
Beruntung, Darius berhasil menjemput Glorien dari rumah Pascal sebelum Samudra pulang. Dia tahu, Rohan pasti bertingkah agar putrinya tetap tertahan di sana bahkan hingga benar-benar terpisah dengan suaminya.
Sesaat sempat bersitegang. Tapi Rohan terus menahan diri. Ia tak ingin menjadi seperti pecundang di depan orang rendah macam Darius.
Darius tak takut Rohan. Baginya, kasta bukan tolak ukur seorang miskin menjadi takut dan tertunduk di bawah kaki pemilik tahta. Ia membawa Glorien pulang atas nama putranya yang kini memiliki peran sebagai seorang suami.
Rohan seperti kecoak terinjak.
Urat wajahnya yang menegang menatap kepergian Glorien dengan rasa berang tidak tertolong.
**
Samudra pulang dua hari setelah kembalinya Glorien ke Sukabumi.
Tiga kali lebih cepat dari kepulangan sebelumnya.
Ragam oleh-oleh khas Kalimantan memenuhi tempat tidur untuk Glorien setelah membagi Darius juga Miana.
Di samping sawah milik Darius, di tempat pembuatan bata juga milik pria itu, Samudra dan Glorien mendeklarasikan keharmonisan cinta mereka yang mulai bersemi entah sejak kapan, dengan bergoyang menginjak-injak tanah liat. Ikut serta Miana yang tak kalah senang.
“Satu polesan untuk cintaku!”
“Hey! Kotor!” Glorien menghardik seraya mengusap pipinya yang baru saja dioles Samudra dengan adonan tanah liat untuk pembuatan bata.
Miana terkekeh. “Tambah cakep, Kak Glo!”
Terang saja, bukannya bersih, pipi Glorien malah semakin belepotan setelah diusapnya.
“Satu oles lagi untuk sayangku!” Samudra mengulang perbuatannya seraya terkekeh.
“Saammm!” teriak Glorien maju membalas.
Pada akhirnya mereka bertiga malah sibuk poles memoles dengan tanah liat, sampai semua terlihat seperti setan penunggu sumur. Tapi itu terdengar menyenangkan. Tawa ketiganya membahana hingga menembus mega di langit jingga.
Di samping rumah Darius, di mana ada teras yang di sampingnya terdapat kolam berisi beragam ikan yang saling memangsa kejar-kejaran, Samudra dan istrinya juga Miana, pindah ke tempat itu setelah puas dengan scene sebelumnya. Berebut selang yang terjulur dari pojokan tempat Kang Omon biasa mencuci mobil. Ceritanya mereka bersih-bersih, tapi ujungnya tingkah mereka tetap seperti si Komo, Naruto, dan Sailormon--main semprot air sambil berjingkrak-jingkrak kelebihan pèr.
Saat ini waktu menunjukkan angka jam tiga lebih sedikit. Dari ujung teras depan, Darius yang hanya bersarung man99a dan kaos oblong putih tanpa corak, memanggil salah satunya cukup keras.
“Sam! Hape-mu bunyi terus nih!” Seraya diacung-acungkannya benda pipih itu ke depan wajah.
Samudra menoleh Darius, karena memang jarak di antaranya masih bisa saling menangkap. “Telepon, Yah?!”
“Iya!”
“Dari siapa?!”
“Nomor gak dikenal!”
“Iya, bentar.”
__ADS_1
Darius tak pernah sembarangan mengangkat telepon. Samudra paham benar sifat ayahnya.
Detik berikutnya, selang air direbut Samudra dari tangan Miana. “Koko duluan, Mi!” Dikucurinya seluruh badan yang baru bersih paruh bagian.
“Glo, bersiin cepet badan kamu. Aku duluan ke depan.”
Glorien mengerti dan mengangguk. “Iya.”
Lelaki itu langsung melanting setengah lari menghampiri Darius untuk segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
Diletakkan Darius di atas meja, masih saja berbunyi. Samudra lantas mengambilnya usai sekilas mengelap tangannya dengan handuk yang tersampir di atas kursi.
“Hallo!”
“SAM!”
Sontak Samudra menjauhkan ponselnya dari telinga seraya melotot karena terkejut.
“SAMUDRA! LAMA AMAT LU ANGKAT TELEPON GUA?!”
Siapa lagi kalau bukan Mada yang bermulut besar, melebihi besarnya beton jembatan layang.
“BERISIK, TAN!” semprot Samudra tak kalah keras. ‘Tan’ adalah potongan dari kata ‘setan’. Ponsel sudah kembali ia tempelkan ke telinganya.
“Ada apaan lu, Sialan! Treak-treak uda kèk cacing!”
“Mana ada cacing treak, Semprul!” hardik Mada.
Sesaat hening.
“Mad!” panggil Samudra.
“Iya, iya! Gua masih idup!”
“Ada apaan lu tilpun gua?!” Samudra mengulang pertanyaannya.
“Gua ada di bawah belokan deket kebon jati yang mau ke tempat lu. Bisa ke sini, Sam?!”
Kening Samudra mengernyit dalam. “Ngapain lu di situ? Ngapa kagak langsung kemari aja?”
“Urgent! Plis, Sam, lu kemari!”
“Ban pecah?” terka Samudra.
“Iya!”
Telepon pun ditutup Mada tanpa pamitan.
“Jirr, si kampret! Ban pecah aja drama!” umpat Samudra, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Saat bersamaan keluar kamar, Glorien datang diikuti Miana yang keduanya masih dalam keadaan kuyup.
“Mada ada di belokan kebon Park Jimin. Ban motornya pecah. Aku ke sana bentar ya, Glo.” Samudra meminta izin.
Walaupun cukup heran untuk apa Mada datang kembali, tapi Glorien tetap mengangguk. “Iya.”
“Mi, Koko pinjem motor kamu bentaran ya!”
Miana menjawab tanpa berpikir seraya berjalan menuju kamarnya, “Iya. Kuncinya ngait di paku belakang pintu.”
Matic 2015 milik Miana yang biasa digunakan gadis itu untuk pergi ke kampus, dilajukan Samudra secepat angin.
Hanya lima belas menit yang dimakan, Samudra sudah sampai di belokan yang dimaksud Mada. Pelan dan hati-hati, Samudra menuruni jalan berbatu menuju di mana sahabatnya itu berada.
Setelah semakin dekat, sebuah mobil terparkir serampangan di bawah pohon kurus tak tahu jenis, ditatap Samudra.
“Lu bawa mobil siapa?!” tanyanya pada Mada dengan wajah heran.
Suara itu menyentak Mada. Ia yang mula berdiri menatap bagian lain tempat itu, spontan membalik tubuh. “Sam!” sapanya sembari gegas mendekat.
Samudra yang baru saja turun dari motornya, terheran-heran menyikapi tingkah pemuda itu. “Lu kenapa, Mad? Muka lu uda kèk dua bulan kagak B A B?”
“Kagak gitu konsepnya, Kampret!” sembur Mada seraya celingak-celinguk kanan kiri depan belakang seperti dikejar setan.
“Gara-gara ban lu pecah?” tanya Samudra lagi.
Lurus pandangan Mada kini pada Samudra. “Gua dikejar, Polisi, Sam,” ungkapnya dengan mimik naas.
Samudra tersentak. “Polisi? Maksud lu?”
Mada mengusap wajah nampak frustrasi. Tanpa jawaban, ia mengayun langkah menuju mobil lalu membuka salah satu pintu depan yang bukan bagian kemudi. “Lu liat, Sam.” Satu tangannya mengarah ke dalam, di mana sebuah koper tergolek di atas joknya.
Samudra maju mendekat, kemudian berhimpitan dengan Mada. Kepalanya melongok dengan tubuh sedikit membungkuk mengikuti telunjuk Mada. “Apaan tuh?” tanyanya penasaran.
“Lu buka aja,” kata Mada seraya mundur memberi celah pada Samudra.
Wajah kacau Mada ditatap Samudra sekian detik, lalu kembali pada koper di dalam mobil. Bungkuk tubuhnya ia tambah beberapa derajat. Dengan hati-hati, dibukanya koper itu perlahan. Semakin terangkat tutupnya, semakin jelas apa isi di dalamnya, turut melebar pula mata Samudra. “Anjin9!” umpatnya seraya menutup kembali koper itu dengan segera. “Lu dapet dari mana, Sialan?!” tanyanya pada Mada seraya menegakkan tubuh dan memasang wajah menuntut. “Lu datang ke sini mau ngajak gua terlibat?!”
“Kagak, Sam! Gua--”
“Lu 'kan tau gua udah tobat bisnis gituan!” sergah Samudra memotong ucapan Mada.
“Iya, Sam! Gua tahu, tapi--”
“Trus ini mobil punya siapa?!” potong Samudra lagi makin tak sabar.
Mada semakin kalang kabut. Air mata bahkan telah keluar di tengah cambukan rasa frustrasi. “Gua kagak tau, Sam.”
Samudra tertegun lalu geleng-geleng tak habis pikir. “Kagak tau lu kata? .... Kok bisa kagak tau, sih, Mad?” Kemudian berkacak pinggang memutar tubuh ikut merasakan beban sahabatnya yang kini begitu bodoh dalam pandangnya.
__ADS_1
“Gua juga kagak ngarti, Sam. Gua disuruh orang buat anterin mobil servisan ini ke rumahnya dia. Gua kagak tahu ini mobil ada barang sialan itu!”