
Glorien pergi dari rumah garasi menggunakan taksi. Membawa serta rasa sakit hatinya.
Sedang Samudra.
Wajah Jesslyn yang tenang dalam lelap ditatapnya dengan perasaan bergejolak. Wanita itu tertidur setelah lelah menangis dan mengeluarkan segenap perasaan kecewanya.
Bagaimana pun Samudra adalah lelaki. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia mulai. Jesslyn tidak bersalah dari sisi mana pun. Gadis itu hanya pelampiasan hatinya. Hati yang terluka karena Glorien. Luka yang sulit untuk mengering.
Tapi bagaimana dengan Glorien sendiri? Ada di bagian mana hati Samudra posisinya sekarang?
Beberapa saat lalu Samudra bahkan hampir tenggelam bersama wanita itu dalam kesalahan yang sama. Kesalahan indah yang mungkin akan kembali berujung malapetaka.
Samudra keluar dari dalam kamar dengan wajah frustrasi. Rokok di atas meja diambilnya satu batang, memantik korek lalu menyalakan dan menghisap lintingan itu serampangan.
Ban mobil besar yang tergantung di dinding ditatapnya dengan resah, seraya berulang mengepulkan asap tebal dari rokoknya.
Sampai suara ketukan pintu mengejutkannya.
Ini sudah lewat tengah malam. Makhluk mana yang berani mengganggunya di jam-jam seperti ini?
Siapa lagi kalau bukan ....
“Hay, Sam.” Tentu saja Mada.
Samudra menyesal membuka pintu.
Cengiran khas kawannya itu memancing delikan malas di matanya yang mulai lelah.
Pria itu membalik badan tanpa menanggapi sapaan Mada.
“Sorry, Brader. Gua datang gak pake otak. Abisnya gua teleponin lu kagak mo angkat. Tapi emang maha penting ini kabar yang gua bawa,” cerocos Mada mengikuti langkah Samudra yang kemudian berakhir di kursi dua pasang tempat mereka biasa makan bersama--dulu.
“Langsung aja! Penting apa yang lu maksud?” Samudra tak sabar. Dia ingin segera tidur.
“Besok Tuan Horror bakal nemuin pemilik bangunan tua itu buat nego. Jadi gua minta ... lu bangun pagi-pagi. Kita harus duluan sampe di sana.”
Samudra menyipitkan mata, menanggapi serius. “Jadi Rohan mulai bergerak?”
“Ho'oh!" Mada mengangguk.
__ADS_1
Tanggapan Samudra santai kembali. Menarik senyum yang penuh sirat. Dia mulai berdiri lalu menekan meja dengan dua telapak tangan, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Mada. “Jemput gua sebelum jam tujuh,” katanya. “Kunci mobil ada di sana." Ia menunjuk sebuah meja berisi berbagai buku. Segitu saja. Samudra kemudian berbalik pergi.
“Eh, lu gak tawarin gua nginep?!” seru Mada.
“Gak ada!” Samudra melambai tangan tanpa berbalik. “Ada Jesslyn, gua mau kekepin dia!”
Mada mencebik, “Si anyeng! .... Menang besar mulu 'tu setan!” Lalu mengangkat tubuh, berdiri dengan raut kesal. Kunci diambilnya kemudian pergi keluar dari rumah itu.
Samudra telentang di samping Jesslyn yang baru saja dia selimuti. Tatapannya lurus ke langit-langit.
Seketika pemikirannya kembali ke wajah Glorien yang selalu nampak teduh di matanya.
“Gua harus ngudahin ini semua,” katanya dalam hati.
Bergeser dari Glorien, dia kemudian mengingat Rohan. Rohan yang esok akan bertanding dengannya tak secara langsung.
“Pascal ....” Ia menggeram.
Menyatukan nama Pascal, hati Samudra seketika kembali mendidih. Dia tak pernah bisa melupakan semua yang terjadi dan yang dia lewati dengan kesakitan atas nama Pascal. Dan Glorien adalah seorang Pascal.
Dendam kembali mencuat di kepalanya.
Besok-besok, ia benar-benar tak boleh terbuai lagi oleh pesona alami wanita itu.
Jalanan basah sisa gerimis berbau debu. Tercium seolah menjadi racun yang menyesakkan. Samudra terdiam dengan posisi bersandar jok. Wajahnya miring menatap keluar kaca. Anak-anak sekolah berbeda warna seragam memadati trotoar saling bertabrak arah.
Seorang anak laki-laki berseragam TK yang dituntun ayahnya tertawa senang. Nampak asyik mengobrol sambil berjalan. Samudra tercuri perhatiannya. Wajahnya yang selalu tampan menampilkan senyuman getir. “Kalau ada, kamu pasti sebesar dia, Nak. Dan kita lakukan hal yang sama seperti mereka.”
Hatinya berdesir perih mengingat itu.
Sejenak memejam mata untuk menetralkan kembali perasaannya.
“Sam, lu kenapa?” Mada bertanya, memakai nada yang benar----tumben.
“Gua kurang tidur,” jawab Samudra tak ada minat.
“Heleh!" Mada mencibir, “Pasti lu kebanyakan dugdugjos malem sama si Njes.”
“Tu lu tau.”
__ADS_1
Jawaban Samudra terdengar menjengkelkan. Mada memonyongkan bibirnya. Menyesal sudah bertanya.
Mobil yang dikendarai Mada membawa Samudra menuju rumah tua di ujung kota. Rumah yang akan digunakan mereka untuk menahan Rohan dari keberhasilan bisnis pria Pascal itu.
Waktu menunjuk angka jam tujuh kurang lima belas menit--pagi ini.
Mada menjemput benar-benar di pagi buta.
Jesslyn yang masih lelap ditinggalkan Samudra dengan secarik kertas berisi permintaan maaf, beserta setangkai mawar hasil memaksa Mada mencuri di halaman orang. Semoga wanita itu mau memahami.
Setelah satu jam lebih akhirnya mereka sampai.
Samudra turun seraya mendongak ke ketinggian.
“Bangunan tua yang indah,” tanggapnya dalam hati.
Sebenarnya julukan "bangunan tua", sangat tak cocok untuk rumah seindah itu. Halaman dan dindingnya bahkan begitu bersih dan sangat terawat. Pohon-pohon perdu berjajar rapi seperti penjaga mengisi beberapa titik. Lebih pantas disebut bangunan klasik, karena masih mempertahankan gaya dan ornamennya, yang menyerupai rumah-rumah mewah Belanda pada jamannya.
Mada mengitari bagian depan mobil lalu berdiri di samping Samudra--ikut menelisik seluruh tempat. “Keren, ye, Sam?”
Tidak menanggapi banyak selain sekilas tatap, Samudra mulai mengayun langkah ke bagian pekarangan rumah.
Pintu kembarnya terbuka lebar. Di kursi teras, nampak seorang ibu tua bersama dua orang anak perempuan kecil, tengah asyik bercengkrama. Samudra menghampiri mereka.
“Permisi, Nek.”
Wanita yang diperkirakan berusia [mungkin] lebih dari 60 tahun itu, menoleh.
“Maaf, mengganggu, Nek,” sambung Samudra sebelum wanita itu menjawab. “Saya ... Samudra." Ia meraih tangan si nenek, lalu menyalaminya.
“Ya?” sahut wanita itu seraya membetulkan kacamatanya. “Anak cari siapa, ya?” tanyanya tanpa beranjak.
Dua anak perempuan kecil yang duduk berleseh di atas karpet bersama satu box mainannya, ikut sibuk memperhatikan Samudra dan juga Mada.
“Ahh, saya cuma mau ngobrol sama Nenek aja," kata Samudra. “Saya kebetulan lewat sini tadi, trus tertarik sama rumah nenek ini. Kayaknya bagus buat foto-foto, Nek.”
“Lah?” Mada melengak, lalu menyenggol lengan Samudra dengan wajah merengut bingung. “Ngapa jadi poto-poto?” bisiknya tak habis mengerti.
Samudra meliriknya dengan tatapan menusuk, sekilas saja, “Diem lu!” hardiknya sama berbisik, lalu kembali tersenyum pada si nenek. “Maaf, Nek. Jadi ... boleh saya dan teman saya ngobrol santai sama Nenek dulu soal rumah ini, abis itu baru saya mau ambil beberapa foto. Itu pun ... kalo Nenek berkenan dan gak keberatan.”
__ADS_1
Nenek itu terdiam sesaat untuk mencerna, lalu berkata di sepersekian detik kemudian, “Ah, begitu ya ....” Dia tersenyum lalu berdiri. “Boleh, Nak. Kebetulan Nenek punya kopi dari Brasil. Kalian harus mencobanya.”
Samudra tersenyum senang. “Ah, tentu, Nek. Dengan senang hati.”