
Motor Honda melesat dengan kecepatan sedang, dia tidak menyadari sejak tadi ada empat orang dengan mobil pick up mengikutinya, empat pria utusan Angelica itu menyamar seolah-olah membawa barang dalam mobil pick up, sehingga Ujang sama sekali tidak curiga.
Di tempat lain Mentari tengah merasa sedih, Azzam terpaksa dirawat malam ini, sedangkan dua anaknya Aqeel dan Aqeela hanya rawan jalan, si kembar sudah dibawa oleh Ibu dan Ayah Mentari pulang ke rumah,, Dika sempat menemani Mentari di rumah sakit, tapi anak itu besok harus bangun pagi-pagi untuk sekolah,, Mentari menyuruh dia pulang saja.
Berulang kali gagal menelepon Ujang dan tidak diangkat, kali ini tidak tersambung sepertinya ponselnya mati atau sengaja dimatikan, hal itu membuat Mentari makin kesal.
Azzam sudah tidur sejam yang lalu,, rasanya ingin marah dia merasa Ujang sudah berbeda, Ujang yang sekarang lebih asik dengan dunianya sendiri,, dia suka duduk termangu, bahkan sudah jarang berbicara dengan Mentari.
"Kenapa Abang Ujang seperti ini?" ucap Mentari sambil mengusap air matanya, dia merasa diabaikan, kondisi Azzam yang harus dirawat membuat dia merasa rapuh jika Ujang pergi ke suatu tempat, seharusnya dia mengabarinya sejak pagi sampai malam dia bahkan belum sampai di rumah.
Mentari menelepon beberapa kali kepada ibunya dan ibunya mengatakan hal yang sama, Ujang belum pulang, Mentari memandang Azzam lalu mengusap pipi bayi itu, melihat Azzam yang kejang seperti tadi, seolah-olah dia akan kehilangan anaknya.
Tidak mungkin membawa Aqeel dan Aqeela di rumah sakit, selain sangat aktif anak-anak tersebut juga tidak nyaman, rumah sakit tidak mengizinkan beberapa orang berada dalam ruangan perawatan.
Mentari yang tinggal sendiri merasa gamang, seharusnya ada Ujang di sini menemaninya untuk menggantikan dia berjaga, tapi pria itu malah tidak peduli dan sama sekali tidak mengabari di mana dia sekarang.
Tanpa sepengetahuan Mentari, di lain tempat Ujang merasa heran ketika mobil pick up yang dari tadi berada di belakang dan memacunya, malah mendekat menyerempet ke arah Ujang.
__ADS_1
Pria yang berada di dalam mobil memanggilnya.
"Tolong Bang! tolong... tolong Bang!" kata salah satu pria yang berada di dalam mobil itu kepada Ujang.
Tanpa curiga sedikitpun, Ujang menepikan motornya, serentak dengan orang yang mengemudi mobil pick up itu juga berhenti persis di samping Ujang.
"Ada apa Bang?" tanya Ujang kepada pria yang minta tolong tadi.
"Sesuatu yang tidak beres terjadi kepada teman saya," pria itu menunjuk pria di samping yang terlihat memegang lehernya, seolah-olah sangat kesakitan.
"Bisa bantu menunjukkan arah rumah sakit dari arah sini?" tanya pria itu.
"Berarti tidak jauh yah Bang?" kata pria itu.
"Paling lama satu jam perjalanan," jawab Ujang.
"Rumah sakit itu bisa mengobati orang yang patah kan Bang?" kata pria di sampingnya yang tubuhnya lebih pendek dan dia memakai baju kaos berwarna biru,, Ujang merasa agak aneh dengan pertanyaan ini, terasa tengah dikerjai.
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Ujang dengan lurus, tanpa berpikir macam-macam dia menganggap mungkin pria itu agak bodoh karena menanyakan pertanyaan yang tidak berguna.
"Artinya Abang tahu jalan di rumah sakit dan Abang sudah tahu bahwa rumah sakit bisa mengobati orang patah tulang," ucap pria itu lagi.
Bugh...
Sebuah tendangan mendarat di perut Ujang yang membuat pria itu terpental ke belakang, gerakan cepat itu tak pernah diprediksinya dia roboh dalam keadaan tidak siap.
"Apa yang kalian lakukan?" Ujang bangkit memegang perutnya yang sakit.
"Yang kami lakukan adalah membuatmu patah dan kamu bisa pergi sendiri ke rumah sakit, bukankah katamu rumah sakit cukup dekat?" kata pria satu lagi sambil menghantamkan lututnya ke wajah Ujang.
Ujang berusaha bangkit untuk melawan tapi kedua pria yang masih berada di dalam mobil, memilih turun dalam sekali gerakan mereka menghantam Ujang berkali-kali.
Ujang kalah tenaga dengan empat pria yang memberikannya pukulan tanpa henti itu, wajahnya sudah babak belur karena dikeroyok, dadanya terasa sakit, setiap kali dia bangkit untuk membalas pukulan, pria yang lain malah memberinya pukulan yang baru.
Ujang yang merasa sudah tidak berdaya bahkan ketika pandangannya berkunang-kunang,, salah satu dari pria itu meletakkan dua lututnya di bawah ban mobil.
__ADS_1
Krak!!!
Bunyi itu terdengar seiring dengan jeritan sangat kesakitan Ujang, keempat pria itu segera melarikan diri meninggalkan Ujang yang sudah tidak sadarkan diri.