Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Si Kecil Kumal


__ADS_3

Jauh perjalanan ditempuh. Samudra tak terlelap seperti Mada yang sampai ngorok. Dia terjaga dengan pikiran penuh. Harapan besar dikaisnya dalam dada. Semoga bisa menemukan putra kecilnya--Sagara.


Kota yang dituju telah sampai. Samudra mengamati dua orang di depan--Pepeng dan seorang supir bernama Anton. Mereka bergantian setir mulai terlihat kelelahannya.


“Ton, Peng, cari tempat makan dulu deh!” Samudra meminta. Tak boleh egois. Menyetir untuk perjalanan jauh akan menguras energi.


“Siap, Bos!” Pepeng menyahut. Tak lagi dia memanggil Tuan, Samudra tak suka panggilan itu.


Berderet bangunan diamati, belum ada yang cocok menurut Samudra. Yang ditunjuk Pepeng lagi-lagi ditolaknya.


Sampai kemudian sebuah tempat menarik perhatiannya. “Yang di sana aja, Peng.”


Pepeng melihat telunjuk Samudra, lalu menoleh pada tempat yang dimaksud sang atasan. “Oke, Bos.” Lalu mengernyit heran.


Yang sedari tadi dia sarankan adalah sekian banyak restoran elit dari Western hingga Japanese, tapi yang dipilih Samudra justru restoran Jawa. Pepeng kira orang kaya sekelas Samwise Will, enggan menyapa tradisional.


Jika dikatakan pelit, Samudra jelas tak seperti itu. Entahlah, mungkin urusan selera, pikir Pepeng.


Mobil sudah terparkir baik.


Samudra bahkan sudah turun tanpa dibukakan pintu. Dia masuk lebih dulu dan memilih tempat sesuai inginnya.


Mada langsung mencelat menyusul Samudra setelah Anton membangunkannya.


“Bilang kek kalo mo makan!” tegurnya pada Samudra yang sudah santai dengan segelas air putih di tangannya. Wajah sembab rambut teracak tak berpengaruh untuk urusan perut.


Pepeng dan Anton duduk menyusul. Menyisakan satu kursi kosong lain karena meja yang cukup besar.


Makanan yang dipesan datang sebelas menit kemudian.


Mereka mulai asyik santap tanpa bicara.


Di suapan ketiga, perhatian Samudra tercuri oleh dua orang anak lelaki pengamen berbeda tinggi yang dia lihat dari balik kaca. Hatinya membayangkan, bagaimana kalau yang kecil itu adalah anaknya. Benar-benar akan dia habisi Rohan dengan tangannya.


“Lu kenapa, Sam?” tanya Mada dengan mulut penuh terisi nasi.


Samudra menolehnya sekilas saja, lalu kembali fokus pada dua anak di luar tadi. “Kagak,” jawabnya singkat saja.


Mada mengikuti arah pandangnya, tapi tak mencapai, karena terhalang kepala Anton. Ia menggedik bahu, memutuskan masa bodo lalu melanjutkan ritual makan.


Menit yang sama, pasang mata Samudra menyipit. Dua orang pemuda menadah tangan pada dua anak tadi sambil sesekali mendorong-dorong tubuhnya dengan bentakan kasar. Siapa pun akan tahu, mereka pemalas tolol yang bisanya hanya merampas hak orang lain.


“Gua keluar bentar.” Samudra berdiri setelah meletakkan sendok pada piring yang masih menyisakan banyak makanan.


“Mau kemana?” tanya Mada.


“Ada urusan bentaran doang," jawab Samudra sembari mencelat cepat ke arah luar.

__ADS_1


Ketiga orang yang ditinggalkan saling beradu pandang, lalu sama-sama menggeleng dan mengangkat bahu. Makanan masih sangat banyak, dan mereka harus menghabiskannya.


Di luar, Samudra sudah berdiri di dekat keempat orang beda generasi yang berseteru, namun tak terlalu dekat. Tawa puas terdengar krispi dari mulut dua pemuda tukang palak, ditanggapi Samudra dengan senyuman muak.


“Haha, gitu kek dari tadi!" seru salah satu begudal itu sambil mendorong bahu si kecil kumal yang hampir menangis. Mereka lantas pergi dan berbelok memasuki sebuah gang.


“Uang kita abis, Kak Banu.”


Anak yang lebih besar--usianya mungkin sekitar sepuluh tahun, menarik si kecil dalam gandengannya. “Gak apa-apa, dari pada kita dipukulin, mending kita kasih," katanya. “Sekarang kita ngamen lagi aja.”


“Tapi ini udah mau malem, Kak.”


Samudra mengepal tangan. Suara sedih anak itu menyentil separuh dari jiwanya. Dengan langkah cepat, dia kejar dua pemuda palak itu melewati dua korban kecil yang terbengong. Mereka pasti mengira, seorang aktor baru saja lewat.


Punggung dua pemuda itu sudah terlihat.


DAAG!


“AWWWWHHH!” Satu yang tinggi mengerang sakit. Samudra baru saja menendang pantatnya hingga tersungkur ke tiang listrik.


Temannya yang pendek terkejut kemudian langsung berbalik. Didapatinya seorang pria tinggi dengan setelan keren, berdiri menatap mereka seolah akan menelan.


“Si-siapa kamu?" Dia bertanya terbata dengan tubuh gemetaran. Aura kelam Samudra dirasakannya seperti membakar jantung.


“Balikin uang anak-anak kecil itu, trus minta maaf, sujud di kaki mereka.”


“Saya?” Samudra tersenyum kecut. “Gak penting siapa saya!" Air mukanya kembali berubah kelam. “Lakukan apa yang saya suruh tadi. Kalo nggak, kalian akan pulang dengan kaki bengkok.”


“CUIHH!” Anak yang tinggi meludah ke tanah dekat kakinya. “Enak saja! ... KYAAAKK!”


KRETAK!


“Aaarrggh!”


Samudra mau dia lawan?


Mimpi!


Belum sempat pukulannya mengenai bagian tubuh Samudra, tangannya sudah digenggam lalu dipelintir hingga berkeretak.


“Mau turutin permintaan saya?”


“Iya, Om, iya! Ampun!”


Barulah Samudra melepaskannya--dengan cara kasar. Tubuh anak itu terdorong hingga membentur tubuh temannya yang ketakutan tapi tak lari juga.


“Balikin uang anak-anak itu, trus sujud di kaki mereka!” ulang Samudra.

__ADS_1


“Iya, Om!” Keduanya melanting cepat. Kembali ke tempat di mana mereka memalak dua orang anak kecil tadi.


Samudra mengikuti dari belakang.


Dua pemuda itu kelimpungan. Anak-anak kecil tadi telah tak ada di sana. Mereka sudah pergi.


“Kemana mereka?” Yang pendek makin ketakutan--takut Samudra akan benar-benar menyiksanya.


Samudra ikut mengedar pandang. Ada rasa tak enak menggelitik hati.


“Mereka uda pergi, Om.” Yang tinggi berkata dengan kepala merunduk takut.


“Saya tahu. Tugas kalian cari mereka sampai dapat untuk balikin uang mereka.”


Tak berani membantah, keduanya langsung mengangguk.


“Mereka pasti ke lampu merah," bisik yang pendek. Tapi Samudra bisa mendengarnya dengan jelas.


“Saya akan pantau kalian!” tegasnya memperingatkan, lalu melanting lari ke dalam resto.


Di sana Mada dan lainnya masih asyik menyantap makanan penutup.


“Sam!” tegur Mada.


Tak banyak kata, kunci mobil di atas meja diraih Samudra lalu kembali ke arah luar. “Gua cabut bentaran doang. Kalian bisa tunggu di sini," katanya sambil lalu.


Mada, Anton dan Pepeng terkaget.


“Sam! Mau kemana lu!”


Mada ikut bangkit untuk mengejar, namun sebelum itu dia menoleh pada Anton dan juga Pepeng. “Santai aja di sini dulu.”


Kedua orang itu mengangguk paham.


Sebelum Samudra melejit, Mada telah lebih dulu masuk ke dalam mobil. “Enak aja mau ninggalin gua!”


Tak menimpal apa pun, mobil langsung dilajukan Samudra secepat angin.


WUZZZ!


“Jirr, lu kesurupan apa sih?”


“Diem lu, Mad!”


Mada mingkem seketika.


Lampu merah yang dituju Samudra, sesuai petunjuk anak jalanan tadi.

__ADS_1


Dia merasakan keanehan dalam hatinya. Seperti sebuah dorongan untuk lebih dekat dengan si kecil kumal.


__ADS_2