
Orang misterius yang menyelinap ke kamar Samudra belum diketahui apa motifnya. Sampai hari berlalu tak ada jawaban yang bisa disimpulkan.
Toddy pergi dari rumah Laura keesokan hari setelah pemakaman. Samudra bukan anak kecil yang tak paham jika pria itu menginginkan banyak dari apa yang Laura tinggalkan.
Tapi biar saja. Selama tak ada tindakan yang berarti, Samudra tak akan risau.
Charlotte masih nampak murung. Beberapa penjaga disiagakan untuk melindungi adik dari satu ibunya itu. Semua belum bisa dikatakan baik-baik saja. Tanah lahad Laura masih terlalu basah untuk dilupakan secepat angin.
Sudah tiga hari Samudra sibuk bergelut dengan urusan perusahaan. Dia masih di Moscow. Sagara yang dititipkannya pada Darius sesekali dihubunginya melalui video call.
Ratusan panggilan dan pesan yang dikirim Glorien masih dia abaikan. Mada, David dan lainnya tak boleh lengah mengurus Pascal. Urusan Rohan dan pernikahannya akan ia urus setelah lapang.
Meskipun ada orang kepercayaannya di perusahaan Laura, tapi semua membutuhkan orang pertama untuk kelangsungan yang lebih baik.
Hari ini, tepat hari keempat, akan ada rapat penting di perusahaan. Samudra akan datang lebih pagi dari biasa. Mobil dikendalikan supir, sementara Samudra sendiri sibuk dengan laptop dan dokumen yang malam tak dia selesaikan setelah rasa kantuk mendera lebih cepat.
Melewati jalanan sepi, mobil tiba-tiba berhenti. Samudra sontak menghentikan gawai lalu melengak pada supirnya. "Ada apa, Harry?"
"Tuan ... Kita dijegal!"
Samudra mengerut kening kemudian memajukan pandangan ke depan. "Siapa mereka?"
Jawaban supirnya pasti 'tidak tahu', tapi kata itu bahkan belum terlontar, suara gedoran di kaca luar mobil lebih dulu terdengar dan itu sangat kasar.
"Sial!" Samudra mengumpat seraya melipat laptop.
"Tuan, kita harus bagaimana?" Harry mulai panik. "Mereka sepertinya kawanan perampok!" terkanya.
Kaca kembali digedor.
"Kau pindah, Har!"
Samudra bergerak ke depan, menyelinap melalui celah jok.
Posisi kemudi diambilnya kemudian. Dan ....
__ADS_1
NGUUUUNGGGG!
Mobil dijalankan Samudra, seketika membuat orang-orang di luar berhamburan ke tepi untuk menghindar. Mereka berteriak dengan umpatan kasar dan keras.
Mobil melaju cepat. Harry bergidik sendiri dengan kemampuan setir Samudra yang walupun terkesan serampangan, tapi bisa diandalkan dalam situasi genting.
Orang-orang tadi mengejar lagi. Terlihat dari kaca spion yang tergantung dekat kepala.
"Keparat! Mau apa mereka sebenarnya?!" Samudra mengumpat lagi.
Mereka lumayan cepat dan bisa mengimbangi kecepatan mengemudinya.
Dan sialnya ....
DOORR!
PSSSS!
Peluru mereka menembus ban mobil dan membuatnya kempes.
Harry sibuk menghubungi polisi untuk melaporkan situasi yang dihadapi. Samudra melarangnya keluar dari mobil agar kejadian waktu lalu yang menewaskan Anton--supirnya di Indonesia, tidak terulang lagi.
Tidak ada waktu untuk menghitung berapa jumlah orang-orang itu. Samudra turun dari dalam mobil tanpa melepas jas yang dia pakai. Pandangan sangar, memasang sikap sia hantam tanpa rasa takut menjadi momok yang mengerikan.
Dua orang maju mendekat dengan kepal siap. Pun dengan Samudra. Dalam hitungan detik adu jotos terjadi.
Seorang sibuk mengarahkan pistol, tapi dia kebingungan sendiri karena perkelahian berlangsung cepat, dia takut malah mengenai rekannya sendiri.
"Aaaarggh!" Teriakan mendengking hingga ke langit. Samudra baru saja mematahkan satu tangan lawannya. Yang memegang pistol maju, ikut terlibat dalam adu pukulan.
Padahal lawannya hanya seorang, tapi mereka seperti menghadapi lima ekor singa.
Di dalam mobil, Harry yang polos jadi penonton. Mulutnya sampai menganga. Dalam pikirnya, bagaimana bisa Samudra dengan kulit mulus dan tampang seperti hanya tukang memainkan laptop dan wanita, bisa menjadi seperti singa di saat terjepit, sungguh di luar nalar.
WIU WIU WIU!
__ADS_1
Sirine mobil polisi terdengar.
Samudra baru saja menumbangkan orang terakhir. Sekarang jelas, jumlah mereka hanya enam orang saja. Itu terlalu ringan untuknya yang pernah menghadapi lima belas orang gangster saat di Amerika seorang diri.
Polisi sudah tiba. Harry keluar tergopoh dan langsung sibuk menjelaskan tentang bagaimana ia dan bosnya dijegal, dikejar, hingga melakukan perlawanan.
"Are you okay, Sir?"
Samudra mengangguki pertanyaan polisi dan menjawab bahwa dirinya cukup baik-baik saja.
Ponsel dimintanya pada Harry. Seseorang di perusahaan dihubungi, dia meminta agar meeting ditunda kurang lebih tiga jam ke depan dengan alasan ada hal yang harus diurus.
Polisi meminta ia dan Harry untuk menjadi saksi. Samudra mengangguk setuju karena dia perlu tahu motif para begundal itu. Dia akan mengikuti investigasi secara langsung. Ada sebersit perasaan yang mengatakan bahwa ini bukan sekedar hal kecil bermakna kata 'merampok'.
Beberapa waktu kemudian.
Interogasi baru usai dilakukan.
Samudra mendengus, tak satu pun dari mereka menyinggung nama seseorang. Mereka mengatakan bahwa mereka murni hanya perampok.
Logikanya terus berperang bahwa ada yang tak beres dengan orang-orang itu.
Seorang polisi dihampirinya. Beberapa patah kata menjadi obrolan singkat. Sekian saat lalu diakhiri dengan anggukan polisi itu sebagai tanda setuju.
Ruangan kecil yang pengap. Hanya ada satu lampu tergantung dengan daya tak banyak. Satu dari enam orang tadi yang diduga peimimpin mereka, dibawa ke sana. Samudra masuk lalu menutup pintu.
"Mau apa, kau?!" tanya pria berwajah sangar itu pada Samudra. Tidak banyak yang bisa dia lakukan, dua tangannya terkunci dengan borgol.
Sembari berjalan santai dengan tangan terselip di saku celana, Samudra tersenyum. "Santai, Bung."
Orang di depannya beringsut takut.
Tempat itu memang bagian dari kantor kepolisian, tapi siapa yang akan menjamin keselamatannya. Samudra terlihat berbahaya. Polisi saja bisa dikendalikan, bagaimana dengan dirinya yang hanya seekor kijang?
"Jika kau mau hidupmu baik-baik saja ... mari bernegosiasi."
__ADS_1