
"Abang masih marah?" tanya Mentari sambil melihat Ujang yang kini masih diam saja meskipun dia sudah menarik suaminya itu untuk berbicara, karena Mentari tidak suka di diamkan oleh Ujang.
Angelica sudah pulang satu jam yang lalu saat Angelica mendapatkan telepon dari seseorang,, Mentari sengaja menarik Ujang tadi untuk masuk ke dalam rumah agar percakapan mereka tidak didengar oleh Azis, yang saat ini sedang berada di rumah Ujang untuk kerja seperti biasa, Azis tidak tahu mengenai apa yang terjadi pada rumah tangga Ujang dan Mentari saat ini. Hanya sedikit merasa aneh saja karena Ujang yang suka diam dan tampak tidak seperti biasanya, tapi Azis pikir mungkin Ujang belum dapat jatah dari Mentari mengingat anak-anak mereka masih kecil-kecil yang tentunya membutuhkan pengawasan ketat.
Mau berapa kali pun Mentari berpikir Mentari tetap merasa ada yang mengganjal di pikirannya, selain perubahan sikap Ujang sekarang yang menjadi tambah dingin, bayang-bayang tatapan mata Angelica pada suaminya masih saja terus terbayang-bayang di pikiran Mentari. Mentari tentu sangat tahu tatapan mata seperti apa itu,, hanya tidak menyangka saja pesona suaminya sampai membuat seorang Angelica juga menjadi seperti itu. Mentari tentu tidak mau jika Angelica memiliki pikiran yang aneh-aneh pada suaminya.
"Aku rasa kamu tidak perlu tahu aku marah atau tidak, Tari. Karena itu tidak ada pengaruhnya sedikit pun untuk sikapmu Tari,, kamu tetap tidak peduli kan,, jadi tidak usah bertanya,, apa aku marah atau tidak saat ini," ucap Ujang.
Mentari langsung menunduk dan merasa bersalah terhadap sikapnya pada Ujang hanya karena seseorang yang baru dikenalnya yaitu Angelica,, padahal Mentari sudah kenal lama pada suaminya.
"Tari minta maaf Abang,, tapi sungguh Tari tidak menyuruh dia untuk kembali lagi ke sini, dia yang datang sendiri ke sini tanpa Tari minta,, Tari juga sedikit terkejut tadi begitu melihat Mbak Angelica kembali datang ke sini," ucap Mentari.
Ujang langsung menoleh lalu menatap istrinya itu dengan tatapan serius, untung saja anak-anak mereka tengah tidur saat ini,, sehingga mereka punya waktu yang aman untuk berbicara tanpa didengar oleh anak-anak mereka yang masih kecil-kecil itu,, dan belum tahu apa-apa tapi meskipun begitu tidak enak saja berbicara seperti ini di depan anak-anak mereka.
"Dan kamu tidak berniat melarang dia kan? aku butuh ketegasan kamu Tari. Aku tidak mau kamu terus berdekatan dengan dia,, wanita sombong seperti Angelica itu bukanlah orang yang baik,, dia melakukan sesuatu bukan karena tulus ingin berteman dengan kamu tapi dia memiliki tujuan lain, aku sangat yakin ada sesuatu yang direncanakan untuk keuntungannya sendiri dan kamu yang terlalu polos ini sangat mudah dimanfaatkan oleh dia,, apa kamu paham, Tari?" ucap Ujang sambil menatap istrinya itu. Ujang terus memberikan pengertian pada Mentari bahwa Angelica itu bukanlah orang yang baik jika dijadikan teman.
Mentari memejamkan matanya mendapatkan kemarahan Ujang adalah suatu mala petaka yang bisa membuat dia uring-uringan sepanjang hari.
__ADS_1
"Tari paham Abang," ucap Mentari sambil menundukkan wajahnya.
"Kalau kamu memang benar-benar paham,, kembalikan lagi hadiah yang telah diberikan oleh wanita itu, jika kamu menerima hadiah dari dia, maka kamu akan berhutang lebih besar pada dia,, Tari. Kamu akan mengganti lebih besar. Percayalah padaku karena aku suamimu!!!" ucap Ujang.
Mentari yang sudah frustrasi langsung bangkit dan memeluk Ujang sambil menangis.
"Tari percaya!!! Tari percaya!!! Abang jangan marah lagi,, jangan lagi diamkan Tari sepanjang hari, Tari minta maaf," ucap Mentari sambil menangis hebat,,, Ujang langsung menghela nafasnya panjang lalu mengusap rambut Mentari yang panjang terurai itu.
"Aku sangat mencintai kamu, Tari, selama ini kita sudah nyaman hidup berdua, jika kamu memang benar-benar butuh teman, kamu bisa mencari teman yang lain, tapi bukan wanita seperti Angelica itu,, jangan dia!!! dia bukan wanita yang baik, aku sangat yakin dia itu wanita yang licik," ucap Ujang.
"Iya Abang,, Tari paham," ucap Mentari yang benar-benar akan menuruti perkataan Ujang. Dia sangat tidak mau didiamkan oleh suaminya karena biasanya dia pasti sangat manja pada suaminya.
"Aku mau kerja dulu, kamu istirahat lah!!!" ucap Ujang.
Mentari pun mengangguk menuruti ucapan Ujang lalu Ujang memeluk sekali lagi istrinya itu dengan penuh cinta dan juga kasih sayang,, Ujang memang benar-benar sangat mencintai Mentari dan juga sangat menyayangi istrinya itu.
#############
__ADS_1
Di malam hari Angelica membalikan tubuhnya dengan gelisah, sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan terus menyiksa dirinya, dia wanita yang masih membutuhkan belaian dan juga nafkah hubungan suami istri. Dalam satu tahun terakhir dia berusaha mengabaikan dan menyibukkan dirinya sendiri, akhir-akhir ini perasaan menginginkan hal itu sudah tak bisa diredam lagi.
"Ryan," rintih Angelica. Pria yang menjadi suaminya itu sudah kembali ke Jakarta dan Angelica kini tinggal sendiri di hotel, kebutuhan mendesak yang tidak bisa diredamnya lagi,, Angelica butuh cara yang sesat untuk dia meledak dan tentunya bermain sendiri.
Tidak ada jalan lain untuk Angelica, dia tidak ingin mengkhianati pernikahannya dengan Ryan karena dia mencintai pria itu. Setelah permainan selesai, Angelica langsung tersenyum masam, sebuah alat yang dibelinya secara online adalah penyelamatnya selama ini ketika dia menginginkan hubungan suami istri.
"Sampai kapan aku begini terus?" ucap Angelica sambil mengusap keringat di dahinya sendiri, dia bagaikan wanita yang menjijikan seperti tidak memiliki suami saja. Tindakan seperti ini sungguh sangat memalukan tapi dia tidak punya pilihan lain selain menuntaskan apa yang mestinya dia dapatkan dari suaminya.
Angelica masuk ke dalam kamar mandi, berendam sebelum tidur mungkin lebih baik untuk merilekskan kembali tubuhnya yang sempat kejang. Setelah mengatur suhu air di bathtub, Angelica melepaskan pakaiannya masuk ke dalam bathtub sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ingatan Angelica melayang pada sosok dengan dada bidang yang ditumbuhi bulu itu, dengan otot yang berurat,, dan air sisa mandi yang turun tak berdaya melalui leher dan dadanya.
Gambaran pria jantan perkasa yang sangat kuat dan memancing khayalan ke mana-mana. Pria yang berbeda dengan Ryan yang memiliki otot lembut,, kulit putih dan terkesan halus.
"Pasti Mentari sangat beruntung memiliki pria itu siang dan malam," ucap Angelica dengan mata yang perlahan terbuka dan senyum miring tercipta di bibirnya.
"Pria perkasa yang sangat mudah memberikan anak,, sayangnya dia sombong dan kampungan," ucap Angelica.
Angelica tersenyum lagi ada khayalan nakal di kepalanya, andaikan Ujang adalah suaminya, tentu saja dia tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara memiliki keturunan. Gambaran Ujang seperti laki-laki yang mampu memberikan puluhan anak pada pasangannya.
__ADS_1
"Sayang sekali pria itu sangat sombong," ucap Angelica sambil memejamkan matanya dan merilekskan pikirannya.