
Banyak bulan berlalu.
Ruangan seluas enam belas meter persegi disesaki nuansa silver. Angin berembus damai dari jendela yang dibiarkan terbuka lebar, memberi sejuk.
Layar komputer menyala di atas meja, berdiri di dekatnya sebuah lemari yang dipenuhi beragam buku. Suara tak tik tarian jari terdengar sibuk di atas keyboard. Seseorang tengah bekerja di sana.
Lengan kemeja putihnya bergulung hingga ke sikut. Dua kancing terakhir di depan dada di biarkan terbuka. Rambut klimis sisa pagi mulai teracak seiring waktu merangkak senja.
TAK! TAK! TAK!
Suara hentak sepatu mendekat setelah derak pintu didorong dari luar.
“Sam.”
Melalui ekor matanya, sekilas saja Samudra melihat. “Ada apa, Bu?”
“Ibu ada kejutan buat kamu.” Dia Laura Jung. Samudra kini memanggilnya Ibu, sesuai yang diminta wanita itu. Bukan menjurus pada sapaan formal sejenis atasan dan bawahan, melainkan lebih kepada hubungan antara ibu dan anak. Laura mengangkat Samudra jadi anaknya.
Di usia yang tak lagi muda, penampilan Laura terbilang seksi. Semenjak Samudra bergabung di perusahaannya, ia tak lagi sesibuk dulu. Waktunya banyak dihabiskan untuk bersantai, mantai, dan berjemur dengan bikini di atas kapal pesiar milik salah seorang rekan.
“Kejutan?” Samudra menghentikan aktifitasnya di layar.
Laura langsung duduk di kursi bersekat meja di depannya. “Ya. Ibu yakin kamu akan suka.”
“Benarkah?” tanggap Samudra biasa saja.
“Hmm.”
Tak banyak cakap lagi, dengan senyum percaya diri, Laura menepuk dua kali tangannya di depan wajah. Kemudian muncullah sosok seorang lelaki dengan hoodie juga topeng spiderman menutupi bagian wajahnya. Tak tahu entah dia muda atau mungkin manula.
Beralih perhatian Samudra pada si penopeng yang sudah berdiri di samping Laura tersebut.
“Bukalah topengmu, Son.”
Sosok itu merespon perintah Laura dengan anggukan.
Perlahan, ia menyentuh tepian topengnya di bawah dagu, lalu mulai menaikannya secara perlahan, dan ....
__ADS_1
Samudra tercengang dan tak percaya. “Mad,” desisnya, namun masih belum bergerak dari posisi.
“Hehe.” Benar adalah Mada. “Long time no see, Samudra.”
Samudra kini percaya ia tak sedang mimpi.
Beranjak cepat dari duduknya lalu menubrukkan tubuh memeluk Mada. “Bagus lu kagak mati!” katanya gak ngotak.
Mada balas memeluk. “Daging gua alot! Cacing kuburan mana ada doyan,” katanya mulai sinting.
“Yang doyan daging lu cuma si Neneng.” Samudra membalas.
“Langsung ayan dong aing!”
Neneng adalah wanita jadi-jadian yang biasa mangkal di palang pintu bagian subuh hingga jam tujuh. -----skip.
Senyum Laura langsung merekah.
Pasalnya, selama bertahun ini kepribadian Samudra berubah 180 derajat dari keaslian yang dia tahu. Sam lebih pendiam dan serius. Laura memahami semua alasan di baliknya. Ia terbiasa dan senang. Terlebih Samudra sangat cerdas, mudah belajar, dan bisa mengelola semua dengan baik. Tapi sikap dingin lelaki itu ... sedikit membuat Laura muak.
Pelukan sudah terlepas. Samudra beralih menggandeng pundak Mada, lalu melihat ke arah Laura. “Thanks, Bu. Hadiahnya luar biasa.” Luar biasa sarap mangsudnyah.
Laura tersenyum puas. “Ibu sudah duga itu," kata Laura. “Satu hal lagi, Sam. Terhitung mulai sekarang, Mada akan jadi asisten pribadi kamu. Dia akan ikut kemana pun kamu bertugas dan terlibat apa pun yang kamu kerjakan.”
Samudra terperanjat, lalu menghela pandang pada manusia nyentrik di sampingnya. “Dia? Asisten?” Dengan kening berkerut tak yakin sama sekali.
“Hmm.” Singkat jawaban Laura.
“Tapi dia, 'kan--”
“Otak gua udah kagak dongdong lagi, Samudra!” pungkas Mada tak terima. Dia paham benar tatapan Sam yang selalu menganggapnya oon, karena itu yang Samudra tahu dan kenyataan pun tak memungkirnya. “Madam Laura udah didik gua elmu bisnis sama tekhnologi, pake lima guru yang cakep-cakep sama bahenol lagi,” sambung Mada kelebihan hormon--entah tiroid, insulin, kortisol atau hormon kurang pikiran.
Tentu saja Samudra terkejut. Matanya melotot pada Mada lalu pada Laura--menuntut penjelasan lebih jauh.
Laura, wanita paruh baya itu tersenyum lalu bangkit dari kursinya. “Tiga bulan lalu Ibu bebaskan dia dari penjara," ungkapnya seraya berjalan menuju rak buku. Memainkan jarinya di sana untuk memilih salah satu judul. “Dan benar yang dia bilang ... Ibu sudah memberinya pelajaran tentang bisnis yang perusahaan kita geluti saat ini.” Satu buku di tangannya mulai ia sibak halaman demi halaman. “Itu semua untuk kamu, Sam.”
__ADS_1
Mada cengar-cengir. “Baek ye Madam Laura,” katanya pada Samudra. “Gua bisa jadi bingkisan buat lu!”
Lain dengan Mada yang tetap bengkok, Samudra justru tercenung. “Apa pekerjaanku ada yang mengecewakan Ibu?” tanyanya pada Laura.
Tanpa mengangkat wajah dari buku, Laura menatap Samudra melalui bola mata yang ia naikkan. “Lebih tepatnya agar kamu bisa lebih semangat menjalankan bisnis Ibu.” Ditaruhnya buku itu kembali ke tempatnya, lalu berbalik mendekat pada Samudra. “Mada di sini untuk menghapus semua penyakit menjijikkan dalam diri kamu," ujarnya seraya menepuk bahu Samudra. “Ibu beri waktu kalian berdua berlibur selama dua hari.” Kemudian berjalan menuju pintu. “Bersenang-senanglah!" tutupnya.
Namun tepat di ambangnya, Laura menghentikan langkah, hanya menolehkan wajah tanpa membalik tubuh. “Satu lagi saya ingatkan untuk kamu, Mada ....”
Mada menegakkan tubuh, bertingkah seperti kopral. “Iya, Madam!”
“Di dunia bisnis ini, tidak ada nama Samudra.”
Mada mengangguk tiga puluh derajat, “Oke!”
“Ingat! Dia ... Samwise Will, bukan Samudra!”
***
Lepas kepergian Laura dari ruangan, Mada dan Samudra mulai berbincang banyak, berbusa mulut hingga menghabiskan bergelas-gelas kopi.
Cerita aksi kejar-kejaran dengan polisi malah mereka buat jadi lelucon, tawa keduanya bahkan menggema hingga ke lembah uhud.
Diselip keharuan, saat Samudra mengungkapkan, betapa dia rindu Miana juga ayahnya. Tapi tak ada sindiran tentang Glorien. Mada menganggap mungkin Samudra hanyalah lupa. Dari sanalah dia mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan Samudra setengah mati.
“Sam, apa lu tahu ... kalo anak lu yang dikandung Nona Glorien ... uda meninggal waktu dilahirin?”
DEG! DEG! DEG!
Jantung Samudra langsung terpental kemudian bertabuh cepat. “Apa kata lu, Mad?”
Mada memperjelas, “Iya. Gua denger kagak sengaja di rumah sakit waktu gua kena DBD. Suster sama dokter nyebut-nyebut nama bini lu. Karna penasaran, gua nguping. Sampe gua dapet kabar itu. .... Anak lu ninggal.”
Nyalak mata Samudra. Hatinya seperti ditombak berulang-ulang.
Selain merindukan Darius dan Miana, dia juga membayangkan lucu wajah anaknya yang sekarang mungkin sudah balita. Tekadnya sebelum kabar Mada barusan, sepulang nanti, apa pun caranya dia akan mengambil anaknya dari Glorien dan juga Pascal. Menculiknya bila perlu. Tapi sekarang ....
“Perempuan sialan! Dia bahkan gak bisa jagain anaknya sendiri.” Samudra menggeram marah. Kilat benci di matanya tak bisa lagi disembunyikan. “Atau dia emang gak sudi punya keturunan dari gua?”
__ADS_1