
"Aku cuma rindu."
Kalimat sederhana namun bermakna dalam, Samudra melihat itu dari pancaran mata seorang Jesslyn Dun. Setelah sekian saat saling memandang, Samudra memilih membuang wajah seraya tersenyum, tidak sinis tidak juga mengejek, dia hanya merasa lucu.
"Jess." Tatapannya dia kembalikan pada Jesslyn yang masih diam dengan raut berhambur.
"Aku tau kamu serius. Tapi bukannya kalimat itu gak terlalu tepat buat seorang yang lagi ...." Gulir mata dia turunkan ke arah perut Jesslyn yang tidak selangsing dulu, saat mereka masih bersama bahkan sampai perpisahan itu tiba.
Jesslyn turut melihat ke arah perutnya lalu tersenyum sumbang. Tangannya bergerak menyentuh bagian itu. "Ya, kamu bener. Aku bahkan lupa kalau aku lagi mengandung."
Rasanya kalimat itu terlalu aneh bagi Samudra. Sikap Jesslyn seolah mengatakan bahwa dia tak pernah menginginkan bayi dalam perutnya. Tapi Samudra memutuskan untuk tak ingin dan tak perlu tahu. Jalannya dan wanita itu telah saling bersebrang sejak Jesslyn memutuskan untuk menyerah pada ujian hubungan mereka saat itu.
Seraya berdiri dengan tangan di dalam kedua saku celana, pria itu berujar, "Aku rasa gak ada hal yang perlu kita bahas. Aku balik. Glorien nungguin aku."
Itu tentu mengejutkan Jesslyn. Punggung tegap Samudra yang bergerak menjauh dia tatap dengan mata membelalak. Saat sampai langkah pria itu satu meter menuju pintu, dengan cepat dia beranjak untuk mengejar. "Samudra tunggu!" Ditariknya lengan pria itu hingga terhuyung ke belakang dan membentur dirinya.
Kali ini pasang mata Samudra yang dibuat melebar oleh Jesslyn. Wanita itu memeluknya dari belakang tanpa peduli pada keadaan perutnya.
"Aku mohon jangan pergi," kata Jesslyn mengiba.
Samudra tertegun. "Jess--"
"Aku mohon, Samudra," potong Jesslyn. "Kali ini aja. Aku mohon kamu tinggal."
Terdengar menyedihkan. Samudra sedikit bingung bagaimana harus mengambil sikap. Separuh hatinya mendorong untuk pergi, namun separuh lainnya dicubit rasa kasihan. "Jess, tolong jangan kayak gini. Kasihan bayi dalam kandungan kamu." Dua tangannya tergerak untuk melepas lingkaran tangan Jesslyn dari tubuhnya.
Tapi yang terjadi Jesslyn malah semakin mengetatkan pelukan itu. "Aku gak peduli. Aku gak pernah menginginkan bayi ini.''
Seraup napas diembuskan Samudra sedikit kasar. Memutuskan untuk diam dan pasrah, membiarkan Jesslyn melakukan apa yang dia mau.
KREK!
Pintu terbuka di waktu yang tepat. Bertepatan dengan tubuh Jesslyn yang ambruk ke dasar lantai.
"JESS!" Samudra terkejut dan berbalik.
__ADS_1
Disusul pekikan lain, "JESSLYN!"
Ada dua pria di sana.
"Kita bawa dia ke rumah sakit."
Samudra melengak, menghentikan geraknya yang hendak menggendong Jesslyn.
"Anda siapa?" tanyanya pada pria asing di hadapannya.
Pria itu berseragam polisi, dari bet bordir yang terpasang, nama Riandi tertera dengan huruf kapital dan sangat jelas. "Bukankah buang waktu kalo kita bicara omong kosong sekarang? Jesslyn butuh bantuan."
Mendengar jawaban itu, Samudra tersadar. Tanpa berkata lagi, gegas diangkatnya tubuh Jesslyn, tapi ....
"Biar saya saja," ujar pria yang akrab disapa Rian. Dia bergerak meraih tubuh lemah Jesslyn dari tangan Samudra.
Samudra menyerahkan dengan perlahan, berpikir pria itu mungkin saja suaminya Jesslyn.
Sekian menit berlalu, mobil Samudra bergerak mengekor di belakang mobil yang membawa Jesslyn menuju rumah sakit.
Sebenarnya bisa saja Samudra pergi, tapi dia merasa perlu memastikan keadaan Jesslyn, terlebih wanita itu tengah mengandung. Dan jika Rian benar adalah suaminya, bukankah sebagai lelaki baik-baik, Samudra perlu menjelaskan kenapa dirinya ada di apartemen mereka?
Saat ini Jesslyn sedang ditangani dokter di ruang perawatan.
Sisa Samudra dan Rian yang sepertinya akan mulai bicara di kursi tunggu.
"Maaf, apakah Anda ... suaminya Jesslyn?" Samudra membuka kata.
Pandangan Rian yang mula terunduk, langsung beralih pada Samudra yang saat ini duduk di sampingnya terhalang satu kursi di tengah-tengah. "Bukan," jawab pria polisi itu.
Kening Samudra mengernyit tajam. "Lalu?"
Sesaat Rian terdiam menatap Samudra, lalu kembali meluruskan pandang. "Saya hanya sosok teman yang menyedihkan."
Jawaban itu terlalu ambigu untuk bisa dipahami cepat. Tapi rasa iingin tahu Samudra terlanjur jauh.
__ADS_1
"Saya tahu Anda, Tuan Samewise," kata Rian menoleh sesaat Samudra lalu tersenyum sumbang. "Jesslyn seringkali menyebut nama Anda dalam tiap keluh kesahnya. Dan saya adalah pendengar setianya."
Kali ini Samudra cukup terusik. Deretan kalimat singkat yang gegas dia pahami. Cinta Rian bertepuk sebelah tangan. Tapi apa pedulinya? Itu urusan mereka.
"Apa yang sebenernya terjadi sama Jesslyn?" Dia bertanya pada hal menonjol di pikirannya.
Setidaknya sepuluh detik Rian terdiam, sebelum akhirnya menjelaskan apa yang dia tahu.
Tanpa A I U E O, cerita dimulai ....
Saat itu karier Jesslyn tengah melesat naik, itu berlaku ketika hubungannya dengan Samudra baru saja berakhir. Jesslyn bahkan mengungkapkan itu pada media, terkait Samewise Will yang tak pernah medampinginya lagi. Dia nampak tegar dengan memilih fokus pada pekerjaannya sebagai model yang akan beranjak menjadi seorang aktris, dengan tawaran kerja yang tak main-main.
Tapi sesuatu kemudian terjadi.
Sehelai undangan pesta membawanya pada petaka.
Jesslyn terjebak dengan seorang pria di sebuah kamar, setelah dalam ingatannya dia meminum segelas anggur saat di pesta. Terbangun dengan rasa terkejut setengah mati. Dia tak berbusana, diperburuk dengan tubuh yang lemah tak bertenaga.
Kehormatannya direnggut secara hardcore. Dan parahnya, kegiatan itu direkam menjadi sebentuk video penuh yang kemudian dijadikan pria itu sebagai ancaman. Jika Jesslyn tak menurut, maka video itu akan disebarkan ke media yang otomatis menghancurkan Jesslyn dalam sekejap.
Jesslyn dibawa ke sebuah tempat dan dijadikan budak setubuh selama berbulan-bulan. Hebatnya, di media dia diberitakan tengah berlibur bersama kekasih baru. Dan hal itu juga yang sampai pada Samudra, menjadikannya tak lagi cemas karena Jesslyn tak begitu terpuruk setelah perpisahan mereka.
Dalam pengurungan itu, Jesslyn selalu ingin lari dan kabur, tapi tak pernah berhasil. Sampai waktu membawanya pada sebuah kesempatan yang diimpikan. Entah bagaimana, yang jelas dia berhasil melarikan diri. Saat itu dia bahkan tak sadar, ada nyawa lain tumbuh dan bersemayam dalam rahimnya.
Dari sanalah Rian muncul di jalanan sebagai penolong. Jesslyn yang tak ingin pulang, dibawanya tinggal bersama kerabat baik yang ternyata adalah Aneta Prima, si desainer yang juga merupakan kenalan Samudra. Karena itulah tempo hari Samudra melihat Jesslyn ada di butik. Sama halnya dengan ekspresi yang ditunjukkan Aneta terhadap Glorien, selain dari media, sedikit banyak Jesslyn juga bercerita tentang kenangan hubungannya bersama Samudra pada wanita itu.
"Dia bahkan sempet akan bunuh diri, tapi aku gagalkan. Pun dengan percobaan pengguguran kandungan, aku juga yang menahannya."
Jantung Samudra seperti dipukul-pukul. Kenyataan terkadang tak sebaik yang kelihatan. Amarahnya meledak hingga ke ubun-ubun.
"Apa Anda sudah menangkap pelakunya?" tanya Samudra. Ekspresi yang terpatri berubah kelam.
Detik kemudian Rian menggeleng lemah. "Aku belum berhasil."
Dalam hati samudra mengumpat keras, "Trus apa aja kerjaan lu jadi polisi? Sibuk lurusin ati yang bengkok?! Shitt!"
__ADS_1
"Jesslyn beritahu siapa orang itu?"
Rian menatap Samudra. "Seorang pria Rusia. Dazh, namanya Dazh!"