
Ujang terus memandang Mentari dengan tatapan hangat,, semburat merah muncul di pipi wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Mentari dia tetap saja sangat cantik, bahkan setelah melahirkan anak mereka, tidak sedikitpun kecantikan istrinya itu berkurang, perut buncitnya memberi aura tersendiri padanya, hamil kedua ini membuat kulitnya halus dan lebih bersinar, sehingga Ujang tidak pernah bosan memandang istrinya itu,, Mentari memang tidak pernah untuk tidak cantik, bahkan saat bangun tidur tanpa cuci muka istrinya itu tetap saja cantik.
Ujang sendiri tidak tau darimana kecantikan itu didapatkan Mentari, setahu Ujang wajah Kakak Mentari biasa saja, dia pernah bertemu beberapa kali,, Pak Mamad pun tidak begitu tampan dimasa mudanya,, Ah! mungkin saja dari Ibunya, Ujang tidak tau persis.
Azis memang benar, dia adalah laki-laki beruntung bisa mendapatkan wanita secantik Mentari, bahkan bisa meluluhkan hati wanita itu tanpa dipaksa olehnya, wajar saja jika dia dituduh mendapatkan Mentari dengan cara yang tidak benar, karena gadis itu tidak akan mungkin mau dengannya begitu saja, tapi Tuhan mempunyai cara yang sangat indah untuk menyatukan mereka, sehingga mereka tidak terpisahkan dan saling mencintai.
Mungkin inilah hikmah dari kesabaran dia selama ini, setelah berulang kali di tolak, pertunangan juga diputuskan secara sepihak, dia akhirnya mendapatkan wanita yang sempurna seperti Mentari, semakin hari Ujang semakin mencintai istrinya itu.
Mentari mulai risih mendapatkan tatapan lekat tapi memikat itu, dia langsung menyelipkan rambut kesisi telinganya, sedangkan kedua anak mereka telah tidur lelap,,, mereka saat ini seperti tengah berkencan saja.
"Ada apa sih Abang?" tanya Mentari.
Senyum Ujang langsung merekah.
"Kamu sangat cantik," ucap Ujang.
Mentari tersenyum pipinya semakin merona, pujian itu sangat bermakna untuknya, karena suaminya itu adalah tipe orang yang tidak biasa memuji.
"Abang baru tau yah kalau Tari itu cantik?" ucap Mentari sambil berusaha menyembunyikan raut wajah berbinar nya karena tersanjung.
"Sudah dari dulu tapi tidak berani bilang," ucap Ujang.
"Ah seharusnya kita kenal lebih awal," ucap Mentari sambil mendekat kepada suaminya,, tangannya dijadikan tempat menumpukkan dagu, Mentari balas menatap Ujang yang masih menjaga wibawa nya dengan baik.
"Maksudnya ketika kamu hanyut? Ah, saat itu kamu masih sangat kecil,, badanmu kurus tidak berdaging," ucap Ujang.
"Namanya anak-anak Abang,, setidaknya waktu Tari remaja," ucap Mentari menambahkan,, ternyata pujian romantis dari suaminya itu hanya sekejap saja.
Ujang langsung tersenyum.
"Kita sudah beberapa kali bertemu tapi sekalipun kamu tidak pernah melihat ke arah ku, Tari. Kamu melihat ku itu paling tidak sengaja dan kamu menganggap aku seperti rumput saja, tak pernah lama jika kamu melihat ku," ucap Ujang.
Mentari langsung memicingkan matanya.
"Padahal yah kalau dilihat-lihat Abang cukup tampan," ucap Mentari.
"Tapi tua," ucap Ujang.
"Bukan tua, tapi matang," ucap Mentari.
__ADS_1
"Hm kamu bicara seperti itu karena sudah jatuh cinta sama suamimu, pas nikah saja kamu terlihat akan menangis karena menyesal, iya kan?" ucap Ujang.
"Itu kan dulu Abang, saat ini tidak ada laki-laki yang mengalahkan kegantengan Abang dimataku," ucap Mentari.
"Termasuk jika dibandingkan dengan Samuel?" ucap Ujang yang entah kenapa tertarik membahas mantan pacar istrinya itu, dia ingin bercerita pada Mentari betapa lucunya wajah Samuel ketika mati kutu dengan kalimatnya.
"Samuel tidak ada apa-apanya sama sekali," ucap Mentari.
"Padahal dia sudah jadi orang kantoran," ucap Ujang.
Wajah Mentari memperlihatkan raut wajah heran,, karena tidak biasanya Ujang akan membahas laki-laki masa lalunya itu.
"Abang tau darimana dia bekerja di kantor?" ucap Mentari.
"Tadi siang ketemu dia saat mengantar perabot di kantor walikota, dia bekerja disana," ucap Ujang.
"Oh," ucap Mentari tidak tertarik sama sekali.
"Dia semakin tampan, Tari, memakai baju bagus, celananya licin dan rapi, sepatu mengkilat,, rambutnya di potong pendek, dan juga memakai jam tangan yang terlihat mahal," ucap Ujang sambil mengamati wajah istrinya yang terlihat tidak tertarik sama sekali. Ujang senang akan hal itu.
"Kami sempat minum kopi bersama," ucap Ujang lagi.
"Apa?" ucap Mentari terkejut.
"Dia yang mengajak ku duluan jadi aku menurut saja, kebetulan Bang Azis butuh tempat untuk istirahat dan merokok," ucap Ujang.
"Abang mau saja diajak?" tanya Mentari.
"Buktinya kami duduk berhadap-hadapan sambil membahas kamu, Tari," ucap Ujang.
"Kenapa bahas Tari?" ucap Mentari yang terlihat tidak senang, dia khawatir, Samuel memiliki mulut yang tajam, dia takut Samuel akan menghina suaminya, Ujang pasti akan tersinggung dan sedih.
"Dia bertanya bagaimana kabarmu,, aku jawab kabarmu baik, bahkan aku juga memberitahukan dia kabar gembira," ucap Ujang.
"Kabar gembira apa?" tanya Mentari.
"Bahwa kamu sedang hamil anak ketiga, entah kenapa senyum sok nya berubah jadi raut masam, aku hanya berkata jujur,, apa salahku? kenapa dia marah? kamu kan hamil dengan suamimu sendiri,, kita tidur berdua setiap malam,, olahraga malam, tentu saja kau pasti hamil,, apalagi kamu sangat menggoda," ucap Ujang berpura-pura bodoh.
Mentari tertawa terbahak-bahak, Mentari tidak mampu menyembunyikan tawa lebarnya bahkan sampai memegang perutnya yang sudah besar.
"Kenapa kamu tertawa tidak ada yang lucu," ucap Ujang masih berpura-pura bodoh.
__ADS_1
Mentari menghabiskan sisa tawanya.
"Tentu saja dia akan bermuka masam Abang, dulu dia selalu menjanjikan pernikahan pada Tari,, dulu dia juga berjanji akan bekerja di kantor yang gajinya besar, dia akan membelikan mobil,, perhiasan dan rumah,, ternyata Tari nikahnya sama Abang," ucap Mentari.
"Kalau dia tidak selingkuh pasti kamu menikah dengan dia, kan?" ucap Ujang.
Mentari menghela nafas.
"Kita tidak secocok itu," Ucap Mentari sambil menyesali kebodohannya dulu.
"Kami sering bertengkar dan aku selalu mengalah padanya,, Samuel adalah laki-laki yang keras kepala dan keinginannya harus dituruti, dia tidak ingin dibantah jika keinginannya tidak dituruti kami bisa tidak berbicara selama berminggu-minggu, rasanya begitu banyak kebodohan yang aku lakukan di masa lalu," ucap Mentari.
"Kebodohan apa," tanya Ujang.
"Abang janji tidak akan marah," ucap Mentari.
"Janji," ucap Ujang.
"Waktu kuliah dulu Tari yang selalu mencuci dan menyetrika pakaiannya,, dia akan mengantarkan pakaiannya hari Sabtu dan mengambilnya hari Minggu," ucap Mentari.
"Kamu seperti pembantu saja padahal status kalian cuma pacar," ucap Ujang.
"Iya tidak hanya itu saja Abang bahkan Samuel menyuruh Tari mengerjakan semua tugasnya,, Tari tidak mau bertengkar sehingga mengorbankan waktu istirahat Tari demi menuruti apa maunya. Harapan Tari cuma satu agar hubungan kami selalu damai dan dia merasa bahagia," ucap Mentari sambil tersenyum kecut.
"Lalu apa kamu bahagia? Tanya Ujang.
"Samuel tidak sesederhana itu dia malah mulai mengeluh dengan gaya pacaran kami yang terlihat sangat ketinggalan,, Tari sudah menyuruh dia untuk menemui ayah agar kita menikah saja karena Tari tidak keberatan menikah sambil kuliah,, tapi dia tidak mau dan setelah itu dia ketahuan selingkuh. Alangkah bodohnya aku waktu itu," ucap Mentari menyesali kebodohannya dulu.
"Untung saja dulu kamu teguh dengan prinsipmu Tari,, karena laki-laki seperti Samuel itu tidak akan pernah puas,, saat dia berhasil menodaimu dan dia merasa bosan,, dia pasti akan mencari wanita lain,, jika dia benar-benar mencintaimu dia tentu akan menjaga kamu sampai kalian menikah bukan malah menyusahkan kamu atau meminta sesuatu yang tidak dibolehkan," ucap Ujang.
"Abang memang benar," ucap Mentari.
"Artinya dia tidak pernah mencintaimu,, Tari. Dia hanya memanfaatkan kamu karena dia tahu kamu tidak akan menolak makanya dia berbuat semena-mena," ucap Ujang.
"Tapi Samuel salah karena Tari tidak sebodoh itu. Ayah selalu membekali Tari bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis," ucap Mentari.
"Iya Ayahmu orang yang hebat karena mendidik kamu dengan baik," ucap Ujang.
"Sangat hebat sampai-sampai dia menjodohkan aku dengan Abang," ucap Mentari sambil tersenyum merekah.
Mentari lalu bangkit dari duduknya dan mendekati suaminya lalu duduk di pangkuan suaminya.
__ADS_1
"Daripada kita bahas Samuel yang tidak ada gunanya untuk kita, lebih baik kita manfaatkan waktu selagi si kembar tidur," ucap Mentari dengan tatapan menantang dan kilat nakal. Detik berikutnya tubuhnya sudah melayang, Mentari terkikik di dalam gendongan Ujang.