Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Belum Genap Lima Belas Menit


__ADS_3

Mbok Rum dinyatakan sehat, setelah lebih dari satu minggu dirawat di rumah sakit yang sama. Dia dijemput Anton dan Pepeng satu jam lalu menuju hotel di mana Samudra, Mada dan Sagara berada.


Mereka akan pergi dari kota kecil itu hari ini, dan Mbok Rum akan tetap dibawa sebagai pengasuh Sagara sesuai permintaan anak kecil itu.


Tak membuang banyak waktu, setelah semua rapi, mereka melaju pergi secepat angin.


Kota lainnya yang dituju---bukan Jakarta.


Karena tak menggunakan jalur udara, memakan setidaknya hampir delapan jam perjalanan, Samudra dan lainnya sampai di halaman sebuah rumah. Rumah bergaya skandinavia milik Samudra, cukup terpencil. Letaknya jauh dari keramaian penduduk. Sedikit di atas bukit lapang yang terhampar pemandangan indah di sekelilingnya.


Seorang pria yang terduduk di kursi roda menyambut di depan teras setelah mendengar dengung suara mesin mobil. Dia Pak Jo. Wajahnya bersirat ketegangan yang entah apa isinya.


Mulanya Mada yang menyembul turun, disusul Pepeng yang gegas membukakan pintu untuk Samudra. Cukup lama.


Sagara yang tertidur lelap dibangunkan ayahnya.


“Turun yuk, Sayang. Kita udah sampe.” Diusap kepala Sagara penuh sayang.


Dengan mata menyesuaikan cahaya, Sagara mengangguk. “Iya, Pa.”


Mbok Rum di jok paling belakang, keluar dibantu Anton.


Mereka beramai-ramai berjalan memasuki pekarangan rumah syarat kaca itu.


“Tuan Will," Pak Jo menyapa pelan. Dengan cepat kepalanya menghela pandang pada sosok kecil yang dituntun Samudra. “Apa dia Sagara?”


Samudra merunduk samping mengikuti arah pandang Pak Jo lalu mengangguk, “Ya.”


“Pak Jo.” Suara Mbok Rum mengejutkan Pak Jo.


Wanita tua itu menyembul dari balik punggung-- antara Mada dan juga Pepeng.


“Mbok.” Pak Jo masih tak percaya. Pasang matanya menatap dengan sorot seperti tak tahu bagaimana memasang sikap.


“Pak Jo, kaki Pak Jo kenapa?" tanya Mbok Rum ingin tahu, juga cemas.


“Ahh, hanya luka kecil," jawab Pak Jo tak enak hati. Dia mengamati wajah Samudra yang sedatar lantai. “Semuanya, lebih baik masuk. Kalian pasti lelah,” Satu tangan pria itu mengarah ke pintu yang sudah terbuka.


Semua mengiyakan tanda setuju.


Selingkar sofa di ruang tamu sudah melambai-lambai.


Namun belum sempat mereka mendudukkan diri, hentak sepasang alas kaki terdengar berirama dari suatu arah. Semua teralihkan pandangan, kecuali Sagara yang masih nampak sibuk menguap, menikmati sisa kantuknya.


Glorien ....


Tanpa kedip, dia mengamati semua orang, “Mbok,” desisnya kaget saat mendapati wajah yang begitu dia rindukan.


“Nona," Mbok Rum membalas sama melebarkan bola mata lalu menutup mulut, tapi dia belum siap melangkah mendekati nonanya. Samudra sekarang seperti raja yang harus ia hormati.

__ADS_1


Samudra melihat Glorien terpaku diam, lalu menoleh tunduk pada Sagara di sampingnya. Sesaat lagi ia menghitung dalam pikiran, keharuan akan segera terjadi.


“Papa, aku haus.”


Suara itu kemudian menyentak Glorien. Pandangannya sontak teralih pada sosok kecil itu. Sosok yang entah mengapa langsung membuatnya meronta seakan ingin memeluk.


Jantungnya seketika berdebar kencang tanpa perintah.


“Sa-Samudra ... si-apa dia?” tanya terbata Glorien.


Samudra mengerjap, lalu tergagap. “Umm, dia ....”


“Dia Sagara, Nona. Putra kecil yang Nona tunggu-tunggu!” Pak Jo tak bisa menahan diri untuk tak mengungkapkan. Semua menoleh ke arahnya namun tak mengatakan apa-apa. Hanya menunggu akan bagaimana reaksi Glorien setelah ini.


Dan wanita itu [tentu saja] seketika membulatkan mata dan berkaca-kaca secara spontan mengikuti rasa. “Sagara ... putraku.”


Dia ingat ... nama itu dia yang siapkan ketika janin Sagara masih dalam kandungannya. Sekarang ....


“Iya, Nona. Dia Sagara, putra Nona Glo." Diperkuat ucapan Mbok Rum kemudian.


Tanpa menunggu penguat tambahan dari Samudra, Glorien berjalan cepat menyongsong tubuh kecil Sagara yang mulai bingung.


“Sagara anakku!” Cepat menurunkan diri untuk merengkuh anak kecil itu dengan tangis pecah. “Sagara!”


Sagara yang kebingungan mendongak pada Samudra di sela dekap erat wanita yang sama sekali tak dikenalinya. “Pa.” Pancaran matanya penuh pertanyaan.


Samudra menelan ludah terlebih dulu sebelum akhirnya mengangguki sang putra yang ingin tahu, siapa wanita yang saat ini menggulungnya seperti badai angin.


Glorien melepaskan pelukan untuk menatap wajah kecil anaknya dengan pipi basah berderai air mata. “Sayang Mama.” Dibelainya wajah itu di sela gemuruh hati.


Sagara balas menatap. “Mama.”


Sapaan itu menganggukkan kepala Glorien hingga tiga kali banyaknya. “Iya, Nak. Ini Mama, Sayang.”


Glorien tak tahan untuk kembali memeluknya. Kali ini tangan kecil Sagara balas memeluk. “Gala kangen Mama.”


Tak satu pun luput dari keharuan. David yang berdiri di pucuk tangga bersidekap tangan dengan kepala menunduk namun matanya naik menyorot pemandangan itu dengan wajah sedih. Beruntung Glorien bisa ditenangkannya tadi. Jika tidak, wanita itu mungkin sudah pergi untuk membuat perhitungan dengan papanya.


Di tengah haru biru pertemuan Sagara dengan pelengkap orang tuanya, ada saja gangguan seperti setan.


Suara berdebam terdengar keras mengudara dari halaman.


BAAAMM!!


Semua sontak kelabakan dan berteriak.


Pepeng dan David mencelat cepat ke arah luar..


“APA ITU?!" suara Mada kalang kabut.

__ADS_1


Glorien menjerit ketakutan. Sagara erat dipeluknya sebagai bentuk melindungi.


“GLO!” Samudra berteriak. Dibawanya bangkit Glorien dan Sagara untuk pergi segera dari sana. Mbok Rum dan Pak Jo mengikuti dari belakang. Sebuah ruangan paling belakang bangunan itu, Samudra menuju ke sana.


Keadaan di luar bertambah gaduh.


“Kalian tunggu di sini!" kata Samudra pada Glorien dan Sagara juga Mbok Rum. “Pak Jo tolong jaga mereka!” Pria yang diminta mengangguki walau jelas dirinya dalam keadaan tak sempurna secara kesiapan fisik.


Glorien dan Sagara bertanya bersamaan.


“Papa mau kemana?!”


“Kamu mau kemana, Samudra?!”


“Aku keluar sebentar buat liat ada apa sebenarnya!” jawab Samudra mulai berjalan ke ambang pintu, lalu menatap Sagara. “Papa janji gak akan lama.”


“Papa! Gala takut!”


Teriakan Sagara tak lagi diindahkan. Samudra telah mencelat keluar dan menutup pintu.


“Tenang, Sayang. Ada Mama.” Glorien memeluk erat putra yang baru saja dijumpai belum genap lima belas menit tersebut.


Mata Samudra membelalak setelah sampai di halaman rumah. Keadaan hancur lebur. Pohon di sekitaran hangus terbakar.


Mada, Pepeng dan David menengadah ke ketinggian dengan gerak waspada.


Sebuah helicopter bergerak berputar-putar, lalu menjauh.


“Siapa mereka?” tanya Samudra--pada dirinya sendiri.


“To--looong.”


Rintihan itu menyentak perhatiannya.


Samudra berbalik cepat lalu berlari. Di sela reruntuhan pohon, berjarak sekitar sepuluh meter dari bangunan, seseorang ada di sana.


“Anton!” pekik Samudra setelah menyibak rimbun dedaunan yang melingkupi.


Supirnya itu dalam keadaan naas. Seluruh tubuh habis bermandi darah.


“MAAAD! DAVEDDD!”


Dua orang yang dipanggil langsung mencelat menghampirinya, beserta Pepeng yang juga mengikuti dari belakang.


“KENAPA, SAM?!”


“Anton--”


Belum sempat Samudra melengkapi jawaban pertanyaan Mada, suara lain mengejutkan mereka.

__ADS_1


“SAMUDRA, TOLOOOOOONG!”


“PAPAAA!”


__ADS_2