
Ujang langsung memandang Mentari sejenak begitu mendengar pertanyaan dari Mentari,, menurut Ujang,, Mentari tidak perlu menanyakan hal itu karena tentu Mentari sudah tau sendiri,, Mentari wanita yang sudah dewasa meskipun sikapnya terkadang masih kekanak-kanakan.
"Buat apa aku marah Tari?" ucap Ujang.
"Hm dari beberapa jam yang lalu,, Abang itu hanya menanggapi satu-satu saja ketika Tari bicara sama Abang," ucap Mentari.
"Tari,, kamu memang benar,, kamu mempunyai masa depan yang panjang,, kamu punya ijazah yang kamu perjuangan selama beberapa tahun,, terlalu egois rasanya jika aku melarang kamu,, jadi aku tidak punya pilihan lain selain mendukung keputusan mu,, jika kamu ingin tetap bekerja, dan menjadi Pegawai Negeri Sipil, maka pergilah!" ucap Ujang.
"Berarti kalau nanti Tari lulus?" tanya Mentari.
Ini merupakan pertanyaan yang sulit,, karena ini mengenai masa depannya sendiri dan juga masa depan pernikahan nya dengan Ujang.
"Aku tidak bisa ikut dengan kamu,, dan juga aku tidak bisa terus memaksa kamu berada disini,, mungkin kita hanya bisa mengambil jalan tengahnya saja,, kita berjauhan untuk sementara waktu,, mungkin kamu bisa pulang kesini setiap sekali seminggu,,," ucap Ujang.
Mentari kagum dengan sifat pengertian dari Ujang,, di satu sisi dia tidak enak pada Ujang, tapi disisi lain dirinya ingin bekerja juga.
Mereka kemudian diam beberapa saat kemudian,, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Mentari tiba-tiba melihat Ujang yang tengah meraba pergelangan tangannya sendiri,, Mentari melihat pergelangan tangan itu sedikit membengkak.
"Tangan Abang kenapa?" tanya Mentari.
"Kemarin terkilir,, tapi bengkaknya baru sekarang padahal kemarin terlihat baik-baik saja," ucap Ujang sambil memijat lengannya pelan.
"Sini Abang biar Tari bantu,," ucap Mentari sambil mendekat kepada Ujang.
Ujang tidak menolak sama sekali,, Ujang tampak menyodorkan lengannya yang bengkak ke arah Mentari,, detik berikutnya Ujang merasakan kulit halus dan juga sangat lembut itu bersentuhan dengan kulitnya yang kasar.
__ADS_1
"Tunggu yah Bang,, kita butuh minyak," ucap Mentari lalu segera berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu, Mentari kembali datang dengan membawa botol minyak zaitun,, terlihat Mentari mengoleskan minyak itu dengan sangat telaten.
Mentari terlihat sangat cekatan dalam memijat,, jari-jari halusnya sangat terampil dalam memijat dibagian yang sakit,,, Ujang sesekali tampak meringis kesakitan.
"Ayah juga selalu seperti ini,, kalau terkilir pasti aku pijitin,," ucap Mentari yang tiba-tiba merindukan Ayahnya padahal baru saja mereka bertemu.
Ujang tidak menyahut sama sekali,, mata Ujang sibuk menatap Mentari,, menilai Mentari,, Azis memang tidak berlebihan dalam memuji Mentari ketika dia mengatakan kulit Mentari terang seperti lampu seratus watt,, Ujang bisa melihat betapa berbeda kulitnya dan kulit Mentari,, mereka terlihat bagaikan siang dan malam. Seumur hidup baru kali ini Ujang merasakan disentuh oleh seorang wanita,, memang dia sempat berpacaran dengan Marni namun dia selalu menjaga jarak karena Ujang tidak menyukai Marni dan juga Ujang tidak akan macam-macam pada wanita,, Ujang menerima Marni karena kasihan jika wanita itu malu,, Marni lah yang menembak dirinya duluan di hadapan teman-temannya yang lain,, Ujang dulu selalu ngeri jika bertemu dengan Marni yang terlalu agresif. Dan ketika disentuh oleh Mentari istri sah nya rasanya perutnya seperti digelitik.
Mata Mentari benar-benar indah dengan bulu mata yang lentik,, hidung Mentari mancung tapi kecil,, bibir Mentari tipis tapi padat dibagian bawah,, rambutnya hitam dan sangat indah,, alis Mentari tebal dan tumbuh dengan sangat teratur jadi terlihat sangat cantik meskipun Mentari tidak mencukur alisnya,, dan baru kali ini Ujang tau bahwa ada tahi lalat kecil di atas alis sebelah kiri Mentari,, tahi lalat itu tidak terlalu terlihat kecuali dilihat dari dekat dan teliti,, dilihat dari sisi manapun wanita yang berstatus istri tapi masih gadis itu memang cantik bahkan sangat cantik.
"Ssshhh,," ringis Ujang ketika Mentari menekan lengannya dengan sedikit kuat,, terasa sakit sampai-sampai Ujang langsung menarik tangannya sendiri.
"Maaf,, sakit Bang?" ucap Mentari sambil mendongak melihat Ujang.
Mereka lama saling bertatapan tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata sedikit pun,, Ujang biasa tidak merespon pertanyaan saat seseorang bertanya yang tidak butuh jawaban sedikit pun.
Mentari menelan salivanya dengan susah payah,, jarang-jarang Ujang akan menatap tepat di matanya saat ini,, mata tajam tanpa gentar seperti itu,, mata yang biasanya selalu menatap dengan penuh keengganan padanya,, saat ini mata itu tengah menghunus nya sampai ke dalam hatinya,, dia bahkan tidak berkedip sedikit saja.
"Kamu sangat cantik,, Mentari,," ucap Ujang dengan suara yang berubah berat,, Mentari bingung,, dia kini kehabisan kata-kata dengan pujian mendadak dan tidak terduga itu,, jari kasar Ujang saat ini tengah membelai wajah Mentari penasaran hanya seringan bulu tapi berhasil membuat lutut Mentari menjadi sangat lemas.
Jari itu mengelus mulai dari dahi,, pipi,, hidung kecilnya,, dagu,, terakhir dibibir kecil Mentari yang tengah terbuka saat ini dan juga terlihat merah merekah.
Mentari benar-benar merasa jantungnya berpacu dengan sangat kuat,, Mentari seakan tercekik oleh nafasnya sendiri,, aliran darah Mentari terasa sangat cepat, Mentari merasa seperti baru saja selesai berlari.
"Tari,," ucap Ujang yang saat ini tak kalah resah.
"Apa masih sakit Bang?" tanya Mentari,, yang sesungguhnya pertanyaan itu tidak berguna sama sekali.
__ADS_1
Ujang lalu menggeleng beberapa kali,, Ujang juga terlihat menarik nafas kasar lalu mundur menjauhi Mentari,, Mentari seakan merasa kehilangan begitu Ujang mundur menjauh darinya,, apa yang sebenarnya Mentari tunggu? apakah sebuah ciuman? Mentari benar-benar merasa dirinya terlalu lemah.
Bahkan ketika di kamar pun mereka tidak lagi saling berbicara,, tidur pun mereka saling memunggungi.
Di dalam mobil...
"Tari,, apa kamu tidak membaca undangan?" tanya teman Tari.
"Apa?" tanya Mentari,,, mereka saat ini tengah berada di dalam mobil milik teman Mentari yang bernama Rizal,, mereka sama-sama kuliah dulu dan juga rumahnya tidak jauh dari rumah Mentari,, saat ini mereka juga sudah berada di setengah perjalanan menuju tempat acara.
"Sebenarnya dari tadi aku ingin memberitahukan kamu Tari,, aku menunggu Rizal yang memberitahukan lebih dulu,, tapi sepertinya dia tidak enak hati pada suami kamu,," ucap Risma pelan.
"Ini ada apa sih sebenarnya Risma?" tanya Mentari.
"Tari,, kamu taukan pestanya di hotel?" bisik Risma.
"Tau kok,," jawab Mentari.
"Apa kamu tidak membaca catatan kecilnya Tari?" bisik Risma lagi.
"Catatan yang mana?" tanya Mentari.
"Itu semua tamu wajib pakai baju warna putih,," bisik Risma lagi.
"Iya ini aku sudah pakai baju warna putih,," ucap Mentari lagi.
"Iya tapi suamimu Tari,," bisik Risma.
__ADS_1
Mentari menoleh melihat Ujang yang saat ini tengah asik memandang pemandangan di luar kaca mobil,, pantas saja sejak tadi teman-teman nya memandang aneh pada Ujang.
Ujang memakai baju batik biru campur warna putih,, memakai celana hitam,, rambut yang sedikit agak panjang dan juga jenggot yang mulai tumbuh membuat mood Mentari seketika memburuk.