Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Pertukaran


__ADS_3

Toddy Wen ... nama itu tak bisa dianggap remeh. Pria yang diajak Samudra berbicara di dalam kantor kepolisian dengan cepat menyebutkan namanya sebagai otak dari penjegalan, setelah dijanjikan sesuatu oleh Samudra. Pun dengan seseorang yang menyelinap ke dalam kamar Samudra saat malam pertama kematian Laura, Toddy juga yang berada di baliknya.


Secuil harta yang diterima Charlotte menjadi pemicu. Toddy ingin menguasai semuanya.


Sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu dia keluar dari penjara dan terbebas dari kasus penipuan yang menjeratnya. Tapi tak bisa kembali karena Laura lumayan alot untuk bisa ditundukkan. Dan sekarang wanita itu telah mati, Toddy berpikir akan sangat mudah meraup keuntungan dari berita duka yang dia terima, terlebih ada Charlotte yang bisa dia jadikan alasan untuk masuk kembali ke ranah Laura. Namun sayangnya tak semudah apa yang ada dalam bayangan, ada sosok lain yang kekuatannya sebanding Laura atau mungkin juga lebih.


PRANKK! BRAKK!


Gelas berisi anggur dalam genggamannya dilempar Toddy ke dinding hingga pecah dan berserak di bawah lantai.


"Keparat!" Dia melampiaskan kemarahan pada semua barang yang di dekatnya. Kabar tertangkapnya orang-orang yang dia suruh membuatnya meradang. Bagaimana bisa orang-orang yang menurutnya sangat ahli dalam melakukan hal semacam itu bisa gagal dan berantakan.


"Arrrgghh! Membunuh satu curut saja mereka tidak becus!"


****


Malam hari ke sekian di ruang kerjanya, Samudra sibuk melalap pekerjaan lagi-lagi. Urusan Toddy Wen dia serahkan pada pihak kepolisian. Tak mau ambil pusing dengan urusan yang tentu akan sangat membuang waktu jika dia turun tangan sendiri.


Sekarang ayah kandung Charlotte itu tengah diburu hukum.


Charlotte yang tahu benar perangai ayahnya tak banyak bicara. Dia lebih peduli pada Samudra yang jelas sudah membantunya sembuh dari penyakit ginj4l yang hampir merenggut nyawanya bertahun silam.


Back to scene.


Ponsel di atas meja berdering singkat. Sebuah pesan baru saja masuk.


Mulanya Samudra tak peduli dan tetap sibuk dengan pekerjaan, tapi bunyi panggilan terdengar berisik bahkan hingga berulang banyaknya. Seraya mendengus, terpaksa pria itu mengalihkan perhatian pada dering teratur namun sangat mengganggu.


Orang itu tidak berniat menelepon, seperti hanya memberikan signal supaya Samudra membuka pesan yang datang lebih dari tiga.


Nomor tidak dikenal, kirimannya dalam bentuk foto.


Perlahan jemari Samudra mengetuk pesan itu, dan ....


"GLO!" Dia terperanjat setengah mati sampai mengangkat diri.


Gambar-gambar itu menunjukkan Glorien tengah disandera dengan tangan terikat dan mata yang tertutup kain.


Satu lainnya berisi video.


"Samudra ... Tolong aku."


Glorien menangis dalam rekaman itu.

__ADS_1


Deru dentam jantung Samudra tak terkendali. Amarah dan cemas memuncak di ubun-ubun.


TING!


Satu pesan kembali datang. Lagi-lagi dalam bentuk video.


"Keparat kecil ... kau kenal wanita cantik ini, 'kan?" Toddy Wen, jelas itu dia. Kameranya diarahkan pada Glorien, mendetail seluruh bagian tubuhnya.


Tepat di bagian perut, membelalak mata Samudra, jantungnya berderu cepat. Ada yang tak biasa tertangkap pandangannya.


Sebuah bom waktu melingkar di perut rata Glorien, mengencang hingga ke balik punggung.


"Badjingan!" Samudra menggeram sendiri.


"Hahahaha!" Toddy tertawa setelah menunjukkan ancamannya dalam rekaman itu. Kamera kemudian mengarah lurus pada wajahnya. Tak ada lagi tawa, berganti kemarahan dengan gigi menggeram ketat. "Jika kau tak ingin wanitamu menjadi serpihan daging, cabut tuntutanmu pada polisi sekarang juga, dan tunjukkan buktinya padaku."


Video berdurasi kurang lebih tujuh puluh detik itu selesai.


"BANGSAAAT!" Samudra berteriak murka. Cepat kemudian dia menghubungi nomor itu. Tersambung, dan langsung disambut tawa menggema di seberang sana.


"Akan aku kabulkan apa maumu. Tapi jangan secuil pun kau menyentuhnya! Dan lepaskan benda sialan itu dari tubuhnya!" ujar Samudra menekan nada bicara.


Toddy menyikapi tertawa lagi, lalu berkata, "Tenang, Dude. Aku bahkan belum menjalankan waktunya. Kerjakan saja dulu apa yang aku minta."


Sesederhana itu, Toddy langsung paham jika Samudra menginginkan pertemuan secara langsung.


Dengan tawa sinis dia membalas, "Baiklah. Segera akan kukirim lokasinya padamu. Namun jangan melibatkan siapa pun terutama polisi. Jika kau melanggar, akan aku jalankan waktu dari bom di tubuh wanitamu. Kupikir lima menit cukup untukmu mengucapkan selamat tinggal."


"Baiklah, aku bukan pecundang."


****


Tidak ada yang tahu kemana Samudra akan pergi tengah malam ini. Para penjaga yang bertanya hanya dijawabnya alakadar saja.


BMW hitam peninggalan Laura dia jalankan menuju suatu tempat yang telah dikirim Toddy.


Sampai saat ini Samudra masih tak paham bagaimana bisa Glorien tertangkap oleh musuh barunya. Sayangnya tak ada waktu lagi untuk mencari jawaban. Dia harus segera menyelamatkan dan membawa Glorien pulang dengan selamat.


Navigasi dalam GPS bergerak ke jalan yang semakin sepi dan lumayan gelap.


Jaraknya cukup jauh dari pusat kota.


Berhenti.

__ADS_1


Sebuah rumah tua. Mobil Samudra berhenti di halaman yang tanpa lampu. Pria tampan itu turun dengan pijak dan pandangan tetap waspada.


Flashlight di ponsel ia nyalakan. Menyorot arah yang memandu geraknya terus maju hingga menginjak bagian teras.


Langkah kaki panjangnya mulai memasuki bagian dalam rumah yang pintunya bahkan sudah rapuh dimakan usia.


Bau apek menyengat ke penciuman. Semakin dalam, melewati satu koridor yang sepanjangnya dipenuhi sarang laba-laba hitam yang mengerikan. Tapi Samudra tak takut itu. Ini bukan bagian uji nyali menantang hantu. Dia harus menemukan dimana Toddy menyekap Glorien.


Sampai di waktu ke sekian, ada cahaya yang berpendar di sebuah ruangan. Samudra mendekat ke sana dengan hati-hati.


Sebuah pintu yang lagi-lagi tua didorongnya perlahan, kemudian ....


"Hoho, kau sangat berani dan luar biasa, Nak." Toddy menyongsong senang.


Samudra berdiri dengan tatapan tajam. Sesaat mengedar pandang ke seluruh ruang. Sialan itu ternyata tak sendiri. Beberapa pria berwajah boros berkeliling seperti jongos.


"Dimana Glorien?" tanya langsung Samudra, terdengar sangat tak sabar.


Toddy tertawa, diikuti rekan-rekannya. "Santai, Nak. Kau yang luar biasa ini apa tak mau barang sejenak minum dulu bersama kami?"


"Aku tak butuh racun untuk mengacaukan nyawaku sendiri. Lebih baik sekarang kau katakan dimana istriku!" Samudra mulai meradang.


"WO WO WO! Andai Charlotte bukan adikmu, aku akan sangat senang bila kau jadi menantuku!"


Tak ingin memperpanjang, Samudra menaikkan ponselnya ke wajah Toddy. Sebuah rekaman suara dia perdengarkan. Toddy dan anak buahnya menyimak diam.


Detik berikutnya ....


"HAHAHA!" Tawa Toddy menggema kemudian. "Kerja bagus, Nak!"


Dia senang karena rekaman itu berisi pencabutan laporan Samudra pada polisi atas tindakan percobaan pembunuhan yang dilakukannya melalui orang-orang sewaan.


"Aku sudah melakukan apa yang kau mau, sekarang berikan wanita itu padaku."


Toddy berhenti tertawa. Ekspresinya berganti senyuman setan.


"Sungguh drama cinta yang mengharukan," ejeknya.


Sekali gerak telapak tangannya ke atas, seorang suruhan pergi dalam satu menit, lalu kembali dengan membawa Glorien dalam cekalan.


"HMM! HMM!" Glorien meronta-ronta ingin terlepas.


"GLO!" Samudra maju untuk meraih, tapi tubuhnya ditahan Toddy.

__ADS_1


"Tidak semudah itu, Nak. ... Ada satu hal lagi yang harus kau lakukan. Tanda tangani berkas ini, baru kau bisa membawanya pulang dengan selamat!"


__ADS_2