si kembar rewel,, si kembar rewel karena mengantuk mereka memang terbiasa tidur siang.
"Aneh banget," ucap Mentari,, apa yang barusan dilihatnya sungguh tidak masuk di akalnya.
"Memang aneh," ucap Ujang sambil mengemudikan mobilnya.
"Menurut Abang siapa pelakunya?" tanya Mentari.
"Siapa lagi kalau bukan Marni," ucap Ujang.
"Tapi aneh banget kenapa dia bisa mengerjai Bang Azis, Tari lihat sendiri dia selalu kesal kalau bertemu dengan Bang Azis, kok malah dia mengerjai Bang Azis?" ucap Mentari.
"Aku juga berpikir begitu Tari, rasanya aneh sekali dia menyukai Bang Azis, aku melihat sejak dulu mereka seperti musuh," ucap Ujang lagi.
"Memang sangat mustahil Abang, kecuali yang dikerjai itu Abang baru masuk akal, eh tapi tunggu dulu," ucap Mentari.
"Mari kita uraikan satu persatu. Beberapa hari yang lalu Marni mendadak muncul setelah cukup lama menghilang, dan anehnya dia langsung kesini menggoda Abang secara terang-terangan,, dengan alasan mau memesan perabot, tapi terlihat jelas dia tidak serius untuk itu," ucap Mentari.
"Lalu?" tanya Ujang yang masih belum mengerti dengan maksud istrinya.
"Kemudian dia tidak muncul dihari berikutnya,, lalu tiba-tiba saja Bang Azis juga seperti itu, apa jangan-jangan niat dia ingin mengerjai Abang tapi malah yang kena Bang Azis?" ucap Mentari.
Ujang pun terdiam karena cara berpikir istrinya itu logis juga, dia harus mencari tau jika niat Marni memang seperti itu, maka Marni sudah sangat keterlaluan sampai berniat jahat seperti itu pada dirinya yang jelas-jelas tidak pernah menyukai wanita itu.
__ADS_1