
Pernah terpuruk dan berharap semua hanya mimpi. Berharap Samudra bisa kembali. Tapi melihat pemandangan itu sekarang ... Glorien ingin membakarnya--membakar semua yang pernah dia inginkan atas Samudra.
Menekan perasaannya, Glorien memalingkan wajah, tak ingin melihat itu.
Lola menganga. “Kok aku kayak kenal sama tu cowok,” katanya seraya menatap ke atas pentas rendah di depan sana.
Mario yang menjawab, “Dia Samewise Will, pengusaha muda dari Moskow.”
“Moskow?" Lola mengernyit heran. “Tapi kok mukanya malah kaya opa-opa korea." Ia menelisik wajah yang dimaksudnya.
“Soal itu aku gak tahu,” tukas Mario. Perhatiannya bergeser pada Glorien yang tetap diam dengan wajah merunduk menatap gelas minuman di hadapannya. “Glo, are you okay?” tanyanya seperti menemukan kejanggalan dalam tampilan wanita itu.
Glorien memangkat wajah melihatnya. “Aku gak apa, kok. Cuma sedikit gak enak badan aja. Kayaknya aku kecapean deh.”
Perkataan itu memancing perhatian lebih dari Mario. Terangkat tangannya untuk menyentuh kening Glorien lalu membolak-baliknya. “Mau aku anter istirahat ke kamar kamu?”
Glorien menggeleng. “Gak usah. Nanti aku sama Lola aja. Tar kamu dicari-cari lagi." Berusaha sebisa mungkin ia tersenyum.
“Gak apa-ap--”
“Mario!” Seseorang memanggil pria itu dan sontak menginterupsi kata-katanya.
Glorien tersenyum maklum. “Tuh, kan.”
Mario balas tersenyum. Kepalanya menggeleng lucu. “Kamu bener,” katanya seraya berdiri. “Kalo gitu aku ke sana dulu. Kamu jangan lupa istirahat.”
“Oke. Makasih.”
Dan perlakuan Mario itu pun tak luput dari perhatian Samudra yang kini telah turun dan sudah mengisi serembuk kursi bersama Jesslyn dan satu wanita lainnya yang nampak tua.
Empat tahun lamanya ia mengawasi Glorien hanya melalui internet dengan kabar seadanya yang didapat. Dan sekarang ... melihat langsung sosoknya masih saja membuat Samudra berdesir hati. Ia memang dendam, tapi dalam dendam itu ... masih terselip setidaknya setitik rasa yang menghangatkan. Pandangan dibantingnya ke lain arah seraya tersenyum kecut.
“Bisa-bisanya gua.” Ia bergumam lirih.
“Will.”
Teguran Jesslyn mengejutkannya. “Iya, kenapa, Jess?”
Jesslyn memasang wajah sedih dibuat-buat. “Kayaknya aku harus pergi sekarang deh. ... Pemotretan aku gak bisa ditunda. Bener-bener harus selesai malam ini.” Ia menyesalkan.
Samudra meraih tangannya. “Gak apa-apa, Jess. Aku juga mau istirahat.”
Keduanya akhirnya berpisah ke arah berlainan setelah saling memeluk dan pamit pada mpunya acara.
__ADS_1
Angka delapan ditekan Samudra di dalam elevator kini. Angka yang akan membawanya menuju kamar hotel yang ia tempati dari tadi sore.
Entah takdir yang sedang mempermainkan, atau kebetulan memang sekonyol itu, ia dan Glorien bertemu dan bertabrakan di koridor menuju kamar masing-masing.
Keduanya mundur sama-sama terperanjat.
Glorien masih memegangi bahunya hasil tabrakan. “Maaf. Permisi," katanya langsung berlalu melewati tubuh tegap Samudra, berusaha menahan diri sekuatnya.
“Tunggu ... Nona Pascal!”
Cegahan Samudra mengejutkan Glorien. Ia berhenti namun tak berbalik. “Ada apa, Tuan Will Yang Terhormat?” Bertanya formal di antara debar jantung yang bertalu.
Samudra melihat punggung itu dengan senyum sinis. Kedua tangan bahkan sudah menyusup ke balik dua saku celananya. “Apakah Anda sudah menemukan tanah yang Nona mau?”
Glorien mendes4h kasar. “Bukan urusan Anda, Tuan.”
Samudra terkekeh tipis dengan gaya selenge. “Saya mau lho jual Villa itu,” katanya mempermainkan.
“Saya tidak tertarik!” tukas Glorien.
Samudra terkekeh. “Baiklah. Kesempatan hilang kalau begitu!”
Glorien memejamkan mata, lalu berbalik menghadap pria itu. “Apa ada hal lain lagi, Tuan? Kalau tidak ada, saya harus istirahat!” tegasnya.
Kali ini senyuman geli ditunjukkan Samudra. “Ada!” katanya. Ditatapnya wajah Glorien dengan raut seketika berganti dingin. “Kamu benar, Glorien .... Aku memang Samudra!” Setelah pengakuan itu, ia beranjak pergi tanpa menoleh lagi.
Detik berikutnya, debam suara sepatu terdengar nyaring menghentak-hentak lantai. Glorien berlari menuju kamarnya yang berada paling ujung sebelah kanan seraya membekap mulut menahan tangis.
Setelah dua puluh menit berlalu.
BRUG!
Pintu membanting tertutup kasar, membuat Glorien yang sibuk menangis, terkejut sejadinya. “La!” tegurnya.
“Glo aku inget Will itu mirip siapa!” Lola, dengan napas tersengal dia berkata cepat, “Sekara--” Namun ucapannya seketika terhenti setelah menyadari wajah Glorien yang tak biasa. “Glo, kamu nangis?” tanyanya seraya mendekat lalu duduk di samping sahabatnya itu. “Ada apa?"
Glorien menatap mata Lola, lalu merunduk, meneruskan tangisnya lagi bahkan kini terdengar sesegukan dan lebih keras.
“Glo, kamu--” Mata Lola nyalak melebar. Ia mulai sadar akan sesuatu. “Apa karena Tuan Will itu?!” Dipegangnya kedua bahu Glorien dengan tatapan menuntut. “Apa dia Samudra, Glo?!”
Sekian detik diam, Glorien lalu mengangguk dengan air mata terus berderai. “Iya, La ... dia Samudra," jawabnya nyaris tercekat.
“Oh My ....” Langsung Lola merengkuhnya ke dalam pelukan.
__ADS_1
“Sabar ya, Glo,” ucapnya prihatin. Seraya mengelus lengan Glorien di pelukannya, Lola bertanya, “Sejak kapan kamu tahu itu?”
Glorien menjawab dengan sulit, “Sejak kamu kirim aku ke Villa Kelapa. Dia pemilik villa itu, La.”
“My God! Dunia kok sempit banget, sih!” pekik Lola. “Kok bisa dia idup lagi?”
Itu dia! Pertanyaan serupa juga menguasai benak dan pikiran Glorien dari awal pertemuannya dengan Samudra.
🔸🔸🔸
Samudra tercenung setelah memasuki kamar. Berdiri beku di balik pintu. Bersitatap nyalang dengan ranjang kosong yang masih rapi. Jas sudah tersampir di tangan setelah ia lepas dengan kasar di koridor tadi.
Menghabiskan satu menit lamanya, barulah dia berjalan mendekati tempat tidur.
“Sial!” umpat kesalnya. Entah kenapa dasi di lehernya tiba-tiba sulit untuk dilepas.
Ternyata tidak semudah rencana manisnya menghadapi Glorien. Berhadapan langsung dengan orangnya malah memakan mental yang tak sembarang. Samudra cukup frustrasi dengan kelemahan dirinya yang satu itu.
Semua disadarinya setelah pertemuan pertama mereka di villa kelapa. Masih sekuat itu magnet seorang Glorien, dan Samudra tak punya penangkal untuk setidaknya menghalau dan kembali bersikap pongah.
Di atas kasur berseprei putih polos itu, pria itu merebah telentang. Langit-langit yang tak menarik menjadi sejurus tatapannya. Pikirannya masih berfantasi tentang Glorien yang sejujurnya tak pernah bisa dia lupakan, walau dendam masih membara di palung sana.
Jadi dendam seperti apa yang akan memuaskan hatinya?
Tidak tahu!
Sampai dering ponselnya kemudian berbunyi dan menghancurkan semua tema. Itu termasuk keberuntungan, karena otomatis dia terbebas.
Bunyi yang singkat, sebuah pesan masuk ke WA-nya.
Asisten Gak Ngotak; Buka laptop lu! David sama Ernest berhasil bobol data penting Pascal. Kita harus gerak cepet!
Selesai membaca pesan itu, Samudra auto bangkit dari rebahnya. Gegas meraih lappy yang dia taruh di atas meja nakas, lalu membukanya.
Sekian detik jarinya menari di atas keyboard, kemudian dia tersenyum, mulai dari samar, tipis, setengah lebar, hingga benar-benar melebar. Matanya seketika berbinar terang. Apa yang dikirim David benar-benar puas ditanggapinya.
Merasa cukup ber-euforia seorang diri, laptop kembali dilipatnya. Sejurus tatapnya kini membentur dinding yang di mana sebuah lukisan abad ke-16 berdiri di sana.
“Rohan Pascal ... saatnya membuat Anda kelimpungan.”
...🚴🚴🚴🚴...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, Gaess!
Vote masih punya nggak? Otoy aus nihh😁