
“Samewise Will akan datang ke kantor ini, sebagai calon pemegang saham.”
Jantung Glorien seakan direnggut paksa. Nyalak melebar bola matanya mengikuti keterkejutan setengah mati.
“Apa katamu, Pa? .... Samewise Will?”
“Iya, Glo. Dia siap membantu kita.”
Glo menurunkan wajah perlahan untuk merunduk. Ditatapnya meja di hadapan dengan mata lebar. “Will ... bagaimana bisa?” tanya hatinya. Kembali dia mengangkat wajah menatap Rohan. “Kenapa harus dia, Papa?”
Rohan berkerut kening. “Apa ada masalah dengan Samewise?”
“Bagaimana ini?” Glorien kebingungan untuk menjawab. Jika dia menjawab jujur tentang siapa Samewise sebenarnya, Rohan pasti akan langsung membatalkan semuanya bahkan sebelum dimulai. Tapi bagaimana dengan masalah perusahaan?
Di sisi lainnya, Glorien merasa tak yakin, Samudra benar-benar mau membantu. Jika begitu ....
“Aku harus bicara pada Samudra!” Ia memutuskan pada akhirnya.
“Nggak ada, Pa. Aku keluar sebentar!” Glorien meninggalkan kursi yang didudukinya, lalu berjalan menuju pintu.
“Mau kemana?” Rohan ingin tahu.
“Ke suatu tempat, Pa. Sebentar aja.”
“Tapi waktu rapatnya sebentar lagi, Glo!”
“Pa ... sebentar aja, kok.”
Rohan terdiam untuk berpikir.
Namun sebelum sesuatu berhasil ia putuskan, Pak Jo sudah datang. Sontak juga menghentikan langkah Glorien di ambang pintu.
“Semua sudah siap, Tuan. Mereka sudah ada di ruang rapat,” kata Pak Jo memberitahu.
“Termasuk Mario dan Samewise?” Rohan bertanya sembari menatap Glorien.
Gadis itu balik menatap dengan raut resah, kemudian menoleh Pak Jo.
“Mario sudah standby di sana. Kalau Tuan Samwise ... asistennya bilang akan sampai sekitar lima belas menit lagi.”
Jawaban Pak Jo semakin membuat Glorien cemas.
Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang mengepal, pertanda kegugupan mulai menyerang.
__ADS_1
“Kalau begitu ayo! Tidak baik menunda kesempatan,” putus Rohan. Jas yang dipakainya, ia rapikan sekilas saja. Kacamata di atas meja diraih lalu dikenakannya. “Kamu harus ikut, Glo! Peranmu sangat dibutuhkan di sana.” Ia mengintimidasi putrinya. “Jangan melakukan hal bodoh yang merugikan.”
Tidak bisa apa pun lagi. Glorien dalam keadaan skakmat. Peringan Rohan tetap adalah harga mati.
Samudra ... orang itu bahkan sudah hampir sampai di ruang rapat, akan dengan cara apa dia berbicara. Waktu tempuh untuk sampai di ruang rapat saja memakan lebih dari sepuluh menit. Bagaiman ia akan bernego dengan Samudra.
Dengan jantung berdebar tak karuan, akhirnya Glorien menyusul juga langkah sang papa yang lebih dulu menjauh dari ruangan bersama Pak Jo.
Elevator yang menukik turun terasa seperti panggangan bagi Glorien. Sementara Rohan dan Pak Jo tetap tenang dengan tatapan lurus. Sampai kemudian kotak itu terbuka. Mereka melangkah lugas menuju ruang rapat yang ada di belokan sebelah kanan divisi dua.
Ini adalah hal paling mendebarkan bagi Glorien. Lebih keras berdentam dibandingkan ketika ia sidang skripsi.
Pintu bertuliskan 'Meeting Room’ sudah terlihat di depan mata.
Pak Jo mendorong pintu. Semakin terbuka lebar semakin terlihat orang-orang di dalam sana.
Mario Ramses memasang senyum semanis tebu menyambut Glorien, kemudian merunduk hormat pada Rohan yang berjalan menuju kursinya di ujung posisi tengah. Tiga lain-- yang satu di antaranya adalah wanita, nampak sudah berumur, ketiganya adalah calon investor hasil olah lobi Glorien.
Wanita itu sendiri mengambil posisi duduk di kiri Rohan, berhadapan langsung dengan Mario.
Sembari menunggu satu lainnya yang belum hadir, Rohan menyapa ramah para calon partner-nya, diselingi obrolan-obrolan kecil yang terkesan dibuat-buat.
Pak Jo masih menunggu di depan pintu.
Sampai kemudian ....
Sebelum Rohan atau pun Glorien, tentu Pak Jo yang lebih dulu dibuat terkejut. “Yara,” desisnya.
Anak gadisnya berjalan beriringan dengan David. Di belakang mereka, Ernest tersenyum percaya diri.
Yara hanya tersenyum pada sang ayah. Senyum yang didalamnya berisi sirat permintaan maaf.
“Selamat siang!” David menyapa pada semua. “Maaf atas keterlambatan saya.”
Semua perhatian teralih padanya. Mereka lalu mengangguk dan tersenyum memberi maklum.
Rohan menatap dengan alis bertaut. Dia juga sama terkejut, kenapa Yara bisa bersama mereka---David dan Ernest. Namun semua ditepisnya lebih dulu sementara ini. Sebisa mungkin memasang senyum untuk menyambut kedatangan tamu terakhir yang paling dia tunggu-tunggu itu.
“Tuan Will?” Ia menjulurkan tangan pada David.
Pria itu nampak gagah dengan atribut formal yang pas membalut tubuhnya yang kekar. Rambut gondrongnya terikat seluruh ke belakang dengan kilatan pomade.
Tapi Rohan tentu salah mengira jika David adalah Samewise Will.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Pascal. Saya bukan Tuan Will. Kebetulan saya orang kedua yang diminta menggantikannya,” terang David setelah tangannya dan Rohan saling berjabat.
Glorien bereaksi membuang wajah seraya mengembuskan napas kasar. Setidaknya untuk saat ini dia selamat dari Samudra. Urusan Yara yang membelot, dia akan bertanya nanti, sama seperti Rohan dan juga Pak Jo.
Lain dari Rohan yang memasang raut sedikit kecewa. Dia berharap benar-benar Samewise Will yang hadir di sana, bukan pesuruhnya.
“Ah, maaf. Tidak apa-apa, saya mengerti. Tuan Will pasti orang yang sibuk," tuturnya seolah menerima dengan lapang.
Rapat pun dimulai tak lama kemudian.
Yara dan Ernest duduk berdampingan memperhatikan jalannya pertemuan bisnis itu.
Sementara Pak Jo nampak tak fokus. Ia terus menatap Yara. Pikirannya bergerak dan mengingat, bagaimana dua bulan lalu putrinya mengundurkan diri dari Pascal dan berkata akan pergi ke suatu kota, untuk menjalani pekerjaan baru.
Ternyata dia menjadi bagian dari perusahaan Will. Entah itu harus ditangisinya, atau perlu dia syukuri. Pak Jo mendes4h kasar lagi-lagi.
Tak terasa, memakan waktu satu jam lamanya, rapat selesai. Semua sudah sah bergabung dan menjadi bagian dari pengembangan Pascal. Perjanjian dibuat maksimal dan tidak bisa diganggu gugat.
Semua bubar membawa harapan masing-masing di dada mereka.
Glorien tak bisa berbuat apa pun. Saham yang ditanam Samudra tak main-main. Hampir setara dengan jumlah saham milik Martin. Itu akan sangat menyelamatkan perusahaan papanya dari kebangkrutan. Meskipun untuk saat ini dia tak tahu apa maksud Samudra, setidaknya papanya bisa lega dan terlepas dari bebannya.
Dan Yara, dia hanya mengucapkan, “Akan Yara jelasin nanti, Ayah. Sekarang Yara pergi dulu.”
Pak Jo memasang raut bingung. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Ernest dan David membawa Yara kembali pergi bersama mereka.
Glorien menepuk pundak Pak Jo. “Aku yakin ... Yara pasti punya alasan sendiri, Pak Jo.” Pria itu mengangguk tersenyum. Kemudian beranjak pergi karena ajakan Rohan sudah berbunyi.
“Glo!”
Suara Mario menginterupsi langkah Glorien.
“Hey.” Dia tersenyum menyambutnya dengan ramah. “Kamu belum pulang?”
Mario menjawab dengan senyumnya, “Tadi aku pinjem toiletnya sebentar.” Glorien mengangguk paham.
Keduanya berjalan beriringan.
“Sayangnya aku harus pergi. Ada penerbangan sore ini ke New Zealand. Kalau nggak, pasti aku ajak kamu makan malam,” kata Mario menyesalkan.
Namun Glorien tak memerhatikan. Langkahnya terhenti saat itu juga dengan tatapan lurus mengarah pada satu titik di depan sana.
Samudra, pria itu baru saja dilihatnya memasuki elevator. “Dia di sini.”
__ADS_1