
Dengan kaki pincang, seorang pria merebahkan susah payah pria lainnya yang nampak tak sadarkan diri di dekat seorang wanita yang terduduk lemas tak bertenaga di bawah pohon.
Api masih berkobar dari bangunan tua yang beberapa saat lalu diluluhlantakkan oleh perangkat bom. Lumayan berjarak untuk bisa bernapas lega karna nyawa mereka tak ikut musnah terbakar si jago merah.
Mereka adalah Samudra, Glorien, dan satu pria berumur anak buah Toddy yang sempat memberitahu Samudra kabel mana yang pas untuk dipotong.
Kabel tipis yang dipotong Samudra memang berhasil menghentikan waktu berjalan di bagian bom, tapi itu berlaku hanya beberapa saat saja.
Tepat ketika bom berhasil terlepas dari badan Glorien, waktu itu bergerak kembali dengan kecepatan lebih dari sebelumnya.
Mereka terkejut setengah mati lalu kelabakan.
Sisa waktu tiga menit secepat mungkin dimanfaatkan untuk keluar oleh Samudra, Glorien dan pria yang tadi disebutkan.
Kaki yang patah membuat pria itu kesulitan berjalan, satu temannya bahkan terpaksa dia tinggalkan dan naas pasti turut lebur sesaat lagi.
Tepat mencapai ujung halaman, bangunan tua itu benar-benar meledak, menyemburkan api besar hingga melalap semua bagian yang dasarnya sudah sangat rapuh. Warna terang menyala didukung suasana kelam karena hari belum sampai pagi, nampak seperti kibaran kain.
Puing-puing berhamburan terpental oleh ledakan. Dan bagian itu sampai ke tempat dimana Gorien bergerak. Samudra yang menyadari bahaya itu sigap memasang badan, menggantikan dirinya sebagai korban. Alhasil saat ini pria itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Sayangnya kunci mobil hilang entah kemana. Tidak ada kendaraan yang bisa digunakan untuk keluar dan menjauh dari sana. Keadaan pasangan itu telah buntu. Samudra bahkan tersentuh naas, kehilangan kesadarannya. Ponselnya jatuh saat bergelut dengan orang-orang Toddy, tak ada signal apa pun yang terhubung dengan keadaan luar.
__ADS_1
Tapi masih ada kebaikan dari rimba. Pria pincang yang mulanya musuh, tergerak hati dan bersedia untuk menolong, tak jadi pergi seorang diri. Dengan sisa kekuatan dan kaki pincang, dia memboyong Samudra untuk menjauh dari sumber malapetaka dibantu Glorien.
Beberapa pepohonan berdiri tegak, digunakan sebagai pemberhentian. Jaraknya lumayan jauh dari kobaran.
"Samudra, bangun Sam. Aku mohon kamu sadar." Glorien terus menangis saat Samudra dibaringkan di lahunannya. "Tuhan," ratapnya berputus asa. Samudra tak bergerak sama sekali. Cukup menyesalkan mengapa Samudra harus menyelamatkannya. Padahal dia rela jika harus terbaring bahkan mati sekali pun, asalkan pria itu tetap baik-baik saja dan kuat seperti biasa.
"Samudra aku mohon kamu bangun," katanya lagi. Perasaannya semakin tidak karuan diliput cemas. Air mata tak mau reda. Sementara udara menuju pagi semakin dingin dan tak ada apa pun yang bisa digunakan untuk setidaknya menghalau perasaan itu.
Pria pincang yang diketahui bernama Rocky kini turut tidak berdaya. Bersandar diri pada sebatang akar cukup besar, dia memejamkan mata. Rasa sakit di kaki patahnya lumayan menyiksa. Meskipun itu perbuatan Samudra, tapi dia tak ada dendam.
Menunggu terang, itu yang hanya bisa mereka lakukan.
Semoga esok keberuntungan masih menyapa.
Bukan lagi mengintip, cahaya matahari menyorot dengan perkasa.
Waktu bergulir mungkin di angka delapan pagi ini.
Glorien orang pertama yang membuka mata. Yang mula didapati pandangnya adalah seraut wajah pucat dengan darah mengering di sekitar pelipis--Samudra.
Dia terperanjat dan bangkit cepat mengingat situasi yang sangat-sangat tidak menguntungkan dari segala sisi.
__ADS_1
Pipi Samudra kembali dirangkumnya. Pucat wajah itu begitu menyiksa hati. "Samudra, bangun, Sam." Kecemasan menyergap lagi. Samudra tak bangun juga. Kelopak matanya seperti rapat enggan terbuka. "Samudra tolong jangan kayak gini." Didekapnya erat kepala Samudra di depan dada. "Aku takut." Namun tak respon juga.
Mendengar tangisan Glorien, Rocky ikut terbangun. Mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang sangat silau menembus mata. "Nona, apa dia belum juga sadarkan diri?" tanyanya pada Glorien.
Wanita itu melengak menatap Rocky lalu menggeleng kaku. Ketakutan akan kehilangan semakin menendang-nendang ulu hatinya.
Rocky mendesah menyikapi itu. Dengan susah payah diangkatnya tubuh untuk berdiri. Wajahnya meringis menahan sakit di kaki bagian kiri. "Nona tunggu di sini, saya akan pergi cari bantuan."
Glorien mengangguk cepat tanpa berkata, menatap kepergian Rocky yang susah payah menyeret langkah. Semoga pria itu berhasil membawa bantuan seperti yang dikatakannya.
"Glo."
Detik yang sama sebuah suara menghentak pandangan Glorien dari Rocky yang perlahan mulai menjauh ke wajah di dekapannya. "Samudra kamu sadar?" Dia terkejut, mata Samudra tebuka tipis, pria itu sadar setelah pingsan berjam-jam lamanya.
"Iya," jawab lirih pria itu.
"Ya, Tuhan ... akhirnya!" seru bahagia Glorien. Lantas kembali didekapnya kepala Samudra dan mengecupnya sedalam hati. "Aku takut, Sam. Aku takut kamu gak bangun lagi."
Walau dengan wajah sepucat mocca, Samudra memasang senyum menyikapi kalimat itu. "Aku rela gak bangun-bangun kalo kamu pelukin terus kaya gini."
Tanggapan Glorien tak ada balasan canda. Dia tak ingin mendengus apalagi marah. Dibelainya pipi Samudra seraya menatap ke dalam bola matanya. "Aku mau peluk kamu terus, asalkan kamu tetep hidup buat aku dan anak kita."
__ADS_1
Terdengar manis, Samudra tersenyum lagi. "Aku mau idup, tapi abis ini kita ke hotel ya."