Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Seperti patung, Samudra berdiri tegang dengan tatapan nyalang. Di hadapannya, Glorien belum sadarkan diri. Luka di pelipisnya telah dibebat.


Wajah itu pernah ia pandangi dengan rasa memuja. Sosok itu pernah mengisi jiwanya. Bahkan seluruh tubuhnya, tak ada satu bagian pun yang belum pernah ia lihat. Kini seluruh bagian utuh berada di hadapannya. Banyak kesempatan bagi Samudra untuk mengeksekusi wanita yang hampir menjadi ibu dari anaknya tersebut.


Pisau tajam terasah, gergaji tinggal pakai, puluhan cutter tertata di tempatnya, Samudra bisa menguliti dan m'mutilasi Glorien kapan pun dia mau.


Ingatan rasa sakit saat wanita itu mengirim surat pernyataan cerai ke penjara, masih terasa goresannya, ditumpuk kabar kematian anaknya, semua kekejaman itu mau Samudra lakukan. Tapi sayangnya ... dia bukan psychopath ataupun predator berdarah dingin. Setengah jiwanya masih dikuasai putih malaikat.


Pada akhirnya dia membuang wajah, lalu berbalik memilih pergi tak ingin jadi pecundang.


...¶¶¶¶¶¶¶¶...


Jarum jam menunjuk angka 4.37 pagi.


Sepasang mata terbuka perlahan lalu mengerjap-ngerjap.


Sepertiga dari pingsan Glorien adalah tertidur. Sempat tengah malam tersadar, namun pusing langsung menyerang. Alhasil dia kembali memejamkan mata hingga pagi ini. Menikmati kasur--katakan saja milik musuhnya dengan sangat tenang.


Seraya memegangi kepala dengan satu tangan, tubuh diangkatnya bertopang pada tangan lain yang menekan kasur.


Setelah sempurna matanya menyesuaikan cahaya, ia lalu mengedar pandang ke sekitar ruang. “Di mana ini?” tanya pelannya tak pada siapa pun, tidak pada dirinya juga. “Bukan kamar rumah sakit,” tukasnya.


Glorien bingung, ia tak mengenali kamar yang saat ini ia tempati.


Satu gelas air putih di atas nakas samping ranjang diraih lalu diteguknya setengah volume untuk mengaliri tenggorokannya yang kering. Setelahnya, demi mencari kejelasan tentang keberadaannya, Glorien memaksa bangun. Membawa langkahnya terseok tanpa memerhatikan penampilannya yang masih semrawut.


Sampai di depan pintu, ia kembali mengitar pandang. Suasana yang nampak asing. Selangkah demi selangkah maju, menyusur bagian lain seraya celingukan seperti maling.


Sebuah ruangan luas ia masuki. Ada perapian di bagian kiri dengan bara masih sedikit menyala. Jelas, belum lama seseorang atau mungkin lebih ada di sana. Walaupun sekarang nampak kosong, menyisakan satu gelas kopi di atas meja yang hanya sisa setengah.


Terus saja Glorien melangkah.


Hingga sesuatu di atas nakas yang menampung guci-guci mini, mencuri perhatiannya.

__ADS_1


Sebuah foto lengkap dengan ukiran nama yang dipahat apik berbahan kayu, Glorien mengangkat benda itu. Menatap potretnya dengan mata nyalak melebar. “Samewise Will.” Ia membaca nama itu dengan suara pelan namun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Jadi dia Samewise Will, oengusaha muda yang gak pernah menunjukkan sosoknya pada media?” Lalu menaruhnya kembali ke tempatnya sedikit kencang.


Sejenak Glorien diam untuk sekedar memijat pelipisnya yang masih pening. “Pantes aja dia sombong,” katanya merasa konyol. Namun detik berikutnya, waktu seakan melemparnya ke ruang hampa. Ia mulai sadar dari sesuatu. Melotot seraya berseru, “Omaygat! Jadi aku masih di villa-nya dia?!” Lalu berbalik cepat hendak keluar, namun sesuatu menginterupsi.


Ponsel yang tak disadarinya ada di atas meja berdampingan dengan kopi, berbunyi nyaring. Panggilan masuk dari seseorang. Glorien mendekati benda itu sembari celingukan ke arah pintu, cemas kalau-kalau pemiliknya tiba-tiba datang dan menemukannya dalam keadaan lancang.


Ponsel itu berbunyi lagi setelah jeda sekian detik.


Glorien mengambilnya dengan ragu. Layar menyala dengan foto kontak bergambar Sopo Jarwo, ditatapnya tanpa bergerak untuk mengangkat. Nama yang tertera di sana, ‘Asisten Gak Ngotak’, sedikit membuat Glorien tersenyum lucu. “Segitunya," dia komentar beriringan dengan matinya panggilan itu. Namun detik berikutnya, sebuah pesan chat datang. Glorien spontan membaca karena muncul di bagian atas layar.


Terhapus senyuman lucu di wajahnya dalam sekejap. Sesuatu membuat dirinya membeku seperti dibekap paksa oleh tangan tak kasat mata.


Angkat telepon gua Samudra!


Potongan isi pesan yang dia baca.


“S-Samudra,” gumamnya dengan degup jantung yang langsung meletup tanpa komando. “Nggak mungkin!” Dia menggeleng tidak percaya.


Untuk memastikan, tanpa berpikir tentang attitude, ponsel itu hendak dibongkar isiannya dengan gerak cepat, namun sayang, terkunci dengan pin yang tak tahu apa detailnya. “Oh, Lord. Apa dia benar-benar Samudra?” Hatinya semakin resah.


Nomor yang sama memanggil.


Kali ini Glorien memilih mengangkatnya sebelum terputus lagi.


Panggilan terhubung. Perhitungan waktu mulai berjalan, dan ....


“Woyy, Samudra! Ngajak gelut lu, ya? Lama amat angkat telepon gua! Lu lagi ber4k apa, hah?!”


Satu hentakan keras kembali mementalkan seisi jiwa Glorien. Dia mengenali suara itu. Suara .... “Mada,” desisnya parau.


“Iya, gua! Hapa lu--”


Mada kelepasan. Baru ngeuh dengan perubahan warna suara lawan bicaranya. Kata langsung ia potong, kemudian telepon dimatikannya sebelum berlanjut cakap lebih jauh lagi dan mengacaukan semuanya.

__ADS_1


Waktu panggilan yang berakhir ditatap Glorien dengan air mata yang menitik tetes demi tetes. Ponsel yang digenggam lepas jatuh tercampak di bawah kaki, tak kuat lagi telapak tangannya untuk menggenggam. Ia gemetar, melumbrukkan diri ke lantai dan menangis di sana.


Bayangan berita kematian Samudra kala itu melintasi kepalanya lalu memukul-mukul seperti akan membunuh. Sesakit itu rasanya. Dan sekarang dia malah tahu kenyataan bahwa ia telah dibodohi.


“Kenapa?! Kenapa bohongin aku?!” Ia meraung penuh sesalan.


Di ambang pintu, Samudra melotot menatap wanita itu tengah kacau dengan tangisan berapi-api. Ia datang karena mendengar suara aneh di ruangannya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” Ia bertanya setelah menelan ludah susah dan payah.


Glorien terperanjat, refleks mengangkat wajah dan menemukan Samudra berdiri tak jauh darinya.


Bukan lagi tatapan penuh cinta seperti dulu, tatapan itu seolah akan menelannya hidup-hidup, Glorien menyadari.


“Samudra,” ia menyebut nama itu dengan parau.


Samudra sendiri ikut tersentak. Dia tak menyangka, Glorien akan mengetahui topengnya secepat ini.


“Siapa yang kamu maksud?” Sebisa mungkin Samudra bersikap acuh.


Namun langsung mengejutkannya ketika Glorien tiba-tiba merangkak mendekat ke arahnya dan berakhir di bawah kaki. “Kamu Samudra, 'kan?!” tanyanya seraya mengguncang-guncang kedua tangan Samudra, mendongak wajah menuntut jawaban yang sangat dinantikannya.


Kali ini Samudra terjebak. Haruskah ia menghardik tubuh Glorien yang tak mau lepas? Atau merengkuhnya mengikuti nurani di titik sensitifnya yang sejujurnya juga rapuh?


“Lepaskan!” pintanya kemudian dengan nada dingin dan wajah datar lurus ke depan tanpa ekspresi. Tak ada opsi lain. Ia harus tetap tenang agar tak tenggelam dalam jijiknya rasa kasihan.


Satu hal ditekankan dalam hatinya---ia bukan lagi Samudra. Samudra yang tolol.


“Lepas tangan Anda sendiri baik-baik, atau saya lakukan secara paksa?”


Glorien merasa berhenti dunianya. Raungannya sedari tak didengar apalagi dipedulikan.


Cengkramannya atas tangan Samudra mengendur perlahan, lalu lepas dan berakhir terkulai di bawah kedua pahanya yang tertekuk. Ia merunduk dalam dengan pundak berguncang, tak bisa berhenti untuk menangis. Kesakitan di ujung dada serasa akan memisahkan jiwa dari raganya.

__ADS_1


Bagaimana bisa Samudra seperti itu?


__ADS_2