
Kemana Mada dan lainnya, Samudra bahkan tak tahu dan tak bisa pula menghubungi. Ponselnya disita anak buah Laura.
Glorien tertunduk rapuh, sedang Sagara menatap semua orang di bawahnya--kecuali Samudra, penuh benci. Keduanya masih dalam keadaan terikat dan belum dilepaskan Laura.
Petugas sipil pernikahan sudah datang. Entahlah, bagaimana Laura melakukannya, seperti semua sudah terencana dengan matang.
Bahkan jika sudah resmi menikah, wanita itu tak takut Samudra akan membunuhnya di ranjang pengantin mereka nanti. Hal itu ia kemukakan sesaat sebelum Samudra diboyong pergi anak buahnya untuk berganti kostum, kemeja Samudra yang sebelumnya penuh dengan cipratan darah akibat pertarungan dengan tiga orang penjaga tadi.
Laura tak takut apa pun, dia mengerikan. Terpenting semua yang dia inginkan, selama dia bisa, dengan cara yang seperti apa, dia tak akan peduli sesulit dan sekeras apa pun itu. Tepukan tangan iblis menyorak keras.
Peresmian pernikahan akan segera dimulai. Tak banyak yang dilakukan, hanya penandatangan beberapa berkas, Samudra dan Laura akan resmi menjadi pasangan suami istri.
Suara tangisan Glorien seperti latar pengiring. Samudra berusaha keras untuk tak memedulikannya. Sagara yang terus meronta diamankan satu bawahan Laura dengan membalutkan lakban di bibirnya.
Duduk berdampingan layaknya pasangan pengantin, Laura berbahagia dengan itu. Lain dengan Samudra yang bertatap dingin, dia seolah beku dengan dunianya sendiri.
Sebuah pulpen disodorkan petugas sipil pada Samudra. "Please sign, Sir!"
Laura menepuk halus pundaknya, karena Samudra seperti tak sadar dengan situasi. "Honey."
Samudra menolehnya memberi tatapan dingin lalu mengikuti isyarat Laura yang mengarah pada sebatang pulpen di tangan pria tua di hadapannya.
Dari pulpen itu, pandangannya lantas jatuh pada kertas yang terhampar di depan mata. Degup jantungnya kembali keras. Huruf per huruf dan angka yang tertera seperti kutukan.
"Ayo, Sayang. Tandatangani." Laura terus mendorong.
Dengan ragu dan sedikit gemetar, Samudra meraih benda tersebut, menempatkannya di posisi siap coret pada panel yang tertera di kertas itu. Perlahan ia turunkan, sedikit demi sedikit, dan ....
Laura tersenyum senang, Samudra benar-benar membubuhkan tanda tangannya.
Satu halaman kertas disibak lagi oleh si pria petugas. "Next."
Tepat ketika tinta Samudra hampir tergores ....
DORR!
“Aaarrggh!”
DORR!
Gemuruh suara tembakan dan teriakan susul menyusul. Satu per satu anak buah Laura tumbang dan terkapar di bawah lantai.
Semua terkejut.
Laura panik.
“SAAMMM!”
Senyum Samudra mengembang seketika. “Mada!”
__ADS_1
Pria tengik itu muncul dengan pakaian lengkap anti peluru, di kepalanya, helm proyek berwarna kuning terpasang tolol. Sebuah kacamata renang bahkan ikut menyemarakkan penampilannya yang eksentrik.
David, Pepeng dan anak buahnya juga terlibat, hanya helm dan kacamata yang tak mereka pakai. Mada memang lain.
Mereka beramai-ramai turun kemudian langsung adu hantam melawan anak buah Laura penuh semangat.
Glorien berteriak-teriak takut, menyebut nama Samudra juga Sagara yang dicekal anak buah Laura. Tapi cukup tenang setelah melihat kedipan manis David yang memintanya tak perlu cemas.
Laura sendiri berjalan takut ke satu sisi untuk berlindung. Beruntung gaunnya tak menyulitkan, cukup bebas ia bergerak.
HAP!
Satu pistol dilempar David, Samudra menangkapnya dengan tangkas.
DORR!
Satu pria lengah yang hampir saja menembak anak buah Pepeng lebih dulu diamankannya dengan tembakan. Pria itu mati seketika.
Di tengah huru-hara pesta tembakan, tendang dan pukul-pukulan, perhatian Samudra kemudian jatuh pada Glorien. Gegas dia memanjat tangga besi kecil untuk sampai di ketinggian dimana wanita itu diikat tinggi.
"Samudra." Glorien memanggilnya dengan wajah cemas.
Sampai.
Samudra sudah berada di belakangnya. Menapak sebidang papan yang cukup riskan untuk dipijak, tapi ia harus.
"Tenang, jangan panik. Jangan banyak gerak," kata Samudra.
Lepas!
Dengan cepat Samudra meraih tubuh itu dan menarik ke pelukannya. Bersama mereka menuruni tangga dengan pelan dan hati-hati.
DORR!
"Aarrggh!" Glorien berteriak. Satu orang terkena timah panas yang dilepas Samudra seraya bergelantungan.
Hampir saja sebilah pisau dilempar orang itu ke arah Glorien. Beruntung Samudra melihat lalu melepaskan tembakan cepat yang tak terelak.
Keduanya mendarat dengan baik di atas lantai.
Keadaan mulai hening. Mada dan kawan-kawannya membawa pertarungan ke satu bagan ruangan yang lebih besar di sisi lain lantai itu, tapi masih nampak di ruangan yang sama di mana Samudra dan Glorien berdiri.
"Sagara!" Glorien melepaskan diri dari dekapan Samudra, mengingat keberadaan putranya. Kepalanya mengedar panik.
Samudra melengak, kemudian sama panik dan mengedar.
"GALA!" teriaknya bergaung gema.
"Kamu mau dia?"
__ADS_1
Suara itu seakan menghentikan waktu.
Laura muncul di atas sana.
"Saga!" Glorien berteriak, membekap mulut dan menangis.
Sagara dicekal ketat dua orang anak buah Laura. Di belakangnya, empat orang pria asing bersenjata lengkap. Mereka tersenyum jahat, mengolok betapa bodohnya seorang Samewise Will yang katanya hebat itu.
Mata Samudra melotot lebar. "Lepaskan anakku, Laura!"
"Oh, no, no, no!" Laura menyergah seraya menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah. "Not that easy, Samudra."
Gemuruh hentak kaki terdengar di belakang Samudra. Mada, David dan lainnya datang setelah habis membasmi hama-hama Laura.
"Sam!" Dia menepuk punggung Samudra, lalu ikut mendongak ke ketinggian. "Gala!"
Samudra tak menggubris sahabatnya. Perhatiannya tajam menusuk pada Laura. Sagara nampak terus meronta, tapi tak bisa berkata apa pun karena mulut kecilnya terbalut lakban yang cukup tebal.
KLEK! KLEK! KLEK!
Pepeng dan anak buahnya serempak mengarahkan pistol ke atas sana, yang kemudian dibalas anak buah Laura dengan menodongkan moncong senjata mereka pada Sagara.
"JANGAN!" Glorien maju selangkah seraya berteriak. "KUMOHON JANGAN!"
Samudra menariknya kembali ke belakang dan mendekapnya. "Turunkan senjata kalian!" perintahnya pada Pena Hitam.
Mereka serempak menuruti.
Keselamatan Tuan Muda Kecil pasti sangat berarti untuk Samudra.
Terdengar tawa keras Laura.
"Suruh anak buahmu menaruh senjata mereka di tempat itu," kata Laura seraya menunjuk sebuah meja sedikit jauh di depan Mada dan lainnya. "Kalau tidak, selamat menyaksikan kematian mengenaskan bocah kecil ini." Seringai mengerikan penuh kemenangan.
"Eh, mana bisa gitu, Anjing!" David tak setuju.
"Ikutin kata iblis itu, Dav," pinta Samudra.
"Tapi--"
"Gua bilang ikutin! Apa lu mau liat anak gua mati?!" Samudra meradang.
Tak bicara lagi, dengan cepat David memerintah lainnya, "Taro, Mad. Kalian juga."
"Elah! Baru aja kita menang perang-perangan ye'kan.” Mada mengeluh seraya berjalan malas ke depan, ikut menaruh pistol kecilnya.
Selesai. Semua kembali ke tempatnya masing-masing, kemudian membelalak lebih lebar tiga puluh detik setelah itu. Kepala mereka mengedar pandang ke sekeliling.
Tempat itu dikepung. Entah datang dari mana, anak buah Laura muncul dari berbagai arah lengkap dengan senjata mereka.
__ADS_1
"Sialan!" Mada mengumpat.