Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Glo & Jess


__ADS_3

”Kenapa bisa?" Rohan menggeram. Dua tangannya terkepal ketat hingga ruas-ruas jarinya memutih pucat.


Di hadapannya, Pak Jo nampak diam setelah membawa kabar yang tak mengenakkan yang ia dapat dari seorang bawahan.


Sebuah bangunan tua seluas setengah hektar di perbatasan kota, mulanya Rohan berniat membeli bangunan yang dihuni sepasang kakek nenek itu untuk dibangun sebuah supermaket. Tapi entah dari mana datangnya, seseorang mengacau ikut-ikutan ingin membeli.


Dari Pak Jo yang menggali, Rohan mengetahui kalau pembeli sebenarnya di balik pesuruh itu adalah Samewise Will--atau Samudra.


“Apakah orang itu sengaja?” Rohan semakin mengetatkan rahang.


Pak Jo tak bisa pastikan. “Maaf, Tuan, saya belum tahu motifnya.”


Tatapan Rohan menusuknya. “Tanyakan pada putrimu, Jo! ... Bukankah gadis kecilmu itu sekarang jadi bagian dari mereka?”


Pak Jo tersentak bingung. Hingga detik ini, Yara belum menjelaskan apa pun perihal kepindahannya pada kubu Samudra. Yara belum ada pulang menemuinya, bahkan sangat sulit untuk dihubungi.


“Akan saya coba, Tuan.” Ia tak mungkin berkata tidak. Rohan pasti menekannya seperti teh celup yang dipaksa memberi warna.


Selebihnya tak ada kata. Rohan benar-benar frustrasi.


Bagaimana bisa ia bersaing dengan pria yang masih sah sebagai suami dari putrinya?


Kenyataan kadang terlalu nakal untuk diatur.


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerimanya!” Lalu bertekad, “Akan aku rebut surat pernikahan itu dan memaksanya menceraikan Glorien.”


...*****...


Di lain tempat, Glorien terlihat kesal. Samudra baru saja menghubungi dan menyuruhnya datang ke suatu tempat.


Terpaksa mengemudikan mobilnya sendiri, ia bertolak pergi. Tak bisa mengelak, harus rela meninggalkan--entah itu pekerjaan, waktu istirahat, atau saat perutnya mulas sekali pun. Sekarang Samudra tidak tertolong sikap memaksanya. Lelaki itu akan mengancam dengan cara apa pun untuk membuatnya seperti kelinci jinak.


Sebuah kafe. Persis seperti yang Samudra share lokasinya tadi, Glorien kini sampai di sana.


Embusan napas terdengar berat dari mulutnya saat menatap bangunan modern yang menjulang di depan mata. “Sial banget sih aku," keluhnya. Wedges yang ia kenakan tiba-tiba terasa membuat pegal kakinya saat melangkah. Padahal tinggi sepatu itu tak lebih dari empat senti saja. Aura Samudra benar-benar berpengaruh sensitif pada setiap detail keadaannya.


Walau terpaksa, Glorien meneruskan langkah. Langkah berat yang diayun seolah menyeret sekumpulan batu raksasa.

__ADS_1


Sial lagi, baru kakinya menjejak ambang pintu, terdengar denting sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.


Glorien merogoh ke dalam tas jinjing di kiri tangan. Ponsel dibuka lalu dibacanya.


‘Langsung masuk, dan bersikaplah seolah kita adalah partner bisnis’.


Wanita itu mendengus seraya memutar bola matanya. “Seharusnya memang begitu. Kita rekan bisnis. Tapi kamu ubah seenak perutmu,” gerutunya. Tapi tidak berani mengatakan, 'Aku juga istrimu', itu terlalu aneh setelah sekian waktu--bagi Glorien.


Dimasukkan kembali ponsel ke dalam tas lalu masuk ke kafe dengan langkah berisi segunung kekesalan yang hakiki.


Dari kejauhan, wajah songong super tamvan milik Samudra sudah membayang di bola mata. Glorien membuang mimik kesal wajahnya ke sudut lain lalu kembali pada Samudra.


Lambaian tangan lelaki itu semakin menjengkelkan saja. Ia ingin menghentak kaki dengan keras, tapi terhalang attitude yang tertanam di dalam diri.


Di sekeliling, pengunjung kafe nampak ramai memenuhi hampir seluruh meja, dia malu dengan itu dan tak ingin terlihat bodoh jika mengikuti kata hatinya.


Akhirnya, selain wajah penuh kesal, Glorien berjalan elegan lagi-lagi dengan terpaksa.


“Duduk.” Samudra mengarahkan tangan kanannya pada kursi berseberangan, saat Glorien sudah sampai di hadapannya.


“Mau minum apa?” Samudra bertanya biasa saja.


“Aku gak haus,” tolak Glorien secara tak langsung. Ia menyingkap lengan baju panjang untuk melihat arloji di pergelangan tangan. “Bisa cepet, gak? Aku ada urusan lain ini.”


Samudra menyikapi seringan angin. Kedua tangannya dibuat bersedekap dengan kaki bertumpang silang. Dilihat seksama, bibirnya tertarik ke samping seolah ada yang lucu. “Sekarang aku bos kamu. Gak ada nego!”


Glorien menghentak pandang cepat pada pria itu lalu merenyih tak habis pikir. “Terserah deh!” Pilih mengalah, ia membuang wajah tak mau berdebat.


Di menit yang sama ....


“Sam. Ini ...?”


Glorien dan Samudra kompak menoleh.


Jesslyn baru saja datang dan kini berdiri di tengah antara kedua orang di hadapannya. Wajahnya mengarah pada Glorien, lalu pada Samudra meminta penjelasan.


Samudra memahami sirat wanita cantik itu. “Oh ... kenalin, Jess. Dia Glorien. Rekan bisnis aku,” ujarnya memperkenalkan. “Dia kebetulan ada di sini sendiri. Kasian. Jadi aku ajak gabung di sini aja.”

__ADS_1


Glorien mengumpat dalam hatinya. “Manusia ini ... beneran mau aku palu!” Kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun, tapi sebisa mungkin tetap memasang sikap wajar penuh kesopanan. “Hallo, Nona Jess,” sapanya kemudian seraya mengulurkan tangan pada Jesslyn. Hatinya mulai berkicau, “Jadi aku diminta ke sini buat jadi obat nyamuk?”


Jesslyn menerima sedikit ragu. “Ah, iya, hallo, Nona Glorien.” Lalu duduk mengisi kembali kursi yang sebelumnya.


Dia memang telah berada di sana sedari awal bersama Samudra. Menghilang karena izin pada lelaki itu untuk pergi ke toilet sebentar saja.


Jesslyn tahu Glorien adalah Putri Pascal, tapi tak ada mengatakan apa-apa tentang itu.


Kebekuan menyergap. Kedua wanita itu saling diam dengan perasaan berbeda. Namun lain dengan Samudra. Ada ekspresi menggelitik di wajahnya yang tidak satu pun dari kedua wanita itu menyadarinya.


“Ujung-ujungnya gua makan juga mereka berdua. Puas celup sana sini, yekan?” Ia membekap mulut dengan kepalan tangan lalu membuang wajah menyembunyikan kegelian atas pikiran konyolnya sendiri. “Hidup terkadang harus maruk juga.” Lalu terkekeh.


“Kamu kenapa?”


Pertanyaan Jesslyn menyentaknya. “Ah, nggak. Aku keinget ocehan ngalor ngidul Mada aja,” kilahnya dengan sisa kekehan.


“Oh," respon singkat Jesslyn.


Glorien memicing mata. Ia curiga, Samudra pasti merencanakan sesuatu. Tapi gegas membuang wajah karena tatapan Jesslyn terasa mengintimidasinya.


“Anda tidak pesan sesuatu, Nona Glorien?” tanya Jesslyn.


“Ah, saya akan pesan nanti, Nona Jess,” jawab Glorien sedikit kaget.


Jesslyn manggut sekilas saja. Wajahnya kini mengarah pada Samudra. “Yuna udah ada di depan. Aku harus pergi, Sayang.”


Kata 'sayang' sedikit ditekannya.


“Oh,” Samudra mengangguk. “Ya, udah. Kamu hati-hati.”


Mereka berdua berdiri untuk berpelukan---tadinya. Tapi ternyata Jesslyn melakukan hal tambahan yang seketika membuat Glorien membuang wajah karena tak nyaman.


Samudra membulatkan mata. Jesslyn mengecup bibirnya cukup lama, tak peduli jadi pusat perhatian semua orang yang ada di sekelilingnya.


“Aku duluan ya, Sayang. Kamu jangan nakal,” kata Jesslyn tersenyum manja.


Samudra mengangguk kaku seraya menelan ludah. Tak biasanya Jesslyn bertingkah seberani itu. Sepasang matanya lalu turun melihat Glorien. Wanita itu merunduk, pura-pura memainkan ponsel.

__ADS_1


__ADS_2