Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
BAGBIGBUG


__ADS_3

Masih ingat siapa Regar?


Namanya disinggung di bab ke-22 “cerita Samudra”, paragraf ke sekian di pertengahan.


“Regar!”


Samudra membulatkan mata. “Bajingan itu masih hidup rupanya.” Hatinya menyambung geram.


Perasaan jijik seketika menjalari kerongkongannya, perut yang tiba-tiba bergolak, lalu berakhir dengan ....


“HOEEEKK!”


Samudra memuntahkan seluruh makanan dalam lambungnya.


Ia terbayang bagaimana Regar menyodor-nyodorkan pen1s hitam miliknya ke depan wajah yang dipaksa untuk mendongak. Memang Samudra tak sempat men9ulum benda seperti sosis itu dengan mulutnya, tapi rasa jijik terlanjur menguasai.


Menyusul teriakan anak buah Regar yang mencekalnya kemudian, “Woyy! Belum diapa-apain aja lo udah muntah, 4njing!” Manusia itu mendorong refleks Samudra sampai tersungkur ke depan, lalu menendangnya hingga semakin tersungkur lagi.


“Jangan!” Glorien memekik dengan gelengan dan air mata. Tapi tak ada yang bisa ia perbuat. Di saat urgent seperti ini, terkadang wanita wajib melatih otot fisik untuk menjadi kuat. Sayangnya Glorien tidak!


Regar tidak mengenali Samudra sedikit pun. Itu termasuk keberuntungan bagi Samudra. Keberuntungan yang setidaknya baru rencana.


“Waah! Gue baru sadar kalian bawa betina secantik itu!” Regar maju mendekat pada Glorien setelah tertawa melihat kelakuan Samudra. “Umm, bau tubuhnya bikin candu,” sambungnya. “Kayaknya gue bakal betah ngubek di kamar sambil remass-remasan nih!” Disambut gelak tawa anak buahnya.


Glorien menggeleng dan meronta-ronta tak ingin disentuh. Sementara Regar mulai asyik menciumi ujung rambutnya.


Samudra mengetatkan rahang, tak terima Glorien dicemèk-cemèk. Tapi ia tak boleh gegabah untuk menyerang, atau dia akan mati jika serampangan. Orang-orang Regar hampir semuanya bersenjata. Kepalanya mulai berpikir ... bagaimana caranya menghadapi mereka.


Ia kemudian ingat ... di saku celananya ada sebuah pulpen pendek hasil cipta David yang di dalamnya berisi rekaman suara dan GPS. Samudra merogohnya dengan hati-hati di saat semua orang fokus menyoraki perbuatan Regar. Benda itu tak dikeluarkannya, tapi ada sebuah tombol sebesar upil ia pencet untuk mengaktifkan apa yang dibutuhkan.


Semoga Mada menyadarinya sebelum ia dan Glorien celaka, Samudra berharap. Setidaknya begitu.


Glorien terus meronta dan berteriak tidak mau.


“Samudra, tolong aku!” Yang disambut gelak tawa Regar dan anak buahnya lagi dan lagi.


“Percuma, Nona Manis. Lelakimu itu gak akan mampu ngadepin kita orang.” Regar tertawa lagi.


“Bos! Ternyata dia Glorien Pascal!” Satu orang berseru setelah menjamah isian tas Glorien dan menemukan kartu identitas wanita itu.


Regar melotot senang diiringi mulut melebar. “Wow! Jadi kamu Putri Pascal yang hebat itu.” Pipi Glorien sekilas dibelainya lalu menyeringai. “Tidak baik menyiakan rezeki, Nona. Kita senang-senang dulu, baru minta ayahmu beri tebusan.”


Urat di wajah Samudra semakin mengetat kencang. Tapi ia harus tetap pura-pura lemah dengan diam dalam posisi tersungkur.


Beberapa detik mengedar pandang, mata Samudra menemukan sebuah tongkat baseball yang dipegang salah seorang anak buah Regar. Posisi berdiri orang itu tak cukup jauh, hanya terhalang dua orang yang berdiri berdampingan.


“Aku gak mau! Samudra tolong aku!”


Teriakan Glorien yang dibawa pergi Regar dan satu anak buahnya semakin menguatkan tekad Samudra.

__ADS_1


Ia melihat ke arah pemukul baseball, lalu ke atas langit-langit ruangan.


“Satu! ... Dua! ....” Ia menghitung dalam hatinya.


“TIGA!”


HUUPP!


BRAAAKK!


Dua wanita belian Regar menjerit-jerit berlarian kocar-kacir entah kemana.


Yang terjadi barusan adalah ... Samudra merebut cepat tongkat pemukul dari tangan anak buah Regar, lalu meleparnya ke langit-langit untuk menghancurkan lampu dan menciptakan suasana gelap seketika.


BAG! BIG! BUG!


“AAARRGGHH!”


Suara debug debam perkelahian mulai terdengar.


“SAMUDRA!” Glorien berteriak ketakutan bercampur cemas.


Regar belum melepaskannya dari cekalan, tapi menghentikan langkah untuk melihat apa yang terjadi di dalam gelap.


Suara bagbigbug belum berhenti. Teriak kesakitan susul menyusul memenuhi seantero ruang hingga berdengung menyembah langit.


Bunyi DARDERDOR dari tembakan serampangan menambah kesan semakin genting.


Lelaki di samping Regar berinisiatif menyalakan senter di ponsel dalam posisi tiarap.


“Bukannya dari tadi lu!” Regar menyembur dan mengepak bagian belakang kepalanya.


“Sorry, Bos. Baru sadar.”


Dan senter pun menyala, namun keadaan sudah senyap.


Cahaya minim itu diedarnya ke setiap sudut. Dan alangkah terkejutnya mereka, termasuk Glorien, ketika didapati hampir seluruh anak buah Regar sudah dalam keadaan tumbang. Darah mengalir di sana-sini bahkan bercipratan hingga ke dinding. Beberapa pistol tercampak di atas lantai.


“Bangs4t!” Regar murka lalu bangkit cepat dari posisinya.


Glorien mengedar wajahnya.


“Samudra," ia mendesis takut. Samudra tak ada di mana pun sejauh matanya menangkap. Air mata mengalir tanpa permisi melewati kedua pipi. Sayangnya Regar menyadari dan kembali menariknya dalam cekalan.


“Nggak! Lepasin!”” teriak penolakan Glorien seraya meronta-ronta. Regar membawanya berkeliling pandang untuk mencari pelaku pembinasaan.


“Aaaarrgggh!”


Satu teriakan menyusul lagi. Regar terkejut. Ternyata si pemegang senter ikut terkapar di bawah kakinya, tanpa terlihat siapa yang menghantam. Ponsel dengan senter menyala terbanting membentur dinding jauh ke depan.

__ADS_1


Regar kalang kabut. Pada akhirnya ia memilih keluar menarik Glorien dengan langkah seperti orang buta. Bertabrakan lagi-lagi dengan apa pun yang menghalangi.


Dari balik dinding gelap, Samudra muncul dengan seringai mengerikan. Pemukul basball di tangan ia lempar ke sembarang arah, lalu melangkah keluar mengikuti Regar yang membawa Glorien entah akan kemana.


Di luar, cahaya bulan kebetulan terang benderang. Ditambah bohlam sepuluh watt masih mau menyala di langit-langit teras.


Sebuah jeep berwarna hitam terparkir sedikit jauh dari halaman, Regar mengarahkan kakinya mendekati kendaraan itu.


“Lepasin aku! Lepas!” Glorien terus berteriak dalam tarikan tangan Regar yang kencang dan mulai membuatnya kesakitan.


“DIAM!” Regar menghardik keras.


Dua langkah lagi untuk mencapai pintu mobil, namun ....


JEDAGGG!


Regar tersungkur keras. Kepalanya membentur mobil. Seseorang baru saja menendang bokongnya.


Glorien terkejut berdiri membekap mulut, lalu menoleh ke belakang. “Samudra,” sebutnya dengan mata membulat.


Dengan wajah penuh amarah, Samudra maju melewati Glorien untuk menarik kerah baju Regar.


BUG!


Satu tonjokan mendarat di pipi Regar, yang seketika menyemburkan darah dari mulut penjahat itu.


“Ini balesan buat lu, Anjin9!” seru Samudra penuh dendam.


BUG!


Menyusul bagian lain dari wajah Regar.


“Lu inget siapa gua, Bangs4t?!” tanya Samudra seraya menarik rambut Regar untuk mendongak.


Dengan tampang naas tak berdaya, Regar menatapnya. “Memangnya siapa lu?” Lalu terkekeh, seperti yang dialaminya saat ini hanya lelucon.


“Bangs4t!” Samudra meradang dengan respon itu, dan ....


JDAG!


“Arrrrrggghh!”


BRUK!


Tendangan di bagian intimnya, membuat Regar kesakitan setengah mati.


“Mati lu, Anjin9!” Tendangan demi tendangan kaki Samudra menyiksa tubuh naas Regar.


“SAMUDRA, UDAAH!”

__ADS_1


Dengking teriakan Glorien barulah menyadarkannya.


__ADS_2