Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Cincin


__ADS_3

Dari dalam mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari luar halaman, Samudra tersenyum mengejek. Melihat dari kaca yang dibuka, mobil Rohan yang dikemudikan Pak Jo, baru saja memasuki area rumah--sebut saja rumah Madam Wilhelmina, atau biasa dipanggil Oma Mina, di Indonesia.


Nenek tua berwajah original melayu walaupun dia asli keturunan Belanda, nenek yang beberapa saat lalu ditemui Samudra dan Mada dengan tujuan sama dengan Rohan saat ini--mungkin.


“Jalan, Mad,” perintah Samudra pada Mada, sesaat setelahnya.


“Siap, Gan!” sahut Mada semangat, diputarnya kunci kontak, menginjak pedal gas, menjalankan kendaraannya secepat yang dia suka.


Di dalam rumah klasik tadi, Samudra sudah bisa membayangkan bagaimana geramnya Oma Mina jika menggunakan cara to the point untuk meminta beli rumah itu. Seperti yang akan dilakukan Rohan saat ini--itu juga mungkin. Karena Rohan bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.


Oma Mina mengatakan dengan jelas pada Samudra, dia tidak ingin menjual bangunan tuanya sampai kapan pun. Kabar yang tersebar di media sosial tentang penjualannya, itu belaka. Hanya ulah seseorang yang kurang kerjaan karena faktor tidak terima tentang sesuatu, yang hanya wanita tua itu yang tahu. Begitu penjelasannya.


Tapi Samudra punya cara lain untuk membuat bangunan itu benar-benar berpindah tangan padanya, ia meyakini dan bukan hanya belaka. Sikap santainya cukup bisa menggambarkan, bahwa kekukuhan Oma Mina bukan masalah.


Taktik perang bisnisnya tidak akan terlindas dengan mudah, apalagi oleh hanya seorang Rohan yang tempramental.


Rohan pengusaha cerdas, mudah mendapatkan tender mana pun yang dia mau. Tapi kecerdasannya bisa ditendang oleh emosi. Dan persaingan dengan seorang Samewise Will ... adalah emosi yang tak tertolong.


Samewise Will seorang introvert. Dan seorang diam, akan lebih cerdas dari pada yang doyan bacot. Bisnis harus dijalani dengan tenang-------Samudra versi baru.


“Selanjutnya kita kemana, Sam?” tanya Mada setelah mereka dalam posisi pertengahan kota.


“Lu balik ke kantor aja. David gua kirim ke Malaysia soalnya.”


Mada mengerut kening, “Malay? Lu suru ngapain dia ke sana?”


“Nyari rujak cingur.”


Mada mendengus, “Yakali, Njim!”


Samudra menoleh malas, “Tu lu sadar.”


“Iya, trus lu suru ngapain si Depe ke sono?” Mada tak sabar.


“Laura ada di sana. Tu nenek menta gua dateng. Gua males lah! Kebetulan David butuh refreshing katanya. Ya sekalian aja gua umpanin dia buat jadi bahan cemèk-cemèk Laura.”


“Heleh! Bènyèk-bènyèklah tu si Depe.” Mada terkekeh.


Samudra menggedik bahu. “Palingan Laura yang tegang. David pan mutan.”


“Haha!” Mada tertawa, “Iya ya, gua lupa kalo Depe terbuat dari tembaga," tambahnya. “Trus lu mao kemana inih?” Kemudian bertanya dengan sisa tawa di wajahnya.


“Balik ke garasi. Ada yang mao gua urusin. Abis tu lu ke kantor naek angkot ato gak ojek. Mobil ini mao gua pake. Pulang dari kantor, baru lu bawa mobil gua yang di parkiran atas.”


“Jirr! Urusan apa sih, lu? Rempong bener keknya.”

__ADS_1


“Gosah kepo!” hardik Samudra. “Jadi lu setuju apa kagak?! Kalo kagak, berarti kagak ada bonus bulan ini!”


“Iya, iya, Bos Bengek!” Mada setuju tapi .... “Tapi gua masih mampu bayar taksi, Sialan.”


“Bodo amat!”


...*****...


Mada pergi menggunakan ojek Mang Eman pada akhirnya. Tukang ojek penuh jerawat yang biasa jajan di Warung Si Kamprut, tempat biasa ia dan Samudra nongkrong setiap malam ketika dulu, karena taksi yang dipesan tak kunjung datang.


Di dalam kamar, Samudra mengeluarkan ponsel setelah melepas jas dan melemparnya ke atas sofa.


“Ya ....”


Glorien menyahut malas panggilan Samudra di line teleponnya.


“Kamu beliin cincin paling mewah dan cantik. Ukur jari manis kamu aja,” perintah dan pinta Samudra seraya membanting diri ke atas ranjang, merebah di sana sembari melepas penat.


“Cincin?” Glorien mengulang.


“Iya, cincin. Jangan lupa yang paling bagus.”


“Kenapa gak kamu pilih sendiri aja?”


“Aku gak sempet, juga gak paham,” aku jujur Samudra. “Jangan bawa mobil sendiri. Satu jam lagi Mia sama pacarnya jemput kamu. Gak ada penolakan! Itu pun kalo kamu mau surat cerai dari aku.”


Ponsel dibanting Samudra ke sebelahnya.


Langit-langit ruangan adalah pemandangan paling antik bagi lelaki itu, saat bergelung dengan perasaan runyam seperti sekarang. Perasaan aneh yang menyeruak seperti desiran angin, namun juga terasa panas.


“Aku mau liat gimana reaksi kamu, Glo,” gumamnya.


 


Satu jam pun berlalu.


“Hay, Glo.” Mia menyapa sesaat setelah Glorien keluar dari dalam toko perhiasan paling terkenal dan bergengsi di mall yang saat ini mereka jejaki.


Gadis itu nampak cantik dengan midi dress dan rambut ikal yang diikat asal-asalan.


Glorien tersenyum tipis saja. “Hay, Mi.”


“Cincinnya udah ada?” tanya Mia.


Glorien mengangguk tanpa berkata.

__ADS_1


“Ayo, pergi,” ajak Mia. “Koko udah ada di sana," lanjutnya memberitahu.


Keduanya lalu berjalan menuju parkiran.


Di sana, sebuah mobil jenis Hyundai Creta berwarna biru sudah terpisah dari barisan parkir dan menunggu. Seorang pria terlihat keluar dari dalamnya.


“Gak kelamaan, 'kan?” tanya Mia pada lelaki itu setelah dekat.


“Gak kok.” Lelaki dengan flanel merah tua mix hitam itu menjawab dengan senyuman, lalu melingkarkan lengannya di pundak Miana.


“Glo! Kenalin ini pacar aku,” ujar Mia.


Glorien yang mulanya sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajah, melihat ke arah Miana dan lelakinya.


Seketika dia mematung. Pun dengan lelaki itu. Kedua mata mereka bertemu dan saling pandang sama terkejut.


“Sakti.”


“Glo.”


Miana terperanjat dan langsung menjauhkan diri dari kekasihnya yang ternyata adalah Sakti--mantan pacar Glorien.


“Kalian udah saling kenal?” tanyanya melihat nyalak pada Sakti dan Glorien bergiliran seraya menodong keduanya dengan telunjuk.


Glorien dan Sakti menolehnya bersamaan, lalu mengangguk bersamaan juga.


“Iya, Bep,” aku Sakti tak enak hati.


Glorien menelan ludah seraya membuang wajah.


Dunia kini terasa lucu baginya.


Samudra yang kembali sebagai orang lain dan terus mempermainkannya, lalu sekarang Sakti, yang entah bagaimana, pria itu bisa menjadi kekasih Miana.


Pandangan Mia jatuh menuntut menatap Glorien. “Kalian ... kenal di mana, dan ... sejak kapan?” tanyanya.


“Seharusnya aku yang nanya gitu,” kata hati Glorien.


“Umm ....” Sakti garuk-garuk kepala bingung menjelaskan.


“Umm, kita dulu temenan, Mi,” ungkap Glorien cepat, sebelum mengarah pada keadaan yang tak mengenakkan. “Dia dulu kerja di Pascal bareng papanya,” sambungnya memperjelas. “Iya, 'kan, Sak?” Glorien meminta dukungan pria itu.


“Oh, iya, iya, gitu!” Sakti mengangguk-angguk membenarkan.


Wajah Mia masih merengut. “Trus kenapa kalian kayak yang saling gak enak gitu?” Dia masih curiga ada yang tak beres.

__ADS_1


“Itu karena kita udah lama gak ketemu aja.” Sakti menjelaskan seingatnya.


Mia manggut saja, berusaha percaya. “Ya udah deh kalo gitu. Kita pergi.”


__ADS_2