
"BERHENTI DI SANA, SAMUDRA! ATAU MEREKA AKAN DITEMBAK DARI SINI!"
Ultimatum yang menegangkan. Merenggut jiwa Samudra dari antusiasnya. Dia membeku dan melotot setelah menengok ke belakang dan siapa yang dia lihat.
Laura Jung, siapa lagi kalau bukan dia.
Glorien menggeleng takut, pun dengan Sagara yang terus menyebut nama 'papa' dengan sama takut.
Laura berdiri angkuh dengan dikawal beberapa orang di samping juga belakangnya, persis pasukan berani mati. "Menyerahlah, Samudra!" kata wanita itu.
Samudra mengetat rahang. "Tidak akan!" balasnya.
Tidak ada kemarahan, Laura tersenyum santai menanggapinya. Satu telapak tangan dinaikannya dan terkibas singkat--mengartikan dia tengah memerintah anak buahnya.
Mata melotot Samudra semakin lebar.
"Jimmy, Dawson!" Bukan main terkejutnya dia. Dua pemilik nama itu adalah orang-orang yang tadi dihubunginya saat di perjalanan. Mereka adalah teman adu tanding saat sama-sama di pelatihan. Samudra meminta bantuan serupa hal ini. Sayang hanya tinggal wacana, mereka malah tertangkap sebelum bertindak.
"Forgive us, Dude." Jimmy berkata pelan juga mewakili Dawson, menyesalkan diri karena kalah sebelum tanding, dalam keadaan tubuh dicekal kiri dan kanan.
Laura memiliki bakingan tak main-main, anak-anak buahnya tak bisa begitu saja disepelekan. Jimmy dan Dawson tertangkap saat dalam perjalanan, berjarak sekitar sepuluh meter lagi menuju bangunan tua yang mereka pijaki kini.
Sial nasib Samudra. Mada, David dan lainnya bahkan belum tiba dan entah masih di mana.
Sekarang dia benar-benar diserang panik. Bukan tak yakin bisa melawan mereka dengan kepal tinju atau adu senjata, tapi Sagara dan Glorien ditambah Jimmy dan juga Dawson, mereka terancam jika dia memaksakan diri dengan gegabah.
__ADS_1
"Lepaskan mereka, Laura!" Samudra meminta dengan suara geram.
"Hahaha!" Laura malah tertawa. Senang berhasil membuat pria itu ketar-ketir. "Itu bisa diatur, Sayang," katanya. Tetap santai, wanita itu berjalan ke arah Samudra. "Tapi tentu 'tak akan gratis."
Samudra paham itu. Laura bukan wanita royal yang langsung memberi saat diminta, tentu akan ada syarat yang harus jadi pertukaran di antaranya dan si pemohon--dan itu adalah dirinya.
"Apa yang kau inginkan?"
Laura tertawa lagi. Pertanyaan Samudra terdengar lucu bagi dirinya. Jaraknya dan Samudra kini hanya sisa satu meter saja dan dipastikan makin mendekat.
Anak buahnya memenuhi sekeliling dengan senjata siap bidik, Samudra melihat itu melalui ekor mata yang ditajamkan.
"Sebentar, Honey. Jangan terburu-buru begitu." Laura mempermainkan. Tubuh tegang Samudra dihitarinya seraya membelai dengan jari jemari lentik yang kuku runcingnya dicat berwarna gelap.
Glorien putus asa. Tali yang mengikat ketat tubuhnya semakin terasa menyesakkan. Ditolehnya Sagara, anak itu masih diam. Tak ada lagi tangis di wajahnya yang seperti bayi.
Anak itu sontak menoleh ibunya. Tubuhnya memang kecil, tapi hatinya seluas nama Samudra. Kehidupan keras jalanan membuatnya cukup kuat dan gampang menepis sedih. "Mama jangan nangis, do'ain Papa terus, ya." Lalu tersenyum seolah memberi kekuatan. Setelah mendapat anggukan haru ibunya, pandangannya kembali lurus ke arah Samudra di bawah sana.
Samudra, belum ada yang bisa dia perbuat sementara ini.
Berbuat nekat dan melawan tanpa pikiran hanya akan berakhir di liang lahat.
"Katakan, apa yang harus aku tukar untuk keselamatan Glorien dan putraku?" Sebisa mungkin dia menahan diri.
Terpulas indah seperti bunga, Laura yang sangat cantik di usia yang tak lagi muda, tersenyum penuh arti. "Tetaplah ada di pihakku, Samudra," pintanya. Rautnya seketika berubah datar. "Jika kamu ingin mereka selamat, akan aku pulangkan mereka tanpa cacat ke Indonesia, asal kamu tetap di sini, menjalankan perusahaanku seperti dulu, juga ... menikahlah denganku, Samudra."
__ADS_1
Permintaan terakhir mengejutkan Samudra. Dia baru saja dilamar oleh seorang DonJuan versi wanita.
"Apa tidak bisa kembali seperti dulu, tanpa menikahimu? Kau sudah seperti ibuku, Laura."
Laura tersenyum kecut, lalu menghardik, "Tidak ada yang seperti itu. Charlotte sudah cukup manis, aku tidak butuh anak yang lain."
Glorien menggelengkan kepala, "Jangan, Samudra." Air matanya kembali berderai banyak. "Jangan lakukan itu, kumohon ...."
KLEK! KLEK! KLEK!
Samudra terkejut seraya menoleh panik. Seluruh anak buah Laura menodongkan senjata mereka ke arah Glorien juga Sagara. Seperti sudah paham apa yang harus mereka lakukan tanpa menunggu perintah Laura.
Laura menyeringai dan bertanya pada Samudra, "Bagaimana, Dear? Ikuti syaratku, atau kau akan melihat bagaimana banyak peluru menembus jantung anakmu dan wanita itu."
"Papa gak usah takut! Gak usah mau dengerin Nenek Sihir itu! Gala gak akan kenapa-napa!"
Teriakan Sagara menembus jiwa Samudra. Sesungguhnya dia sangat takut jika menyangkut Sagara, walau belum banyak waktu yang dia lewati dengan anaknya. Dipandanginya wajah bocah kecil yang kini terlihat tegar itu dengan hati sakit, tapi wajahnya tetap tak menunjukkan yang seharusnya.
Dia harus kuat di depan sang anak. Meskipun perkataan Sagara terdengar heroik, tapi dia tetaplah anak-anak. Bahaya baginya seperti tangga di rumah pohon.
"Gala hebat. Tenang, Sayang. Papa gak takut kok!" katanya pada bocah itu dengan senyuman.
Lain dengan Glorien yang terus menangis, Samudra tak ingin menatapnya, dia tak ingin lemah di waktu yang bersamaan. Setidaknya sampai takdir berkata lain.
Pandangannya kembali pada wanita iblis di hadapannya.
__ADS_1
Laura menunggu dengan senyum membag0ngkan.
"Baiklah, Laura. Aku ikuti syaratmu!"