Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Manjanya minta ampun,,


__ADS_3

Siang semakin terik jangan tanyakan seberapa panasnya mereka saat ini, kipas adalah alat elektronik yang wajib dimiliki oleh setiap rumah karena terlalu panas, terkadang musim hujan sangat ditunggu-tunggu, agar udara bisa sedikit lebih sejuk. Jika ingin keluar mencari udara,, malam hari adalah waktu yang tepat. Tempat-tempat nongkrong pun lebih ramai jika di malam hari.


Setelah meninggalkan area kantor walikota,, mereka pun menuju ke sebuah toko langganan yang menjual cat khusus. Cat khusus yang hanya dijual di toko-toko khusus,,, tidak ada di toko yang biasa dia beli. Cat itu menjadi andalan agar kualitas perabot olahan Ujang berkualitas.


"Rasanya aku pernah melihat anak barusan?" ucap Azis yang belum lepas dari rasa penasarannya terhadap anak muda yang dilihatnya berbicara dengan Ujang. Mobil yang dikemudikan oleh Ujang melaju dengan kecepatan sedang,, jalan cenderung ramai karena banyak karyawan yang keluar mencari makan siang,, beberapa karyawan memiliki seragam yang sama,, seragam perusahaan kertas.


"Dia mantan pacarnya Mentari," ucap Ujang dengan tenang. Tidak ada emosi yang terpancar dari wajahnya,, meskipun dia sangat kesal pada Samuel yang jelas-jelas mengakui masih mencintai istrinya padahal dia sudah menjadi mantan.


"Apa? hahahaha,," ucap Azis yang langsung tertawa dan Ujang hanya geleng-geleng kepala melihat Azis yang tertawa mengejeknya. Azis adalah tipe orang yang mudah mengekspresikan perasaannya,, dia tidak perduli meskipun tawanya itu bisa membuat gendang telinga orang lain seakan mau pecah.


"Dia mantan pacar istrimu lalu kalian minum kopi bersama tadi, apa kalian sedang reuni? sungguh aneh!" ucap Azis yang lebih mirip ejekan.


"Dia minta waktu untuk bertemu dengan ku,, aku memenuhinya mana tau kan dia ingin kenal lebih jauh,, lalu apa salahnya?" ucap Ujang.


"Kalau aku jadi kamu,, aku pasti tidak mau, ini bukan perkara berani atau tidak tapi ini perkara harga diri," ucap Azis.


"Karena harga diri itulah aku menemui dia, aku tau betul dia ingin pamer,,, dia ingin menunjukkan bahwa dia sekarang sudah sukses dengan bekerja di kantor walikota, dia seperti ingin mengatakan bahwa aku hanyalah pria kumal yang bekerja sebagai sopir dan pengantar barang, dan dia adalah Tuan rumah yang jabatannya melebihi walikota,, dan ternyata.... cuma magang," ucap Ujang sambil tersenyum tipis begitu membayangkan bagaimana Samuel memandang remeh padanya, bahkan dia sempat melihat mata Samuel memandang sepatu Ujang yang mulai lusuh, tentu saja dengan tatapan merendahkan dari Samuel.


Azis kembali tertawa terbahak-bahak begitu mendengar ucapan Ujang.


"Dia tidak tau saja Jang bahwa dibalik bajumu yang jelek kamu punya banyak uang, bahkan bisa membeli kantor walikota,, tidak tau saja anak itu bahwa orang tua mu terkenal sebagai juragan kayu yang sangat dermawan dan memiliki warisan yang banyak," ucap Azis lagi setelah menghentikan tawanya.


"Apalah arti uang Bang, uang dan jabatan tidak dibawa mati, nikmati sekedarnya saja, kita makan sekenyang perut," ucap Ujang penuh kiasan.


"Tapi kain kafan juga dibeli pakai uang Jang," ucap Azis lagi lalu tertawa.


"Abang memang benar,, tapi membeli kain kafan tidak membutuhkan uang seharga kantor walikota," ucap Ujang.


Azis tertawa lagi.


"Aku tau kamu memang pintar Jang, ya ya ya kamu memang benar Jang, hebat! kamu memang orang kaya yang sangat rendah hati sangat sulit menemukan di zaman sekarang ini, kamu makhluk yang langka, oh yah sudah kamu bawa istrimu untuk USG?" tanya Azis lagi.

__ADS_1


"Belum Bang,, tunggu kandungannya tujuh bulan dulu, kami harus mencari waktu yang pas untuk pergi, karena si kembar akan di tinggal lama, antrian di praktek Dokter Kandungan luar biasa ramai,, bisa menghabiskan waktu empat jam, padahal sudah mengambil nomor antrian sebelum buka praktek," ucap Ujang.


Ujang kembali melajukan mobilnya setelah mendapatkan klakson dari mobil di belakang, lampu merah telah berubah menjadi hijau mereka belok ke kanan.


"Aku benar-benar salut sama kamu Jang," ucap Azis.


"Salut kenapa Bang?" tanya Ujang tidak mengerti.


"Kamu lama tidak kunjung menikah, sampai-sampai digelari perjaka tua,, eh pas nikah kamu malah mendapatkan bunga desa yang namanya harum sekecamatan,, pantas saja Jang kamu dituduh menggunakan hal-hal yang tidak baik,, karena banyak pria gagah yang lebih muda, dan berpendidikan yang naksir pada dia, tapi di tolak, aku sering mendengar itu," ucap Azis yang kadang tidak habis pikir bahwa Ujang sudah menikahi Mentari.


"Itu yang namanya jodoh Bang," ucap Ujang.


"Iya benar,, rasanya baru kemarin kamu menikah, masih segar di ingatanku, ekspresi wajah terpaksa Mentari saat ijab kabul," ucap Azis.


"Jadi Abang menyadarinya juga?" ucap Ujang.


"Iya," jawab Azis dengan raut wajah berubah serius.


"Abang memang hebat bisa jadi pengamat yang baik," ucap Ujang.


"Kamu yang hebat Jang, saat ini bahkan Mentari tidak ingin berpisah dengan mu, oh yah hp mu kamu matikan yah?" tanya Azis.


"Habis baterainya Bang," jawab Ujang.


"Asal kamu tau saja Jang, seharian ini saja Mentari sudah menelepon ku lima kali, menanyakan kapan kamu sampai di rumah. Ah! anak itu pantas saja dia hamil tiap sebentar, manjanya minta ampun," ucap Azis lalu tertawa lagi.


Ujang hanya tersenyum tipis begitu mendengar ucapan Azis.


#########


Benar saja Ujang melihat Mentari bernafas lega, istrinya itu tengah duduk di depan rumah menggendong Aqeel, sedangkan Aqeela asik berjalan ke sana kemari diiringi oleh neneknya yang terlihat kewalahan mengikuti cucunya.

__ADS_1


Halaman Ujang memang luas,, diberi cor semen agar setiap kendaraan yang datang nyaman untuk parkir, di area itulah Aqeela nyaman untuk berlari lepas meskipun ini sudah malam hari, pencahayaan sangat terang, setiap sudut diberi lampu yang di pasang di tiang kayu.


Mentari berusaha menyusul Ujang dengan menggendong Aqeel, serta perutnya yang besar, Ujang jadi teringat sendiri apa yang dikatakan Azis beberapa jam yang lalu.


"Kok Abang terlambat pulang? ini sudah jam sembilan malam," ucap Mentari.


Melihat ayahnya Aqeel langsung mengangkat tangannya ingin digendong oleh Ayahnya itu,, dia langsung tertawa memamerkan empat giginya saat pindah ke gendongan Ujang.


"Aqeel saja sudah rindu," ucap Mentari.


"Aqeel saja yang rindu? kamu?" pancing Ujang.


Mentari langsung salah tingkah, kali ini Ujang memang pintar membalikkan pertanyaan.


"Serius,,, Aqeel rindu, Aqeela juga kan?" ucap Mentari sambil mengambil Aqeela, menyerahkannya pada Ujang, bayi cantik itu justru menggeliat ingin lepas karena ingin terus jalan di halaman.


"Iya, Aqeel dan Aqeela rindu aku, Ibunya tidak,," ucap Ujang lagi.


Mentari langsung cemberut, Ibu Mentari membawa Aqeela masuk ke dalam rumah, biasanya sebentar lagi Pak Mamad datang menjemput.


"Ini, ayo dimakan nanti dingin malah tidak enak,," ucap Ujang sambil menyerahkan kantung berisi makanan, saat diperjalanan Ujang sengaja membelikan istrinya martabak mesir. Ujang sangat tau betul kehamilan kedua ini istrinya begitu menyukai martabak mesir.


Mentari tersenyum senang membuat Ujang ikut tersenyum melihat istrinya yang senang.


"Abang mau makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Mentari.


"Aku mau mandi dulu,," ucap Ujang yang memang sejak tadi sudah ingin mandi agar lebih segar.


"Ibu nginap disini saja malam ini," ucap Ujang lagi.


"Tidak bisa Jang, besok Dika sekolah, bajunya belum disetrika," ucap Ibu Mentari.

__ADS_1


"Baiklah biar aku saja yang mengantar Ibu, aku mandi dulu cepat," ucap Ujang lalu segera pergi mandi.


__ADS_2