
Ujang dan Mentari menata nafas mereka yang tersengal, seiring dengan bunyi benda yang jatuh dari belakang rumah, tepatnya di balik kamar mereka.
"Abang, apa itu?" bisik Mentari sambil menutupi tubuhnya, sementara Ujang langsung mencari bajunya.
Mereka baru saja menyelesaikan ritual suami istri,, tapi bunyi benda seperti orang melompat itu begitu mencurigakan.
"Apakah maling Abang?" tanya Mentari lagi sambil berbisik.
"Tidak mungkin maling lewat di belakang dinding kamar, pasti akan lewat jendela. Aku akan pastikan dulu," ucap Ujang setelah memakai celana dan bajunya,, Ujang berwudhu terlebih dahulu, terus dia membawa lampu senter ke belakang rumah, karena tidak ada lampu di sana.
Ujang sangat curiga seseorang pasti telah mengintip, Ujang kesal,, marah dan dadanya terasa sangat panas, saat menemukan sebelah sandal jepit yang tertinggal tepat di tanah,, tepat di bawah dinding kamar mereka. Dan Ujang kaget luar biasa,, bagaimana bisa ada lubang tiba-tiba di dinding itu, ukurannya sebesar kelereng, bentuknya sangat rapi seakan dikerjakan dengan hati-hati. Sedangkan dinding itu kemarin masih baik-baik saja, jelas saja lubang itu sengaja dibuat.
"Kurang ajar!!!" ucap Ujang sambil meremas tangannya, sudah berapa lama seseorang itu di sana? dia dan Mentari memang bersembunyi di bawah selimut begitu mereka bercinta tadi, akan tetapi kegiatan yang seharusnya sangat privasi itu malah ditonton oleh orang lain. Ujang terus mengucapkan istighfar karena saat ini dia begitu marah, jika tidak ditahan dia bisa saja menghajar semua laki-laki yang berada di rumah ini.
Ujang masuk kembali ke dalam rumah,, matanya terus mengawasi di sekeliling. Tiba-tiba Doni datang dari arah kamarnya yang terang benderang, tentu saja dengan wajah herannya.
"Saya pikir siapa ternyata Abang,, apa Abang mendengar suara gedebuk tadi?" tanya Doni.
Ujang menatap tajam wajah itu,, mencoba mencari kebohongan di sana,, akan tetapi wajah polos Doni seakan mengatakan bahwa dia bukan pelakunya, dia bahkan lega saat melihat Ujang masuk ke dalam rumah.
"Ini sudah jam dua dini hari, kenapa kamu belum tidur?" tanya Ujang ketus. Mata Ujang mengamati kaki Doni yang ternyata lebih kecil dari ukuran sandal jepit yang dia temukan.
"Tadi saya lagi menyelesaikan laporan kemudian kaget begitu mendengar bunyi gedebuk barusan," ucap Doni.
Mata Ujang menatap tajam Doni, dia membutuhkan bukti untuk menuduh anak itu,, dia tidak mungkin asal menuduh tanpa bukti, sekarang dia belum menemukannya,, jika saja pelakunya adalah Doni maka dia tidak akan mengampuninya.
Begitu Ujang sampai di kamar,, Mentari langsung bertanya dengan tidak sabaran.
"Abang menemukan sesuatu?" tanya Mentari.
"Sandal jepit, entah milk siapa itu," ucap Ujang.
"Ya ampun,," ucap Mentari yang benar-benar sangat terkejut.
"Dan lubang di sini," ucap Ujang sambil mencari-cari dan dia akhirnya dapat lubang itu, lubang itu berada tepat di samping ranjang mereka. Jika seseorang itu mengintip maka dia akan melihat dengan jelas.
Wajah Ujang langsung menegang sedangkan wajah Mentari memerah.
"Yang itu berarti ada yang mengintip kita berdua," ucap Ujang.
"Ya Allah," ucap Mentari langsung terduduk. antara marah dan juga malu,, seumur hidup ini adalah kejadian memalukan untuk dirinya.
"Pasti pelakunya salah satu di antara mereka, ini yang aku cemaskan, sejak kehadiran anak-anak itu kita akan mendapatkan masalah," ucap Ujang tidak mampu menahan emosinya bahkan suaranya meninggi tapi bukan pada Mentari melainkan pada orang yang mengintip itu. Apa yang baru saja menimpanya itu sangat memalukan,, dia lebih memilih kehilangan uang yang banyak daripada di intip saat mereka lagi berhubungan suami istri.
"Tenang,, kita akan amati siapa pelakunya," ucap Mentari.
Ujang diam untuk mengatur emosinya, rahangnya tampak mengeras karena marah, bahkan sampai pagi dia tidak tidur sedikitpun.
__ADS_1
############
Mereka tengah berkumpul di pekarangan setelah sarapan pagi, berulang kali Ujang melihat dari jauh gelagat aneh Doni, tapi Ujang belum menemukan apa-apa. Ujang berjalan ke arah kelompok yang tengah bermain gitar itu,, telah lama dia menunggu pagi, tidak tidur dan bergerak gelisah di atas ranjang, hati Ujang tidak tenang sebelum mendapatkan pelakunya.
"Siapa yang punya sandal ini?" tanya Ujang dengan tidak sabaran. Ujang mengangkat sandal itu tinggi-tinggi agar semuanya bisa melihat dengan jelas.
"Itu punya saya Bang," ucap Reza. Wajah anak itu tampak lega, dan memang benar ukuran kakinya pas dengan ukuran sandal itu.
"Dari tadi pagi saya mencari sandal ini,, saya cuma membawa satu sandal saja. Alhamdulillah tidak jadi keluar uang untuk membeli yang baru," ucap Reza.
Ujang menatap tajam Reza. Reza adalah anak pendiam berkacamata tebal dan juga bertubuh gemuk, wajah anak itu terlihat biasa saja tanpa terkejut sedikitpun. Reza malah langsung memakai sandalnya,, sambil menjemput pasangan sandal itu dengan semangat.
"Kenapa Bang?" tanya Andre.
"Semalam ada bunyi orang melompat,, dan sandal Reza tertinggal disana," jawab Ujang sambil menatap kedua anak itu secara bergantian,, mencari ekspresi gelisah dari mereka.
"Reza semalam tidur dengan aku jadi tidak mungkin dia," ucap Andre membantah.
"Kamu mana tahu bisa saja dia bangun pas kamu lagi tidur," ucap Doni.
Ujang memilih menjadi pengamat yang baik saja.
"Atau malah kamu orangnya?" tuduh Doni pada Andre.
"Apa maksudmu Doni? kamu jelas-jelas melihat aku tadi malam terserang flu dan langsung tidur. Kamu jangan menuduh tanpa bukti," ucap Andre marah.
"Kamu bisa saja bangun tadi malam,, lagian saat flu kamu pasti masih bisa berjalan kan?" ucap Doni.
"Aku jadi curiga sama kamu Doni,, apa kamu maling teriak maling?" ucap Andre lagi.
"Santuy," ucap Doni lagi. Sedangkan Ratu dan Indri hanya melongo saja tidak mengerti apa-apa.
"Maaf,, ada apa ini Bang?" tanya Indri.
"Seseorang telah membuat lubang di dinding kamar kami, dan ketahuan mengintip," jawab Ujang kesal.
"Ya ampun," ucap Ratu sambil menutup mulutnya tidak menyangka.
"Aku sangat yakin pelakunya salah satu diantara kalian," ucap Ujang.
"Bisa jadi Indri pelakunya karena dia memakai sandal milik Reza," ucap Doni lagi.
"Gila kamu yah!" ucap Indri marah.
Ujang berkacak pinggang,, sejauh ini hanya Doni yang terus-terusan menuduh orang lain.
Tanpa bisa ditahan lagi, Ujang menarik kerah baju Doni sampai tercekik. Dia menatap mata laki-laki yang lebih pendek darinya itu dengan tatapan murka.
__ADS_1
"Dapat, kamu pelakunya!" ucap Ujang.
"Bukan Bang,, Abang salah orang," ucap Doni.
"Kamu mau diajak bicara baik-baik atau rahang mu aku remukkan di sini!" ucap Ujang.
Tidak menunggu lama Ujang langsung menyeret Doni masuk ke dalam rumah. Azis yang baru datang benar-benar melongo,, baru kali ini dia melihat Ujang sampai semarah itu.
"Ada apa ini?" tanya Azis.
"Doni mengintip," jawab Ratu.
"Mengintip siapa? mengintip kamu mandi?" tanya Azis.
"Buukkaaann Bang," jawab Ratu kesal.
"Terus?" tanya Azis.
"Dia melobangi kamar Bang Ujang lalu mengintip," jawab Ratu lalu memilih meninggalkan Azis yang terkaget.
"Mau cari mati dia," ucap Azis lalu bergegas masuk ke dalam rumah menyusul Ratu yang sudah lebih dulu masuk.
Di dalam rumah Doni duduk di hadapan Ujang disaksikan oleh teman-temannya yang lain, mereka juga sangat penasaran dengan kejutan pagi ini.
"Mengakulah!" ucap Ujang dingin.
"Bukan saya," ucap Doni yang masih menolak.
"Aku sangat yakin itu kamu," ucap Ujang.
"Bukan Bang, itu bukan saya, sandal itu bukan milik saya," ucap Doni.
"Kamu berani bersumpah?" ucap Ujang.
"Saya bersumpah Bang," ucap Doni cepat.
"Ikuti kata-kata ku,," tantang Ujang. "Saya bersumpah...."
"Saya bersumpah...," ucap Doni mengikuti Ujang.
"Bahwa bukan saya pelakunya," ucap Ujang.
"Bahwa bukan saya pelakunya," ucap Doni.
"Jika pelakunya adalah saya..." ucap Ujang lagi.
"Jika pelakunya adalah saya..." ucap Doni.
__ADS_1
"Saya bersedia orang tua saya mati dan..." ucap Ujang.
Hening seketika tidak ada sahutan dari Doni,, padahal itu hanya kalimat jebakan saja dari Ujang.