Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Sagara Anak Papa


__ADS_3

Rumsa, adalah nama lengkap Mbok Rum, wanita yang mengasuh Glorien sedari anak-anak, lalu mengurusnya hingga dewasa.


Dia ingat wajah Samudra. Glorien memajang foto pria itu cukup besar di kamarnya ketika Samudra dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian, hampir tujuh tahun lalu.


Samudra terkejut, lalu menyipitkan mata. “Nenek kenal saya?”


Dia tak kenal wanita itu selama yang dia ingat.


Mbok Rum malah menangis sesenggukan. Dengan pertanyaan Samudra yang seperti itu saja sudah menunjukkan kalau dia tidak salah orang. Pria tampan bersinar itu adalah Samudra.


“Nek!” tegur Samudra.


Seraup napas dipaut Mbok Rum untuk mengisi kerongkongannya yang sesak. “Maafkan saya, Samudra.”


“Maksud Nenek?” Samudra semakin heran. “Siapa Nenek ini sebenarnya? Kenapa bisa mengenal saya?!”


Air mata Mbok Rum kembali deras. “Saya ....”


Akhirnya dengan susah payah dibanjiri rasa bersalah, Mbok Rum menjelaskan semua yang terjadi selama [setelah] dia keluar dari istana Pascal.


Rohan Pascal, sudah dijelaskan oleh Pak Jo sebelumnya, bahwa pria itu adalah otak dari sabotase kematian anak Glorien dan Samudra.


Sedikit kebaikan, Rohan meminta Mbok Rum yang merawat bayi malang itu. Mulanya Mbok Rum keberatan karena perbuatan itu sudah pasti menyakiti Glorien. Tapi mengalah karena Rohan tetap sang aturan yang dia hormat, perintahnya adalah harga mati.


Dibekali uang dua puluh juta saat dia pergi membawa bayi mungil Sagara, lalu mengucur uang bulanan sesuai janji Rohan hingga beberapa kali, sebagai nafkah dan biaya untuk keperluan yang secara biologis adalah cucu pria itu, juga untuk Mbok Rum sendiri. Tapi setelahnya, semua tak lagi. Rohan melupakan apa yang dia janjikan.


Terhitung satu tahun usia Sagara, Mbok Rum bertolak dari Semarang ke Jakarta untuk menemui Rohan dan menagih janji pria itu. Sayangnya, setelah sampai di Jakarta, Rohan malah menghardik dan mengusirnya 'tak pakai otak. Hanya sehelai uang seratus ribu yang dia lempar ke hadapan Mbok Rum. Dia sudah muak membuang uang untuk cucu yang tak pernah dia inginkan.


Selain itu, Rohan mengancam akan membunuh bayi Sagara jika Mbok Rum sampai memberitahukannya pada Glorien, yang saat itu akan berangkat ke Amerika bersama Lola. Kehadiran Sagara tentu akan memporakporandakan tujuan Rohan atas putri yang akan dibentuknya jadi pemimpin.


Terhapus tumpukan jasa Mbok Rum yang merawat Glorien sedari kecil. Rohan bukan manusia.


Dari Jakarta, membawa serta kepedihannya, Mbok Rum mengalihkan harapan pada keluarga Samudra di Sukabumi. Tapi sayangnya, rumah itu telah kosong. Darius dan Miana disebutkan telah pindah tinggal oleh warga setempat.


Pada akhirnya dia kembali ke Semarang dengan hampa dan tangan kosong. Bayi mungil yang dikaisnya ia tatap penuh kesedihan sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Setelah waktu itu hingga saat sebelum dia sakit, Mbok Rum bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya juga demi bayi Sagara.


Bisa saja diberikan bayi itu ke panti asuhan, tapi Mbok Rum tak ada hati. Dia sayang Sagara sama seperti dia sayang pada Glorien.


Dentuman keras menyerang seluruh jiwa Samudra. Kedua bola matanya memanas dan menjatuhkan airnya bahkan tanpa dikedip.


Dengan gerak kaku, dia menoleh ke belakang di mana anak kecil yang sedari tadi dia pangku dalam gendongan, terlelap di atas sofa.


“Gala ... jadi Gala adalah putraku?” Suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.


Mbok Rum mengangguk cepat masih menangis. “Iya, Samudra. Dia Sagara, anakmu dan Nona Glorien.”


Sagara, nama itu adalah nama yang disiapkan Glorien saat kehamilannya. Nama yang berdekatan dengan nama Samudra, sama-sama bermakna air.


Tubuh Samudra gemetaran. Langkah kaki limbung mendekati Gala yang masih terlelap tenang di posisinya.


“Gala, Putraku.” Tangisnya luruh seketika. Melumbrukkan diri ke bawah lantai. Sagara ditariknya dalam dekapan.


Bocah itu terkejut dan bangun seketika. “Om, ada apa?” tanya polosnya kebingungan. “Nenek kenapa?” Yang dia pikirkan tentu hanya Mbok Rum.


Samudra melepas peluk, merangkum kedua pipi lalu mengecupi wajah mungil Sagara dengan rindu penuh emosi.


“Sagara, anak Papa.”


Semakin berkerut kening bocah yang biasa dipanggil Gala itu. “Papa?” Dia bingung.


“Iya, Nak. Om itu ... papanya Gala.”


Sagara kecil menoleh cepat ke arah Mbok Rum yang sedari tadi memerhatikan dengan tangisan tanpa henti. “Nenek!”


Dia menoleh pada Samudra, memandang wajah pria itu sekian detik, lalu kembali pada Mbok Rum. “Maksud Nenek apa, om ini papanya Gala?”


Samudra menyergah, “Iya, Gala!” Merangkum kembali pipi mungil Gala dengan kedua telapak tangan. Tatapan ia luruskan ke mata si kecil yang teramat dia rindukan. “Nenek bener. Om ini ... papanya Gala. Papa kandung Gala.”


Sagara menatap skeptis. Ia masih coba mencerna ungkapan yang baru saja masuk ke telinganya ke dalam otak. “Om ... beneran papanya Gala?”

__ADS_1


Samudra mengangguk cepat, “Iya, Nak. Om beneran papanya Gala.”


“Tapi kata Nenek Gala gak punya papa. Papa Gala uda pergi ke rumah Tuhan.”


Mendengar kalimat itu, jantung Samudra makin terpental. Menangis sakit seraya menarik Gala kembali dalam dekapan. “Nggak, Nak. Papa di sini. Papa pulang buat Gala.”


Mbok Rum menggeleng dengan tangisan pecah. Antara sakit dan haru yang bercampur menjadi satu.


Gala menarik diri dari erat pelukan Samudra. Wajah kecilnya mendongak menatap wajah Samudra dengan mata sudah berkaca. “Jadi bener, Om papanya Gala?” Terakhir kalinya dia ingin memastikan.


Lagi, Samudra mengangguk lagi untuk terus meyakinkan sang anak. “Iya, Sayang. Papa gak bohong. Gala boleh tanya Nenek sampai Gala puas dan yakin.”


Ada binar bahagia di mata bocah kecil tujuh tahun itu. Mata bening berkacanya masih tak lepas jua menatap wajah Samudra.


“Gala kenapa, Nak? Apa Gala belum percaya kalo Om ini beneran papanya Gala?” tanya Samudra.


Bocah itu menggeleng.


“Terus? Kenapa Gala liat papanya kayak gitu?” Samudra bingung.


Gala terdiam untuk sekian detik. “Peluk Gala lagi ... Papa.”


Perkataan dan sapaan itu sukses membuat Samudra menangis lagi. Dengan cepat, dipeluknya kembali Gala sesuai yang anak kecil itu minta. “Papa kangen kamu, Nak.” Dikecupinya terus menerus kepala dan wajah Gala, menumpahkan segenap rasa yang terkurung sekian waktu setelah Pak Jo mengungkapkan bahwa anaknya masihlah hidup.


Derak pintu terdengar. Mada menyembul dengan sekantong makanan di tangan. Keadaan tak biasa, membuatnya bingung dan mengerut kening. “Kalian kenapa?” tanyanya seraya menaruh kantong di tangan ke atas meja.


Sebelum menjawab, Samudra mengusap pipinya terlebih dulu. Melepaskan Gala dari peluknya, kemudian membelai pipi kecil kusam milik putranya penuh kehangatan. “Gala ini ... anak gua, Mad.”


Ungkapan itu berhasil mengejutkan Mada. Dia mendekat cepat ke arah mereka. “Serius lu?"


“Iya, Om. Dia papanya Gala.” Anak kecil itu yg menyahut.


Mada tersenyum lebar. Sofa kosong di dekat Gala didudukinya. “Tuh 'kan, bener piling gua! Dia ni anak lu! Abisan mirip sih!”


Pernyataan Mada mendorong pandangan Samudra pada Sagara. Disapunya seluruh wajah tanpa terlewat. “Lu bener, Mad. Dia beneran mirip gua.”

__ADS_1


“Nah tu!”


Namun saat arah lihat Samudra beralih pada pakaian yang dikenakan Sagara, ekspresinya berubah sedih, lalu menajam seperti elang. “Rohan bakal bayar semuanya!”


__ADS_2