
Sehubung gak semua pembaca bisa bahasa Inggris, pun dengan Author yang kadang mengleng, karena setting cerita berlatar Rusia, anggap semua percakapan yang terlibat menggunakan bahasa Inggris, ya!
...*****...
Dihantam rasa lelah, Samudra memilih merebah di dalam kamar. Acara Laura dan tamu-tamunya dia tinggalkan.
Tidak ada yang menarik di langit-langit, selain lampu gantung yang sudah dimatikannya, tapi mata Samudra menusuk bagian itu tak mau lepas. Pikirannya bergerak rumit seperti benang kusut yang sulit diurai.
Detak jarum jam menunjuk angka dua dini hari, saat Samudra keluar dari dalam kamar untuk mengaliri tenggorokannya yang kering. Dia tertidur sekian waktu, tapi terbangun karena Mada memanggil di line telepon untuk menanyakan keadaannya. Selebihnya kantuk itu berangsur hilang.
Segelas air dingin sudah dituangnya. Berdiri di depan kulkas seraya meneguk hingga tandas. Ponsel di dalam saku celana bergetar, dia merogoh dan membuka sembari berjalan ke kursi meja makan lalu mendudukinya.
"Sayang, kamu belum tidur?"
Samudra melengak lalu menoleh. Laura tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Aroma parfum menyengat ke penciuman membuat sesak. Wanita itu kemudian ikut duduk mengisi kursi lain di sampingnya tanpa dipersilakan.
Sedikit tak nyaman. Samudra membuang pandang ke lain arah. Pakaian tidur yang digunakan Laura sangat tak baik untuk kesehatan mata. Satin tipis berwarna hitam yang menonjolkan setiap lekukan tubuh itu, benar-benar sangat mengganggu. Dia bukan tergoda, tapi lebih ke perasaan jijik. Mengingat usia Laura yang hampir kepala enam, lebih pantas menggunakan daster gombrang khas emak-emak.
"Bisa kau kenakan pakaian yang lebih rapi?" tegur Samudra.
Laura menanggapi sedikit heran, "Kamu bilang apa, Honey?" Kemudian menyapu penampilannya sendiri dari dada hingga ke kaki. Baginya semua biasa saja. "What's wrong?" tanyanya.
Samudra mendengus, tak tahu bagaimana menyikapi pertanyaan itu.
"Aku ke kamar lagi," katanya lantas, tak mau memperpanjang.
Ponsel yang menyala digenggam lagi, tak jadi membalas pesan yang dikirimkan David sesaat lalu. Samudra berdiri, kemudian memilih pergi meninggalkan wanita itu.
Tapi tak bisa begitu saja.
Kaki yang baru sampai beberapa langkah sontak terhenti. Laura menyergap tubuhnya dari belakang. Kedua tangannya melingkar rekat hingga ke depan perut Samudra yang rata dan berotot.
Mata yang menajam ia pejamkan. Gigi direkatkan untuk menahan diri. "Lepas, Ibu. Aku mengantuk," kata Samudra, masih mencoba untuk bersabar, walau seisi dada sudah ingin meledak rasanya.
"Aku rindu kamu, Samudra." Pelukan semakin direkatkannya.
Aroma tubuh Samudra yang menenangkan dinikmati Laura penuh rasa. Mata dibuat pejam dengan bibir tersenyum-senyum. "Tolong, jangan tolak aku kali ini."
Samudra membeku diam. Tidak dirasakannya lagi hubungan ibu dan anak seperti saat dulu wanita itu membawanya tinggal bersama. Laura berubah.
"Ibu."
Tidak ada balasan.
Laura, walaupun pelukan masih belum dilepaskannya, tapi sepasang matanya kini menajam. "Stop memanggilku Ibu! Aku bukan ibumu!"
Samudra terkejut lagi.
"Aku mencintaimu, Samudra."
Saliva di dalam mulut susah payah Samudra telan.
"Aku mencintaimu sebagai seorang wanita, bukan sebagai ibumu!"
__ADS_1
Pengakuan Laura seperti setrum. Samudra tahu itu, tapi mendengarnya secara langsung, rasanya seperti menabur kerikil ke tenggorokan.
"Jangan katakan itu!" geram Samudra.
"Aku tidak main-main!" Laura berpindah cepat ke hadapan Samudra. Menatap ke dalam mata pria muda itu penuh kesungguhan.
Samudra balas menatap, tapi dengan konteks berbeda makna.
"Katakan kau mau aku juga," pinta Laura tak tahu malu. "Meskipin usiaku jauh di atasmu, tapi aku masih cantik 'kan?! Aku akan terus merawat diri agar kita sepadan dan pantas berdampingan." Dia tersenyum. Lalu dengan percaya diri, kembali dipeluknya tubuh Samudra. Dia 'tak akan peduli pada penolakan dalam bentuk apa pun. Dia yakin Samudra adalah orang yang tahu diri dan balas budi.
"Ibu ... bisa kau melepaskanku?" Sekali lagi Samudra berkata menekan. Melontarkan sapaan 'ibu' dengan hati berang. Pasang matanya menajam geram, menyorot satu bagian di depan sana yang sebenarnya tidak masuk perhatiannya.
"Tidak, Sam! Aku ingin seperti ini! Dan kubilang stop memanggilku ibu!"
"Nyonya Laura!"
Kali ini berhasil merebut alih jiwa Laura dari ke-ratuan-nya. Matanya melotot menyikapi panggilan yang terasa tak biasa. Dia memang meminta Samudra merubah panggilan, tapi bukan itu yang dia maksud.
Pelukan eratnya Laura kendorkan, lalu terlepas detik kemudian. Kembali ditatapnya mata Samudra yang sedingin es.
"Barusan kamu panggil apa?"
"Nyonya Laura!" jawab cepat Samudra. "Kau benar-benar seperti ular!"
Laura lebih terkejut dari yang tadi. Jawaban tegas Samudra barusan membuatnya tahu diri, lelaki muda itu tengah membangkangnya.
Dan benar. Detik itu juga Samudra berlalu pergi dari hadapannya dengan langkah cepat didorong amarah kelam dan membesi.
Samudra tak peduli, terus saja dia menaiki tangga untuk kembali ke dalam kamar.
Tapi ada yang aneh. Handle pintu kamar tak jadi Samudra putar. Dia melangkah menyongsong suara-suara samar dari arah koridor ujung.
Kamar itu, kamar Charlotte Wen.
Masih ingat dia?
-
Samudra mendekati. Mencuri dengar dengan mata memicing tajam.
"Tolong, jangan lagi, Tuan Edd! Tolong hentikan!" Terdengar tangisan dari dalamnya. Sedikit suara gaduh ikut berbaur.
"Diam! Atau akan kukatakan pada ibumu kalau kau berhubungan dengan seorang pria miskin!"
Suara itu, Samudra mengenalinya.
Gegas handle ia putar, tapi terkunci.
"Mommy! ... Pffttt!"
Sekilas Charlotte berteriak, tapi kemudian hilang seperti mulutnya dibekap sesuatu.
Keadaan di dalam hening.
__ADS_1
Samudra tak akan menyerah.
Dan ....
BRAK!
Pintu ditendang sekali hentak dan langsung terbuka.
"Samewise!" Edmon melengak dan terkejut.
"Sam!" Pun dengan Charlotte.
Dengan cepat Edmon berlanting bangkit dari posisi mengungkung Charlotte. Selain celana yang gespernya telah dilepas, dia tak berbaju.
Charlotte sudah dalam keadaan naas. Baju tidur yang dia kenakan nampak berantakan.
"Apa yang kau lakukan pada adikku, Sialan?!"
DAG!
Tendangan Samudra meleset, berakhir menimpa meja belajar Charlotte hingga langsung retak.
Edmon berhasil mengelak dan berlari ke luar kamar, Samudra mengejarnya.
"Berhenti, Bangsatt!"
Berhasil menyusul. Lari Edmon berakhir di ruang tamu.
Samudra menghajar lagi, melayangkan pukulan-pukulan keras dan tendangan membabi buta.
Edmon tak kalah cepat. Dia juga punya pukulan-pukulan kuat yang lumayan mengimbangi. Samudra cukup kesulitan dengan itu.
Bunyi berdebam dan kacau sampai ke telinga Laura yang sejak saat bertemu Samudra tadi langsung masuk ke dalam kamar untuk menumpahkan segenap amarah. Kini wanita itu keluar lagi.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! HENTIKAN!"
Tak dihirau. Perkelahian Edmon dan Samudra bergeser ke bagian halaman rumah.
Banyak penjaga dan bodyguard berdatangan, tapi mereka tak ikut campur dan malah asyik menonton.
Selain Edmon, mereka kenal Samudra sebagai anak emas Laura. Tidak ada yang berani maju, walaupun untuk melerai.
"KUBILANG HENTIKAN!" Laura berteriak lagi.
Tapi terus saja.
Kini terlihat, siapa yang paling kuat di antara kedua lelaki itu.
Edmon telah tumbang seraya memegangi dada.
Dia berdebar, ketika Samudra mengangkat kursi teras untuk kemudian dilayangkan ke arahnya, namun ....
"SATU NYAWA EDMON, SEHARGA NYAWA ANAK DAN ISTRIMU, SAMUDRA!"
__ADS_1