Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Berhasil meluluhlantahkan hati Ujang yang beku...


__ADS_3

Mata cantik itu sedang mengamati sosok yang tengah menimang anak mereka, Azzam bayi berusia beberapa hari itu mengganti siang menjadi malam, dan malam menjadi siang. Selama siang hari dia menghabiskan malam untuk tidur, sedangkan di malam hari dia bangun dan menangis bahkan sampai subuh. Hingga pasti membuat kedua orang tuanya begadang,, namun Mentari dan Ujang tidak pernah mempermasalahkan itu,, mereka sangat menyayangi anak-anak mereka,, apalagi Ujang yang selalu membantu Mentari meskipun dia juga lelah bekerja tapi dia tetap membantu istrinya mengasuk anak.


Mentari tersenyum melihat mata Ujang terpejam karena menahan kantuk,, dengan bayi merah yang mulai lelap di tangan kokohnya. Yah beginilah kalau mereka menjaga bayi mungil itu yang selalu saja begadang.


"Bang! Bang!" bisik Mentari, takut membangunkan bayi mereka yang baru mulai tertidur di jam empat subuh. Karena kalau dia sampai terbangun bisa-bisa mereka akan kesulitan lagi menidurkan bayi itu.


"Hmm?" sahut Ujang,, mulai membuka matanya yang sudah sangat berat. Ujang sampai hampir ketiduran.


"Tidurlah! biar Tari yang jaga Azzam, Abang sudah sangat mengantuk," ucap Mentari sambil melihat Ujang yang matanya hendak tertutup itu karena sudah terlalu mengantuk.


Begitulah Ujang pria yang sangat penyayang sama istrinya, dia tidak akan membuat Mentari begadang karena mengasuh anak. Dia pasti ikut juga dan pasti menyuruh istrinya tidur lebih dulu karena mereka mengasuh anaknya secara bergantian.


"Tari,, sudah cukup tidur, giliran Abang sekarang yang istirahat," ucap Mentari sambil merubah posisi berbaring menjadi duduk. Ujang menatap ragu Mentari. Dia tidak mau istrinya itu kurang tidur sebab kasihan jika istrinya kurang tidur.


"Yakin sudah cukup tidur,, Tari?" tanya Ujang sekali lagi sambil menatap Mentari.


"Yakin Abang," ucap Mentari.


"Ayo Abang lagi yang tidur sekarang,, udah nggak lama lagi shalat subuh,,, Abang tidurlah dulu nanti aku bangunkan,," ucap Mentari.


Ujang pun menganggukan kepalanya lalu menyodorkan bayi merah yang masih dibedung itu, kemudian merebahkan kepalanya, hitungan detik, dengkuran halus Ujang terdengar. Mentari mengusap wajah lelah itu lalu tersenyum,, memiliki Ujang adalah sebuah anugerah yang sangat besar untuknya. Mentari sangat bersyukur Ayahnya menjodohkan dirinya dengan Ujang,, pria dengan paket komplit seperti ini.

__ADS_1


##############


Beberapa bulan kemudian....


Pagi yang sempurna,, pemandangan dari Bukit,, memperlihatkan suasana atap rumah warga yang berada di kampung sebelah, letak rumah Ujang yang lebih tinggi dan terpisah dari pemukiman penduduk, menjadi keunikan tersendiri karena menyajikan pemandangan yang indah untuk dilewatkan. Mentari mengikat rambut panjangnya, ibu muda dengan tiga anak itu sama sekali tidak kurang cantiknya malahan semakin cantik,, Mentari masih seperti anak gadis yang memiliki tubuh yang sempurna, bedanya hanya sedikit berisi daripada sebelumnya tapi tempat berisi nya di tempat yang sangat disukai Ujang.


Wajahnya yang sangat putih mulus, sepasang mata indah yang cemerlang, hidung kecil dan mancung, bibir yang mungil seperti kuncup mawar yang merekah. Wanita cantik kembang desa yang sangat banyak dipuja oleh para pemuda itu, berhasil meluluhlantahkan hati Ujang yang beku.


Mentari menghirup udara segar memenuhi paru-parunya, senyum indah merekah di bibirnya yang merah alami. Menjadi istri Ujang adalah anugerah yang tiada tara, pria yang berperawakan gagah tapi penuh pesona itu adalah gambaran suami yang sangat ideal. Jika wanita lain bisa melihat bagaimana cara Ujang memperlakukan dirinya pasti Mentari akan banyak saingan pasti banyak yang ingin mendapatkan suaminya,, karena siapa wanita yang tidak ingin diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya tentu saja tidak ada.


"Hei," Mentari langsung berjengit kaget, saat lengan kokoh melingkar di lehernya,, disertai dengan kasarnya bakal cambang yang melekat di pundaknya dan membuat Mentari langsung merasa geli. Geli-geli sedap.


"Tapi,, Tari lebih suka disini," ucap Mentari menambahkan. Mentari mengusap halus punggung tangan Ujang,, begitu hangat pelukan Ujang pagi ini,, sehangat cintanya yang sangat besar pada Mentari.


"Iya tapi sayangnya sebentar lagi ketenangan kita akan terusik," ucap Ujang.


Mentari menoleh, mendapati mata Ujang yang terlihat menatap lurus ke depan.


"Kenapa Abang?" tanya Mentari.


"Kakek Daus telah menjual tanah yang tepat berada di samping kebun sawit kita, jadi sebentar lagi ketenangan kita akan sedikit terusik, Tari. Disini akan dibangun sebuah hotel dan juga tempat permandian," ucap Ujang.

__ADS_1


"Abang tau darimana?" tanya Mentari.


"Kakek Daus sendiri yang cerita,, dia terpaksa menjual tanahnya karena butuh uang untuk pergi ke Mekkah," jawab Ujang.


"Oh gitu," ucap Mentari.


"Dan kamu tau, Tari? seorang artis Ibukota keturunan Belanda membelinya,, orang kaya yang sudah dikenal di Negeri ini katanya gitu tapi aku tidak tau sama sekali artis itu yang mana,," ucap Ujang.


Mentari mengangguk mengerti jika suaminya tidak tahu dengan artis seperti itu,, karena Mentari tau suaminya itu hanya fokus dengan kayu saja,, fokus membuat perabot saja sejak dulu,, jadi tidak memiliki waktu untuk nonton siaran televisi ataupun melakukan hal-hal lain yang berhubungan dengan mengenal-mengenal artis,, tidak sama dengan Mentari yang banyak tau Artis karena suka nonton, tapi entah mengapa, Mentari merasa moodnya terusik begitu mendengar kabar pagi ini, jika memang benar tempat ini akan dibangun hotel, pasti kesan alami akan rusak karena pasti ada perbaikan jalan dan rombak sana-sini. Mentari sudah sangat nyaman memiliki suasana sepi ini untuk dirinya dan keluarganya, Mentari tidak pernah berpikir akan mengalami perubahan di tempat tinggal yang sangat nyaman menurutnya sekarang.


"Sebenarnya tanah dan hutan kita juga ditawar lebih mahal,, tapi aku tidak akan pernah mau menjualnya Tari. Ini adalah warisan orang tuaku, mereka sangat bersusah payah menanam pohon ini dengan sangat sabar, sehingga bisa menjadi hutan kayu jati yang sangat alami," ucap Ujang dengan menggebu-gebu,, sinar mata Ujang tegas dan terlihat sedikit emosional itu seakan memberikan isyarat, dia begitu rindu dengan kedua orang tuanya yang telah lama meninggal.


Mentari memeluk Ujang dan mengusap punggung suaminya itu,, memberikan pelukan menenangkan pada Ujang dan Mentari memberikan isyarat,, bahwa Ujang tidak lagi sendiri sekarang, dia sudah memiliki istri dan tiga orang anak yang akan memberi kebahagiaan seumur hidup.


"Abang pasti rindu Ayah dan Ibu?" ucap Mentari sambil menatap foto lama yang terpajang di dinding,, seorang wanita muda yang cantik, dengan seorang anak kecil yang digendongnya dengan kain jarik.


"Sangat,, Tari," ucap Ujang yang memang selalu merindukan Ayah dan Ibunya.


"Kalau begitu kita pergi ke pusara mereka," ucap Mentari.


Pelukan Ujang pada Mentari terasa semakin erat, seiring dengan kecupan hangat di puncak kepala Mentari.

__ADS_1


__ADS_2