Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Hamil muda?


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Mentari benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah kecewanya, harapannya untuk menjadi PNS sirna sudah,, Mentari tidak lulus di tes kedua,, setelah dia melihat namanya tidak muncul di tabel pengumuman yang diberikan secara online, mood Mentari menjadi memburuk,, seharian dia membungkus dirinya di dalam selimut dan juga mengeluhkan tidak enak badan.


Padahal Mentari sudah berkhayal bisa menjadi PNS,, agar dirinya tidak dicap sebagai pengangguran,, dari dulu Mentari berniat setelah dia mendapatkan pekerjaan,, dia akan membiayai sekolah adiknya sampai adiknya sarjana,, tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak padanya sekarang.


Ujang masuk ke dalam kamar lalu mengelus rambut Mentari dengan sangat lembut,, Mentari menggeliat malas,, Mentari tidak tidur tapi dia hanya ingin memejamkan matanya tanpa melakukan apapun.


"Tari,, ayo makan siang dulu," ucap Ujang.


"Abang,, aku lagi nggak selera," ucap Mentari sambil memejamkan matanya kembali, Mentari menarik selimutnya kembali padahal cuaca di luar begitu panas.


"Abang,, aku pengen banget makan jambu madu, tapi yang tidak terlalu manis, kemarin,, Tari lihat pohon jambu madu Mak Aisyah sudah berbuah,, Abang mau nggak ambilkan buat aku?" tanya Mentari.


"Tentu mau,, tapi kamu harus makan nasi dulu,, dari tadi pagi kamu belum makan apa-apa," ucap Ujang yang berusaha membujuk istri manjanya itu.


Mentari pun memaksakan dirinya bangun,, saat ini bibir Mentari pucat,, entah kenapa dirinya merasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa.


"Sepertinya kamu sakit Tari,, kita ke dokter saja yah?" ucap Ujang.


"Nggak mau Abang,, Tari takut minum obat apalagi pada jarum suntik,, Tari takut," ucap Mentari cepat.


Ujang pun mengambil piring yang berisi nasi,, sayur bayam dan ayam goreng,, karena istrinya yang terlihat lesu,, dia yang mengerjakan pekerjaan rumah hari ini,, mulai dari memasak,, mencuci dan juga bersih-bersih.


"Sini aku suapi," ucap Ujang.


Mentari pun mendekat kepada Ujang. Lalu Mentari membuka mulutnya biasanya masakan Ujang selalu enak dilidahnya tapi kenapa sekarang malah terasa aneh,, seperti tidak diberi garam sama sekali.


"Udah,, Tari udah kenyang sekarang," ucap Mentari lalu mengambil air putih dan meminumnya,, padahal baru saja beberapa suap Mentari makan.


"Ayo satu kali lagi," ucap Ujang.


"Nggak Abang,, Tari udah kenyang,, nanti malam kita nginap di rumah Ibu saja yah, Tari ingin banget makan gulai ayam nanas," ucap Mentari,, mata Mentari bersinar membayangkan rasa gulai dan asam bercampur di mulutnya,, beberapa minggu terakhir dia memang selalu merasa aneh.


"Baiklah,, sekarang kamu mandi dulu atau aku yang mandikan," goda Ujang sambil tersenyum penuh maksud.


"Jangan," tolak Mentari dengan tegas.


Dia sangat tau apa yang akan terjadi jika tawaran tadi dia terima,, Ujang itu terlihat sangat tenang namun sangat berbahaya,,, Mentari tidak punya tenaga untuk melayani.


Ujang langsung tersenyum geli menatap punggung istrinya yang menjauh,,, Ujang sempat cerita kepada Azis bahwa istrinya itu selalu meminta sesuatu yang sangat tidak biasa,, Azis bilang hal itu biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil,, seingat Ujang,, istrinya itu tidak pernah datang bulan dalam waktu dua bulan ini, namun Ujang tidak ingin memaksa istrinya untuk memastikan, Ujang takut istrinya yang masih muda itu tidak siap dengan kenyataan,, kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang Ibu secepat itu.


Ujang mengabulkan keinginan Mentari yang ingin makan jambu madu, Mak Aisyah adalah wanita yang berumur enam puluh lebih,, wanita itu aktif memberikan pengajian pada Ibu-Ibu di Desa,, saat Ujang mengutarakan keinginannya untuk meminta jambu madu itu,, Mak Aisyah langsung tersenyum.


"Sepertinya istrimu hamil," bisik Mak Aisyah sambil memberikan tangga pada Ujang, batang pohon jambu madu lumayan tinggi, pengait yang memiliki tinggi hanya beberapa meter saja tidak cukup untuk menjangkaunya.


"Aamiin,, mudah-mudahan saja yah Mak,, kami belum pergi memeriksa,, dia belum mau memeriksakan dirinya,, aku tidak mau memaksanya,," ucap Ujang.

__ADS_1


"Wajar dia masih muda,, biasanya wanita zaman sekarang belum siap memiliki anak cepat,," ucap Mak Aisyah.


Mereka kemudian memandang Mentari yang tengah menengadah ke atas pohon, memandang jambu madu yang siap untuk dipetik itu.


"Hati-hati Jang," ucap Mak Aisyah.


"Iya Mak," ucap Ujang, Ujang mengangkat tangga kayu itu dan Mentari menyambutnya dengan sangat antusias.


"Kamu pegang yah,, Tari," ucap Ujang.


"Oke Abang," ucap Mentari semangat.


"Tari mau yang itu,, jangan terlalu matang Bang,, jangan yang merah betul, antara matang dan tidak Bang," ucap Mentari.


"Berarti aku harus coba dulu," ucap Ujang,, saat ini dia telah berpindah dari tangga ke dahan pohon jambu.


"Itu Bang dekat kepala Abang yang masih ada warna hijaunya," ucap Mentari dengan semangat.


Ujang pun mengiyakan lalu mengambil jambu itu.


Tidak lama setelah di rasa cukup Ujang pun turun dari pohon,, lalu menyerahkan kantung plastik yang sudah penuh, Mentari menerima dengan mata berbinar senang,, mereka pun mengucapkan terima kasih pada Mak Aisyah lalu segera ke rumah Mentari.


########


"Katanya jambu madu,, madu apaan pahit gini,, ini mah namanya jambu racun," ucap Dika yang mengeluh lalu segera membuang jambu itu ke tong sampah,,, saat Mentari baru sampai tadi,, Dika langsung merampas kantung plastik Mentari.


"Tempat Mak Aisyah,,, ini isinya yang muda-muda saja, yang matang di plastik satunya lagi," ucap Mentari,, tanpa sadar saat ini dirinya telah memakan separuh dari isi kantung plastik itu.


"Ini yang matang Dika,,, ayo makan," ucap Ujang sambil meletakkan satu kantung plastik lagi.


"Kok dipisah-pisah kak?" tanya Dika.


"Kakakmu tidak suka yang manis-manis," ucap Ibu Mentari sambil memandang Mentari dengan penuh arti.


"Tumben banget biasanya juga anti sama yang asam," ucap Dika yang tak mau kalah.


"Makan sajalah!! mau yang asam atau mau yang manis kamu tinggal pilih saja, tidak usah banyak protes," ucap Mentari.


"Kakak semakin pemarah sekarang, apa Bang Ujang tahan sama kak Mentari?" tanya Dika,, dan Ujang hanya menjawab dengan senyuman saja.


"Ayah mana?" tanya Mentari.


"Belum pulang dari kebun, sawit kita mau panen tapi sayangnya harga sawit sekarang lagi turun entah kapan baru naik lagi," ucap Ibu Mentari.


"Kebun yang mana Bu?" tanya Mentari.


"Kebun yang dekat danau buatan itu," jawab Ibu Mentari.

__ADS_1


Mentari pun mengangguk,, dia ingat kebun itu dibeli dua tahun yang lalu dan kebun itu tidak begitu luas.


"Bang,, bisa nggak bantu perbaiki sepeda ku? rantainya putus Bang," ucap Dika.


"Bisa, mana sepedanya?" tanya Ujang.


"Ada di gudang,, ayo Bang, Dika ambil alatnya dulu," ucap Dika.


Mereka berdua pun pergi menuju gudang, sedangkan Ibu Mentari langsung melihat kantong plastik yang isinya hampir habis itu.


"Sejak kapan kamu suka makan jambu madu,, Tari?" tanya Ibu Mentari,, dia tau betul anaknya itu tidak begitu suka makan buah-buahan.


"Akhir-akhir ini Bu, Tari suka makan yang biasanya Tari tidak suka, kita sengaja nginap disini karena Tari ingin makan gulai ayam nanas," ucap Mentari.


"Biasanya kamu tidak suka itu," ucap Ibu Mentari lagi.


"Sekarang Tari ingin banget, Bu," ucap Mentari.


"Ibu mau nanya tapi kamu jawab yang jujur yah," ucap Ibu Mentari.


Mentari berhenti mengunyah lalu menatap Ibunya dengan tatapan mata waspada.


"Sepertinya sangat serius," ucap Mentari.


"Tidak juga, tapi ini sangat penting,," ucap Ibu Mentari.


"Apa itu Bu?" tanya Mentari.


"Apa kamu hamil?" tanya Ibu Mentari.


Mentari terkejut dan matanya langsung membulat,, dia baru ingat sudah lama sekali dia tidak kedatangan tamu bulanan.


"Kenapa Ibu tanya begitu?" tanya Mentari.


"Dari selera mu dan kebiasaan mu, kamu sepertinya lagi hamil muda," ucap Ibu Mentari.


"Benarkah?" ucap Mentari sambil mendekati Ibunya.


"Memang sih sudah lama Tari tidak datang bulan," ucap Mentari lagi.


"Kapan terakhir kali?" tanya Ibu Mentari lagi.


"Tidak ingat lagi Bu,," jawab Mentari.


"Bagusnya kita periksa dulu, karena kalau kamu benar-benar lagi hamil muda,, tidak baik jika kamu makan nanas muda," ucap Ibu Mentari.


Mentari mendengar ucapan Ibunya. Benarkah saat ini dia tengah hamil muda?

__ADS_1


__ADS_2