
“Lalu bagaimana dengan ini?”
Mata Glorien, Rohan, Lola dan Pak Jo serentak melebar.
Dua buah buku kecil berwarna hijau dan merah tua, Samudra acungkan ke depan wajah dengan satu bagian penting sudah tersibak.
Itu adalah buku nikah. Buku nikah antara dirinya dan juga Glorien.
“Sayangnya kalian melupakan benda ini,” kata Samudra. “Aku belum pernah menjatuhkan talak apa pun.” Kembali dia memasukkan dua buku itu ke dalam jasnya.
“Jadi secara hukum, kita masih sah sebagai pasangan suami istri, Glo” sambungnya menatap Glorien seraya tersenyum menang.
“Bagaimana bisa?” Glorien mendesis kemudian menutup mulut dengan telapak tangan. “Bagaimana bisa aku lupa itu.”
“Berikan buku itu padaku!” Rohan meminta dengan suara geram. Sorot matanya tajam membesi.
Samudra terkekeh mengolok. “Untuk apa, Pak Tua?” tanyanya, diam menatap Rohan, lalu mengganti ekspresinya menjadi sedingin kutub. “Untuk memudahkan putrimu menikah dengan orang lain?”
Rohan semakin murka, tapi justru tak bisa mengatakan apa-apa.
“Tidak akan semudah itu!” tandas Samudra. Dia kemudian mendekat ke arah Glorien. “Kamu masih istriku, Glo. Yang nurut ya,” katanya dengan seringai. “Sekarang kamu ikut aku.”
Glorien terseret. Tak bisa menepis dan meronta saat Samudra benar-benar menariknya keluar.
“Jangan bawa putriku!” Rohan berteriak.
Pak Jo dan Lola beradu pandang semakin kebingungan. Di satu sisi, mereka kasihan dengan Glorien dan juga Rohan, tapi di sisi lain, Samudra benar, sertifikat pernikahan itu memang belum diputuskan di persidangan. Mereka lalai dengan hal kecil yang sekarang justru jadi boomerang.
“Kejar keparat itu, Jo!”
Meskipun tahu ujungnya ia pasti akan kalah oleh Samudra, Pak Jo tetap mengangguk dan secepat mungkin pergi menyusul. Berdebat dengan Rohan juga bukan hal baik. Pria itu pasti akan melampiaskan amarahnya seperti anjin9.
Dan benar seperti yang dipikirkan Pak Jo, ia telah kalah bahkan sebelum melakukan apa-apa.
Baru sampai ia dan Lola di ambang pintu, tiga orang berbadan badas menghalangi jalan mereka. Berdiri berjejer membentuk pagar badan yang merapat.
“Tetep di tempat kalian jika ingin baik-baik saja! Jangan ganggu kesenangan tuan kami.” Satu orang memberi peringatan juga perintah.
Lola melebarkan mata, terkejut. Dan semakin terkejut ketika sesuatu hal mengusik ingatannya detik itu juga. Dia ingat dan tahu betul, milik siapa logo aneh di baju yang dikenakan tiga orang itu. “Pena hitam,” desisnya menyebutkan.
Pena Hitam adalah nama geng mafia yang pernah menjerat dan mengurungnya karena urusan hutang piutang saat itu.
Lola hafal benar bagaimana perangai mereka yang berangasan.
Pak Jo menoleh Lola, lalu turut membelalak.
Dia juga pernah berurusan dengan geng mafia itu saat menebus Lola demi Glorien atas perintah Rohan lima tahun lalu.
__ADS_1
Tapi ... bagaimana bisa orang-orang bengis itu menyebut Samudra sebagai ... ‘Tuan Kami’?
Pertanyaan serupa mengisi benak mereka. Termasuk Rohan yang kini sudah berdiri di belakang antara kedua anak buahnya.
Ia juga menyikapi dengan mata nyalak.
Ternyata Samudra bukan cecunguk kering lagi seperti dulu.
Dia harus waspada dengan lelaki muda itu mulai saat ini. Terlebih seperempat perusahaannya telah dimiliki pria yang secara hak adalah suami putrinya, walaupun itu di luar harapannya sebagai seorang ayah. Jadi katakan saja, untuk saat ini posisinya adalah; ‘mertua terpaksa’.
*
*
BRUG!
Pintu ditutup, menyusul tubuh Glorien yang terhempas ke atas ranjang.
“Samudra kamu mau apa?!” Glorien berteriak.
Meringsutkan tubuhnya ke belakang hingga membentur kepala ranjang.
Sementara Samudra yang berdiri terus maju mendekat. Tatapannya seliar singa mengincar mangsa.
“Aku mau anak lagi,” jawab Samudra. “Buat gantiin anakku yang udah kamu bunuh.”
Penegasan itu tak berpengaruh apa pun. Samudra terus maju. Sisa kancing terakhir, tubuhnya yang berotor akan nampak seluruhnya. Kemeja ia lempar ke sembarang arah.
Glorien semakin takut.
Sekarang dua lutut Samudra telah menekan ujung kasur dengan posisi badan masih menegak. Bibirnya lagi-lagi tersenyum. Senyum yang Glorien sendiri tak mengerti apa maknanya.
“Suamimu ini rindu kamu, Glo,” kata Samudra dengan nada setengah berbisik.
Sementara Glorien makin beringsut ke ujung ranjang.
“Jangan, Sam. Aku mohon,” ia mengiba.
Kini kedua tangan Samudra menekan ke atas kasur. Dia mulai merangkak mendekati Glorien persis seekor kucing.
Namun sebelum itu, Glorien bergerak cepat untuk turun dari ranjang dan pergi.
Sayangnya itu hanya sebatas niat.
ZAP!
Karena Samudra lebih cepat menarik tubuh wanita itu lalu mengungkung di bawahnya.
__ADS_1
Glorien meneriakan penolakan.
Samudra lagi-lagi tak peduli. Tangisan Glorien seperti nyanyian ghotic yang didengarnya saat tengah malam.
Detik berikutnya, ia membekap mulut berisik Glorien dengan bibirnya. Melakukan kecupan-kecupan kasar dalam nafsu bercampur marah. Bahkan menggigit bibir kenyal itu hingga berdarah.
Samudra kalaf.
Di sela waktu kebringasan pria itu, Glorien berhasil mengambil napas lalu berteriak lagi, “Hentikan, Samudra!”
Nggggg!
Waktu seolah berhenti. Samudra berdiam beku di posisi masih mengungkung Glorien. Kepalanya sudah terangkat dengan tatapan lebar dan napas yang memburu. Rambutnya menjutai teracak ke depan wajah.
Glorien masih menangis. Tatapan putus asanya membuat ulu hati Samudra terasa dicabik-cabik.
Seketika kesadarannya kembali. Gegas melepaskan cekalan tangannya atas Glorien lalu menjauhkan diri.
Saat bersamaan, ponsel yang tadi dia lempar ke atas kasur tiba-tiba berbunyi.
Diraih dan dilihatnya siapa yang menghubungi. Samudra menoleh Glorien yang menangis dengan wajah memandang ke samping, diam sejenak, lalu mengangkat panggilan itu seraya memaut rambutnya ke belakang dengan tangan lainnya.
“Hallo, Jess.”
Rupanya Jesslyn yang menghubungi. Beberapa detik Samudra gunakan untuk mendengarkan ocehan kekasihnya di ujung telepon.
“Iya. Aku akan jemput kamu segera. Kamu jangan kemana-mana dulu. Aku ganti baju bentar, ya.” Panggilan dimatikan.
Glorien kembali jadi pusat perhatiannya. Wanita itu kini meringkuk. Sedu tangisnya masih terdengar.
“Jangan coba-coba pergi dari kamar ini. Urusan kita belum selesai,” ujar Samudra memperingatkan. Pasang kakinya melangkah menuju lemari. Sehelai kemeja diambilnya dari sana. Sebelum menutup pintu, kembali ia berkata, “Rumah ini dalam penjagaan anak buahku, jadi jangan berpikir untuk bisa kabur.” Kemudian benar-benar keluar dan menutup pintu.
Glorien mulai bangkit perlahan. Pintu yang baru saja menelan tubuh Samudra ditatapnya bersedih.
“Kenapa kamu lakuin ini sama aku, Sam? Apa salah aku?” gumamnya pahit. Kemudian memeluk lutut dan menyusupkan kepalanya di sana.
Di luar, Samudra memberi perintah pada beberapa anak buahnya yang semua berbaju hitam.
“Jaga dia! Jangan biarkan keluar dan kabur. Beri makan sebaiknya. Minta Mada yang siapkan.” Lalu memasuki mobil dan melaju bersama seorang supir.
Di perjalanan, dia termenung menatap jalanan bergerak di balik kaca, seiring gelinding ban mobil yang ditumpangi.
Ia sudah menjatuhkan Rohan dan separuh Pascal, lalu Glorien ... apa sebenarnya yang dia inginkan atas wanita itu?
Anaknya yang mati tak akan kembali. Dan cinta ... ia bahkan telah memiliki Jesslyn.
Samudra dilema menyikapi dirinya sendiri.
__ADS_1