Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Kematian Dan Wasiat


__ADS_3

Rumah sakit terbesar pusat kota Moscow, Samudra tiba di sana. Bukan terubung Laura yang dirawat di sana karena mencoba melakukan bunuh diri, tapi karena Charlotte tak henti menghubungi dan terus menangis, ia tak tega karena alasan itu.


Tentang Laura, Samudra bahkan tak ingin peduli apa pun. Hatinya terasa sudah mati jika itu menyangkut Laura. Sejauh itu, ia bahkan tak ingin tahu alasannya.


Niatnya, dia hanya ingin membawa pulang Charlotte ke Indonesia, memberikan kehidupan baru yang membuat Charlotte lupa tentang betapa kejam kehidupannya selama tinggal bersama Laura.


Resepsionis telah memberikan informasi di mana keberadaan Laura, Samudra langsung melejit naik ke lantai sembilan dengan elevator.


Sampai di tujuan, pintu ruang rawat baru saja dibuka. Seorang perawat keluar lalu memunggungi untuk menarik brankar ke luar. Seketika Samudra membeku. Padahal langkahnya hanya bersisa beberapa saja untuk sampai.


Siapa pun orang yang ada di brankar dorong itu, jelas sudah dalam keadaan mati. Selimut putih yang menutupi menjadi bukti.


Kemudian Charlotte keluar dalam keadaan hancur. Semakin menguatkan Samudra jika yang berada di brankar itu adalah Laura--ibu kandungnya.


Sekali pandang, sepasang mata Charlotte langsung menangkap bayangan kakak laki-lakinya. "Sam!" Langsung dia berlari ke pelukan Samudra. "Mommy is dead, mommy meninggalkan kita.''


Tangan kekarnya memeluk Charlotte dengan hati bergejolak. Wajahnya tercenung diam seraya menatap wajah yang tertutup kain. Seorang perawat berinisiatif membuka untuk memperlihatkan pada Samudra wajah ibunya, tapi Samudra memilih berpaling, tidak ingin terseret terlalu jauh.


****


Bohong jika Samudra baik-baik saja ataupun cuek hati dengan kematian Laura yang mengejutkan. Foto besar berhias bunga di depan sana seperti goresan memanjang dalam setiap napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


Ini terlalu cepat. Laura terlalu gegabah mengambil keputusan mengakhiri hidup. Setidaknya dia dan Samudra butuh bicara, membahas banyak hal yang sudah terjadi. Jika dalam bentuk menyesal, bukankah secuil saja maaf harus terucap?


Sekarang tidak ada yang bisa diperbaiki. Laura mengambil keputusan dengan harga mati.


Samudra mendesah kecewa. Tidak ada yang bisa ia debat untuk mengembalikan rasanya sebagai anak.


Tak peduli berat atau ringan hari-hari singkat yang dijalaninya bersama wanita itu, tak peduli hitam putih atau warna-warni yang terlewat bersama aturan Laura yang menumpuk seperti buku, semua tetap berbuah jadi kenangan.


Andai mereka bersama sebagai anak dan ibu kandung yang harmonis, andai semua kenyataan terungkap sejak dulu, semua mungkin akan berbeda.


Akankah terbentuk Samudra yang kuat? Ataukah Laura justru menghabisinya seperti Samudra ketika kecil yang rapuh?


Setidaknya tema darah itu tak akan dibanjiri kesalahpahaman.


Charlotte belum kering air matanya. Dia bersandar di dada bidang Samudra yang kini berkemeja hitam. Gadis itu benar-benar rapuh.


Tamu-tamu bergantian datang dan pergi memberi simpati. Banyak yang datang sekedar untuk bertanya, kenapa Laura yang selalu prima bisa mati cepat?


Tolol!


Tak terasa waktu bergulir cepat, pemakaman telah selesai dilakukan.


Samudra dan Charlotte kembali ke kediaman Laura yang megah dengan banyak anak buah di sana. Entah akan bagaimana nasib mereka ke depannya.


“Istirahatlah, Char. Kalau ada apa-apa, aku di kamarku,” kata Samudra tepat di bawah tangga. Kepala Charlotte diusapnya sekilas saja.


Charlotte mengangguk lemah. “Iya. Kamu juga istirahat.”


Keduanya beriringan menaiki tangga karena kamar yang sama-sama ada di atas. Namun sesuatu menginterupsi langkah mereka.

__ADS_1


"Charlotte!"


Dua wajah itu berbalik sontak ke belakang.


Samudra mengernyit kening melihat sosok yang berdiri di bawah tangga itu, lain dengan Charlotte yang langsung melebarkan mata.


"Daddy!"


Siapa pun akan tahu, sapaan itu untuk seorang ayah. Samudra menatap bergiliran dua orang itu--Charlotte dan pria di bawah sana. Penilaiannya berlaku, ada kemiripan di antara mereka.


Jadi itu pria yang dinikahi Laura setelah Abram Karl--ayahnya, pikir Samudra.


"Ya, Sayang. Daddy pulang." Pria itu memasang wajah penuh rindu. "Maaf Daddy terlambat datang," lanjutnya.


Toddy Wen, nama pria itu. Nama belakang Charlotte dipetik dari nama besar keluarganya yang sedikit berdarah Jepang.


Tidak ada kerinduan yang sama di wajah Charlotte untuk ayahnya. Hanya keterkejutan karna lama tak berjumpa. Entah apa yang terjadi pada mereka sebelum kedatangan Samudra.


"Sebaiknya kalian bicara di ruang tamu." Samudra menyarankan.


Toddy menyorot tatapan tak suka pada Samudra. Yang dia tahu, Samudra adalah pemuda yang dipelihara Laura sebagai robot perusahaan, selebihnya abu-abu.


Dua menit kemudian, mereka sudah berkumpul di tempat yang tadi disebutkan Samudra. Seorang pelayan diminta Samudra menyiapkan minum untuk mereka semua.


Dalam lima belas menit, percakapan hanya terjadi antara Charlotte dan ayahnya. Tidak ada yang menarik bagi Samudra selain pria itu baru saja keluar dari penjara. Kasus detail dan hukum yang menjeratnya, Samudra merasa tak perlu tahu.


Sampai satu pria lain kemudian datang dengan diantar seorang pelayan. Di tangannya tertenteng tas jinjing berkas berwarna hitam.


"Maaf mengganggu kalian," kata pria itu.


"Terima kasih, Tuan Will."


Dia mengenal pria itu. Hector adalah pengacara yang dipercaya mendiang Laura.


Basa-basi membuih beberapa saat, sampai kemudian Hector mengutarakan apa tujuan kedatangannya.


Sepanjang yang dia jelaskan, sampai pada pembacaaan apa yang diwasiatkan Laura, membuat semua terkejut, terutama Toddy Wen.


"Apa kau tidak salah, Hector?! ... Kenapa bisa delapan puluh persen kekayaan Laura jatuh pada pria itu." Telunjuknya mengarah ke wajah Samudra. "Dan Charlotte hanya mendapat sisanya?!"


Hector membetulkan kacamatanya yang bulat, lalu menatap Toddy. "Maaf, Tuan Wen. Memang begitu isi surat wasiatnya. Harta kekayaan Nyonya Laura, bersumber dari warisan keluarga Karl yang lama tertimbun. Dan Tuan Will, adalah satu-satunya Karl yang tersisa."


"Apa maksudmu?" Toddy tak percaya sekaligus terkejut, dia bahkan sampai berdiri.


"Samudra adalah putra kandung Mommy, Daddy!" Charlotte menyergah. "Dia adalah Darren Karl. Putra satu-satunya Mommy dan Tuan Karl."


Tidak ada yang Toddy bawa saat pria itu menikahi Laura selain kebohongan tentang kepemilikan sebuah perusahaan besar lainnya. Laura tertipu banyak saat itu.


Toddy tercenung diam dengan wajah geram tak menerima.


Samudra tak peduli dengan ketidakterimaan Toddy, dia sendiri dalam mode terkejut karena Laura menyerahkan hampir semua harta padanya. "Jadi semua ini milik ayahku?" Itu bergema dalam pikirnya.

__ADS_1


Sebanyak apa rahasia yang Laura simpan sampai kematiannya?


Tidak ada lagi kata yang terlontar dari mulut Toddy. Tapi Samudra tahu, pria itu sangat menginginkan harta yang sama, dengan Charlotte sebagai alat.


**


Malam dingin berkabut karena hujan baru saja reda.


Samudra merebahkan diri di ranjangnya yang empuk. Tangan tersangga di bawah kepala dan wajah lurus ke langit-langit.


Lampu sudah dalam keadaan mati.


Suasana sudah sangat sepi karena waktu juga tak lagi muda untuk beraktifitas. Orang-orang pasti sudah terlelap di peraduannya masing-masing.


Rasa lelah mendera sebenarnya, tapi Samudra tetap tak bisa lelap. Pikirannya masih melayang ke banyak hal seperti benang kusut yang sulit diurai.


HAP!


Perhatiannya sontak teralihkan ke arah balkon. Sesuatu baru aja mendarat di sana. Dia bangkit seketika untuk memastikan apa yang akan dia dapati.


Menyingkap sedikit gordeng jendela, dia mengintip. Sepasang matanya langsung awas dan memicing.


Seorang dengan jaket sintetis dan penutup kepala yang meliput seluruh wajah kecuali mata, celingukan seperti pencuri. Pintu menjadi incarannya. Sebuah alat digunakan untuk membobol, karena pintu dalam keadaan terkunci saat dia memutar handle.


Samudra membiarkannya.


Dalam hitungan detik sosok itu berhasil dengan aksinya, pintu terbuka. Perlahan didorongnya untuk mengambil celah lebar.


Gelap.


Ranjang besar, dia akan melangkah ke sana. Namun ....


GREEBB!


"ARGH!"


Samudra menyergapnya dari belakang. Satu tangan menggencet leher, dan lainnya mengunci kedua tangan si pengendap.


"Ampun, ampun!"


BUG!


"Shitt!" Samudra mengumpat seraya menegakkan tubuh. Dia baru saja tersungkur setelah terdorong ke belakang. Orang itu berhasil melarikan diri. Melangkah gegas ke arah balkon untuk melihat.


"Sial!"


Sepertinya orang itu pemanjat handal. Dalam hitungan detik sudah turun dan lari ke arah rerimbunan tanaman pagar.


Pertanyaan baru menyelinap ke kepala Samudra.


Siapa orang barusan?

__ADS_1


Jika dia rampok, masih banyak celah lain untuk memasuki rumah selain kamarnya, 'kan? Lalu?


Apakah orang itu berniat mencelakainya?


__ADS_2