Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Benci Abang,,


__ADS_3

"Eh Mentari,," ucap wanita itu dengan ekspresi wajah berbinar.


"Kak Marni mau beli apa?" tanya Mentari langsung karena tidak sudi jika berbasa-basi dengan Marni.


"Aku nggak belanja kok Tari,, Ibumu mana?" tanya Marni.


"Ada tuh di dalam," jawab Mentari.


"Kamu sendirian aja Tari? Ujang mana?" tanya Marni lagi.


Mentari semakin kesal bukan kepalang,, Marni selalu saja menanyakan suaminya.


"Kak Marni mau ketemu sama Bang Ujang?" tanya Mentari.


"Tidak kok," jawab Marni.


"Kok kak Marni nanyain Bang Ujang terus?" ucap Mentari lagi.


"Yah kan kamu sama dia pengantin baru,, kemana-mana selalu berdua,, wajarlah kalau aku tanya,," ucap Marni lagi yang tidak mau kalah.


"Aku mau ketemu Ibumu,," ucap Marni lagi lalu segera masuk ke dalam rumah Mentari,, tanpa menghiraukan Mentari lagi.


Mentari benar-benar kesal karena rasanya dia belum puas mengatai wanita itu,, Mentari heran kenapa dari banyaknya wanita Ujang bisa pacaran dengan wanita seperti itu dimasa lalunya,, rasa-rasanya Marni bukanlah tipe Ujang sama sekali,, lalu seperti apa tipe wanita yang disukai Ujang sebenarnya? Mentari kesal pada dirinya sendiri karena ingin sekali tau tipe wanita yang Ujang sukai.


Dan ternyata Marni tidak lama di rumah Mentari,, Marni lalu pamit kepada Ibu Mentari,, Marni sempat menegur Ujang dan Ujang hanya menanggapi seadanya saja.


"Tari,, kita langsung ke pasar saja," ucap Ujang.


"Tari nggak bawa uang," ucap Mentari.


"Ini ada kok aku bawa,," ucap Ujang sambil mengeluarkan dompetnya,, lalu menarik beberapa lembar uang, bukan beberapa lembar tapi banyak,, Mentari sampai berpikir sebenarnya sekaya apa suaminya ini.


Mereka pamit setelah makan siang,, jarak pasar dari rumah Mentari tidak begitu jauh,, sekitar lima belas menit saja. Pasar itu bukan pasar besar,, namun menjual apa saja yang dibutuhkan meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan pasar yang ada di Kota.


Tidak banyak yang Mentari beli cuman bahan dapur saja dan peralatan dapur yang lainnya,, mereka pulang setelah satu jam setengah di pasar.


Ujang berinisiatif membeli nasi bungkus saja mengingat Mentari pasti capek ketika pulang dari pasar,, terus akan memasak lagi.


"Abang,, buka satu bungkus saja,, satunya berikan sama Bang Azis,, kalau buka dua-duanya nanti tidak habis,, mubazir," ucap Mentari.

__ADS_1


"Kamu serius Tari,, takutnya kamu tidak kenyang,," ucap Ujang.


"Serius Abang," ucap Mentari sambil membuka karet pembungkus nasi itu,, sepertinya penjualnya sangat royal karena memberikan sebanyak itu padahal harganya hanya lima belas ribu saja.


"Ini tempat langganan aku Tari,, aku jamin enak," ucap Ujang lalu menyentuh nasi itu dan memakannya dengan lahap.


Lalu Mentari pun ikut makan,, Mentari rasa Ujang tidak berlebihan dalam memuji makanan itu karena memang benar-benar enak,, bumbunya sangat enak.


Saat Ujang memegang daging,, Mentari juga melakukan hal yang sama,, mereka pun tertawa bersama karena tidak sengaja saling berebutan.


"Kamu duluan saja Tari," ucap Ujang.


"Em Abang saja yang duluan," ucap Mentari sambil tersenyum malu-malu.


"Biar aku potongkan," ucap Ujang yang mengambil inisiatif karena melihat Mentari agak kesusahan memotong daging itu dengan jarinya.


"Em iya Abang," ucap Mentari gugup. Tanpa Mentari sadari dia mengamati Ujang,, mengamati betapa tenangnya pria yang berada di dekatnya saat ini,, perhatian kecil dari Ujang membuat Mentari sedikit tersentuh,, Ujang tidak pernah menggombal dirinya dengan kata-kata yang sangat romantis,, tapi Ujang selalu memberikan pertolongan dan perhatian yang tulus padanya.


"Sudah," ucap Ujang sambil mengangkat wajahnya memandang Mentari,, tatapan mereka bertemu,, keduanya sama-sama diam,, Mentari bisa merasakan debaran halus pada dadanya.


########


Saat ini hujan turun lagi,, mereka saat ini sedang duduk berdua di kursi rotan sambil terus memandang ke luar jendela,, untung saja Azis pulang sudah membereskan semua yang dijemur tadi.


"Iya," ucap Ujang yang terlihat tidak berminat sama sekali membahas Marni. Ujang tidak memulai percakapan jika Mentari tidak memulai nya lebih dulu.


"Dia bicara apa sama Abang?" tanya Mentari.


"Tidak ada,, dia hanya menyapa saja,, kenapa?" ucap Ujang sambil menoleh melihat Mentari, sedangkan Mentari melihat ke tempat lain,, Mentari menghindari tatapan Ujang.


"Selama pacaran,, Bang Ujang kemana saja dengan Marni?" tanya Mentari.


"Tidak kemana-mana,, palingan pergi nonton saja," jawab Ujang.


"Katanya tidak kemana-mana tapi pergi nonton itu namanya kemana-mana juga," ucap Mentari kesal.


"Kalau kamu kemana saja dengan Samuel?" tanya Ujang balik.


"Banyak dong,," jawab Mentari menggebu-gebu tidak mau kalah.

__ADS_1


"Aku pergi jalan-jalan ke mall,, ke perpustakaan juga pergi bersama,, nonton juga, sarapan bersama juga, dan masih banyak lagi, pokoknya banyak banget," ucap Mentari.


"Oh," ucap Ujang.


Mentari memberitahukan itu semua pada Ujang dengan sangat menggebu-gebu,,, dan apa tanggapan Ujang? cuma "oh" saja,, Mentari benar-benar kesal bukan main.


Ujang kemudian mengambil rokoknya,, mengambil korek lalu segera membakar rokoknya kemudian menyelipkan di bibirnya,, lalu tidak lama asap mengepul.


"Abang,, tau tidak?" ucap Mentari.


"Apa?" tanya Ujang tidak tau.


"Aku nggak suka laki-laki perokok,," ucap Mentari.


"Kamu tidak hanya membenci rokok Tari tapi masih banyak lagi, dan semua yang kamu benci itu ada padaku,, iya kan Tari?" ucap Ujang sambil melihat Mentari yang memasang ekspresi wajah kesal.


"Iya Abang,, ternyata Abang tau," ucap Mentari dengan sengaja menantang.


"Tari tidak suka jengkol,, ikan asin,, kopi, Tari tidak suka pete,, tidak suka laki-laki yang cuek dan sangat kaku," ucap Mentari lagi.


"Iya aku tau Tari,, dan semua itu ada pada diriku ini," ucap Ujang lagi.


Mentari benar-benar semakin jengkel begitu mendengar ucapan Ujang.


"Abang itu kenapa sih bisa sangat membosankan seperti ini?" ucap Mentari lagi.


"Berarti Tari bertambah satu lagi yang tidak kamu sukai dari aku yaitu membosankan,, padahal kita menikah baru dua hari,," ucap Ujang lagi.


Kadar kejengkelan Mentari semakin bertambah setiap kali mendengar Ujang bicara,, bukan jawaban seperti itu yang Mentari inginkan dari Ujang,, Mentari mau Ujang membela dirinya bukan malah pasrah saja dengan segala tuduhan yang dilontarkannya.


"Pantas saja dulu Marni mengkhianati Abang,, karena Abang yang seperti ini," ucap Mentari lagi.


"Setia atau tidak nya orang itu merupakan pilihan,, lalu bagaimana dengan Samuel? yang malah mengkhianati kamu,, padahal kamu sudah berusaha terlihat sempurna untuk dia,," ucap Ujang.


Mentari kalah telak lagi,, bicara dengan Ujang selalu berakhir dengan kekalahan nya,, hatinya masih terluka dia tidak habis pikir hubungan nya dengan Samuel bisa kandas lalu Ujang malah mengingatkan dirinya lagi.


"Jadi maksud Abang,, Tari yang salah gitu? iya?" ucap Mentari.


"Aku tidak mengatakan itu Tari,," ucap Ujang.

__ADS_1


"Pokoknya aku benar-benar benci Abang,, benci,, pokoknya benci,," ucap Mentari sambil menutup matanya dan menangis. Hingga tiba-tiba Mentari merasakan rengkuhan dibahunya. Aroma rokok yang tercium tapi mampu menenangkan Mentari.


"Kamu tidak menyukai pete,, ikan asin,, jengkol,, apa kamu tidak sadar Tari? selama dua hari kita menikah aku tidak pernah memakan itu lagi," ucap Ujang.


__ADS_2