
Janji pada Miana untuk pulang, tak bisa Samudra tepati. Hanya bertatap melalui video call, cara mereka melepas rindu. Pekerjaan Samudra sebagai wakil direktur--wakil Laura, tak bisa dia tinggalkan begitu saja. Semakin sibuk dengan berbagai pertemuan sana dan sini. Dalam kurun waktu satu tahun, nama Samwise Will sebagai pengusaha muda, cerdas dan sukses, mulai dikenal kancah dunia bisnis.
Laura tertimbun limpahan uang. Hidupnya hanya tinggal bertumpang kaki dan berlibur berganti-ganti nama negara.
Wanita itu cukup berhasil membuat Samudra lupa akan noktah hitam masa lalunya, dengan tambuk kepemimpinan perusahaan yang dia limpahkan.
Saat ini, malam menunjuk angka pukul sebelas.
Di kamarnya yang tak banyak pernak-pernik segala rupa selain patung Cleopatra, di atas tempat tidur dengan seprei bermotif kobra, Samudra merebah miring tubuhnya. Dia cukup lelah karena pekerjaan hari ini cukup menguras tenaganya.
Pintu sudah dikunci. Lampu tidur di samping ranjang juga menyala, menggantikan lampu di langit-langit yang padam sebelum itu. Perlahan mata sayunya mulai meredup. Layar mimpi akan menjemput sebentar lagi.
Sayang, sepertinya tak akan mudah bagi Samudra mendapatkan istirahat yang berkualitas. Pintu kamarnya berkeriut pelan. Langsung membuka mata tanpa berbalik. Dia tahu, seseorang baru saja mendorong pintu itu dari luar, disusul suara langkah yang hanya terdengar seperti kesiur angin.
Samudra tetap diam dalam posisi menyamping membelakangi. Mengawasi melalui ekor matanya yang bergulir.
Ada pergerakan lambat dari balik tubuhnya, menekan kasur untuk mengisi bagian kosong.
Detik berikutnya, sepasang tangan merayapi punggung Samudra seperti gerakan membelai. Aroma parfum caron poivre, Samudra jelas mengenali milik siapa. Wanita itu lagi. Dan ini kali ketiga ia didatangi tanpa permisi. Sosok itu bahkan cukup percaya diri memeluk erat, mengecup pipi, hingga menekan bagian depan tubuhnya ke punggung Samudra dengan suara berdesah pelan.
Samudra berpikir ulang untuk menghardik, mengingat bagaimana kali pertama dia merespon. Wanita itu membekap mulutnya dengan tangan dan hanya mengatakan ingin tidur saja dengan Samudra, tanpa ingin menganu-nganu.
Dan ini cara Samudra menghadapi kenakalan wanita itu. Diam tak bergerak dan pura-pura lelap. Saat ini rasa dingin menusuk bagian wajah, wanita itu menempelkan pipinya di pipi Samudra tanpa berpikir akan mengganggu. Hembus napasnya yang wangi justru terasa seperti liur naga bagi Samudra. Dia tak tahan dan mulai mual.
Samudra jijik, tapi sesuatu yang besar akan berdampak jika dia berani berontak.
Selama tak ada tuntutan berarti, dia masih sanggup untuk bertahan.
...*****...
Jauh di Indonesia.
__ADS_1
Glorien mulai bisa menata kehidupannya. Tubuh kurus dan pipi tirus tak lagi jadi tampilannya yang mengerikan. Sekarang dia lebih cerah.
Dua tahun lalu, bersama Lola, wanita cantik itu akhirnya bersedia pergi ke Amerika menyelesaikan pendidikannya yang sempat terbengkalai karena tragedi, sesuai permintaan Rohan.
Paksaan bagi Glorien yang tak tahu apa-apa, namun hadiah bagi Lola dari Rohan atas usahanya memulihkan traumatis sahabat yang baginya sudah seperti keluarga itu.
Saat ini, di sebuah kafe.
Canda tawa Glorien dan Lola ditatap Sakti dengan senyuman getir. Dia tak bergabung. Hanya berdiri di suatu sudut tanpa ingin dilihat oleh wanita yang ditatapnya.
Tapi sayang, seseorang baru saja menabraknya hingga dia tersungkur. Alhasil Glorien dan Lola menemukannya.
“Sakti!” Dua wanita itu menyebut bersamaan.
“Glo!” sapanya seraya melambai tangan dengan kaku. “La.”
“Kamu di sini?!” tanya heran Glorien setelah lelaki itu mendekatinya.
“Iya.”
Sakti terkekeh seraya menurunkan tubuh duduk di samping Glorien. “Andai gua bisa bilang nggak, La!” akunya cengengesan, lalu menoleh pada Glorien. “Hay, Sayang.”
Glorien mengangkat alis disertai senyuman lucu. “Sapaan kedua kali yang cukup manis,” katanya lalu terkekeh.
Lola mencebik dengan delikan. “Cihh! Mulai deh gua jadi batnyamuk.”
“Ahaha!” Glorien tertawa puas menyikapi itu.
Lain dengan Sakti. Menawan wajah Glorien dipandanginya seolah berada di ruang hampa. Andai senyuman Glorien bisa ia tatap sesuka hati seperti sekarang, Sakti akan jadi pria paling bahagia di dunia ini. Sayangnya ....
Kilas balik dua jam lalu.
Bermodal keberanian atas nama pria gentlemen, Sakti mendatangi Rohan di kantornya yang bagai keajaiban.
__ADS_1
. . . . .
“Tetaplah di tempatmu, Sakti. Jangan melangkah melewati batas yang tak seharusnya. Glorien tidak aku siapkan untuk sembarang orang. Kecuali dia bisa menggeser nama Samwise Will dari puncak dunia bisnis,” tutur Rohan seraya melirik halaman surat kabar online di layar laptopnya.
Potret Samwise Will dengan pose yang selalu membelakangi, membuat Rohan cukup tertarik dengan sosok pengusaha muda itu. Ada seringai sinis yang tak siapa pun dapat menilai.
Keberadaan Sakti yang duduk di hadapannya seperti angin yang melintas sambil lalu.
Sakti terpukul hatinya. Ucapan Rohan yang telak dan tak disaring, membuatnya merasa benar-benar tak ada harga. Dia yang datang dengan niat untuk melamar, alhasil harus bungkam, bahkan sebelum dia mengutarakan niat hati yang sebenarnya.
“Tapi saya sungguh-sungguh sama Glo, Om.” Sakti masih mencoba. Mengungkapkan tak secara langsung apa tujuan kedatangannya. Deru jantung di dalam dada terus menggoda. Rasa campur aduk berkumpul di sana ingin meledak.
“Aku bilang ... tetap di tempatmu. Atau aku akan membuat ayahmu tak bisa menikmati apa pun dari yang dia usahakan selama ini. Jika kamu sayang ayahmu, jadilah kucing penurut, Sakti.” Peringatan Rohan tak main-main.
Mental dan jiwa Sakti dicabik-cabik. Dia terhina, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Sakti terlalu lembut untuk bisa bermain kasar. Boleh katakan dia bukan laki-laki karena sikapnya yang seperti kelinci.
Ya! Siapa Sakti. Dia hanyalah seorang pekerja seni yang penghasilannya pun belum mampu membeli bugatti apalagi Taman Safari.
Kini dia paham betul dengan peringatan ayahnya tempo hari.
“Kamu hanya lulusan desain grafis. Pekerjaanmu hanya bermain tinta dan corat-coret dengan pola dan gambar-gambar. Apa yang bisa kamu suguhkan di hadapan Tuan Rohan? Gambar Menara Eiffel atas nama cinta untuk putrinya? Atau lukisan pria telanjan9 untuk mengolok dirimu sendiri di depan orang kaya itu?! Sadarlah, Sakti! Glorien bukan duniamu! Lupakan dia dan carilah wanita yang sepadan.”
Benar!
Jika diteruskan, Sakti hanya akan menjadi sampah dan bahan olokan.
Ketika seorang Samwise Will yang jadi tolak ukur standar Pascal bisa menggenggam dunia, maka Sakti hanya mampu menjilat globe di perpustakaan kampus tanpa bisa menelannya bulat-bulat.
Usahanya membuka hati Glorien selama empat tahun ini sia-sia. Bukan karena Glo menolak, wanita itu bahkan mengangguki dengan terbuka. Tapi keadaan yang bagaikan langit dan bumi, Sakti harus mundur dengan teratur. Bukan takut akan dampak terhadap dirinya sendiri, melainkan ancaman Rohan untuk ayahnya adalah harga mati yang mengerikan.
...🤖🤖🤖🤖...
Ayo tekan LIKE LIKE LIKE.
__ADS_1
Jangan lupa tap favorite!