Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Perihal Anak


__ADS_3

Maaf ke sekian dalam hati Samudra untuk Glorien.


Semua terpaksa ia lakukan demi keselamatan wanita yang dicintainya itu. Cara Laura semakin liar menghancurkan apa pun yang tak dia kehendaki. Samudra harus berhati-hati.


Darius dan Miana juga bukan tak mungkin jadi sasaran, jika sedikit saja dia lengah.


Perjalanan menuju kantor terasa cepat.


Samudra akan melakukan banyak hal di sana.


David dan Mada dibuat sibuk. Tak tinggal Ernest yang sudah pulih, walaupun kepalanya tak ada rambut. Tragedi penyekapan itu meninggalkan beberapa kecacatan di badan pemuda berkacamata itu. Tapi semangatnya tak surut padam untuk tetap mengabdi diri pada Samudra.


Selain harga didapat lebih dari cukup, kekuatan jasa juga tak bisa dikesampingkan. Samudra telah banyak membantu dari segala sisi hidup mereka. Baik Mada, David dan juga Ernest, ketiganya resmi berhutang pada Samudra---hutang budi--walau si Budi tak mengakui-----skip.


Layar komputer Ernest dan David menyala. Deretan tulisan huruf, kode, dan angka-angka terpampang bak sekumpulan semut yang bergerombol.


Ernest tersenyum, senyum yang perlahan terbuka lebar hingga gigi atas dan bawahnya nampak semua.


Dia menatap garis berjalan yang terus maju menuju angka seratus persen.


“Sempurna!” serunya kemudian.


Mada mendekat tergopoh. “Berhasil, Nes?!”


“Yo'i!” Ernest puas dengan senyum lebarnya. “Satu lagi hasil kerja keras Bos Sam berhasil kita amankan!”


David menengadahkan kepala dengan tangan merentang. “Kita minum ampe juntai malem ini.”


“Berangkat!" Mada semangat.


“Berangkat kemana?!”


Semua pandang sontak mengarah ke pintu. Samudra tahu-tahu sudah berdiri di sana.


“Sam!” tegur Mada, lalu mendekat. “Rayain keberhasilan lah, Sam!” Dirangkulnya pundak Samudra dengan senyum mengembang. “Usaha resto sama motel lu di Moskow uda aman. Madam uda kagak ada hak atur-atur bagian itu lagi.”


Samudra senang dengan itu. “Kerja bagus. Gua puas,” katanya. Tapi di wajahnya tak menunjukkan raut setuju untuk ajakan Mada tadi. “Kalian hepi-hepi duluan aja. Gua ada urusan lain yang lebih penting.”


Semua mengerut kening.


“Urusan apa, Bos?” Ernest bertanya.


“Gua harus cari anak gua,” ungkap Samudra langsung saja.

__ADS_1


Kesenangan di wajah ketiga sahabatnya meredup seketika.


David bangkit dari santainya. “Lu uda ada kabar di mana keberadaan anak lu?” tanyanya, mewakili Ernest dan Mada yang juga ingin bertanya hal serupa.


Sofa kosong diambil Samudra untuk duduk di sana. Mengempas punggung seraya dengan kasar mengembus napas.


“Gua gak yakin. Tapi info yang gua dapet dari telik sandi, mbok yang bawa anak gua uda gak ada di kampung halamannya. Tapi dia kirim tempat lain yang ada kemungkinan didatengin pengasuh itu.”


“Kalo gitu kita cabut bareng-bareng!” Mada mengusulkan semangat.


David dan Ernest mengangguki.


“Hey, gua kagak mau ganggu lu pada. Cukup udah gua buat sibuk kalian berhari-hari ini!” Samudra kurang setuju. Mengingat bagaimana siang dan malam ketiga orang itu habis diperkosa pekerjaan yang dia limpahkan. Dia sendiri melakukan recovery selama tiga hari kemarin untuk tubuhnya yang cukup lelah, karena masalah yang bertubi-tubi dia hadapi. Ke depannya mungkin akan lebih sibuk lagi, dan Samudra harus tetap kuat.


David duduk di sampingnya. “Kagak gitu, Sam. Masa iya kita biarin lu gedebak-gedebuk sendiri nyari anak lu.”


“Anak siapa yang sebenernya kalian maksud?”


JRENG!


Pertanyaan itu menginterupsi.


Semua serentak menoleh. Tak ada yang sadar kapan Glorien datang. Wanita itu pasti mencuri dengar dari balik pintu yang tak tertutup sempurna. Kini dia berdiri dengan mata berkaca-kaca di dekat sebuah lemari buku.


David, Mada dan Ernest saling beradu pandang.


Glorien belum Samudra beritahu perihal anaknya yang kata Pak Jo masih dalam keadaan hidup. Sekarang wanita itu mungkin sudah tahu.


“Bilang sama aku, anak siapa yang kalian maksud?” Glorien menuntut jelas.


Sesaat hening.


Samudra bingung bagaimana caranya menjelaskan.


Pada akhirnya ia memutuskan, “Dav, lu anterin Glorien ketemu Pak Jo.”


“Lah, gua mau ikut lu--”


“Gua bilang anterin! Gua bisa pergi bareng Mada, Pepeng sama anak buahnya.” Samudra tak mau tahu.


“Ou, oke oke,” David mengalah seraya menggedik bahu.


“Kenapa aku harus ketemu Pak Jo?” Glorien tentu tak paham. Diedarnya wajah ke setiap wajah. “Aku cuma tanya, dan kalian cuma harus jawab, anak siapa yang kalian obrolin tadi?” Kini ia menyorot Samudra. “Samudra ... kamu punya anak?”

__ADS_1


Pria itu melengak, menyikapi pertanyaan Glorien yang terasa menyudutkannya.


“Samudra jawab aku!”


Dari matanya, ada kesakitan yang menggenang. Glorien mungkin curiga Samudra memiliki anak dari wanita lain. Kedatangannya ke tempat yang dipijak saat ini adalah untuk membahas tentang surat cerai yang dikirim Samudra tempo hari.


Dari rumah, ia membawa bekal harapan--berharap hubungannya dengan lelaki itu [mungkin] masih bisa diperbaiki. Mengingat Samudra pernah mencetuskan bahwa pria itu masih mencintainya, karena itu setidaknya Glorien akan mencoba menata hati. Tapi sekarang telinga Glorien malah mendengar Samudra mengatakan istilah "anak", terasa mengguris hatinya yang masih luka.


“Aku minta, kamu dengerin aku, Glo.” Samudra mendekati wanita itu. Berdiri tepat di hadapannya. “David bakal anter kamu ketemu Pak Jo.”


“Kenapa harus Pak--”


“Pak Jo akan jelasin semuanya sama kamu!” sergah cepat Samudra. “Tolong turutin kata aku. Teka-teki di kepala kamu pasti bakal kejawab.” Pipi Glorien ditangkupnya dengan kedua tangan. “Mau ya, ikut David?”


Sepasang mata Glorien bergilir kiri dan kanan, menatap bening mata Samudra. Saliva di dalam mulut ditelannya susah dan payah.


“Bener, Nona Glorien." David mendukung. “Saya akan antar Nona nemu jawaban yang jelas.”


Glorien menoleh David, mencari kebenaran jua di mata pria itu. Meski tak meyakinkan, mereka mungkin memang punya sesuatu yang harus diketahuinya, pikir Glorien. Meski agak aneh ini berhubungan dengan Pak Jo, akhirnya dia mengalah, “Baiklah. Aku ikut.”


Samudra tersenyum senang. “Kalo nurut 'kan cantik.”


Mada membeliak. “Inget, woy! Lu baru aja tanda tangan surat cerei!”


Kata-kata nyeleneh itu seketika mengembalikan Samudra pada kenyataan. Benar, dia dan Glorien telah tak ada apa pun. Jarak telah dibentang, ego dalam dirinya tak boleh jadi serakah.


Glorien sama tercenung. “Samudra, kita--”


“Aku masih banyak urusan, Glo!” Dengan cepat Samudra memotong kata. “Dav, lu pergi cepet bawa Glorien. Ernest tetep di sini mantau perkembangan. Mada lu ikut gua!”


Ketiga yang disebutkan mengangguk bertahap.


Glorien terpukul di tempatnya. Menatap punggung Samudra yang baru saja menghilang ditelan pintu bersama Mada.


Dan tersadarkan sontak oleh ajakan David, “Mari, Nona. Kita gak boleh buang waktu.”


Dalam kegalauan, Glorien mengangguk. “Iya.”


Semua tak akan semudah membalik tangan.


Baik Glorien atau Samudra ... mereka harus sama-sama kuat.


Bukan tentang kebucinan, melainkan uji ketahanan mental.--

__ADS_1


__ADS_2