Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Positif


__ADS_3

Sakti adalah kakak kelas Glorien sejak SMA, namun mereka tak dekat bahkan tak begitu saling mengenal. Keduanya bersahabat mulai dari ketika Sardi Irawan--ayah Sakti, resmi menjadi pengacara pribadi keluarga Pascal. Sakti seringkali diajak ayahnya ikut ke acara-acara yang diadakan keluarga Pascal. Dari sanalah sapa menyapa di antara pemuda itu dan Glorien menjadi sebuah perkenalan yang berujung persahabatan.


Rohan Pascal tak keberatan dengan itu. Sakti pemuda yang baik dan santun. Namun meski demikian, tak pelak membuat Rohan terbuka hati untuk menerima Sakti sebagai pasangan bagi Glorien, cukup sebatas teman. Ada banyak kekurangan yang tak bisa Sakti lengkapi--menurutnya.


Rohan tahu, Sakti menyukai Glorien sejak lama. Tapi menurutnya, Sakti bukan standar yang dibutuhkan Pascal. Ia butuh seorang yang bisa mengelola bisnis keluarga mereka dengan cerdas bersama sang putri nantinya. Seorang pria sempurna dari segala sisi, yang tentu sesuai kualifikasinya.


****


Senja tidak muram, bahkan begitu cerah. Langit jingga mengasuh awan yang berarak disapu angin.


Lombok begitu indah.


Glorien dan Sakti sudah sampai di pulau itu sejak dua jam lalu. Sebuah villa klasik di tepi pantai sudah direservasi Sakti sebelumnya. Kini mereka berada di sana.


Sebagai orang kepercayaan Rohan, Mbok Rum juga ikut dengan mereka, demi menjaga serta mengurus segala keperluan Glorien selama berada di tempat itu. Sakti tak keberatan, karena ia jelas sudah bisa mengira sedari awal--itu kebiasaan Rohan. Tak akan mudah mendapat waktu hingga puas berdua saja bersama Glorien, walau ia begitu mengharap.


“Makanan sudah siap,” Mbok Rum memberitahu.


Glorien dan Sakti yang tengah asik berbincang di balkon menghadap pantai, sontak menoleh bersamaan ke arah wanita tua itu.


“Iya, Mbok," Sakti menyahut. “Ayo, Glo,” ajaknya pada Glorien seraya berdiri.


Glorien mengangguk sambil tersenyum.


Senyum yang selalu berhasil membuat dada Sakti menari-nari seolah ingin mengecup bibir manis milik si gadis. Sayangnya ia tak seliar itu untuk berlakon menjadi pria yang katakan saja ‘begitu mendamba’. Attitude-nya terlalu kuat dibanding nafsu yang bodoh itu.


Tiba di ruang makan, mereka disambut aroma dari ragam hidangan yang tertata hampir memenuhi meja kayu jati hasil pahatan pengrajin terkenal di daerah sana.


“Wah, Mbok, banyak banget makanannya! Kayaknya enak-enak banget nih!" Sakti memuji senang. Satu kursi didudukinya kemudian.


“Iya dong, Mas. Biar liburan singkat di sini jadi tambah berkesan,” balas Mbok Rum tersenyum. Glo menduduki kursi yang baru saja ditariknya. “Selamat makan!” kata wanita tua itu seraya turut menurunkan tubuh. Posisi di kiri Glo diambilnya.


Dalam hening selain denting suara sendok garpu dan piring yang beradu, Glorien tiba-tiba saja menghentikan aktifitasnya. Secubit omellete yang baru saja ia telan entah kenapa membuat perutnya mendadak diserang mual. Ia membekap mulut setelah mencampakkan sendok garpu di atas piring.


“Non, kenapa?” Mbok Rum bertanya dengan kening berkerut cemas.


Pandangan Sakti sontak ikut mengarah ke wajah Glorien. “Glo ... are you okay?” Ia ikut bertanya.

__ADS_1


Tak bisa menjawab karena makanan yang tertelan sudah kembali naik ke dalam mulutnya, Glorien berlari cepat menuju toilet.


Mbok Rum dan Sakti yang panik ikut berlari menyusulnya.


“Hueeekkk!” Termuntahkan sudah semua yang Glorien makan ke dalam wastafel. Wajahnya mengurat merah pertanda gejolak tak mengenakan dalam perutnya.


“Non!" Mbok Rum mengusap punggungnya dengan wajah cemas, sedang Sakti mengusap bagian tengkuk.


Glorien mengangkat satu tangan setelah tubuhnya kembali tegak, mengisyaratkan ia sudah merasa baik-baik saja. “Kayaknya aku masuk angin deh, Mbok,” katanya.


“Perlu aku carikan dokter?” Sakti menawarkan.


“Nggak! Gak perlu! Aku cuma butuh istirahat aja,” tolak Glorien.


Ketiganya kini berjalan kembali menuju ruang makan.


“Kalo gitu Non ke kamar aja! Mbok buatkan air jahe biar perut Non enakan.”


Glorien mengangguk.


“Aku anter.” Sakti sigap merangkul pundaknya, mengantar gadis itu menuju kamar. “Kamu yakin gak kenapa-napa?” tanyanya lagi saat mereka mulai menaiki tangga.


Sekarang keduanya sudah berada di dalam kamar.


“Ya udah. Kamu istirahat ya,” kata Sakti. Dibantunya Glorien untuk merebah di atas kasur lalu menyelimutinya.


Tak lama Mbok Rum datang dengan segelas air jahe hangat di tangannya. “Diabisin, Non. Biar cepet enakan perutnya.”


Beberapa saat kemudian setelah tandas air jahe yang diberikan Mbok Rum, mata Glorien sudah terpejam. Sakti yang terduduk di tepi ranjang masih menatapnya dengan perasaan cemas.


Mbok Rum baru saja masuk setelah membereskan meja makan di lantai bawah.


“Mas Sakti juga istirahat aja. Non Glorien biar Mbok yang jaga di sini.”


Sebenarnya Sakti ingin jua berada di sana, tapi bersikap kukuh juga bukan pilihan yang bagus. Mbok Rum akan terus menyuruhnya keluar. “Ya udah deh, Mbok. Kalo ada apa-apa, panggil aku, ya.”


“Iya, Mas.”

__ADS_1


*


*


*


Mbok Rum bukan anak ABG yang tak paham dengan keadaan dan ciri-ciri seperti yang ditunjukkan Glorien.


Sejak kedatangan mereka ke Lombok hingga kini mereka telah pulang kembali, keadaan Glorien masih sama. Gadis itu masih sering mual dan muntah, terlebih setelah makan. Hobinya menikmati makanan asam dan pedas cukup menjadi perubahan yang mencengangkan.


Sakti tetap percaya kalau Glorien masih dalam pengaruh mabuk perjalanan dan masuk angin. Itu juga dibantu Mbok Rum yang meyakinkan.


Tapi lain dari pada Sakti, hari ini berbekal segenap kecurigaan dan ketakutan, Mbok Rum membawa Glorien ke sebuah klinik kecil untuk menguatkan asumsinya.


Walaupun anak majikannya itu sempat menolak dan terus mengatakan jika dia baik-baik saja, perempuan tua tersebut tetap memaksa.


Dan saat ini di ruang pemeriksaan ....


“Selamat, Bu, putri Anda positif mengandung. Usia sekarang menginjak angka tiga minggu.”


Lain dari senyuman dokter itu saat menyuarakan pemberitahuannya, wajah Glorien dan Mbok Rum tentu kebalikannya.


Bagai disambar petir, Glorien mendadak kaku dalam pandangan lebar berisi keterkejutan tiada kira.


Dan Mbok Rum, walau sudah mengira itu, ia tetap saja tersentak. Ketakutannya benar-benar jadi kenyataan.


“A-apa katamu, Dokter?” Glorien bertanya terbata. Sebulir air mata menggelinding melewati pipi.


Menyikapi ekspresi dua wanita di depannya, dokter wanita itu berkerut kening. “Ya, Anda sedang mengandung, Nona,” ulangnya meyakinkan.


“Me-mengandung? Ma-maksud Dokter, aku hamil?”


“Benar, Nona. Usianya saat ini sekitar tiga mingguan.”


Glorien membekap mulutnya bersama air mata yang tiba-tiba menderas luruh. Kepalanya menggeleng menolak itu. “Gak mungkin," desisnya.


“Dok, anak saya pasti shock. Karena dia hamil dalam keadaan rumah tangga yak kurang baik bersama suaminya.” Mbok Rum mengambil peran.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk pertanda ia memahami. “Ya. Apa pun keadaannya, sebisa mungkin tetap jaga kandungannya ya, Bu. Kasian janinnya.” Wajahnya memandang prihatin.


“Iya, Dok. Kalau begitu kami permisi.”


__ADS_2