Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Dialah Lola


__ADS_3

DOOORRR!!!


Suara softgun lepas menyembah langit, disusul teriakan;


“AARRRGGHH!!”


“MIAAAAA!”


Darius, Kang Omon dan Samudra berteriak bersamaan. Tembakan polisi yang ditujukan untuk Samudra, malah menembus tangan Miana.


“Ayah!” Miana meraung kesakitan seraya memegangi tangannya yang tertembak. Ia sudah melumbruk jatuh di atas paving block. Darius menurunkan tubuh memeluk putrinya dengan tangis ketakutan yang tiada kira. Kang Omon ikut berjongkok di sampingnya serupa takut.


Tak berbeda, Samudra pun sama. Sayangnya ia dicekal polisi dan tak bisa berbuat apa-apa selain terus meronta.


Dengan wajah awut-awutan--sedih bercampur cemas dan takut, dia dipaksa masuk ke dalam mobil yang sudah menganga siap menelan. Kedua tangannya langsung diborgol. Dari kaca yang tertutup, ditatapnya dengan tangis, Miana yang mulai diangkat ke atas brankar kemudian didorong masuk ke dalam rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan. Dua polisi mengikuti di belakang.


Sebelum ikut menemani Miana, Darius menoleh Samudra yang tak terlihat di dalam mobil karena kacanya yang gelap, didukung malam yang sudah menyapa. Di pipinya, air mata sudah jatuh menganak sungai.


“Sam, putraku,” gumamnya dalam getir yang tak tertolong. Kepalanya menggeleng pelan menyesali segala yang terjadi.


Semua hancur dalam satu hari ini saja. Dengan berat hati, Darius berbalik untuk masuk menyusul Miana yang saat ini jelas lebih membutuhkannya.


...*****...


Di ketinggian lantai enam hotel Pascal.


Nuansa santai sebuah ruangan mendadak berubah kelam. Atmosfer yang tercipta seakan bisa mencekik siapa saja yang melintas.


“Kamu yang menyebabkan putriku menjadi hancur!” Rohan Pascal menatap lawan bicaranya dengan sorot dingin, namun tersirat kesadisan yang siapa pun akan terintimidasi. Terlebih manusia di hadapannya saat ini.


Dia seorang gadis, usianya mungkin setara Glorien atau Miana. Berkisar di angka 22.


Tanpa berani mengangkat wajah, gadis itu menjawab takut, “Saya nggak seberani itu, Om. Glo yang menghubungi saya. Dia yang minta saya buat nemenin dia yang katanya kabur dari rumah.”


“Terus kemana kamu?!” sentak Rohan masih dengan nada sama. “Glo bilang dia tidak menemukan kamu, dan malah bertemu dengan lelaki kampung bajingan itu!”


Namanya Lola. Teman yang dicari-cari Glorien saat aksi demonya ketika itu.

__ADS_1


“Saya, saya ....” Lola takut untuk menjawab, atau jawabannya terlalu riskan untuk dilontar?


“Saya tahu!” Rohan menyela dengan seringai. “Kamu ditangkap anggota Mafia Pena Hitam 'kan, gara-gara hutangmu yang secuil itu? .... Makanya Glorien tidak bisa menghubungi kamu waktu itu. Sialnya lagi, kamu dijadikan upik abu di markas mereka.”


Lola sontak mengangkat wajah menatap Rohan saking terkejut. “Da-darimana O-Om tahu semua itu?”


Senyuman Rohan terukir sinis menanggapi pertanyaan gadis di depannya. “Karena saya Rohan Pascal.” Jawaban pongah yang ditekankan. “Dan Rohan Pascal yang mengeluarkan kamu dari tempat itu.”


Notifikasi yang lagi mengejutkan bagi Lola. Ia tercenung sekian waktu, untuk setidaknya mencerna kalimat itu. “Te-terus, a-apa tujuan Om lakuin itu?” tanyanya masih tergagap. Namun tatap matanya tak lagi setakut tadi.


Bertumpu kedua siku di atas meja, Rohan menyatukan kesepuluh jarinya di depan wajah. Dia tersenyum menyikapi pertanyaan Lola yang cukup peka. “Kamu pintar! Sadar semua harus ada timbal baliknya,” ujarnya, lalu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya, “Saya beri kamu sebuah tugas.”


Lola menyimak dengan serius.


“Saya tau impian kamu untuk bisa kuliah di Amerika,” kata Rohan. Lola masih diam. “Buat Glorien melupakan laki-laki sialan yang dia bilang suami. Ucapkan permintaan maaf kamu soal waktu itu. Berikan alasan yang lebih sederhana dari kenyataan yang sebenarnya.”


Lola cukup terkejut. “Ja-jadi Glo sudah menikah?”


“Ya!” Rohan mengangguk, kemudian membenturkan punggungnya ke sandaran kursi. “Dan satu lagi, sebagai hukuman, atau setidaknya rasa terima kasih untuk saya karena sudah membebaskan kamu.” Sejenak ia menjeda kalimatnya. Diam dalam mimik yang tak terbaca. “Rawat Glo sampai bayinya lahir. Saya mau kamu manipulasi semuanya!”


*


*


Kilas baliknya, Glorien pingsan setelah melihat Samudra tertembak di sungai. Dan Pak Jo yang memang memantau sedikit di kejauhan, langsung sigap menghampiri. Darius sempat memerangi pria pesuruh itu untuk tak membawa menantunya, tapi Pak Jo memaksa. Mengatakan demi keselamatan Glo juga bayi dalam kandungannya. Juga meminta Darius, lebih fokus saja pada Samudra.


Dan sekarang ....


“Samudra bukan lelaki baik, Non. Tolong Nona Glo ikhlaskan saja.”


“NGGAK!” Glo menghardik keras. “Aku yakin Samudra gak sejahat itu, Mbok!”


Mbok Rum geleng-geleng dengan eskpresi ikut merasakan kesedihan nonanya.


“Mbok! Tolong ... Sam tertembak. Aku harus jenguk dia!”


“Tapi kita gak tau sekarang dia di mana, Non.” Mbok Rum makin kewalahan.

__ADS_1


“Pakai koneksi Papa!”


“Tapi, Non--”


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


Glo dan Mbok Rum sontak menoleh ke satu titik yang sama--pintu.


“Lola.” Suara Glorien berdesir seperti angin. Matanya menatap tak percaya sosok gadis tomboy yang kini menguasai pandangannya.


Sementara Lola, dengan wajah dan langkah kaku, dia masuk mendekati Glorien. “H-hay, Glo,” sapanya seraya melambai tak kalah kaku.


Glorien sedikit teralihkan dari ingatannya tentang Samudra. “Lola, kamu kemana aja? Kenapa baru muncul sekarang?” tanyanya mengingat kenangan mengesalkan tempo lalu saat ia tak bisa menghubungi temannya itu.


Sekilas tersenyum sungkan pada Mbok Rum. Kursi nganggur di samping brankar ditarik lalu didudukinya. “Glo! Kamu ....” Pandangan Lola langsung jatuh pada perut setengah buncit Glorien. Dia menunjuk pura-pura terkejut, yang padahal dia sudah tahu itu dari Rohan.


Glorien menutup cepat perutnya dengan selimut hingga sebatas dada. Ia malu, tapi tak bisa menyembunyikan. Perutnya tetap terlihat walau telah ia tutupi.


Mbok Rum menatap dengan prihatin. “Nona mau Mbok ambilkan minum?” tanyanya mengalihkan.


Lola menoleh wanita tua itu. “Boleh, Mbok," jawabnya dengan senang hati.


Setelah itu kedua teman yang sebenarnya tidak begitu dekat itu saling bertatap.


“Aku punya suami, La,” ungkap Glorien seraya membuang wajah tak nyaman hati. Dipeluknya perut dengan satu tangan bagian kanan.


Lola mengangguk paham. “Selamat ya, Glo.”


Waktu berikutnya mereka mulai bercerita.


Soal mengapa Lola tak bisa dihubungi ketika Glorien kabur, hingga banyak hal lainnya tentang mereka di masa lalu.


Lola tak banyak bertanya aneh. Ia mengikuti apa yang Rohan titahkan sebagai bentuk persetujuan hitam di atas putih.


Ada rasa iba menyelinap ke dalam rongga perasaan Lola. Hidupnya terbilang keras karena paksaan keadaan, tapi hidup Glorien yang bagai ratu, ternyata jauh lebih keras dari bayangannya.


Rohan seperti monster.

__ADS_1


Sebelum dibentuk kembali jadi sosok putri yang dia mau, Glorien harus dijaga dan ditenangkan dulu--setidaknya untuk saat ini. Hati Glorien masih panas atas apa yang terjadi pada Samudra.


__ADS_2