Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Tulisan Sebenarnya


__ADS_3

Waktu menunjuk angka lewat dua belas malam, Samudra melejit langsung ke kantornya setelah dihubungi seorang satpam melalui Ernest.


“Pak Gus!”


Pria baya berseragam satpam itu berbalik. “Pak Sam!” Kemudian menggeser diri memberi celah pada atasannya.


Samudra maju mendekat. Dipandanginya tubuh Pak Jo yang terbaring di atas sofa. “Dia ....”


“Dia masuk sempoyongan ke kantor ini nanyain Anda, Pak.” Satpam bernama Gusnadi itu menjelaskan tanpa diminta. “Saya sempet hadang, tapi dia maksa mau sampein sesuatu yang penting katanya.”


Samudra menoleh singkat satpamnya lalu kembali pada Pak Jo. “Nyampein sesuatu yang penting? .... Sudah dalam keadaan babak belur begini?” Dia ingin tahu.


“Betul, Pak!”


Samudra mengerut kening. “Dia 'kan asisten Rohan. Ada apa dia nyari gua? Apa ini termasuk strategi Rohan? Trus siapa yang uda bikin dia bengep kayak gini?” Hatinya bertanya-tanya.


“Panggilin dokter klinik yang ada di depan jalan deh, Pak Gus,” perintahnya kemudian.


Satpam itu mengiyakan, lalu undur diri dengan hormat.


 


Samudra tengah duduk bersandar sofa bersilang kaki saat Pak Jo menggerakkan kepalanya baru tersadar.


Dia masih mengamati.


Detik berikutnya, Pak Jo menemukan mata itu. Mata yang dimiliki pria yang ia cari. “Samudra,” desisnya. Pria itu duduk bersebrangan dengannya.


Samudra menegakkan badan. Kedua siku ia taruh di atas paha, sedang telapak tangannya menggenggam ponsel. Tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan, lalu bertanya, “Ada apa Anda mencari saya?” Langsung saja dia bertanya tanpa berbasa-basi.


Pak Jo berusaha bangkit susah payah, seraya meringis karena sakit yang berasal di lebam wajah.


Samudra tak membantunya sedikit pun.


Sudah. Pak Jo sudah duduk dengan sempurna. Darah mengalir di pelipisnya sedikit ia usap dengan tangan, lalu kembali menatap Samudra seolah tak ingin membuang waktu. “Saya ke si--”


“Pak! Ini dokternya!”


Gusnadi datang menginterupsi. Seorang pria kurus berkacamata dengan kemeja bergaris vertikal biru mengikutinya.


Samudra teralihkan. Datar menatap Pak Jo, lalu menoleh dokter yang dibawa Gusnadi. “Tolong obati lukanya, Dok.”


Dokter itu mengangguk lalu sigap mengeluarkan alat-alat medis dalam tas yang dia bawa.


Pak Jo melambai tangan mencoba menahan Samudra yang pergi masuk ke sebuah ruangan.

__ADS_1


“Tenang, Pak. Kami obati luka Bapak dulu. Baru Bapak bisa bicara lagi dengan Pak Sam," ujar Gusnadi.


Pak Jo berpasrah. Di tempat yang dia pijaki ini, Samudra adalah harga mati. Tak ada yang boleh membangkang pria itu, apalagi dirinya yang bukan siapa-siapa. Terlebih saat ini ia datang atas dasar rasa pribadi, bukan membawa titah atas nama dan sokongan Rohan, atasannya.


Sekian waktu berselang, Gusnadi melapor ke ruangan Samudra. Mengatakan bahwa luka-luka Pak Jo telah selesai dibebat. Samudra memberikan beberapa lembar uang pecahan tertinggi pada satpamnya tersebut. Ia yakin uang itu lebih dari cukup untuk membayar jasa medis dokter yang dia panggil. Jika kurang, minta lagi saja, sederhana!


Setelahnya, Samudra keluar untuk kembali menemui Pak Jo. Sweater rajut yang ia kenakan kini berganti hanya kemeja polos hitam lengan panjang yang ia gulung hingga ke sikut.


Pak Jo tengah duduk diam menatap segelas air dan beberapa strip obat di atas meja di hadapannya, saat Samudra datang ke ruangan itu kembali. Dia mengangkat wajah kemudian menegakkan tubuh.


Samudra menduduki kursi semula.


“Jadi, apa tujuan Anda datang?” tanya pria itu pada Pak Jo setelah posisinya apik. Dia tak mau tahu tentang keadaan babak belur Pak Jo saat pria tua itu tiba di kantornya.


“Saya ....” Sejenak Pak Jo terdiam hanya untuk menarik napas. Lalu menatap Samudra dengan mimik serius. “Tolong jangan sakiti Nona Glorien lagi, Samud--uhh maksud saya ... Tuan Will.” Dia meralat.


Samudra menyipitkan mata, tapi tak bertanya. Membiarkan Pak Jo melanjutkannya.


“Jika Anda melampiaskan dendam dan kemarahan pada Nona karena kejadian enam tahun lalu, Anda salah besar, Tuan Sam. Nona tidak tahu apa pun.”


Samudra memberi tatapan skeptis.


“Lalu?” Ia menuntut. “Siapa yang sebenarnya harus? ... Anda? Atau Rohan?”


Samudra memberi waktu untuk ayahnya Yara itu menata kalimat. Membiarkan detik berlalu dengan diam.


Saat berikutnya, sebelah tangan Pak Jo nampak tergerak naik, merogoh ke bagian dalam jas yang ia kenakan. Sehelai kertas kini berada di tangannya. Ia tatap nanar sesaat.


Samudra masih memerhatikan.


“Hanya kertas ini yang berhasil saya dapatkan,” Pak Jo berkata penuh sesal.


Ia mengingat kembali, bagaimana dirinya merangkak naik ke dalam mobil setelah habis dipukuli dua orang yang menjegalnya di jalanan beberapa jam lalu. Dalam penyesalan, seulas senyum ia tarik di bibir yang sudah lebam. Amplop yang ada di tangannya saat ini, tak sengaja dijatuhkan dua penjegal itu dalam map yang mereka rampas.


“Silakan Anda baca.”


Samudra menatap bimbang pada amplop yang perekatnya sudah tak menempel itu, yang disodorkan oleh tangan Pak Jo ke hadapannya saat ini.


“Ini adalah tulisan Nona yang sebenarnya, sebelum disabotase Tuan Rohan," terang Pak Jo. ”Surat yang diantar Lola pada Anda di penjara bertahun silam.”


Mata Samudra melebar, disusul deru keras di dalam dada.


Keterangan singkat Pak Jo seketika membawa pikirnya pada masa itu. Masa di mana ia berguling meraung-raung di dinginnya lantai penjara, karena menangisi isian surat tentang permintaan cerai yang dikirim Glorien melalui Lola.


“Saya sudah mempertaruhkan nyawa, dan ke depannya mungkin pekerjaan saya, hanya demi bukti itu. Demi Tuhan saya tidak berbohong,” lanjut Pak Jo meyakinkan lagi. “Saya sayang dan peduli pada Nona, sama seperti saya menyayangi Yara.”

__ADS_1


Samudra mengulik ekspresi pria di hadapannya, tapi tak menemukan apa pun, selain kesungguhan yang bernilai kuat.


Diambilnya kertas itu dengan ragu.


“Semoga tulisan itu bisa mengubah garis pandang Anda terhadap Nona Glorien.” Pak Jo menyudahi, lalu berdiri. “Saya pamit.” Dia membungkukan tipis tubuhnya, kemudian menjauh dengan langkah pasti, namun masih tertatih.


Kertas di telapak tangan ditatap Samudra dengan hati bergemuruh. Pak Jo yang hampir mencapai ambang pintu, ia toleh sekilas, lalu kembali menatap kertas.


Isi yang terselip di dalam amplop dirogohnya. Amplop ia taruh di atas meja, lalu mulai membuka lipatan kertas dengan perlahan seolah ada keraguan menggugu hati.


Aku gak percaya orang-orang itu.


Aku yakin kamu gak seburuk yang mereka bilang.


Samudra, aku kangen kamu.


Papa gak kasih izin aku liat kamu di penjara.


Dia kurung aku dengan penjagaan yang gak bisa aku tembus sama sekali.


Samudra ... bilang kamu kangen aku juga.


Jangan bikin aku kecewa.


Bentar lagi anak kita lahir, kamu jangan lama-lama di sana.


Jangan biarin aku sendiri dan kesepian di sini.


Jangan biarin anak kita lahir tanpa ayah.


Janji ya ... kamu bakal cepet keluar dari sana, trus jemput aku.


Tapi kalaupun harus lama, aku siap nunggu kamu. Sampai kapan pun itu.


^^^Glorien^^^


Air mata menggelinding melewati pipi.


Samudra serasa diboom hatinya. Sakit tak tertolong. Meremas kertas itu lalu mendekapnya di dada, kemudian sesenggukan. Begitu sakit membaca bait demi bait tulisan Glorien.


Penyesalan seketika menggerogoti jiwanya yang luluh lantak.


Menyesal kenapa dulu dia langsung percaya tanpa menggali kebenarannya terlebih dulu.


“Maafin aku, Glo.”

__ADS_1


__ADS_2