
Sepasang mata terbuka perlahan lalu mengerjap-ngerjap, berusaha memulihkan kesadaran. Langit-langit kelabu dengan lampu gantung berbentuk jantung adalah hal pertama yang ditangkapnya.
Tak lain adalah Glo. Gadis itu berusaha bangkit. Menggerakkan bagian demi bagian tubuhnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa remuk. Wajah sembab khas bangun tidur miliknya meringis sakit. “Aww! Badanku!” rintihnya saat berhasil mendudukkan tubuh walau tak sempurna.
Detik berikutnya, dunia seolah mematung dan waktu seakan turut berhenti. Glo baru saja menyadari keadaan dirinya yang tak biasa. Tubuh mulusnya hanya tertutup sehelai kain tipis tepat dari bagian dada hingga ke pertengahan paha. Jika kain itu disingkap, jelas sudah penampilannya bagaikan seekor ayam yang dikuliti. Mata teduhnya melebar disusul mulut turut menganga.
Perlahan dan kaku, kepalanya ia tolehkan ke bagian bawah sofa yang kini ia tempati. Ada seseorang di sana.
Samudra! Sama seperti dirinya, lelaki itu terlelap menelungkup dengan keadaan tubuh polos tanpa pakaian walau sehelai.
Baju mereka berserakan di sana-sini.
Glo menutup mulutnya menyadari apa yang telah terjadi di antara ia dan lelaki itu. Pikirannya lalu melayang pada kejadian semalam yang jadi alasan kenapa berakhir seperti sekarang.
Satu per satu gambaran melintasi benaknya.
Mulai dari ia bernyanyi tanpa beban, meneguk kaleng demi kaleng bir tanpa berpikir, hingga menangis di pelukan Samudra, lalu kembali menghabiskan kaleng-kaleng minuman itu sampai lupa dengan jumlahnya.
Glo ingat, ia minum sambil meracau tentang keluh kesah hidupnya pada Samudra. Tertawa sumbang, lalu menangis lagi seperti orang tolol. Samudra terus memberinya penenangan, walau lelaki itu juga sama-sama mulai mabuk.
Keduanya saling menatap dalam keadaan Glo yang masih berurai air mata. Samudra memberi beberapa kalimat motivasi dengan suara kecil dan serak seperti orang bijak yang sok tua. Yang pada kenyataan, lelaki itu juga sama tak warasnya.
Sampai kemudian sebuah rasa aneh tiba-tiba berdesir saling memanggil. Sejenis rasa ingin bersatu memanasi tubuh mereka karena posisi yang cukup intim. Samudra meraup wajah Glo lalu mengecup bibirnya dari hanya sentuhan tipis biasa, hingga tenggelam semakin dalam dan berangsur semakin liar.
Glo tak bisa menolak walau ia berusaha di sepertiga sisa kesadarannya. Perasaan panas karena efek alkohol di tubuhnya, menuntut jauh dan lebih kuat mendorong untuk ikut mengimbangi apa yang telah Samudra mulai.
Helai demi helai busana ditarik dan dilempar ke mana saja oleh Samudra.
Glo bahkan menurunkan bra-nya sendiri saat Samudra bermain di bagian itu. Ia terkapar dalam buaian. Menengadah keenakan sambil meremas rambut gondrong yang meliuk bermain lidah di dasar kulitnya yang tanpa cacat.
Kegilaan pada akhirnya terjadi di atas sofa panjang di ruang televisi dengan musik yang masih bergaung tanpa lagu. Suara-suara sumbang namun membakar gairah terjadi sepanjang malam. Bergelut dalam cengkraman saling membalas.
Mereka baru tertidur di waktu hampir menjejak pagi. Dan saat ini, Glo merasakan [selain] seluruh tubuh yang terasa remuk, perasaannya pun mulai campur aduk.
Dalam keadaan tak bisa berpikir, gadis itu bangkit. Dipungutinya satu persatu pakaiannya kemudian berlari menuju kamar untuk mengenakannya di sana.
Setelah lengkap dan mengikat rambutnya dengan rapi, gegas semua barang miliknya ia kemas ke dalam tas. Glo berpikir, ia harus segera pergi dari bengkel itu sebelum Samudra bangun dan tersadar apa yang terjadi di antara ia dan pria itu tadi malam.
__ADS_1
Sejenak Glo terdiam seraya memejamkan mata. Tas medium berisi beberapa helai pakaian dipeluk erat di depan dada. Detik berikutnya ia keluar dengan langkah cepat.
Dilihatnya, Samudra masih dalam posisi sama. Glo membuang wajah tak nyaman melihat pemandangan itu.
Langkah kaki gegas diayunnya menuju pintu utama bengkel.
Namun tepat ketika kunci berhasil diputarnya ....
“SAMUDRA!”
BRAK!
Pintu terdorong keras dari luar.
Seorang wanita tahu-tahu sudah berdiri di depannya dengan tangan melayang hendak menggedor.
Pandangan Glo dan wanita itu bertemu lalu saling membelalak.
“Siapa kamu?!” Dia adalah Lussi--mantan kekasih Samudra.
Tanpa menunggu jawaban Glo, Lussi menerobos masuk menabrak lengan kiri Glo dengan kasar. “Samudra!” Ia kembali berteriak.
Glo yang merasa mendapat celah, pergi cepat-cepat setelah menoleh sekilas saja ke bagian dalam.
Ia tak ingin ikut campur apa pun urusan pasangan krisis itu. Walau sebenarnya dirinya sendirilah yang justru dalam krisis.
Di dalam bengkel.
“SAM!”
Teriakan Lussi ke sekian itu akhirnya berhasil membangunkan Samudra.
“Bagus kamu, ya! Kemarin ngancurin pertunangan aku sok terluka, dan sekarang justru dengan enteng tidur sama jal4ng!”
Samudra sontak mengangkat diri lalu terduduk. “Apaan sih kamu?!” hardiknya.
Lussi terpelongo melihat penampilan polos pria itu.
__ADS_1
Segenang saliva ditelannya susah payah agar terdorong ke kerongkongan.
“Sial!” rutuknya dalam hati lalu membuang wajah.
Lain Samudra yang baru menyadari posisi dan tampilan bu9ilnya saat ini, lelaki itu melotot terperangah setelah berhasil mengumpulkan ingatannya tentang kejadian semalam. “Glo!” sebutnya mengingat dan menyadari bahwa gadis itu tak lagi ada di sana. Kepalanya kemudian meliuk ke sana kemari mencari di mana helai pakaian yang semalam ia kenakan.
“Kamu nyari Jal4ng itu?” Lussi bertanya sarkas. “Dia udah pergi!”
Berita yang disampaikan Lussi menyentak Samudra. “Pergi? Kemana?” tanyanya seraya mendongak dengan mata lebar menatap wanita itu.
“Keluar bengkel ini. Bawa tas gedenya.”
Tanpa menunggu dan menimpal apa pun lagi, celana dan kaos yang sudah Samudra pegang gegas dikenakannya. Setelah itu ia berlari keluar tak peduli dengking suara Lussi menggema meneriakinya.
“Samudra bajingaaaan!”
Tatapan sekitar menyorotnya dengan keheranan, Samudra tak peduli. Ia terus berlari mengejar Glo yang tak lagi terlihat. Tapi ia yakin gadis itu masih berada di sekitaran daerah yang sama dan belum jauh.
Lantas benar saja, di jarak beberapa meter terhalang portal pembatas jalan, Glo tengah berdiri dengan raut resah.
Gegas Samudra berlari menghampirinya tanpa peduli kereta yang akan melintas sesaat lagi.
“Glo!” panggilnya berteriak
Glo terlonjak bukan kepalang.
Tepat sesaat setelah kepala kereta melewati posisi di mana ia berdiri, Samudra menubrukkan diri merengkuhnya dengan erat.
“Maafin aku," sesal Samudra. “Aku pasti bertanggung jawab.”
Bukannya tenang, pernyataan lelaki itu justru membuat Glo seakan tercekik. Tak ada kata yang bisa ia lontarkan walau setitik. Lidahnya mendadak kelu. “Tuhaaan!” jeritnya, namun dalam hati. Menangis tertahan dan tanpa suara pada akhinya.
Tapi Samudra bisa merasakah tubuh Glo bergetar. Ia tahu gadis itu mulai menangis. Rasa bersalah semakin menyeruak ke dalam dada. Diperketatnya pelukan seraya terus meracaukan kalimat maaf.
Di saat yang sama, sebuah mobil mewah berhenti tepat dua meter di dekat mereka. Pintunya bergeser terbuka, kemudian seseorang berpakaian formal keluar cepat dari dalamnya.
“Nona Glorien, Anda baik-baik saja?!”
__ADS_1