
Demi keamanan dan keselamatannya, Glorien dipulangkan kembali oleh Samudra ke ranah Pascal.
Tak peduli umpat dan makian Rohan yang keras karena mendapati putrinya nyaris mati, Samudra lebih memilih tutup telinga dan masa bodo.
Walaupun belum dia ketahui siapa dalang di balik penyerangan diam-diam itu, setidaknya Glorien akan aman bersama keluarganya.
Bukan Rohan, Samudra menyimpulkan.
Tak mungkin pria tua tinggi arogansi itu tega melukai putrinya sendiri hanya karena harta yang separuh berpindah tangan. Diperkuat juga dengan kesaksian Yara yang meyakinkan, tentang bagaimana perangai Rohan selama yang dia tahu.
Rohan memang kejam untuk urusan uang dan bisnis, tapi dia bukan psikopat yang tertutup hati sampai rela membunuh. Kecuali saat Samudra koma, di luar perhitungannya.
Jadi secara logika, jelas ada orang lain yang menginginkan kehancuran--entah itu atas Samudra, atau mengincar Glorien.
Semalam suntuk ini, Samudra bermain dengan laptopnya ditemani Mada. Ia sekarang bermukim di rumah garasi--bengkelnya jaman dulu. Tidak memilih hotel, terlalu riskan di saat seperti ini--menurutnya. Dan dia pasti punya alasan.
Ernest, David dan lainnya ia tugaskan di kantor Will yang baru. Campur urusan bisnis dan lainnya, mereka terpaksa memakai sistem rodi. Samudra membayar mahal untuk itu.
Earphone di telinga tak dia lepas. Sesekali berbicara dengan David untuk mencocokkan data yang mereka temukan.
“Musuh kita sekarang bukan lagi Pascal,” celetuk Samudra. “Ada orang lain yang lebih terbuka pake kekerasan. Entah itu kiriman tantangan, atau bentuk peringatan.”
Mada merespon dengan menghela pandangnya pada Samudra. “Menurut lu tu orang ngincer siapa?”
Sepasang telapak tangan yang merapat, Samudra dirikan untuk menopang dagu. Wajahnya masih menatap layar.
“Sedikit petunjuk yang ditemukan Ernest, kemungkinan dia ngincer Glorien.”
“Lho?!” Mada tercengang. “Kalo urusan Putri Pascal, ngapain kita susah-susah urusin?! Biar aja si Rohan itu yang kepusingan ampe juling!”
Seketika, bacotan Mada memancing raut horror di wajah Samudra. Matanya mendelik memberi tatapan tajam pada si keparat.
“Hehe. Iya, Sam. Ampunin gua. Gak lagi-lagi deh,” katanya ketar-ketir dengan cengiran kuning.
Samudra sendiri tak paham. Ia masih memikirkan bagaimana membalas dendam pada Glorien, tapi menyaksikan wanita itu terluka, dia malah kalang kabut sendiri.
Bukan hal konyol jika Mada meledeknya habis-habisan.
“Mending molor aja lu, Mad! Kagak guna banget muka lu!”
Angin segar. Mada malah bahagia. Dia gegas berdiri lalu memberi hormat. “Siap, Bosku!”
“Keparat!”
__ADS_1
*
*
Seminggu kemudian.
Semua nampak baik-baik saja. Tak ada apa pun kejadian kacau yang menyusul. Namun Samudra tak diam, tetap dia memantau dari segala sisi.
Glorien nampak sudah membaik dan mulai kembali menyibukkan diri mengurus hotel. Tapi ada hal lain yang kini menguasai pikirannya.
Sakti memutuskan hubungan mereka melalui pesan panjang yang dikirimnya melalui watsap. Menyatakan permintaan maaf sedalam-dalamnya, juga alasan di balik keputusannya. Mereka memutuskan menjadi teman seperti dulu pada akhirnya. Glorien sangat memahami bagaimana tertekannya Sakti karena ulah papanya yang bobrok urusan cinta. Tapi bagusnya, sedikit pun dia tak merasakan sakit hati karena keputusan itu. Jelas sudah, sedari awal memang tak ada rasa istimewa untuk Sakti.
Saat ini di ruangan khusus bersantai yang ada di lobi,
Glorien termenung menatap layar ponsel membaca ulang pesan panjang Sakti yang sejujurnya jadi dia yang tak enak hati.
Lalu Samudra tiba-tiba datang membuyarkan iramanya. Dua saku celana dijadikannya lahan untuk sembunyi telapak tangan oleh pria itu.
“Siang, Nyonya Samudra.”
Glorien melengak. Senyum sialan Samudra menyambutnya. Seraya membuang wajah dia bertanya, “Mau apa kamu ke sini?”
Samudra tersenyum lalu duduk di sampingnya. Bersandar santai pada sofa dan bersilang kaki sok jadi tuan. “Mau nemuin istriku lah!” jawabnya serampangan.
Mata berbulu lentik milik Glorien mendelik tak suka--ceritanya.
Kekehan Samudra terdengar menjengkelkan.
“Ya udah. Aku pergi aja!” Pria itu bangun kembali dari duduknya, lalu menjauh menyusun langkah untuk berlalu.
Tak disangka Glorien, pria itu tak mempersulitnya lagi. Tapi sesuatu kemudian mengusik ingatannya tepat ketika langkah Samudra di kisar lima meter di depan sana.
“Samudra, tunggu!”
Berhasil menghentikan langkah pria itu.
Samudra berbalik. Senyum sinting di wajahnya terpasang lagi. “Ada apa?” tanyanya.
Glorien menggenggam ponselnya, lalu berjalan mendekati pria itu. Kini mereka berhadapan saling bertatap.
Samudra masih menunggu apa yang akan dikatakan istrinya yang sekian detik ini masih diam.
Helaan napas Glorien terdengar berat, sebelum akhirnya bersuara, “Tolong ceraikan aku, Samudra.”
__ADS_1
Senyum di wajah Samudra seketika pudar. Berganti raut dingin yang memperlihatkan emosi yang mulai naik.
Dia diam untuk sekian waktu.
“Samudra, aku mohon.” Glorien mulai mengiba. “Kamu udah punya Jesslyn. Tolong jangan persulit aku.”
Walau hatinya jelas merasa tak suka, tapi lagi-lagi Samudra bisa menyembunyikan. Aura horrornya kembali dia ganti--kali ini dengan senyum sinis. “Gak akan semudah itu, Nona Pascal!”
Glorien menyikapi dengan frustrasi dan tak tahu harus apa.
“Tolong, Samudra. Jangan kayak gini. Aku butuh jalanin kehidupan aku dengan normal. Kamu mau tunangan sama Jesslyn, 'kan? .... Jalani hidup kamu juga dengan bebas bareng dia. Kalau dia sampai tahu kita masih ada ikatan, apa kamu gak kasian sama dia?”
Penuturan itu sedikit mencubit sisi rapuh Samudra.
Tidak dipungkir, yang dikatakan Glorien benar adanya. Tapi lebih jauh dalam hatinya, ia justru tak peduli itu. “Jesslyn urusanku!” tukasnya malah begitu. “Kalau kamu mau surat cerai, penuhi dulu syarat dari aku. Kalau kamu bisa sabar, aku akan kabulin apa yang kamu mau.”
Sekali lagi Glorien dibuat bingung. Wajahnya memperlihatkan ketidakhabispikiran. Napas kasar terembus dari hidungnya. “Apa syaratnya?” Ia bertanya pada akhirnya. Terpaksa mengalah. Berdebat pun ia tidak akan menang. Saat ini Samudra bukan lawan yang sebanding. Pria itu tak selembut dulu.
Samudra menyeringai. Tubuh Glorien yang diam berdiri, ia hitari seolah tengah menilai. “Gampang kok!” katanya.
“Iya, apa?!” Glorien tak sabar.
Sesaat Samudra menikmati permainannya. Puas bertingkah, ia akhirnya berhenti di depan Glorien, lalu saling tatap lurus antar dua pasang mata.
Glorien masih diam, menunggu.
“Kamu harus mau jadi asisten sekaligus supir pribadi aku!”
JRENG!
Glorien tersentak hingga memiringkan kepalanya. “Apa kamu bilang?”
“Aku bilang ... kamu harus mau jadi supir sekaligus pesuruh aku!” ulang Samudra menegaskan.
Glorien memijat kening seraya berkacak pinggang mondar-mandir. “Apa gak ada syarat lain?” tanyanya menghentikan aktifitas.
Samudra hanya mengangkat bahu.
“Kalo gak mau ya udah ... gak ada surat cerai!”
“Ohhh, Looord!”
...***...
__ADS_1
Sampai jumpa kembali di episode selanjutnya.
Jangan lupa like!