Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Hi, Uncle!


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran menggunakan mobil terjadi antara Samudra dengan sosok yang tak lain adalah si buronan Toddy.


Toddy menyadari keberadaan Samudra tepat saat lampu berganti hijau.


Rasa terkejut ditepis cepat, kelabakan, lalu memasang sinyal melarikan diri.


"Sialan itu bagaimana bisa masih hidup?" Dia menggeram, tak habis pikir sendiri. Ledakan besar bom bahkan tak bisa melalapnya. "Terbuat dari apa dia sebenarnya?"


Mobil Samudra masih melaju di belakangnya. Kecepatan paling tinggi mereka jalankan tak pakai otak. Situasi jalan masih sangat ramai karena angka jam masih sangat muda untuk terlelap. Banyak kendaraan menekan klakson hingga melengking dan bersahutan, menegur dua kendaraan yang ugal-ugalan.


Polisi lalu lintas langsung mengejar setelah melihat pemandangan para berandal jalanan itu. Tapi sayang tak akan mudah bagi dia yang terbiasa taat aturan jalan. Para berandal sialan telah menjauh entah ke arah mana. Dia kehilangan jejak dalam sekejap.


CKIIIIDDD!


Tapi bagi Samudra ... bukan apa-apa. Mobil yang dikendarainya sudah melintang menjegal mobil yang dijalankan Toddy Wen.


"DAMN IT!" umpat Toddy seraya memukul setir. Dia kalah lagi. Menyesali banyak bagaimana bisa dia bertemu dengan sumber petaka dalam hidupnya, hidup yang terhitung tak akan lama lagi kembali menjadikannya seorang psakitan.


Menilai bagaimana cara Samudra berkendara, mau lari sampai mana pun dia pasti terkejar, diperparah dengan bahan bakar yang sudah hampir mencapai garis limit. Percuma saja jadinya.

__ADS_1


Dengan kekesalan, mau tidak mau dia menghadapi sialan itu dengan tubuhnya, tanpa modal apa pun.


Samudra menyeringai saat melihat Toddy turun dari dalam mobilnya dengan tangan kosong. Ponsel ditaruhnya ke jok sebelah setelah menghubungi aparat, melaporkan kalau orang yang sudah berlarut mereka cari, telah ditemukannya.


Tapi sebelum petugas benar-benar datang, tak pantas jadi pecundang. Sayang waktu jika tak digunakan sebaik isi kepalanya.


Baiklah.


Dengan gaya santai, dia juga keluar dari mobil setelah melepas jas yang sesaat lalu masih membalut tubuhnya yang penuh otot. Udara dingin Moscow di gelap ini bukan masalah. Dia akan berkeringat sebentar lagi.


"Hi, Uncle. Kita bertemu lagi."


"Tutup mulutmu dan cepat hadapi aku!" tantang Toddy. Lumayan percaya diri.


Samudra ingin tertawa tapi ditahannya, takut-takut kalau Toddy benar-benar sudah berguru ke gunung Fuji dan memiliki kekuatan tarung seperti Bruce Li, atau paling tidak seperti Mat Togar, jawara dari Betawi.


 Setidaknya dia senang, mendapat lawan yang tak gampang pipis dalam celana.


Ingin cepat menyelesaikan dan segera pergi, Toddy maju lebih dulu dengan kepal yang sudah siap.

__ADS_1


Tak sempat menyingsing lengan kemeja, Samudra langsung menghadang.


Adu pukulan berlangsung tanpa babibu.


Untuk seorang residivis dan mantan penghuni hotel prodeo sekian tahun, pukulan-pukulan Toddy memang tidak bisa disepelekan. Dia sempat berperan sebagai ketua geng dalam penjara. Tendang pukul dan tonjok tentu biasa.


Sudah berlangsng dua menit lamanya. Mereka seperti dua singa jantan yang memperebutkan seekor cheetah betina.


BAMM!


Toddy terpental ke muka mobilnya dalam keadaan wajah lurus ke langit, memuncratkan darah dari mulut setelah satu pukulan Samudra menghantam rahang kirinya. Itu menyakitkan.


Dia akan bangkit lagi untuk melawan, tapi samudra tentu tak akan diam. Satu pukulan mentah kembali mendarat di perut Toddy, hingga meringkuk lalu berguling dan jatuh ke dasar jalan. Pukulan keras di wajah mendarat lagi, otomatis membuat Toddy makin tidak berdaya. Pandangannya mulai berkunang, berangsur kelam, lalu menghitam sepenuhnya--tidak sadarkan diri.


"Hhufft!" Helaan napas Samudra terdengar kasar. Dia berkacak pinggang seraya menatap onggok yang entah kenapa bisa berstatus ayahnya Charlotte. Ah, gadis itu bahkan merasa malu mengakuinya.


"Berengsek ini membuat makanan Glorien dan Charlotte menjadi dingin," gerutu Samudra. Dia melengak ke jalanan jauh. Suara sirine polisi sudah terdengar. Rambut yang teracak ke depan, sesaat dirapikannya, lalu berbalik dan pergi untuk menyelinap ke balik kemudi. Mobil dijalankannya secepat angin.


Malas meladeni pertanyaan polisi yang pasti akan semakin menyita waktu. Melawan dua orang wanita di rumah akan lebih sulit dibanding sepuluh preman di pasar gembrong.

__ADS_1


__ADS_2